Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 63. Tinggal Lagi di Sini



Dria sedang mengaplikasikan riasan sederhana di wajahnya… Hari ini dia akan mengunjungi kantor tempat dia pernah bekerja kurang lebih setahun. Dia sudah tidak sabar bertemu teman-temannya di sana. Beberapa kali dia datang ke kota ini tapi tidak pernah berkunjung ke kantor. Kali ini karena sudah diberitahu pak Timo Dria telah menyiapkan sedikit oleh-oleh untuk para sekretaris kakaknya.


“Tety, kamu ikut ya… kamu belum pernah melihat kantor Tuan Muda kan?”


“Belum Non, tapi apa diperbolehkan?”


“Boleh Tety… masa tidak boleh…”


“Tapi saya sungkan Non… itu tempatnya orang-orang keren...”


“Hehe… kamu tidak percaya diri? Kamu justru akan dipandang sangat keren oleh mereka karena kamu datang bersama bossnya orang-orang keren itu.”


“Non Dria bisa saja…”


“Gunakan pakaianku saja, Tety… ambil yang kamu suka, pakaian-pakaian ini mubazir disimpan di sini sekian lama tidak aku gunakan…”


“Non Dria jarang datang dan tidak mau membawa semua ini ke S…”


“Rumahku kecil kan Tety hanya seluas kamar ini, mau disimpan di mana semua barang-barang ini…”


“Sekarang ada rumah baru Non…”


“Hehe… belum tentu aku akan tinggal di sana kan…”


“Ehhh iya Non… setelah menikah dengan Tuan Muda, Non Dria pasti pindah lagi ke rumah besar ini…”


Dria hanya tersenyum menanggapi, hal itu akan menjadi pasti dalam kehidupannya setelah mereka benar-benar telah menikah… sekarang perjalanan hidup mungkin sedang mengarah ke sana, semoga semuanya berjalan baik.


“Aku sudah selesai, Tety… kamu segera bersiap ya, setelah sarapan kita berangkat… sekarang aku mau bertemu papi di ruang makan…”


“Baik Non… ehh… Non Dria serius kan tadi, soal pakaian…”


“Iyaaa, Tety… pilih yang kamu suka tapi jangan sama dengan yang aku gunakan sekarang…”


“Ehh… tidak Non, terima kasih…”


“Iya… Ahh iya, tas berisi oleh-oleh kamu simpan di mana?”


"Ada Non... nanti saya yang bawa..."


"Baiklah..."


Dria mengambil tas kecil miliknya yang hanya berisi gawai dan dompet. Di depan pintu kamar Dria bertemu Age, pelayan kakaknya.


“Tuan Muda sudah selesai, Age?”


“Hampir Non…”


“Sudah berpakaian?”


“Sudah selesai Non…”


Dria kemudian masuk kamar sang kakak tanpa mengetuk pintu.


“Kakak…”


“Dee??”


“Ahh, maaf… Dee menganggu ya?”


“Tidak. Kenapa tidak mengetuk pintu? Untung saja aku sudah berpakaian lengkap…”


Sandro memandang Dria dengan pandangan usil.


“Ahh? Itu… tadi Dee sudah tanyakan pada Age, karenanya Dee berani masuk ke sini… kalau begitu Dee tunggu kakak di luar saja…”


Dria sedikit malu bersikap seperti ini, memang hampir tidak pernah dia masuk ke kamar kakaknya ini sekalipun berhadapan langsung dengan kamarnya. Tapi tadi spontan saja ingin masuk ke sini.


“Dee… sini… jangan keluar… aku hanya menggodamu…”


“Tapi Dee malu…”


“Sini… kamu bebas masuk ke sini mulai sekarang, ini akan menjadi kamar kita…”


“Ahh… masih jauh kakak…”


Wajah Dria memerah sementara Sandro masih mematut diri di depan cermin besar.


“Sini Dee, jangan berdiri di situ…”


Panggil Sandro saat melihat Dria seperti mematung di area pintu masuk.


“Kakak masih lama?”


Sandro tidak menjawab, masih memperhatikan detil penampilannya. Dria mendekat dan berdiri berjarak satu lengan dengan Sandro ikut memandang sosok Sandro di cermin itu. Lalu…


“Apa sudah tampan sekarang?”


Sandro bertanya masih melihat dirinya.


“Narsis? Memang seperti apa pria narsis?”


“Suka berlama-lama di depan cermin… seperti tidak puas dengan penampilannya, meminta pengakuan tentang dirinya…”


“Hahaha… memang tampan kan? Berdiri di depan cermin untuk memastikan semua terlihat baik, itu tidak salah kan, Dee?”


