Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part. 48. Mengambil Semua Rasa Cinta



Peristiwa di masa lalu yang dihadapi oleh seorang lelaki muda dan seorang gadis belia berusia enam belas tahun, mereka yang tidak mendapatkan edukasi yang baik tentang apa yang boleh dan tidak boleh mengenai sek*s, yang hanya bertindak berdasarkan dorongan naluri dan gejolak hasrat muda dengan mental yang belum matang dan stabil dan tanpa berpikir tentang resiko dari keintiman mereka.


Menjadi tragedi buat Reginald karena orangtuanya keduanya menentang dengan keras tentang pernikahan, dengan alasan mereka berdua masih anak ingusan. Tanpa mempertimbangkan keadaan Sandriana mereka dipisahkan orang tua Reginald, membuat seorang remaja yang masih polos dan panik tak dapat bertanggung-jawab.


Seorang remaja yang hanya bisa patuh karena belum punya kekuatan mengambil keputusan untuk diri sendiri, dipaksa pindah sekolah jauh ke sebuah kota pelabuhan yaitu kota B di ujung pulau yang berbentuk huruf K di negara ini yang merupakan daerah asal mamanya. Egi tinggal hingga menamatkan SMA dengan oma dan opanya, melanjutkan kuliah di provinsi yang sama. Semua diatur oleh orang-tuanya dengan maksud Egi tidak mencari Sandriana.


Reginald tidak sengaja dan tidak berkeinginan meninggalkan Sandriana, dia hanya masih sangat muda dan masih bodoh untuk memperjuangkan cintanya di hadapan orang tua yang masih memegang kendali atas hidupnya, dia masih berstatus di bawah umur dan belum punya nyali mengemukakan pikiran dan kehendaknya.


Egi memandang nanar ke arah Dria, dia segera mengenali gadis yang telah mengambil semua rasa cintanya hingga sekarang sehingga dia seperti tidak punya kemampuan untuk mencintai lagi. Gadis yang selalu diingat dalam rasa bersalah yang dalam.


Saat tiba di sini Egi sengaja mengambil tempat di sisi luar kafe yang berhadapan langsung dengan taman sekaligus menjadi tempat terdekat dengan area service di bagian belakang kafe. Tubuh Egi terpaku di tempat, seluruh tubuhnya seperti disiram air yang dingin, ingin sekali dia berteriak memanggil nama Sandriana yang melewatinya dengan jarak tidak sampai lima meter.


“Bu Sonia mana?”


Dria bertanya pada salah seorang karyawan kafe.


“Ada di dalam bu…”


“Rommy kan?”


Dria membaca nama yang tertulis di papan nama hitam di dada karyawan pria itu.


“Katakan pada ibu Sonia ya Rommy, aku ada di sini, tapi aku duduk di luar ya, hari ini agak panas…”


“Baik bu…”


Karyawan yang disapa dengan nama Rommy menunduk lalu segera masuk ke dalam.


Dria mengambil tempat duduk dengan selisih dua meja di samping Egi. Suara riang Dria menyapa indra dengar Egi. Egi memperhatikan semua tanpa berkedip, melihat beberapa karyawan kafe ini menunduk hormat pada Dria, melihat sampai Dria duduk di kursi yang membelakangi Egi.


“Non Dria… “


Sapa seorang wanita dengan postur tinggi berisi, menggunakan seragam seperti para pelayan kafe ini blus kuning muda dan celana hijau lumut tetapi tidak ada apron di pinggang serta bandana penutup kepala.


“Bu Sonia… aku ingin mencoba menu barunya… berapa menu yang sekarang ditambahkan di daftar menu?”


“Ada lima Main Course Non, tiga lagi hanya kudapan… menu yang cocok dengan anak-anak, menyesuaikan dengan pengunjung, rata-rata membawa keluarga…”


“Aku coba salah satu ya bu Sonia.”


“Saya pilihkan Non?”


“Iya… terserah bu Sonia… chef barunya ada berapa bu Sonia?”


“Dua orang Non…”


“Jadi, akhir pekan sudah bisa teratasi ya bu? Semoga kejadian beberapa waktu yang lalu banyak pengunjung yang tidak terlayani tidak terulang lagi…”


“Saya pastikan sekarang bisa kita atasi bila pengunjungnya membludak, Non...”


“Baik bu Sonia… Ini Tety ingin makan di sini juga…”


“Mau makan apa Tety?”


Manager kafe ini bertanya pada Tety.


“Saya minta dipilihkan juga sama bu Sonia…”


“Haha… kenapa mengikutiku Tety…”


“Hehe… saya tidak paham nama makanan di menu, Non…”


“Ada foto di menu Tety …”


“Saya takut salah, Non…”


“Ya sudah… terima kasih bu Sonia… selamat bekerja…”


“Sama-sama Non, saya permisi…”


Dria menangguk dan tersenyum ramah lalu terlihat menunduk melihat gawainya, berkirim chat dengan kakak tersayang yang ada di ibukota dan sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Egi memperhatikan semua dari belakang, dengan beberapa lapisan emosi dan ribuan penyesalan yang berkumpul di hatinya. Tapi melihat Dria lagi sekarang, dalam hatinya terbit sejumput asa untuk memperbaiki apa yang salah.


