Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 36. Apapun Statusnya, yang Penting Bahagianya



Cinta itu sederhananya adalah keinginan untuk bersama seseorang dan menghabiskan banyak waktu berdua lebih banyak dari pada dengan orang yang lain. Tujuan utama Sandro ke kota ini bukanlah untuk menghadiri meeting dan anniversary anak perusahaan mereka, tapi untuk bersama Dria.


Benar-benar integritas sang CEO dalam pekerjaannya sedang diuji, beberapa meeting dua hari ini diikuti dengan setengah hati karena pikirannya lebih tertuju pada Dria, sudah tiga hari ini ada di sini dan baru sekali bertemu, tentu belum cukup untuk seorang Sandro yang sedang tersandera kebucinan pada Dria.


Sekarang Sandro duduk dengan gelisah dan mulai mengerutu dalam hati, sejak tadi ada di hall sebuah hotel bintang lima dalam suatu acara resmi, ini acara yang pertama kali dihadirinya di luar acara kantornya sendiri.


Julius Tan, Direktur anak perusahaan ini sedang memberikan pidatonya mengenai pencapaian-pencapaian, prestasi-prestasi dan banyak penghargaan bergengsi yang diraih perusahaan ini, sangking banyak yang harus disampaikan hingga telah lebih tiga puluh menit Julius Tan belum selesai. Sandro melihat jam di pergelangan tangan kanannya.


“Pi… ini terlalu lama, aku pergi saja, aku ada janji bertemu Deedee…”


Tuan Harlandy memahami dari gelagat anaknya Sandro tak mungkin ditahan lagi lebih lama di sini, ekspresi bosan terutama tak nyaman sangat kentara sejak acara baru dimulai.


“Kamu harus memberi sambutan.”


Tuan Harlandy yang posisi duduknya di sebelah Sandro berbisik mengingatkan anaknya tentang inti kehadirannya di acara ini.


“Kenapa harus aku? Ada papi di sini… aku tidak mau.”


“Namamu sudah diacarakan, kamu pertama kalinya menghadiri acara mereka…”


“Pi… aku tidak bisa berbicara di hadapan banyak orang, papi sama saja mempermalukan aku, minta paman memberitahu pihak mereka, Papi saja..”


“Kamu akan lebih malu, CEO sepertimu dipandang bisa melakukan apa saja… kamu biasa memimpin rapat, kamu punya bekal ilmu public speaking…”


“Meeting lain, teori beda dengan praktek, aku tidak bisa dan jangan paksa aku… aku telah menggantikan papi meeting dua hari ini, dan itu cukup Pi, sekarang waktu untuk urusanku sendiri.”


Bukannya Sandro tidak bisa, bukan pula karena dia tidak punya kemampuan berbicara di depan umum sebenarnya, hanya dia memang tidak mau disorot atau dilihat banyak mata, dia telah nyaman tersembunyi di balik nama sang papi dan mengerjakan semuanya tanpa ingin dilihat orang, dia memilih menjadi Sandro yang cukup diketahui dan dikenal oleh sedikit orang saja, karena itu jarang sekali ada publikasi tentang Sandro.


Tuan Harlandy memang tidak biasa mengatur Sandro dengan arogan, dia hanya bisa memaklumi salah satu tabiat Sandro yang kurang suka terekspos dan tidak suka berada di tengah banyak orang. Sangat bersyukur beberapa hari ini Sandro telah melakukan sesuatu yang berbeda menggantikan dirinya, tak perlu menuntut lebih banyak.


"Tapi nanti malam, kamu harus menghadiri acara dinner dengan mereka..."


"Tidak Pi... waktuku selanjutnya untuk Deedee..."


Akhirnya Tuan Besar mengangguk paham anaknya punya tujuan yang lebih berharga, melihat itu Sandro memberi isyarat pada Timo bahwa dia akan keluar. Timo segera berdiri menunjukkan arah pintu keluar yang paling dekat dari tempat mereka duduk.