”Iyaa… tapi terlalu lama…”


“Hahaha… rasanya aku mulai tahu sesuatu sekarang… kamu suka tidak sabar menunggu… ayo…”


Sandro mengamit tangan Dria dan mengarahkan langkah mereka berdua menuju pintu keluar.


“Timo, bawa tasku…”


“Baik Tuan…”


“Kakak… tas itu tidak sampai satu kilogram, kenapa tidak membawanya sendiri?”


“Sudahlah jangan protes, itu tugas Timo… ayo…”


“Ahh… kakak selain narsis…”


“Apa? Kakak malas menggunakan tangan maksudmu?”


“Iya… hehe… maaf…”


Raut wajah Dria berubah, mendadak dia cemas kakaknya tersinggung, dia sudah banyak kali mengatakan hal itu, dan baru sekarang nada suara Sandro seperti kurang senang dengan kalimatnya itu.


“Kakak marah Dee mengatakan itu?”


“Tidak, hanya kakak sudah terbiasa dilayani… biarkan seperti itu ya?”


“Ahh baiklah Tuan Muda… Dee tidak akan bicara lagi tentang itu lagi…”


“Tuan Muda… dasar kamu…”


Sandro menarik lembut tangan Dria menurui tangga.


Di meja makan sudah ada Tuan Besar, Dria melepaskan diri dari Sandro dan mendekati posisi Tuan Besar.


“Selamat pagi, papi…”


Dria mengulurkan tangan untuk mencium takzim sang papi, tapi justru tangannya ditarik lembut Tuan Besar dan membawa Dria sejenak ke pelukannya.


“Akhirnya kamu datang lagi, Dria… papi senang kamu di sini, kamu seharusnya tetap tinggal di sini…”


“Tak lama lagi Dee akan seterusnya tinggal di sini, Pi…”


Sandro mengatakan dengan wajah tersenyum.


“Ohh Begitu? Kalian mulai mempersiapkan…”


“Iya Pi… hari ini kita mulai mengurusnya…”


Sandro menarik sebuah kursi untuk Dria.


“Duduk di sini Dee…”


Dria duduk di kursi yang disiapkan Sandro, mereka duduk berdampingan.


“Papi sehat-sehat?”


“Papi kurang fit belakangan… ada gangguan di perut…”


“Papi sudah periksa ke dokter? Apa aku temani papi ke rumah sakit? Sekarang bagaimana? Papi harus memperhatikan makanan yang dikonsumsi…”


“Sudah… sudah… itu tidak terlalu mengganggu, mungkin karena papi sudah berumur sehingga tubuh mudah terserang penyakit… sudah jangan khawatir ya… ayo sarapan…”


Tuan Besar merasa senang mendapatkan perhatian dari Dria seperti ini.


“Dria… tinggallah lagi di sini mulai sekarang… terlebih kalian akan sibuk mengurus pernikahan kalian…”


“Ahh… mengenai itu, aku harus menyampaikan pada ayah…”


“Kita akan ke sana bersama-sama… kita harus mulai dengan benar, Sandro… kita harus berbicara dengan Rahmadi terlebih dahulu untuk niat kita ini…”


“Harus seperti itu? Ayah bukannya sudah mengetahui hal ini?"”


“Harus, Sandro… pembicaraan antara orang tua itu sangat penting… sekalipun sudah berkali-kali papi dan ayah kalian membicarakan mengenai hal ini, tapi secara etika harus ada pembicaraan resmi… kamu atur waktu yang baik untuk kita ke kota S bersama-sama.”


“Baik pi…”


Mereka meneruskan sarapan pagi mereka. Dria dapat merasakan kebahagiaan sang papi yang segera nampak saat kakaknya menyinggung tentang Dria yang akan tinggal di rumah ini, tentang pernikahan mereka, dua pria ini menginginkan hal ini tetapi pikiran Dria segera tertuju pada Ayah. Mungkin yang akan sangat bersedih untuk hal ini adalah ayahnya, memang ayah tidak pernah mengungkapkan tapi dia tahu ayahnya juga begitu bahagia saat dia kembali tinggal bersama ayah. Dia sendiri tentu tidak bisa memungkiri bahwa bahagianya adalah bersama Sandro.


Kadangkala dalam sebuah kebahagiaan, ada seseorang yang mengorbankan kebahagiaannya sendiri untuk menjadi penyokong kebahagiaan orang lain.


.