Memori Egi kemudian memunculkan sepenggal peristiwa bagaimana saat terakhir melihat Dria yang bersimbah airmata meninggalkan rumah omanya di kota B, Dria dan ayahnya yang menyusul ke kota itu untuk meminta pertanggungjawaban darinya… dan dia hanya bisa memandang tak berdaya dengan hati seperti diremas. Kejadian itu sangat membekas di hatinya, pasti di hati Dria juga.


Apakah Dria akan memaafkan dirinya? Karena dalam ingatannya sendiri peristiwa itu terasa amat menyakitkan untuk diterima, dapat dia pastikan bagaimana keadaan Dria memikul sendiri konsekuensi perbuatan mereka tentu melebihi penderitaan yang dia tanggung, Dria yang hamil dua bulan…


Ingatan yang tiba-tiba menyadarkan Egi tentang buah perbuatan mereka, ya ada janin di perut Dria waktu itu. Egi ingin bergerak saja untuk mendatangi Dria untuk bertanya tentang semua hal, tapi lagi-lagi kakinya membeku, rasa bersalah yang semakin mengental seperti memasung dua kakinya.


Egi masih memperhatikan semua yang dilakukan Dria, hanya itu yang mampu dia lakukan sekarang, tapi dia dapat menyimpulkan bahwa Sandriana adalah pemilik tempat ini.


“Aku memberitahu rencana kita tapi kakakku malah meminta foto selfieku lagi. Astaga Tety, tidak bosan-bosannya kakakku itu, aku tidak akan mengirimkan fotoku kali ini…”


Dria berbicara pelan sambil mengetik sesuatu di gawainya.


“Pak Timo juga meminta foto Non Dria tadi saat kita di toko…”


“Pak Timo? Kamu memberikannya Tety?”


“Iya Non…”


“Pak Timo sekarang mengurusi keanehan Tuan Mudanya juga?”


Dria seperti berguman sendiri sambil meneruskan saling berbalas chat dengan kakaknya.


“Kakak akan menyewa gerbong eksekutif untuk kalian…”


Dria membaca balasan chat dari kakaknya.


“Ahh kakakku semakin lama semakin bertambah aneh.”


Dria memilih menelpon sekarang dari pada berbalas chat dengan Sandro.


.


“Kakak memikirkan kenyamanan kalian berdua.”


“Kakak belum pernah naik kereta?”


“Pernah, di negara J… tapi pasti beda fasilitas keretanya.”


“Tidak, naik kereta api sekarang senyaman naik pesawat. Jangan memaksa lagi, kalau memaksa Dee tidak jadi pulang ke rumah…”


“Iya… Iya, baiklah…”


Tidak usah heran, Tua Muda sekarang gampang luluh dengan sikap Dria.


“Sudah… silahkan kakak lanjutkan pekerjaan kakak. Jangan berubah jadi CEO yang malas, kakak semakin menyusahkan pak Timo sekarang.”


.


Dria menutup panggilan, lalu meletakkan gawainya. Dria melihat mobil yang dikendarai Bena melintas melewati kafe. Dria teringat sesuatu.


“Tety… Bena sudah sampai, dia menambah jenis ikan koi untuk kolam ikan, aku akan melihat itu… kamu beritahu aku ya jika makanannya sudah siap.”


“Iya Non…”


Dria berjalan dengan langkah ringan menuju ke depan tokonya yang desainnya seperti sebuah gudang besar dengan fasad depan bergaya modern minimalis, tempat di mana di depannya ada kolam besar yang berisi ikan koi besar.


Kesempatan itu digunakan Egi untuk keluar dari tempat itu. Dia membereskan barang miliknya, mengambil ranselnya lalu menggunakan topi dan kacamata hitamnya menuju ke parkiran. Hatinya terlalu ciut untuk menunjukkan diri pada Sandriana.


Sedikit menyimak percakapan gadis itu dan mengamati Sandriana secara keseluruhan, Egi menyimpulkan bahwa Sandriana terlihat sangat baik sekarang, Egi tidak dapat memprediksi jika dia menunjukkan diri bagaimana sikap Sandriana padanya, dia tidak siap untuk apapun respon Sandriana.


Egi keluar meninggalkan kafe hendak menuju parkiran, saat menuruni beberapa undakan anak tangga di depan kafe Egi memperhatikan langkahnya dan baru saja dia mengangkat muka, di depannya tersisa jarak empat meter Sandriana rupanya sudah berbalik arah lagi kembali ke kafe. Dan sekarang telah melihat dirinya.


