
Melewati malam di balkon pribadi di sebuah luxury apartement di sebuah kawasan elit yang bergengsi di bagian barat kota megapolitan ini, Emma duduk di kursi bersantai ditemani Audreey.
Saat mendapatkan kiriman foto dan video yang menunjukkan betapa mesranya Sandro dengan seorang gadis yang terlihat masih muda, Emma marah, kecewa dan sakit hati. Terlebih saat Sandro tidak memberikan penjelasan dan jawaban Audreey di telpon yang tidak memuaskan.
Emma segera pulang, dia harus mendapatkan penjelasan dari Sandro. Tapi si kekasih hati sejak bertelepon terakhir di jam makan siang sejak itu tidak dapat dihubungi, gawai pribadinya tidak aktif dan gawai satu lagi hanya dijawab Timothy yang juga tidak memberi penjelasan apapun.
“Benar… kamu sendiri yang mengambil foto dan video itu, Audreey?”
“Kamu tidak percaya?”
“Bukan tidak percaya, tapi Sandro tidak suka makan siang dengan banyak orang… apalagi dengan wanita, sekalipun itu kamu istri Miro…”
“Tadinya Miro melarangku datang… tapi entah bagaimana, menurutku gadis itu membutuhkan teman bicara maka Sandro membiarkan aku makan bersama mereka…”
“Siapa namanya?”
“Emm… eh kami tidak sempat dikenalkan, aku begitu gugup di sana, aku juga tidak leluasa untuk berbicara banyak… kamu tahu sendiri bagaimana kekasihmu bersikap pada orang lain, aku benar-benar menjaga bicaraku tadi…”
Sejak tadi Audreey berbohong, dia sengaja mengesankan tentang apa yang dia laporkan pada Emma benar adanya.
“Sandro pasti tidak akan mengatakan apapun tentang gadis itu…”
“Bagaimana kamu bertanya padanya tadi?”
“Aku menanyakan dia di mana dan bersama siapa… dan dia hanya menjawab dia makan siang bersama Miro, itu saja…”
“Kamu tidak bilang soal foto dan video itu, kan?”
Audreey bertanya was-was.
“Aku tidak ingin gegabah mengatakan dia selingkuh dan aku punya bukti, sebelum aku jelas terhadap semuanya…”
Audreey menghembuskan napas lega, posisinya masih aman di mata si tuan Muda.
Sementara Emma menjawab gamang. Nalurinya berkata bahwa foto dan video itu sangat jelas menceritakan tentang bagaimana Sandro begitu penuh perhatian pada gadis itu, dan sedihnya itu tidak pernah dilakukan Sandro padanya.
Rasa sakit benar-benar terasa sekarang karena menyadari bahwa Sandro sebenarnya begitu jauh dengannya, statusnya mungkin terlihat begitu dekat tapi sebenarnya tidak dalam hubungan real mereka, dia bisa merasakan bahwa tak ada chemistry apapun di antara mereka selama ini, bahkan dia tidak mendapatkan akses khusus dalam berkomunikasi seperti yang Miro dapatkan. Entah atas dasar apa mereka berdua saling beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
“Tunjukkan foto yang lain, Audreey… katamu ada banyak foto yang kamu ambil…”
Emma menegakkan punggungnya dan mengulurkan tangan meminta gawai Audreey.
“Sudah dihapus suamiku semuanya… dia begitu marah saat tahu aku mengirimkan beberapa foto padamu… tapi kamu bisa melihat satu postinganku di IGku tadi siang di sana… jika kamu ragu aku benar-benar bersama mereka tadi…”
“Berarti... Miro tahu hubungan mereka?”
“Sepertinya iya… nampaknya suamiku dan gadis itu sudah sering berjumpa, mereka terlihat tidak canggung satu sama lain…”
“Berarti sudah lama Sandro punya hubungan dengan gadis itu?”
“Itu mungkin saja…”
“Tapi Sandro sudah membicarakan pernikahan denganku, bahkan aku sudah dibawa ke rumah mereka dan dikenalkan pada papinya…”
“Tapi yang aku dengar dalam percakapan mereka, gadis itu mengenal semua sekretaris Sandro…”
“Begitukah?”
