
"Kamu bukannya memberitahu papi hasil pekerjaanmu tapi langsung menanyakan Sandriana."
"Jangan berlagak tidak mengerti, Pi... Papi tahu perasaanku sekarang..."
"Perasaan apa? Apa hubungan perasaanmu dengan Dria?"
"Jangan mengejekku..."
Sandro menunjukkan mimik kesal dan itu sama sekali tidak mempengaruhi ketenangan sikap Tuan Besar.
"Papi hanya memastikan... ternyata Dria bukan lagi adik buatmu."
"Ahhh... semua orang tahu itu sekarang kecuali Dria..."
"Dria telah tahu niat papi untuk menjalankan keinginan mami menjodohkan kalian."
Akhirnya Tuan Besar bicara. Sandro duduk di kursi, sepertinya semua sel jaringan organ dan sistem organ di dalam tubuhnya akan memberi respon yang sama terhadap nama Dria, yaa bahkan cinta membuat semua sistem dalam otaknya melihat Dria sebagai bagian dari dirinya.
"Jadi dugaanku sejak awal mengapa Deedee ada di sini tidak salah? Kenapa papi tidak berterus terang?"
"Papi bukan pemaksa, kamu tahu itu... terlebih istrimu akan sehidup semati denganmu itu harus pilihan hatimu sendiri. Papi hanya mendekatkan Dria padamu, selebihnya papi hanya berharap kamu melihat dan menemukan sendiri wanita sesungguhnya yang kamu butuhkan..."
"Hampir aku menikahi Emma..."
"Itulah sebabnya papi meminta Dria datang, lama sekali papi baru bisa membujuk Rahmadi untuk mengijinkan Dria datang. Tapi... sejak awal Dria ada di sini papi sebenarnya yakin bahwa kamu punya perasaan khusus padanya..."
Sandro bersandar sekarang di kursi empuk kenangan, sepasang kursi dan meja bulat yang menjadi tempat orang tuanya bercengkerama melewatkan waktu berdua di kamar utama rumah ini, kursi yang didudukinya adalah tempat mendiang mami biasanya duduk.
"Kenapa papi teringat membawa Deedee ke sini, dan kenapa papi bisa seyakin itu tentang perasaanku? Rasanya papi tahu juga awalnya aku sangat membenci Deedee..."
"Karena kamu anak papi, mami selalu berkata kamu sangat mirip papi. Jika mami benar, berarti itu termasuk tipe wanita seperti apa yang kamu akan pilih, pasti tak akan jauh berbeda dengan pilihan papi, dan itu ada pada Dria bukan Emma."
Sandro yang sudah menyandarkan kepalanya sekarang menutup matanya, lalu berkata dengan lirih...
"Itu sepenuhnya benar Pi, mami jadi tolok ukur buatku memilih istri sebenarnya, dan entah kenapa aku malah menjalin hubungan serius dengan wanita seperti Emma."
Sandro terdiam sejenak, si Tuan yang bijaksana tak ingin menginterupsi memilih mendengarkan anaknya saja. Maka Tuan Besar itu hanya memandang dengan sabar menunggu kalimat selanjutnya dari anaknya yang duduk sambil mengaitkan dua tangannya di depannya.
"Melihat Deedee berjalan di semua bagian rumah kita, melihat apa yang dia lakukan di rumah ini, seperti melihat mami hidup lagi. Rasanya tidak ada yang berbeda dengan mami, bahkan kue yang dia buat persis sama. Papi tahu, seperti mami Deedee memelihara ayam juga... aku suka melihat dia tertawa-tawa saat kejar-kejaran dengan ayam-ayamnya."
Sandro diam lagi, masih menutup matanya mencoba memvisualisasikan di pelupuk matanya yang terpejam semua yang ada di memori tentang apa yang dilakukan Dria di rumah ini.
"Rasanya tidak ada yang paling membahagiakanku melebihi apa yang kurasakan karena Dria. Aku berkali-kali menguji perasaanku sendiri, apakah karena aku terlalu rindu mami sehingga perasaanku bias seperti ini. Tapi yang aku temukan aku semakin terikat padanya, dan aku yakin sekarang kalau perasaanku pada Deedee tidak salah... ahhh... anak itu..."