Langkah Egi seketika menjadi berat. Dia tidak bisa menghindar, Sandriana tengah menatapnya. Keringat dinginnya segera bermunculan menyebar dari telapak tangan sampai ke lengannya. Otaknya seketika juga membeku sehingga Egi hanya memandang kaku pada Sandriana.


Dalam jarak yang semakin dekat, bibir Egi agak gemetar sehingga sukar sekali mulutnya itu bergerak untuk menyapa memanggil nama Sandriana.


[Tidak ada slow motion] Semua berlangsung sebagaimana adanya, langkah tetap Sandriana seperti saat dia meninggalkan kafe tadi demikian juga saat Sandriana datang dan kemudian melewati Egi.


Entah Egi ingin bersyukur dengan itu, tapi kenyataannya Sandriana hanya melewati dirinya tanpa kata dan tanpa memandang lagi. Egi berbalik dan mengikuti ke mana Sandriana melangkah, terlihat Sandriana mengambil gawainya di meja lalu berbalik lagi setelah mengucapkan sesuatu pada temannya. Egi memperhatikan itu semua. Kini Sandriana sedang berjalan lagi dan kembali memandang padanya.


Dan…


“Mau pulang, kak?”


“Ehh?“


Egi tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi, Sandriana berhenti di dekatnya dan tersenyum ramah.


“Terima kasih sudah berkunjung ke tempat kami ini, lain waktu silahkan berkunjung kembali… kalau ada keluhan, silahkan kakak mengirim chat di wa kami, nomornya ada di sana, kak… sekali lagi terima kasih atas kunjungannya…”


Sandriana menunjuk ke sebuah standing banner yang ada di pintu masuk lalu mengatupkan dua tangannya sambil tersenyum, menganggukan kepala lalu meninggalkan Egi yang tengah berdiri hampir kehilangan nyawa karena Sandriana berbicara padanya.


Di mobilnya Egi merenung, mengapa Sandriana tidak mengenalinya? Apakah Dria memang telah melupakan tentang mereka berdua? Terlalu banyak kisah manis pada waktu itu. Apakah akhir itu terlalu melukai sehingga dia melupakan tentang mereka, tentang dirinya? Sakit bertahun-tahun yang lalu menyergap kembali hati cowok yang terbilang lumayan tampan.


Dia memang tidak mencari Sandriana sekembalinya di kota ini, tapi bukan berarti dia telah menyingkirkan gadis manis itu dari hatinya, tidak ada yang berubah jika tentang Sandriana untuk hidupnya. Dia hanya berubah menjadi apatis terhadap cinta, tapi melihat Sandriana lagi cintanya seperti hidup lagi di hatinya walau datangnya bersamaan dengan hadirnya rasa sakit.


"Gi?"


Adel mengetuk kaca mobil, Egi hanya melirik dan membukakan kunci mobil membiarkan kakaknya masuk ke dalamm disusul Elsar yang membawa sebuah kantong besar berisi berisi barang-barang


"Gi... ada Sandriana di sini..."


Egi tidak merespon.


"Kak Egi... mama menunggu di depan pintu toko, mama sudah selesai."


Sekarang Elsar yang bicara.


Egi menghidupkan mobil dan keluar dari parkiran menuju entrance toko.


"Gi... kamu dengar tidak, di sini ada Sandriana."


Mobil berputar dan berhenti di area seperti lobby di bagian depan pintu toko, dan tepat di seberang Sandriana sedang membungkuk memperhatikan ikan koi yang kolam yang mirip aquarium karena berdinding kaca.


"Itu Sandriana, Gi..."


"Diam..."


Suara Egi yang sedikit kasar membuat Adel diam. Menilik sikap Egi, Adel yakin Egi telah melihat Sandriana juga. Elsar telah turun dan membantu salah satu karyawan toko memuat semua barang belanjaan sang mama. Mama sedang berpamitan dengan teman-temannya yang datang bersama tadi. Tak lama mama naik ke jok depan mobil.


"Adel, kamu ke mana? Mama menyuruhmu memanggil Egi, kamu tidak muncul."


"Aku bertemu temanku, ma."


"Egi... tadi mama melihat Sandriana."


Egi hanya melirik sedikit lalu segera menjalan mobilnya. Matanya melihat Sandriana terakhir kalu sebelum meninggalkan tempat itu.


"Egi... Sandriana ada..."


"Jangan bicara lagi, ma..."


Egi tidak ingin mereka membahas tentang Sandriana, terutama dengan sang mama. Emosi yang lain segera menguasainya, dia begitu marah dengan sang mama sekarang, mama penyebab dia tiak bisa bertanggungjawab dengan apa yang dia lakukan pada Sandriana. Sang mama bertatap dengan anak perempuannya saling melempar isyarat dan mengetahui bahwa Egi telah melihat Sandriana.


.


.


.