“Iya, dia menyebut nama mereka dengan baik… mungkin dia sering berkunjung ke kantor Sandro…”
“Bahkan aku tidak pernah ke sana dan aku hanya mengenal Timothy, asistennya…”
“Ternyata banyak yang tidak kau ketahui tentang kekasihmu?”
“Rasanya seperti itu sekarang…"
Emma menjawah lirih, kesedihan semakin menguasai jiwanya.
"Tapi aku masih tidak percaya dia selingkuh, hubungan kami begitu baik selama ini… aku tidak percaya dia mengajakku menikah tapi ternyata dia punya kekasih yang lain…”
Lanjut Emma dengan mata yang mengembun, mulai menyesali bahwa dia mungkin terlalu terlambat mengambil langkah maju untuk hubungannya dengan Sandro.
“Em… mungkin dia serius ingin menjadikanmu istri, karena kamu memang lebih cocok dengannya. Kamu punya segala yang diinginkan para pria sekarang termasuk Sandro. Kecantikan, kedewasaan dan kemandirian, kamu punya harta juga… tapi… ini mungkin saja Em, aku tidak tahu pasti, mungkin dengan gadis itu Sandro hanya ingin senang-senang… gadis itu masih terlalu muda menurutku dia usianya sembilan belas atau dua puluh tahun. Biasanya para laki-laki jika hanya ingin main-main mereka mencari yang jauh lebih muda yang masih naif. Tapi aku memberi nasihat padamu, kamu harus bertindak secepatnya sebelum hubungan senang-senang itu berubah menjadi hubungan serius, kamu akan tersingkir… desak Sandro untuk segera menikah denganmu…”
Perkataan demi perkataan keluar dari bibir Audreey seolah lidahnya begitu licin sehingga kata-kata meluncur dengan baik, mungkin dia baru memakan roti yang diolesi dengan mentega yang banyak. Dia ingin meyakinkan Emma bahwa dia peduli.
“Sandro memang bertanya saat aku hendak ke S, kapan waktu yang baik untuk menikah dengannya, tapi aku menolak membicarakan itu…”
“Em… tinggalkan sejenak bisnismu di S… pentingkan dan dahulukan hubunganmu dengan Sandro…”
“Itu yang sedang aku lakukan, jika tidak aku tidak ada di sini sekarang…”
“Baiklah… sebaiknya aku pulang Em, jam seperti ini suamiku pasti sudah tiba di apartemenku…”
Audreey berdiri kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan tv di unit apartemen milik Emma yang bertingkat dua itu. Emma mengikuti dengan langkah lesu.
“Baiklah Audreey, terima kasih kamu telah memberitahuku hal yang paling penting… tapi tolong cari informasi lain lewat Miro…”
“Akan kucoba… tapi aku pesimis dia akan buka mulut…”
“Ya… aku mengerti, Miro sangat menjaga apapun tentang Sandro…”
“Tapi Em… tolong jangan katakan pada suamiku bahwa aku memberikan informasi lain padamu. Suamiku memarahiku tadi sampai meninggalkan aku pulang sendirian… dia begitu membela sahabatnya… dan tolong jangan katakan pada Sandro bahwa aku yang memberitahumu soal ini… Sandro bisa memutuskan hubungan dengan suamiku… dan aku mungkin diceraikan suamiku… oh Em… tolong jangan libatkan aku dalam masalah kalian…”
Audreey membuat drama memanipulasi Emma, dia ingin cuci tangan, karena dia masih berharap ada undangan makan siang lagi dari Sandriana, adik si Tuan Muda. Pasti gaya hidupnya tidak berbeda jauh dengan Tuan Muda itu, dia sudah membayangkan kehidupan glamour adik si Tuan Muda, jika dia bisa mengambil hati dengan membangun pertemanan, maka tak perlu akses dari Tuan Muda untuk menikmati hidup kelas atas, cukup lewat Dria.