Sandro melangkah dengan kaki panjangnya, dia sadar banyak pasang mata sedang melihat padanya karena itu Sandro hanya menatap punggung Timo yang melangkah berjarak dua meter di depannya, beberapa orang yang dilewati walau tak dilihat sang CEO membungkuk hormat.


Tidak mungkin pula sang CEO muda ini tidak dilihat orang di acara seperti ini, terlebih dengan penampilannya yang sangat menonjol karena postur tubuh dan ketampanannya. Walau namanya tak tertulis di jidatnya tapi tentunya informasi tentang CEO Mega Buana yang hadir di acara ini telah beredar luas.


Sesampai di lobby hotel, Sandro menghembuskan napasnya merasa nyaman tak berada lagi di tengah orang banyak dan dengan tak sabar naik di mobil yang telah menunggunya.


“Kita ke tempat Non Dria pak Mulyo..."


Timo yang duduk di kursi depan segera mengarahkan sopir mereka.


"Daerah mana ya? Saya kurang hafal jalan di kota ini, nak Timo..."


"Kita pakai gps, pak... sebentar ya..."


Timo mengatur titik tujuan di hpnya dan meletaknya di dashboard pada penyanggah hp yang tersedia.


"Mana hpku, Timo?"


Timo memberikan gadget milik Tuan Muda dan tangan besar itu langsung menekan layar dan menghubungi gadis yang notabene adalah adiknya tetapi telah menarik semua perhatian Sandro.


Panggilan video dilayangkan, panggilan yang sekarang lancar jaya. Dria sering sekali melakukan panggilan karena kepentingan usahanya, dia butuh nasihat dari seorang kakak yang dianggap kapabel apalagi dia terbilang masih awam soal berbisnis sendiri. Padahal untuk Sandro itu dipandang seperti panggilan dari seorang kekasih yang selalu merindukannya dan selalu ingin bercakap berdua dengannya, sebuah ironi untuk Sandro.


.


"Dee..."


"Ya? Kakak jadi datang ke sini? Sebentar lagi Dee pulang."


"Jadi, ini sudah di dalam mobil sedang menuju ke sana..."


"Berapa lama lagi?"


.


"Timo berapa lama?"


Si Tuan Muda bertanya pada asistennya...


"Kurang lebih empat puluh menit Tuan, kalau tidak macet..."


"Pak Mulyo... Lebih cepat lagi..."


"Baik Tuan...


.


"Dee... Kurang lebih setengah jam lagi ya, maaf tadi kakak harus mengikuti acara penting lebih dahulu..."


"Iya... Pak Timo mengirimkan videonya, hahaha..."


"Kenapa tertawa Dee? Video apa?"


"Ada seseorang yang begitu gelisah di tengah acara, sedikit-sedikit melihat jam, duduk tidak tenang dengan muka sangat bosan, tangan turun naik di muka atas meja di paha, kaki bergoyang-goyang hahaha..."


.


Sekretarisnya ini benar-benar semakin lancang saja iseng sekali merekam dirinya, pasti itu sesuatu yang aneh sehingga Dria tertawa seperti itu. Hatinya sedikit terusik, belum pernah ada orang menertawakan dirinya langsung di hadapannya.


"Timo????"


"Non Dria bertanya Anda sedang apa tadi, dan saya hanya menjawab Non Dria..."


Timo menjawab tanpa merasa bersalah walau tahu nada suara si Tuan Muda sangat tidak suka dengan kelancangannya, Timo sudah sangat hafal selama itu menyangkut Non Dria tidak akan menjadi masalah.


Sandro segera mengubah ekspresinya Timo yang memegang gawainya, pasti rekaman itu ada di gawainya sendiri.


.


"Sebentar, Dee, kakak mau lihat video apa yang dikirim Timo..."


"Hahaha, kakak jangan marahi pak Timo, karena Dee yang minta... tapi kakak di situ lucu sekali hahaha..."


