
Pak Lucas telah mengirimkan pesan pada Timo bahwa Tuan Besar perlu bicara dengan Tuan Muda sebelum Tuan Muda melihat Dria. Sandro tahu jika papinya turun tangan seperti ini itu bukan sesuatu yang biasa, dan ini pasti berkaitan dengan Dria. Maka akhirnya Sandro dan Timo menginap di hotel yang sama dengan papinya.
Sebenarnya tubuhnya masih sangat tidak nyaman kurang lebih lima belas jam di pesawat, sekalipun dengan penerbangan first class tetap saja berpengaruh pada metabolisme tubuhnya. Tapi seusai membersihkan diri Sandro segera menemui sang papi. Dia tidak sabar ingin melihat Dria tapi harus mengikuti permintaan sang papi untuk bertemu lebih dahulu.
Sandro duduk di sofa berhadapan dengan sang ayah di kamar terbesar di hotel ini.
“Kenapa tidak pernah menjawab sendiri hpmu?’
“Papi tahu aku, tidak usah bertanya. Ada apa sebenarnya?”
Sandro tidak sabar untuk mengetahui hal penting apa yang hendak disampaikan papi padanya.
“Ini mengenai Dria, adikmu… tapi papi ingin tahu... apa yang terjadi di antara kalian? Dria sakit dan kamu ke negara J tanpa alasan, itu terjadi setelah kalian bertemu. Ada apa?”
Sandro menatap sepintas ayahnya, menyandarkan punggungnya di sofa. Antara sang papi dan anaknya tak pernah ada rahasia. Jika sang papi ingin tahu sesuatu tentangnya maka Sandro tidak segan memberitahu dan memang tidak selalu papinya bertanya. Tuan Besar bukan tipe orang tua yang terlalu mau tahu setiap urusan anaknya. Salah satu contoh urusan tentang Emma, selama mereka menjalin hubungan tidak pernah Tuan Besar bertanya atau membahas bahkan tidak pernah menyampaikan keberatannya soal Emma.
Tapi sekarang ini ada sesuatu yang dia ingin ketahui sehubungan dengan kondisi Dria.
“Deedee menolakku, Pi.”
Sandro menjawab singkat, walau masih sendu tapi sedikitnya dia sudah bisa menangani emosinya karena penolakan itu. Sang papi yang sudah bisa menduga dari sikap anaknya tentang apa yang terjadi hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Mungkin karena memang dia tidak ada perasaan apapun padamu, jangan memaksakan perasaanmu padanya.”
“Ya… aku paham, aku tidak boleh egois. Hanya…”
Sandro berhenti sejenak, matanya menerawang jauh mencoba merambah pemikirannya sendiri, mencoba mengingat kumpulan pembuktian hatinya tentang apa yang dia lihat dari Dria dan apa yang dia rasakan dari cara Dria memperlakukan dirinya.
“Mungkin aku salah menafsirkan sikapnya Pi, mungkin aku yang terlalu melankolis sehingga menganggap bahwa Deedee juga memiliki rasa padaku… aku hanya berpikir sebelum ini bahwa Deedee hanya coba menyembunyikan perasaannya, dia hanya bingung akan melihatku sebagai apa… sebagai kakak atau sebagai pria untuknya…”
Tuan Besar memeluk dadanya sendiri dalam balutan piyama tidurnya, dia juga mengangkat kakinya ke meja kopi di hadapannya, dan dengan melihat dari atas lensa kacamatanya, mata Tuan Harlandy tetap fokus memandang Sandro dengan kepala yang sedikit tertunduk, sikap yang menyimak saja setiap perkataan anaknya, memberi anaknya kesempatan untuk terus menyatakan isi hatinya, ya setiap perkataan adalah jalan yang dapat ditelusuri untuk mengetahui isi hati seseorang.
“Sejujurnya, sebenarnya… aku sendiri tidak terlalu yakin tentang ini, makanya aku selalu ragu menyampaikan perasaanku, karena aku takut bila Deedee mengetahuinya dia akan menjauhiku. Karena itu selama ini aku memilih menikmati kebersamaan kami ketimbang jujur padanya… dan ternyata benar, Deedee tidak pernah menginginkanku lebih dari seorang kakak untuknya."
"Mhmm... Lalu?"
"Maksud papi?"
"Sikapmu..."
"Papi mengharapkan apa? Aku hanya bisa menerima kan, seperti kata papi tadi... perasaan tidak bisa dipaksakan. Jika Deedee hanya menginginkanku sebagai kakak untuknya, aku ikuti kemauannya... mau bagaimana lagi?"
Menjadi nyata kepasrahan dalam nada suara serta mimik wajah Sandro.