“Tapi Sandro bisa tahu jika suatu saat aku tunjukkan foto dan videonya…”
“Itu aku ambil diam-diam saat belum duduk bersama mereka… tapi Em…”
Audreey duduk lagi di sofa empuk yang panjang sambil meraih sebuah bantal kursi dekoratif yang lembut, ada satu hal yang dia harus tuntaskan supaya jejak kelancangannya benar-benar terhapus, dia tak ingin ada cacat di mata Tuan Muda. Emma melakukan hal yang sama di sebuah sofa tunggal tak jauh dari Audreey.
“Aku memberimu saran, sikapi secara dewasa masalah ini… mungkin jika kamu datang mengkonfirmasi pada Sandro soal gadis itu Sandro tidak akan mengakuinya dan dia bisa marah dan menjauh darimu. Lebih baik kamu fokus pada niat kalian untuk menikah…”
“Maksudmu, aku tidak perlu membicarakan ini dengan Sandro?”
“Iya Em… bahkan jangan sampai kamu menunjukkan kecurigaan, pria umumnya tidak nyaman jika pasangannya menunjukkan rasa tidak percaya padanya. Jika kamu mengungkit soal siapa yang makan siang dengannya dalam foto itu, mungkin itu bisa menekan Sandro dan justru membuat hubungan kalian bermasalah. Mungkin kamu harus belajar memaafkan Sandro tentang hal ini. Anggap saja kamu memberikan sedikit ruang dan sedikit kebebasan untuk Sandro soal gadis itu. Di luar sana ada pria yang suka bertualang sebelum akhirnya terikat pada satu wanita…”
Emma menatap langit-langit apartemennya, mencoba melakukan penalaran. Saat mereka jarang berkomunikasi, Sandro selalu merespon panggilannya bahkan menelpon balik jika dia tidak sempat menjawab. Sekarang setelah dia meningkatkan intensitas hubungan mereka justru sangat terasa bahwa Sandro tidak nyaman, tidak mengangkat panggilan dan selalu berbicara menyakitkan.
“Iya… penjelasannmu cukup logis, mungkin Sandro seperti itu… aku hanya berharap ini membaik secepatnya…”
Emma berusaha meyakini bahwa situasi ini hanya sementara, dia memang mengharapkan hubungannya dengan Sandro akan membaik karena tujuannya adalah hanya menikah dengan Sandro.
“Aku pulang ya Em…”
Audreey tersenyum sangat manis menyembunyikan kelicikannya, hatinya lega. Saat Emma menelponnya tadi tujuannya datang menemui Emma hanyalah untuk kepentingan dirinya saja sebenarnya, bukan datang sebagai teman yang peduli pada sahabatnya yang sedang gundah gulana. Seharusnya dia memberitahu hal yang sebenarnya, apa sulitnya, sehingga Emma tidak perlu bersedih dan terus-menerus galau.
Jauh dalam hatinya Audreey tidak rela Emma berbahagia dengan Sandro. Rasanya tidak adil saja, seorang pria tertampan di negara ini dengan kekayaan tak terhitung harus bersanding dengan Emma. Apa lebihnya Emma darinya? Soal kecantikan mereka sama, soal kekayaan sama saja suaminya juga termasuk pebisnis sukses walau berada jauh di bawah si Tuan Muda.
Tapi Emma pernah menyinggung harga dirinya saat membanggakan dirinya begitu sukses dalam bisnisnya dan tidak tergantung pada suami. Dia tidak rela Emma lebih baik darinya, dan jika Emma jadi menikah dengan Sandro dia akan jatuh sangat jauh di bawah Emma, dia tak rela Emma akan memandang rendah dirinya.
.
.
Hari ini tanggal merah, liburan yang ditunggu si Nona Muda sebab beberapa waktu yang lalu telah membuat rencana dengan bu Lia untuk menyempurnakan keahliannya membuat apple pie dan beberapa jenis penganan lain. Dria jadi tertantang untuk terus belajar karena setiap kali dia membuat sesuatu karyawan di rumah belakang terutama beberapa anak mereka akan bersorak kegirangan karena merekalah yang akan menikmatinya. Dria menyukai saat mereka berebutan meminta bagian kue hasil buatan Dria.
“Kakak Dria… kuenya sudah matang?”
