Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 72. Terbaik dan Terindah dalam Hidup



“Tuan Muda… apa Anda sudah siap? Sepuluh menit lagi acara akan dimulai…”


Timo hanya berbicara dari ambang pintu kamar, dan Tuan yang sebentar lagi melepas masa lajangnya di usia tiga puluh enam tahun, tidak menjawab. Sandro sekali lagi memperhatikan penampilannya di cermin, lalu bergegas ke luar.


Sandro berhenti dan memandang pintu kamar Dria, sebelum ini tidak ada tanda-tanda Dria ada di kamar itu. Sejak tiga hari yang lalu mereka dilarang berkomunikasi apalagi bertemu, Dria ada di rumah ini tapi entah di kamar yang mana, baik Timo maupun si paman Lucas yang mengatur semua tentang pernikahannya tidak memberitahu ketika dia bertanya.


Sandro kemudian hanya bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk bersabar tidak melihat atau berbicara dengan Dria dan menikmati saja rindu yang membungkus perasaannya.


“Non Dria tidak ada di kamar itu, Tuan… tapi Non Dria sudah siap, hanya… Anda yang harus lebih dahulu berada di tempat Pemberkatan.”


Timothy berkata dengan suara kalem, dia mengerti apa yang ada di pikiran Tuan Mudanya. Si Tuan Muda yang sedang bahagia kali ini menatap dengan melempar senyum kepada asisten merangkap sekretaris kepala dan kadangkala menjadi teman berdebat yang kadangkala justru terkesan mengusilinya, Sandro yang tahu tentang itu hanya membiarkan ulah Timo padanya, karena baginya status Timo lebih dari sekedar seorang yang bekerja melayani dirinya.


“Papi sudah siap?”


“Tuan Besar bersama keluarga Anda sudah menunggu di tempat acara.”


“Ayah?”


“Tuan Rahmadi akan ke sana mendampingi Non Dria…”


“Ah iya… aku lupa tradisi itu…”


Sandro melangkah panjang-panjang menuju tempat yang akan menjadi tempat di mana dia akan berubah statusnya dan tentu saja sebagai tonggak merayakan kedewasaan penuhnya sebagai seorang pria, dia akan memiliki keluarganya sendiri, sebuah dunia yang sudah lama dinantinya, dia akan menjadi suami kemudian menjadi seorang papi juga.


Di halaman mereka yang begitu luas, di sebuah area di samping rumah besar, telah didirikan sebuah bangunan semacam pendopo yang terbuka bercat putih keseluruhannya khusus dibangun untuk digunakan menjadi tempat untuk acara sakral Peneguhan Pernikahan Sandro dan Dria. Di bangunan itu ada beberapa bagian yang merupakan dinding setengah yang bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran, seperti sebuah jendela yang sangat besar.


Di beberapa tempat di sekitar pendopo telah didirikan tenda-tenda putih, tempat hidangan terpilih diletakkan di meja-meja prasmanan. Ada banyak meja bulat yang dikelilingi kursi-kursi juga disiapkan di sana. Di banyak tempat telah tertata penuh dengan bunga-bunga berwarna putih, bunga-bunga yang dikirim dari sebuah negara karena jenis bunga ini tidak ada di negara ini. Selama dua minggu semua bagian yang akan menjadi tempat perhelatan acara dipersiapkan, termasuk di dalam rumah besar.


Sungguh tidak dapat dikatakan hanya sebuah pesta sederhana menilik dari semua hal, semua detil, semua hiasan adalah yang terbaik dan mewah.


“Tempat Pemberkatan agak jauh dari rumah, apa Dria bisa berjalan sejauh ini dengan sepatu tingginya?”


Sandro tiba-tiba berhenti sebelum masuk ke dalam area pendopo terbuka itu. Bangunan yang berbentuk segi delapan itu sudah semarak dengan hiasan pernikahan.


“Ahh… Non Dria punya cara sendiri untuk datang ke tempat ini Tuan…”


“Cara sendiri? Maksudnya Dria akan datang dengan apa?”


Sandro meneliti jalan yang baru dia lalui, memandang jalur yang telah diatur seperti lorong di antara rangkaian bunga-bunga putih yang dijejerkan seperti pagar, dia dapat memperkirakan Dria akan kesusahan melangkah dengan heelsnya di atas rerumputan tebal yang terhampar bagai permadani di halaman luas ini.


“Jangan khawatir tentang hal itu Tuan, tugas Anda sekarang adalah berjalan menuju altar, sebaiknya Anda bergegas karena sesaat lagi prosesinya akan dimulai…”


Sandro akhirnya bersikap menuruti Timo, dia percaya mereka sudah merencanakan yang terbaik bahkan sampai detil yang sejenak menanggunya tadi.


