
Sebuah kejadian yang berlangsung dramatis kemarin hari saat mengetahui tentang Dria yang memiliki seorang anak membuat Sandro gamang. Apakah dia akan terpengaruh dan tetap berpaut pada kekecewaan karena masa lampau atau tetap bertahan pada kegalauan di masa kini karena hatinya begitu berat untuk diajak kompromi dengan status Dria. Atau apakah dia akan menerima saja karena begitu mencintai Dria, tapi hatinya tidak selapang waktu itu.
Kali ini dia tidak lagi menginap di hotel karena rumahnya sudah siap ditempati. Di rumah barunya, di kamar yang didesain untuk mereka gunakan kelak setelah menikah, Sandro terus merenung hampir sepertiga malam. Ajaran yang berhasil didoktrin sang mami membuat dia susah untuk menerima kondisi ini. Saat mengetahui kondisi Dria yang pertama sekalipun berat tetapi dia berhasil keluar dari tekanan itu, dia bisa lebih terbuka terutama saat mendengar pandangan sahabatnya Miro waktu itu.
Tapi kali ini situasi begitu berbeda, dia memilih untuk tidak meminta pandangan tentang keadaan Dria pada sahabatnya, menyimpan sendiri cerita tentang seorang anak karena mendengar Dria menyebut itu sebagai aib, dan karena dia menjaga hati Dria maka dia tidak menanyakan lebih lanjut tentang anak itu.
Di waktu yang lalu setelah selesai berperang dengan dirinya sendiri baru kemudian dia datang mencari Dria, sekarang dia harus sedapat mungkin berjuang agar Dria tidak mengetahui pergolakan di hati sepanjang sisa siang tadi selepas peristiwa di kafe.
Sungguh, kedewasaan seorang Sandro diuji pada titik ini, termasuk kedewasaan dan keteguhan hatinya dalam mencintai Dria, ya kedewasaan seorang pria sejatinya berarti siap menerima sebuah perubahan dan siap menghadapi sebuah kenyataan. Sandro ternyata tak mampu menghindari pikiran sempit dan hati seorang pengecut, sementara dia terlanjur menyatakan bahwa mereka akan menikah secepatnya.
Dria pun sama. Berada di kamarnya dengan jarak sekitar tiga ratus meter dari rumah baru di mana Sandro ada sekarang, nalurinya mengatakan bahwa Sandro tertekan dengan apa yang baru diketahuinya, soal anaknya. Raut wajah Sandro tidak setenang biasanya, ada emosi yang berusaha disembunyikan Sandro dan itu terbaca oleh Dria sekalipun perhatian Sandro tak berubah untuknya bahkan boleh dikata sangat posesif padanya, melakukan banyak hal untuknya, tak berhenti mencium dan membelai hingga mereka berdua selesai makan malam.
Walau tahu sesuatu sedang terjadi di hati Sandro tapi Dria tidak ingin mengambil keputusan, bukan karena mendengarkan Sandro yang melarangnya sembarang berucap kemarin hari tapi Dria memasrahkan saja pada kuasa yang Empunya Semesta ke mana lintasan hidupnya mengarahkannya, termasuk pasrah pada keputusan Sandro saja untuk mereka berdua.
.
Keesokan hari… Dria membantu Sandro membereskan bawaan sebelum Sandro kembali, tidak ada pak Timo, dan Sandro tidak biasa mengatur sendiri barang miliknya.
“Kakak… apa pakaian kotor ini akan dibawa pulang?”
“Tidak usah Dee… kakak harus punya pakaian juga di sini, mungkin kakak akan meminta Timo untuk mengirimkan pakaian lain ke sini…”
“Ahh baiklah… berarti koper ini ditinggalkan saja ya… pakaiannya nanti Dee bawa ke laundry…”
“Terserah kamu… pelayan rumah ini baru minggu depan akan datang beberapa orang…”
“Pak Lucas sudah mendapatkan pelayan?”
“Sudah.”
“Dee sudah selesai… kakak hanya perlu membawa tas kecil ini saja…”
“Terima kasih, Dee…”
Dria tersenyum lalu memperhatikan kakaknya yang masih mematut diri di cermin.
“Sudah tampan kakak… cerminnya bisa pecah…”
Sandro balas tersenyum lewat tatapan yang bertaut di cermin itu. Dria menyimpan sebuah sedih karena wajah tampan di cermin itu terlihat tidak secerah biasanya, segera muncul dalam pikirannya bahwa yang terjadi kemarin bukan masalah sederhana untuk Sandro, pasti Sandro memikirkan itu, dan kakaknya hanya sedang berakting bahwa dirinya baik-baik saja.
Dria akhirnya menyimpan keinginan untuk mendekat dan saat Sandro mengambil tasnya dari atas tempat tidur, Dria mendahului Sandro keluar dari kamar dan menuju tangga turun. Entah kenapa sekarang hatinya memerintahkannya untuk membuat jarak.
“Turun memakai lift saja , Dee…”
Suara Sandro terdengar di belakangnya. Dria yang terlanjur berada di ujung tangga berbalik sambil tersenyum seceriah yang dia bisa.
“Kakak saja, Dee turun lewat tangga… siapa yang lebih cepat sampai di lantai bawah, Dee ingin menguji efisien tidak rumah ini menggunakan lift…”
Tanpa menunggu respon Sandro yang ada di depan lift Dria segera turun ke bawah. Bertemu di pintu keluar seolah tidak terjadi apa-apa pada Dria.