Seorang anak lelaki berumur sembilan tahun dan bertubuh lebih mungil dari adik-adiknya berteriak dari ambang pintu dapur yang besar itu… mereka dilarang bermain di sekitar rumah utama, tapi anak-anak kecil di rumah belakang tahu kapan Dria akan berada di dapur, kehadiran Dria di sana membuat mereka leluasa datang mendekat, Nona Muda itu menyukai anak-anak dan sering bermain dengan mereka di hari libur.
“Hahaha… Jojo, kamu tidak sabar lagi rupanya?”
Dria tertawa melihat Jojo yang hanya menunjukkan setengah badannya di pintu besar yang menuju ke arah luar rumah.
“Bau harumnya sudah tercium dari kamarku, kakak Dria…”
“Kamu datang tepat waktu Jo… kakak baru saja mengeluarkannya dari oven… panggil adik-adikmu sekarang…”
“Mungkin Noel dan Benyamin tidak menginginkan kue itu sekarang, aku bisa mewakili mereka memakannya kakak Dria…”
“Hahaha… kakak tahu kamu ingin bagianmu lebih besar kan? Panggil saja… kakak membuat lebih banyak kali ini, kalian boleh makan sepuasnya…”
“Benarkah?”
“Iya… sana panggil mereka datang ke sini…”
“Kami boleh masuk ke dalam? Kami belum pernah makan di meja besar itu…”
“Iya… iya… kali ini kalian boleh makan di sini…”
“Tapi kakak Dria harus beritahu oma Lia, dia melarang kami…”
“Oma tidak melarang kali ini… pergi saja beritahu adik-adikmu…”
Dria tersenyum ke arah bu Lia yang sedang menatapnya, Dria mengangkat bahunya karena mengerti sudah meniadakan aturan bu Lia lagi, akhirnya bu Lia mengangguk tanda maklum, ini si Nona Muda apapun boleh untuknya di rumah ini. Anak kecil bernama Jojo itu segera menghilang, digantikan sosok tinggi tegap yang sekarang berambut panjang melewati kerah bajunya.
“Bagian kakak mana Dee?”
Sandro mendekati Dria. Dria menatap sejenak wajah kakaknya yang sedang tersenyum padanya lalu fokus memasukkan sebuah adonan kue yang lain dalam wadah ke dalam oven siap untuk dipanggang.
“Bagian apa kak?”
“Kue buatanmu, kamu curang tidak pernah mengijinkan kakak mencicipi kue buatanmu…”
“Karena sebelum ini Dee masih dalam tahap belajar, Dee belum yakin dengan kuenya enak atau tidak… tapi kali ini kak Sandro boleh menikmatinya… Dee bisa pastikan kali ini buatan Dee sempurna… sebentar ya… Dee potong satu bagian untuk kak Sandro… ”
“Sudah bisa kakak makan?”
Sandro menatap sepotong kue buatan Dria di sebuah piring kecil lengkap dengan sebuah garpu kecil yang sekarang diletakkan Dria di hadapannya.
“Iya… boleh… Dee ingin tahu penilaian kak Sandro…”
Sandro mengamati sebentar lalu memotong satu bagian kecil dan memasukkan ke mulutnya. Dalam dua suapan Sandro memandang Dria, setelahnya dia menunduk hanya menatap kue itu sambil menikmati setiap suapan tanpa bicara.
“Bagaimana rasanya kak?”
Dria tidak sabar menunggu hasil karyanya dikomentari sang kakak, tapi kakaknya tak bergerak untuk menanggapi. Dria menatap sosok tinggi besar yang tak bereaksi apapun hanya tertunduk tapi tetap memakan kuenya. Sesaat Dria hanya diam sampai dia bertatapan dengan bu Lia yang memberi tahu dengan bibirnya tanpa suara…
“Tuan Muda sedang teringat pada Nyonya Rosalie…”
Dria yang tak mampu menangkap apa maksud gerakan bibir bu Lia datang mendekati bu Lia, lalu bu Lia berbisik…
“Tuan sedang teringat pada Nyonya… kadang-kadang Tuan suka seperti itu, jika rindu nyonya Tuan suka meminta membuatkan kue kesukaannya dan makan dengan diam...”