"Hanya sejauh itu perjuanganmu meraih hati Dria?"
"Papi maunya apa? Tadi melarangku memaksakan perasaanku, kenapa sekarang mempertanyakan perjuanganku?"
Tuan Besar yang sedang menggali kedalaman perasaan anaknya kemudian mengubah cara duduknya lagi, menurunkan dua kakinya sekarang dan menatap lekat pada Sandro.
"Pernah dengar Dria berkata bahwa dia tidak akan pernah menikah, termasuk denganmu..."
"Ahh?? Tidak... tidak pernah. Kenapa dengan perkataan itu, itu hal biasa dan bisa saja diucapkan oleh siapapun, tak terkecuali Deedee, melihat umurnya sekarang mungkin dia belum memandang serius soal pernikahan jadi aku paham jika dia mengatakan itu. Kenapa harus menanggapinya secara serius?"
"Tapi itu sikap Dria tentang pernikahan."
"Papi tahu, untuk membuat dia menerimaku saja sudah seperti ini, mana mungkin bicara tentang pernikahan dengannya. Deedee mengatakan itu pada papi?"
"Rahmadi menceritakan sesuatu... dan Dria mengatakan itu karena sebuah alasan, bukan sebuah perkataan gadis yang belum dewasa, tetapi sebuah keputusan seorang perempuan yang pernah mengalami sesuatu yang traumatis."
"Maksudnya?"
"Rahmadi menceritakan pada papi... Dria pernah mengalami sesuatu Sandro... sesuatu yang membuat dia trauma sebagai seorang perempuan makanya dia memutuskan seperti itu..."
Tuan Besar terhenti di sini, agak sukar mengatakan dengan gamblang tentang hal ini. Sementara Rahmadi hanya menceritakan sedikit saja dia bisa paham, seharusnya Sandro bisa paham juga. Apa kata-kata yang dipilihnya kurang jelas?
"Pi... Apa yang Deedee alami? Aku ingat dia memberi alasan... dia tidak pantas untuk menerima cintaku... Pi? Apa yang ayah ceritakan?"
Tuan Besar membuang napas berat, ternyata sukar untuk mengungkapkan tentang keadaan Dria, ini mungkin karena dia memandang Dria sebagai putrinya sendiri. Melihat keadaan Dria dua hari ini membuat hatinya tak berhenti merasakan kesedihan sebagai seorang bapa yang bisa memaklumi kesalahan anak-anaknya dan entah kenapa perasaannya pun menjadi seperti Rahmadi, merasa tidak dapat menjaga Dria dengan benar.
"Tidak banyak yang Rahmadi ceritakan... hanya tentang penyesalannya mengambil Dria dari kita, tentang kelalaiannya menjaga Dria saat masih remaja... tentang Dria yang selalu ditinggalkan sendiri di rumah, dan... tentang Dria yang tidak dia awasi saat bergaul dengan teman lelakinya... sehingga..."
Tuan Besar besar berhenti di sana, bukan tidak tahu apa yang hendak diucapkan, tetapi dia tidak bisa mengatakan sesuatu yang bersifat dugaan semata, karena Rahmadi memang tidak menjelaskan itu dengan gamblang juga.
"Apa Pi? Apa yang terjadi?"
Sandro mendesak dengan suaranya yang bertambah volumenya saat menunggu papinya tak kunjung melanjutkan penjelasannya.
Sandro juga bukannya tidak paham apa kelanjutan cerita papinya karena hatinya sakit sekarang, dia paham sekarang mengapa Dria mengatakan bahwa perasaan Sandro tidak salah, yang salah adalah dirinya, dirinya yang tidak pantas untuk Sandro.
"Papi?"
Sandro menunggu sang papi melanjutkan kalimat dengan keinginan hati bahwa ini hanya sebuah ilusi, bukan sesuatu yang benar-benar terjadi pada Dria. Hatinya mulai berontak ingin tetap pada harapannya bahwa Sandriana Aubrey bukan seperti yang hendak disampaikan papinya.
"Rahmadi tidak memberi tahu secara mendetail, hanya sebatas itu..."
"Papi... Katakan semuanya, jangan sembunyikan sesuatu lagi..."
Masih menggantung, masih belum jelas atau logikanya menolak realitas. Sandro mulai emosi, entah berapa macam emosi yang sekarang menguasai hatinya.
"Papi tidak menyembunyikan sesuatu tentang Dria, Rahmadi hanya memberitahu seperti itu... Kamu bisa menafsirkannya sendiri apa yang telah terjadi pada Dria di masa lalu, sesuatu yang membuat dia malu dan terluka, mungkin menjadi aib untuknya, dan dia tidak ingin kamu tahu tentang itu. Rahmadi meminta ayah merahasiakan itu darimu, dan memintamu untuk tidak melanjutkan perjodohan kalian..."