Sandro tidak jadi menjeda panggilan untuk mencari video yang dikirim Timo, dia lebih memilih menikmati ekspresi Dria yang sedang tertawa, itu segera memberi getaran riang di hatinya, walau tahu Dria sedang menertawakan sesuatu tentang dirinya dia memilih membiarkan saja, dan satu lagi baru saja sebutan Dria untuk dirinya telah berganti seperti yang diinginkannya jadi terasa semakin dekat saja, maka dia segera lupa kelancangan Timo.


"Apa yang lucu Dee?"


"Haha nanti Dee beritahu... sudah ya... Dee mau ke minimart mau beli lychee, kakak suka minum teh lychee hangat kan..."


.


.


.


Dria memang tahu bahwa kakaknya telah menyelesaikan pembayaran bahkan membeli lahan di sebelahnya dengan ukuran yang sama besar. Dengan mencatut nama mendiang maminya Sandro berhasil meyakinkan Dria mengapa dia melunasi pembayaran.


Alasan yang dipilih Sandro adalah, Dria tidak lagi bekerja di perusahaan sementara mami ingin memastikan masa depan yang baik untuk Dria. Kemudian berkaitan dengan bisnis bahwa bisnis tidak boleh dilakukan setengah-setengah, walaupun tempatnya strategis tetapi jika usaha sama saja dengan tempat yang lain maka orang tidak akan terlalu tertarik. Adik yang begitu polos akhirnya menyetujui semua tindakan sang kakak.


Sesuai apa yang diperintahkan si Tuang Muda pak Mulyo bisa mempersingkat waktu tempuh ke lokasi tempat Dria sedang mempersiapkan usahanya, mereka tiba dengan waktu hanya dua puluh lima menit. Ini kali kedua Sandro datang, dan betul-betul Dria mengikuti semua yang disarankannya.


Dria tersenyum menyambut Sandro yang turun dengan tak sabar dari sedan hitam milik Julius Tan.


"Wahh... kakak terlihat sangat sangaaat tampan menggunakan dasi...."


Dria melihat Sandro dari atas ke bawah dengan dua tangan ada di pinggangnya, Dria nampaknya mengadopsi sikap tubuh Sandro jika berbicara dengan seseorang atau sedang berdiri bebas selalu dua tangannya ada di pinggangnya. Sandro meringis salah tingkah sedikit gugup juga malu-malu diperhatikan seperti itu oleh Dria. Hah... lelaki dewasa dengan postur tegap jadi seperti terlihat lemah dan gampang diserang dan bukan siapa-siapa di hadapan gadis bertinggi 156 cm ini.


"Kakak sejak dulu selalu tampan..."


Ucap Sandro menutupi rasa grogi yang melanda, tangannya segera memperbaiki jas yang dia kenakan, lalu mata ikut melihat seluruh tubuhnya sejauh yang bisa dilakukan matanya.


Dria segera meraih tangan Sandro, menarik tubuh tinggi dengan otot-otot yang sangat terbentuk karena disiplin latihan bertahun-tahun, di hadapan gadis yang terbilang mungil dibanding dengan tubuhnya sendiri Sandro kehilangan kendali kekuatannya, mengikuti saja ke mana arah Dria membawanya.


"Ayo... kita ke toko... barang-barang yang Dee pesan sudah datang semua..."


Agak jauh berjalan Sandro segera mengambil alih kini memegang pundak Dria, adiknya tidak memprotes atau melepaskan dan Sandro sangat nyaman dengan itu.


"Sudah ada berapa karyawan sekarang?"


"Sudah ada sepuluh, semua tadinya karyawan kontrak ayah kita jadikan karyawan tetap di sini..."


"Tapi kenapa ada banyak orang sekarang?"


Sandro dengan cepat menghitung beberapa orang yang sedang menata beberapa bagian di lahan yang luas ini.


