
Lima hari Dria berada lagi di rumahnya. Dria tak mengobrol dengan si ayah sejak pembicaraan di hari dia sampai di sini. Ayah pun nampaknya membiarkan Dria membisu saat saling melewati dan enggan menyinggung lagi tentang keputusan Dria pulang ke kota ini. Beberapa kali Dria mendapati si ayah berbicara cukup serius di gawainya, Dria malas menguping atau mencari tahu, hati kecilnya merasa bahwa itu dari keluarga Darwis.
“Dria… buka pintu…”
Si ayah berteriak sambil menggedor pintu depan. Dria membuka pintu.
“Kenapa ayah tidak membawa kunci sendiri?”
“Ayah lupa karena tadi terburu-buru berangkat.”
Mengalihkan rasa sedih oleh beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya termasuk kenyataan tentang perjodohan dengan kakak sendiri, Dria menata ulang kamarnya. Semua barang yang sudah lama ada di sana dikeluarkan.
“Dria… ada apa dengan barang-barang ini?”
Ayah menatap heran saat melihat lemari, meja, dan tempat tidur single milik Dria kini ada di ruang tamu.
“Aku ingin ganti suasana ayah… ini aku pindahkan ke kamar belakang ya…”
“Lalu kamu menggunakan apa?”
“Aku ingin menggantinya dengan yang baru… itu sudah aku gunakan sejak pertama kali aku di sini…”
Ayah Rahmadi terdiam sejenak menyadari dia tidak pernah peduli dengan kebutuhan dan keinginan putrinya sebelum ini. Hanya kebutuhan rutin saja dan itupun menjadi jarang dia lakukan saat Dria selesai kuliah dan mulai bekerja.
“Ya sudah… terserah kamu nak… ada kartu atm ayah di laci lemari, kamu bisa membeli yang kamu perlukan…”
“Tidak usah ayah, aku akan beli sendiri, aku punya uang… aku kaya ayah… hehehe…”
Dria tertawa kecil saat mengatakan itu, pertama kali dia bisa tertawa beberapa hari ini. Tadi dia membayar pesanan wallpaper yang dibelinya secara online di sebuah atm yang ada di minimart dekat rumah ini, dan jumlah saldo yang tertera di rekeningnya membuat dia sempat melongo dan mengecek lagi karena angka dan digitnya membuat dia tidak percaya.
Memang selama ini dia tidak pernah melihat rekeningnya karena pak Lucas selalu memberi dia beberapa juta cash tiap bulan untuk kebutuhannya. Dia pikir itulah gajinya. Dia hampir-hampir tidak pernah membelanjakan uangnya selain membelikan secara online beberapa hadiah untuk anak-anak di rumah belakang, memberikan hadiah untuk Tety saat Tety ulang tahun.
“Kaya? Apa Tuan Harlandy memberimu uang banyak?”
“Mungkin? Aku tidak pernah diberitahu… tapi seingatku pak Lucas dan pak Timo pernah meminta nomor rekeningku untuk pembayaran gajiku… tapi kupikir jumlahnya memang terlalu banyak jika itu gajiku… aku bisa membayar cash sebuah rumah mewah di cluster perumahan di seberang jalan ini ayah… atau aku beli ruko saja untuk buka usaha?”
“Dria???”
Suara ayahnya yang sedikit keras membuat Dria menoleh.
“Apa?”
Ayah Rahmadi ingin mengatakan bahwa mungkin kurang bijaksana menggunakan uang dari Tuan Harlandy sementara Dria baru saja meninggalkan rumah mereka. Tapi si ayah tidak ingin membuat Dria bersedih lagi jika dia mengungkit salah satu nama keluarga itu.
“Eh… barang-barang ini nanti Bena dan Adi yang bawah ke kamar belakang… jangan memaksa memindahkan barang seberat dan sebesar itu…”
“Iya… tangan dan pinggangku masih terasa pegal karena mendorong itu semua.”
“Ayah makan dulu…”
“Silahkan, aku sudah makan lebih dulu…”
“Kamu memasak nak? Kalau tahu ayah tidak beli makanan…”
Ayah Rahmadi berkata dari ruang makan sekaligus dapur mereka yang hanya berjarak kira-kira lima meter dari ruang tamu mereka.
“Iya… tadi mang Usro Sayur lewat, aku belanja saja…”
Ayah Rahmadi menarik napas. Sebelum ini dia khawatir anaknya tak melakukan aktivitas apapun selain lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Dria yang sekarang telah beraktifitas dan mau berbicara panjang membuat hati seorang ayah merasa lega dan terhibur. Dalam hati ayah tidak akan memaksa lagi atau membujuk Dria lagi untuk kembali ke rumah tuan Harlandy.
“Ayah… ayah mengecat si putih ya?”
Dria datang ke dapur dan duduk di hadapan ayahnya.
“Iya… tak lama sejak kamu ke sana… ayah bawa mobilmu ke bengkel… itu penyok sana-sini… makanya lebih hati-hati bawa mobil…”
“Baik ayah… aku punya pelajaran berharga waktu di sana. Ayah sudah dengar ceritaku kan soal mobil kak Sandro?”