"Aku tidak merasa dijodohkan, aku mencintai Dria, Pi, tapi aku tidak menyangka jika Dria..."
Sandro tidak dapat meneruskan, entah kenapa hatinya tetap menolak sebuah kebenaran yang telah dicerna otaknya.
"Tapi dia menjadi tertekan karena cintamu itu, dia tertekan karena kamu Sandro... Mungkin saja dia tidak ingin menolakmu, dia juga sudah merasakan perasaan yang sama, tetapi karena dia sadar akan keadaannya maka dia tidak dapat menerima cintamu..."
"Jadi Deedee tidak dapat menjaga dirinya? Itu alasannya menolakku? Ahhh!!!"
Sandro mengayunkan tangannya meninju udara, serbuan kekecewaan menambah pekat emosi di dada Sandro.
"Hati-hati dengan perkataanmu, Sandro! Papi tidak ingin kamu merendahkan Dria, apalagi dengan mengatakan perkataan seperti itu di hadapannya. Itu kesalahan seorang remaja yang kehilangan pegangan, yang dibiarkan melangkah sendiri tanpa bimbingan. Papi turut merasa bersalah tentang keadaan Dria waktu itu, karena secara tidak langsung keberadaan kita ikut serta dalam semua situasi yang Dria hadapi. Kita mengambil Dria dari ayahnya, dan kita membiarkan Dria juga diambil begitu saja tanpa memperhitungkan semua hal tentang Dria... Papi sama bersalahnya dengan Rahmadi untuk hal ini."
Tuan Harlandy menjadi marah dengan perkataan Sandro. Sandro terdiam dengan kalimat tegas bernada tinggi dari sang papi. Tuan Harlandy meneruskan...
"Jika kamu tidak dapat menerima keadaan Dria, jangan pernah muncul di hadapan Dria, dan ingat, Dria tetap adikmu apapun keadaannya."
Sandro mengembuskan napas kesal dan marahnya, dia diperhadapkan dengan sebuah fakta tentang ketidaksempurnaan sosok yang dicintainya. Nilai yang diajarkan sang mami yang dipegangnya hingga sekarang tentang bagaimana menjaga diri sendiri dari pengaruh pergaulan bebas, ajaran sang mami yang taat pada nilai-nilai dalam keyakinannya tentang keagungan sek*s hanya milik suami dan istri menjadi bertabrakan dengan kenyataan tentang siapa wanita yang diinginkannya sebagai istrinya.
Apa Dria tidak mengingat ajaran maminya tentang hal itu? Sandro membanting kasar punggungnya ke sandaran sofa sehingga kepalanya terasa sakit padahal membentur busa yang cukup empuk sofa itu. Tuan Besar memperhatikan reaksi Sandro juga masih dengan emosi yang sama.
"Jika kamu tidak siap menerima keadaan Dria, jangan pernah temui Dria. Papi akan menbuat alasan untuk itu sehingga Dria tidak mengetahui penolakanmu tentang keadaannya. Papi mengingatkanmu... Dria trauma, dia pernah terluka karena penolakan orang tua dari teman lelakinya yang melemparkan semua yang terjadi sepenuhnya kesalahan Dria. Jadi, papi tidak ijinkan kamu melukai Dria lagi dengan sikapmu padanya sekarang..."
Padahal saat pesawat landing di bandara kota ini, hatinya begitu menggebu karena sesaat lagi akan bertemu Dria, sekarang Sandro kehilangan semua tujuannya kembali ke negara ini, kepalanya sakit karena tiba-tiba keadaan menjadi pelik untuknya.
Sandro keluar dari kamar sang papi dengan langkah gontai.
Semua pikiran yang berseliweran di kepalanya... Ingin mempertanyakan kebenaran, tapi orang dengan kapasitas seperti papinya tidak mungkin mengatakan sesuatu yang tidak benar. Atau ini hanya cara ayah untuk menolaknya sama seperti Dria? Ayah mengikuti keinginan Dria sehingga memberitahu Papinya? Justru ini terlalu mengada-ngada. Sandro mengacaukan rambutnya sendiri dengan telapak tangan.
Di kamarnya yang hanya bersebelahan dengan kamar papinya Sandro benar-benar gelisah. Apapun tak bisa dilakukan dengan benar, berbaring salah, duduk salah, berjalan pun menjadi salah. Akhirnya dia memilih memandang kegelapan malam dari dinding kaca besar kamarnya. Matanya tidak dapat menembus kegelapan, sama seperti hatinya yang sekarang tidak mampu mengetahui seperti apa akhir dari cintanya.
.