Dria duduk di sisi kakaknya.
"Apa rasanya sama?"
Dria bertanya lirih, sepotong memori melintas kemudian, selalu menunggu dengan tidak sabar saat sang mami bersibuk ria di dapur membuat kue-kue kesukaan mereka, ingatan yang datang bersamaan dengan kerinduan terhadap sosok mami mereka berdua.
"Sama persis, Dee... sama persis..."
Mereka berdua tahu apa yang mereka bicarakan. Dria tanpa sadar merangkul lengan kanan Sandro dengan dua tangannya. Kepalanya bersandar di bahu kekar Sandro.
"Kak Sandro rindu mami ya? Dee juga..."
Larut dalam gejolak rasa yang sama, akhirnya entah siapa yang memulai kedua kakak adik tak sedarah itu saling berpelukan. Sedih tapi mereka tak menangis, dan bahkan Sandro justru merasakan bahwa sesuatu yang indah sedang terjadi di hatinya, dia tak merasa terlalu kehilangan lagi sekarang.
"Terima kasih ya Dee... kamu telah berusaha membuat kue ini seenak buatan mami..."
Dria melepaskan pelukan hangat sang kakak.
"Wah... senangnya... akhirnya Dee berhasil.... Yey... Bu Lia yang mengajari... terima kasihnya harus sama bu Lia... ehh... bu Lia ke mana ya?"
Area dapur kenapa tiba-tiba kosong? Dria berdiri lalu berputar mengambil tiga buah piring dan membagi beberapa potongan besar di tiap piring, dia teringat ada bocah-bocah yang sedang menanti untuk menikmati kue buatannya.
"Itu untuk siapa?"
"Untuk anak-anaknya kak Rahel... Tapi sepertinya mereka tidak berani masuk ke sini, ada Tuan Muda. Aku tinggal ya kak, aku akan membawa ini ke rumah belakang..."
"Sini kakak bantu..."
Sandro mengambil alih dua buah piring di tangan Dria lalu berjalan mendahului Dria.
"Kak Sandro akan membuat mereka sungkan jika kak Sandro ikut ke rumah belakang.."
"Kakak harus membiasakan diri berbaur dengan mereka, kamu yang bilang kan kakak harus lebih peduli..."
Sambil tetap berjalan Sandro melihat ke belakang dengan sebuah senyum di wajahnya.
"Ahh baiklah... Tuan Muda..."
Dria tertawa senang dengan respon baik kakaknya untuk sesuatu yang pernah dimintanya. Dan untuk pertama kalinya di masa dewasanya si Tuan Muda datang ke bagian belakang rumahnya. Selain heran, kaget dan sungkan, para karyawan tentu senang melihat sesuatu yang ditunjukkan Tuan Muda, terlebih saat Tuan Muda tidak menolak waktu Dria mengajak Tuan Muda bermain dengan anak-anak.
Dria mengambil bola plastik milik Jojo dan mulai menendang ke arah Tuan Muda. Yang terjadi kemudian permainan di pagi menjelang siang hari ini menjadi lebih seru dan bahkan berubah menjadi permainan sesungguhnya karena spontan beberapa karyawan pria bergabung dan kemudian entah bagaimana mereka telah menjadi dua tim yang saling menyerang gawang masing-masing. Dria dan anak-anak berubah menjadi suporter bagi Tuan Muda yang menjadi asyik dengan permainan sepakbola dadakan di halaman luas bagian belakang rumah besar Tuan Harlandy.
Saat Sandro bisa menjebol gawang dari dua buah batu, Dria berteriak kegirangan dan berlari datang memeluk kakaknya, disambut Tuan Muda yang tertawa senang lalu mengangkat Dria sambil berputar.
"Tuan... Ada Nona Emma mencari anda..."
Timothy bersuara keras di dekat Tuan Muda membuat Tuan Muda menurunkan Dria. Tak hanya Timothy yang datang ke bagian belakang, ada Emma juga sedang berdiri tak jauh dari mereka...
.
⚽️
.