“Ternyata menggunakan tangga lebih cepat kakak… lift hanya membuat kaki ini jadi malas bergerak…”
Lagi, Dria tak menunggu respon Sandro, dia lalu melangkah keluar rumah lebih dahulu tak ada niat melangkah sejajar seperti biasanya.
“Ayo… kita sarapan di kafe ya, Tety sudah ada di sana meminta mereka menyiapkan sesuatu untuk kita…”
Dria bicara dengan sedikit menoleh ke belakang lalu berjalan terus dengan langkah semakin cepat karena Sandro sudah semakin dekat.
“Apa kafe sudah buka sepagi ini?”
Sandro meraih pundak Dria untuk berjalan di sampingnya. Dria tersenyum dengan hati sedikit getir sambil meraih keyakinan bahwa kondisi mereka hanya melewati sebuah gangguan saja, bahwa mereka akan baik-baik saja setelah ini.
“Belum… karena itu Tety ke sana, jam seperti ini semua karyawan sudah siap hanya belum buka saja…”
“Kita naik mobil ya? Lumayan jauh kan?”
Dria melirik Sandro.
“Tidak Dee… kita jalan kaki ya?”
“Baiklah… sebentar, kak…”
Dria melepaskan rangkulan Sandro lalu mendekati salah seorang sopir ayah yang akan mengantarkan Sandro ke bandara, meminta sopir menunggu mereka di depan kafe saja.
Selama berjalan menuju ke depan masing-masing diam dalam pusaran pikiran sendiri. Sesekali Sandro masih melakukan sesuatu yang menjadi kebiasaannya sekarang, bibirnya memberikan ciuman di kepala Dria, tindakan yang tetap saja tidak meluruhkan kegalauan dalam hati masing-masing.
Tanpa Sandro sadari, dirinya sedang menarik pemikirannya ke titik stagnan untuk kelanjutan hubungan mereka, dan Sandro juga tidak menyadari bahwa naluri seorang wanita begitu peka terhadap sedikit perubahan yang ditemukannya. Ya... Sandro tidak menyadari bahwa sikapnya mempengaruhi hati Dria juga.
.
🐢
.
“Tuan… ini rekomendasi Wedding Planner terbaik di negara ini…”
Timo meletakkan brosur di meja si Tuan Muda. Sandro hanya melihat sepintas lalu meneruskan kegiatannya mempelajari beberapa file yang baru saja diletakkan Barry.
“Saya sudah membuat janji temu dengan mereka, Non Dria sudah saya beritahu, jadi minggu ini Non Dria akan datang ke sini…”
Sandro terbeliak, fokus menatap Timo sekarang.
“Dria akan datang? Kapan?”
“Non Dria tiba di sini kamis malam, janji temunya Jumat siang.”
“Kenapa kamu tidak konfirmasi denganku? Apa kamu tidak memikirkan kesibukanku? Tunda pertemuan itu, Timo.”
“Saya yang mengatur jadwal Anda, Tuan… hari itu saya atur khusus untuk urusan penting Anda dengan Non Dria. Tiket kereta Non Dria sudah saya wa tadi… jadi semua sudah fix, seharusnya tidak perlu ditunda… tapi… terserah Tuan, saya akan beritahu Non Dria.”
Sandro diam. Sejak dia kembali dari S mereka jarang berkomunikasi, dia ingat bahwa apa yang dia perintahkan pasti dikerjakan dengan baik oleh Timo, jadi persiapan pernikahannya sudah mulai diurus Timo.
“Tuan…”
Timo menunggu respon si Tuan Muda yang awalnya begitu menggebu-gebu meminta dia mengurus dengan cepat semua hal berkaitan dengan pernikahan, sekarang dia sedang memandang seseorang yang wajahnya tercermin tidak memiliki antusias untuk hal sepenting ini.
“Terserah kamu saja…”
Akhirnya Sandro menjawab lalu mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan di atas mejanya. Timo menarik nafas, merasakan sebuah perubahan dalam diri Tuan Muda.
Ratusan kilometer dari tempat Sandro, Dria menatap gawainya, membaca tiket elektronik miliknya dan Tety yang dikirim pak Timo untuk keberangkatannya dua hari mendatang. Dia memutuskan berangkat, sekalipun kecewa karena urusan sepenting ini justru disampaikan oleh pak Timo, mungkinkah kakaknya terlalu sibuk sehingga tidak sanggup melakukan sendiri. Rasanya kebiasaan lamanya kumat sekarang tidak memegang lagi gawainya, dua kali Dria menelpon dan itu dijawab pak Timo dan ini membuat Dria enggan untuk menelpon kakaknya lagi.
Mereka akan bertemu Wedding Planner untuk pernikahan mereka, itu sebuah hal yang penting karena itu artinya hal yang paling membahagiakan untuk mereka berdua segera akan terwujud. Tetapi, mengapa terasa dingin? Apakah memang lintasannya yang sekarang ini benar untuknya?
Apakah dia harus bertahan pada situasi ini, apakah ini benar untuk diteruskan, sebab dia tidak punya kemampuan untuk mundur atau mempercepat gerak maju hubungan mereka semenjak dia memasrahkan perjalanan hidupnya pada Pemilik Hidup.
Dria memilih akan melihat sikap Sandro terhadap hal sepenting ini nantinya sebab rasanya akan salah jika mempertahankan sesuatu tapi ada duri yang menghalangi, duri itu harus dibersihkan supaya nanti tidak menyakiti atau ranting yang berduri dipotong saja, artinya kisah cinta ini dikeluarkan dari bab kehidupan mereka....
.
Maaf pemirsa jika alurnya melambat lagi... 🐢🐢🐤🐤
.