Rasa rindu segera membuat Sandro membuang napas berat, resah kini menetap di hatinya, suatu keadaan yang sama persis dia rasakan saat mami dan Dria pergi waktu itu. Tuan Besar Harlandy melihat sisi terlemah anaknya sekarang, kehilangan Dria. Jika Dria bisa datang lagi di sisi anaknya pasti itu akan menjadi sumber kekuatan terbesar untuk Sandro.
"Pi?"
Sandro membuka mata memandang Tuan Besar Harlandy...
"Mhmm?"
Tuan Harlandy tersenyum lembut mengingat pembicaraan lebih dari dua puluh tahun yang lalu dengan istrinya.
"Iya... sejak fungsi ginjal mami dinyatakan semakin menurun, mami selalu mengemukakan dia tidak akan hidup lama, dia tidak akan menyaksikan kamu menikah. Mami khawatir tentang siapa yang akan mendampingimu seumur hidupmu. Saat tahu Helena hamil mami berkata bayi itu akan menjadi anaknya juga. Betapa bahagia mamimu ketika tahu bayi Helena perempuan. Mungkin sejak saat itu ada pemikiran untuk menjodohkan kalian. Mami segera memboyong Rahmadi sekeluarga tinggal di rumah ini..."
Dua pria dengan kesedihan yang sama tentang wanita yang begitu dipuja kemudian sama-sama terdiam, sama-sama merenda lagi kenangan indah tentang wanita yang begitu dicintai itu.
"Mami lebih beruntung dari pada ibu..."
Sandro mengingat benar sosok Helena dan bagaimana mami memintanya untuk menganggap Helena sebagai seorang ibu juga.
"Itu sebabnya setelah kesehatan Helena memburuk, mami merasa sangat bersalah. Mami selalu mengatakan pada papi bahwa jika mami menghadap yang kuasa, papi yang harus mewujudkan keinginan mami tentang Dria dan kamu..."
"Yaa... Aku tahu Pi, jika aku mengingat-ingat... mami yang membuat cintaku pada Dria tertanam kuat di hati dan ingatanku."
"Apa kamu menyesali hal itu? Merasa dikendalikan atau diatur mami?"
"Tidak Pi, sama sekali tidak, aku malah bersyukur itu Deedee... tanpa diatur seperti itu pun aku rasa aku akan jatuh cinta padanya..."
Sandro tersenyum, membicarakan tentang Dria menyusupkan rasa indah di relung hatinya.
"Hanya... Aku tidak tahu bagaimana membuat Deedee juga punya rasa yang sama terhadapku..."
"Kamu harus berjuang untuk itu, Dria mengatakan pada papi jangan mengubah posisinya sebagai adikmu... Dia hanya menginginkan dirimu sebagai kakaknya..."
"Ahh... Piii... Aku tidak bisa menganggap Deedee sebagai adikku lagi... Apa yang harus aku lakukan?"
"Papi tidak bisa mengajarimu, kamu harus lakukan sendiri, kamu bukan remaja yang baru saja merasakan cinta..."
"Rasanya ini cinta masa remajaku yang berlanjut sampai sekarang..."
Tuan Harlandy berdiri meninggalkan anaknya keluar dari kamar itu. Percakapan seperti ini sangat jarang terjadi, sejak lama memang dia membatasi untuk terlalu mengatur atau menggurui anaknya, itulah sebabnya mereka sangat jarang bersitegang, bila Sandro butuh bicara dia tidak pernan sungkan mencari sang ayah.
"Pi?"
"Sesuatu yang baik membutuhkan waktu dan usaha."
"Bagaimana caranya? Deedee sekarang di S..."
Sandro juga berdiri dan mengejar sang papi, seperti seorang anak kecil yang minta diajari bagaimana melakukan sesuatu.
"Temukan caramu sendiri... Papi mengejar mami harus melintasi benua, kamu hanya perlu pergi beberapa jam dari sini... tapi jangan memaksa Dria, itu tidak baik, dan jangan menomorduakan pekerjaanmu, papi tidak mau kamu menjadi tidak bertanggung jawab hanya karena Dria... dewasalah."
Tuan Harlandy masuk ke ruangan bacanya dan menutup pintu di belakangnya membuat Sandro tahu ayahnya tidak akan melanjutkan percakapan mereka. Sandro kembali ke kamarnya dengan sedikit gusar, siapa yang butuh menjadi dewasa sekarang? Dia hanya butuh Dria.
.
.