Dan saatnya telah tiba, Sandro telah berdiri menunggu di bagian depan yang dijadikan altar Pemberkatan bersama seorang rohaniawan. Tuan Besar Harlandy duduk tenang di deretan kursi bagian depan bersama keluarga dekat. Sandro berdiri menanti dengan sikap yakin, perasaan yang merambat adalah bahagia, sebentar lagi dia akan bersatu dengan wanita yang telah membuat dia terperangkap dalam perasaan cinta yang begitu kuat.


Dan Sandro tersenyum saat melihat di jalan yang dia lalui tadi sekitar sepuluh sepeda mini yang dihiasi bunga mulai mendekati area pesta, beberapa yang mengendarainya adalah anak-anak yang dia tahu merupakan anak-anak di rumah belakang. Mereka menggunakan tuxedo juga dan menggayuh sepeda dengan wajah riang sambil membunyikan bell sepeda.


Salah satu sepeda yang berada paling belakang dan merupakan sepeda yang terbesar dikayuh oleh ayah Rahmadi dengan wajah senyum membonceng sang pengantin di belakangnya.


Lalu suara musik yang mengalun lembut seolah sebuah penghantar bagi langkah demi langkah Sandriana bersama ayah Rahmadi menuju altar untuk bersatu dengan pria yang didambakan, pria yang padanya rahasia cinta terjabarkan.


Senyum di wajah pasangan pengantin saling menyapa dalam jarak yang makin terkikis. Sandro menatap Sandriana yang mendekat dengan dada yang berdenyut riang, ini momen yang tak terlukiskan lagi, moment yang hanya berisi sukacita kebahagiaan untuk Sandro dan Sandriana.


Di hadapan Khalik Langit dan Bumi, dan di hadapan semua orang-orang yang terkasih, seorang pria dan seorang wanita saling mengikatkan ikrar sehidup-semati dalam satu kesatuan, bukan hanya hidup bersama sebagai suami dan sebagai istri tetapi menjadi satu daging, bukan lagi dua tetapi menjadi satu.


Dua tangan saling menggenggam erat, memulai satu perwujudan penyatuan dua hati, dua pribadi.


“Saudara Sandro Kristoffer Darwis, apakah bersedia menerima Sandriana Aubrey Rahmadi sebagai satu-satunya istri, mengasihi di dalam semua keadaan serta hidup bersama sampai maut memisahkan seperti yang diperintahkanNya?”


“Saya bersedia…”


Sandro menjawab dengan suaranya yang sangat tegas menunjukkan kebulatan hatinya, dengan mata memandang Sandriana tanpa berkedip.


“Saudara Sandriana Aubrey Rahmadi, apakah bersedia menerima Sandro Kristoffer Darwis sebagai satu-satunya suami, tunduk dan mengasihi di dalam semua keadaan serta hidup bersama sampai maut memisahkan seperti yang diperintahkanNya?”


“Saya bersedia…”


Sandriana menjawab dengan suara sedikit bergetar, menyatakan kesungguhan hatinya. Di pelupuk matanya ada kristal bening karena rasa haru yang menguasai hatinya pada moment terbaik dan terindah dalam hidupnya.


Kemudian... suara rohaniawan dengan tegas menyatakan keabsahan status keduanya...


“Dengan ini saya menyatakan… kalian bukan lagi dua tetapi telah terikat menjadi satu sebagai suami dan istri, silahkan mewujudkannya dalam sebuah ciuman kasih… tanda kalian sekarang saling memiliki…”


Sandro meraih bahu Dria sekarang untuk membawa Dria lebih dekat padanya, dalam tautan lekat mata yang bersinar karena cinta dan bibir mengukirkan senyum paling manis dan menawan seolah sedang berbisik tentang kekuatan cinta yang ada di hati masing-masing.


Lalu dengan lembut Sandro memberikan ciuman pertama sebagai suami, tak ada keraguan untuk melakukan hal indah ini di hadapan banyak orang, bibir yang menyatu dalam sesapan lembut seperti menyingkapkan sebuah rahasia lagi yang semakin dalam menjawab suara jiwa yang memanggil siap untuk bertualang menyingkap keintiman.


Cinta mewujudkan sebuah ikatan dalam pernikahan…


Setelahnya pernikahanlah yang dapat memelihara cinta itu tetap ada…


Yaitu… dengan saling menjaga… saling mendukung… saling menghargai… saling melayani…


Untuk mencapai keselarasan pemikiran dua pribadi, melengkapi perjalanan kehidupan, dan untuk menikmati kebahagiaan hingga akhir hayat…


.


.


Terima kasih sudah menyukai cerita ini, sudah menemani Aby dan memberi support terbaik...


🐢❤️🐥


.