Kalimat itu tercetus begitu saja dari bibir Dria. Sekarang di hadapan ayah Dria rasanya ingin menceritakan semua tentang dirinya dengan sang ayah. Si ayah memandang dan menelisik wajah Dria, masih terbaca sedikit guratan sedih di sana. Putrinya memang punya temperamen yang gampang berpindah dari suatu suasana ke suasana yang lain.
“Tidak… kata pak Rusli itu mobil itu berharga untuk kak Sandro…”
Tersadar sesaat kemudian dengan suara hatinya yang mengingatkan siapa Sandro membuat Dria mengalihkan pembicaraan.
“Aku pinjam mobil pickup milik ayah… Aku mau hunting furniture untuk kamarku… kalau ada yang aku suka, aku bayar dan langsung muat, menunggu diantar mereka suka lama… ”
“Pakai yang abu-abu saja, yang hitam ayah mau gunakan, ayah mau kembali ke Palm, mau lihat pekerjaan mereka.”
“Baik. Berapa sekarang karyawan ayah?”
“Sepuluh orang… ayah juga mengontrak lima orang karyawan lepas untuk satu bulan ini, mengejar target untuk selesaikan pekerjaan bulan ini…”
“Ayah… aku ingin kerja lagi tapi aku pikir aku buka usaha saja… kita buat toko tanaman hias ayah saja? Kan ayah berbisnis hanya di rumah dan di lahan kecil dekat jalan raya… Yang di jalan raya itu kadang tidak ada yang mengawasi kalau semua sibuk di proyek ayah… lagi pula tempatnya darurat seperti itu…”
“Bisnis seperti ini tidak perlu toko nak, hanya perlu ruangan terbuka…”
“Iya… tapi maksudku kita sediakan tempat yang lebih baik, kita buat lebih tertata, orang saat mencari tanaman juga suka jika tempatnya teratur rapi dan nyaman… Di sini dan yang di jalan raya itu semua bercampur baur… tanah, pupuk, tanaman sama pot dan segala macam entah apa saja semua itu… karena jumlahnya terlalu banyak halaman luas ini jadi terlihat sempit.”
Ayah Rahmadi tak menjawab. Percakapannya dengan Tuan Harlandy dan Sandro beberapa kali menunjukkan bahwa rencana mereka untuk Dria tidak berubah.
“Ayolah ayah… aku tidak ingin tinggal di rumah saja, jika ayah tidak ada aku merasa agak takut hanya sendirian…”
Ayah Rahmadi memandang anak gadisnya yang punya trauma di rumah ini, dia tidak pernah nyaman ada di rumah sendirian, jika terpaksa maka dia akan mengunci semua pintu dari dalam.
“Kamu saja yang mengawasi tempat usaha kita di jalan raya sana, jika tidak ingin tinggal di rumah…”
“Ahh tempat itu sangat tidak nyaman ayah, setiap hari aku akan mmenghirup karbondioksia, banyak debu beterbangan, dan telalu bising dengan suara kendaraan… kita cari tempat yang lebih baik lalu kita pindahkan semua tanaman hias dan semua barang di sini, kita atur dengan baik semuanya… dan sambil berharap bisnis ayah semakin lancar ke depannya…”
“Baiklah… Ayah akan memikirkannya…”
“Secepatnya ayah putuskan ya… jangan terlalu lama berpikir”
“Iya…”
“Selamat siang…”
Sapaan dengan suara khas laki-laki memutuskan jalinan percakapan Dria dan si ayah.
“Ayah itu ada tamu, mungkin konsumen ayah…”
Si ayah yang sudah selesai makan segera ke ruang depan. Dria membereskan meja, menyimpan makanan ke dalam lemari lalu mencucui piring bekas makan si ayah.
Lama si ayah tidak muncul dan sayup terdengar suara orang bercakap, mungkin seseorang yang ingin dibuatkan taman di rumah atau di kantornya, usaha ayahnya memang berjalan lancar, tak sedikit orang yang menggunakan keahlian sang ayah. Selesai dengan kegiatan di dapur Dria menuju ke ruang tengah bertemu dengan si ayah yang datang kembali ke ruangan belakang di rumah itu.
“Nak… Tuan Harlandy mencarimu…”
Dria beku sesaat. Dia pernah berpikir tentang situasi ini bahwa keluarga Darwis datang mencarinya, ternyata memang benar-benar kejadian tapi dia tak menyangka Tuan Harlandy sendiri yang datang.
“Dria…"
"Ahh... Apa ayah mengatakan aku di sini?"
"Iya..."
Apa tidak sopan jika dia menghindari Tuan Besar itu sekarang?
.
.
Hi...
Sampai jumpa besok ya...
Cerita ini sangat biasa, di sini banyak bertaburan cerita yg luar biasa, oleh sebab itu terima kasih sudah membaca ceritaku... 🙏
.