"Ahh... mereka karyawan ayah, seminggu ini kebetulan mereka belum memulai proyek ayah selanjutnya, jadi Dee minta mereka datang mengerjakan taman di sini... ada ayah di antara mereka, kakak mau bertemu ayah dulu?"


"Nanti saja... kakak sungkan mengganggu ayah..."


"Ahh... iya nanti saja, ayah ada di sana, jaraknya lumayan jauh dari sini, ayah yang memakai topi merah..."


Dria menunjukkan posisi ayahnya yang sedang mengawasi anak buahnya membuat beberapa contoh taman minimalis untuk bagian depan rumah. Ini sesuai keinginan Dria karena menurut Dria orang lebih tertarik melihat yang sudah jadi dari pada melihat melalui foto, sekaligus Dria berpikir jadi semacam tempat berfoto para pengunjung.


Jadi karena masukan serta support dana dari Sandro usaha di lokasi ini berkembang jauh dari konsep awal Dria. Ada bangunan besar berkonsep industrial menjadi tempat display beberapa model taman indoor dan menjadi tempat display semua barang-barang jualannya yang berupa segala macam peralatan dan perlengkapan dan bahan kebutuhan pembuatan taman, baik material pokok atau yang bersifat dekoratif.


Di bagian lain ada bangunan terbuka dengan rak-rak yang tinggi khusus untuk meletakkan segala macam dan jenis tanaman serta bunga di polybag.


Secara keseluruhan berada di tempat ini mata dimanjakan dengan keindahan dan nuansa hijau asri yang menyejukkan.


"Ini sudah bisa dibuka untuk umum, Dee... sudah rapih..."


"Tapi banyak tanaman yang belum tumbuh dengan baik, di bagian sana rumput gajah belum tumbuh semua..."


"Ya kan tanaman perlu waktu untuk tumbuh..."


"Hahaha, benar ya, Dee termasuk tidak sabar menunggu semua taman jadi dengan sempurna..."


Mereka masuk ke gedung besar tanpa langit-langit, tapi begitu tinggi sehingga tidak terasa panas karena bukaan yang banyak.


"Ini jadi seperti galeri Dee..."


Ujar Sandro saat melihat beragam bentuk pot serta benda dekoratif lainnya yang sudah tertata rapih di rak-rak tinggi.


"Iya... Tapi masalah sekarang, Dee butuh karyawan lebih banyak, tapi apa seimbang dengan pemasukan nanti? Usaha seperti in tidak setiap hari ada konsumennya..."


"Nanti kakak minta Timo lakukan sesuatu untuk mempublikasikan tempat ini..."


Sandro melepaskan tangannya dari Dria, memikirkan sesuatu dengan menaikkan tangannya di pinggangnya sendiri sambil memperhatikan sekeliling.


"Kita buat kafe di depan sana, Dee... Jadi orang-orang bisa lebih betah berlama-lama di sini... calon konsumen ayah bisa melihat contoh taman, kemudian mereka bisa makan juga di sini, lalu mereka akhirnya membeli sesuatu dari tokomu... yaa jadi tempat refreshing juga, bisa jadi salah satu destinasi untuk liburan juga... bagaimana?"


"Waduuh... tambah banyak yang harus Dee kelola... Dee pasti tidak sanggup, Dee juga tidak mau jadi business woman yang hidupnya untuk mengurus bisnis saja... Ini Dee lakukan untuk membenahi usaha ayah saja, lalu Kakak datang dengan semua saran Kakak..."


"Dee... kalau memulai sesuatu dengan sedang-sedang saja maka hasilnya pun sedang-sedang saja, jika kita serius memaksimalkan semua peluang dan potensi usaha di tempat ini maka hasilnya bisa jauh lebih besar..."


"Buat kakak gampang saja karena level kakak sebagai pebisnis sudah bicara triliunan, Dee baru mulai kakakku sayang... Dee belum punya pengalaman mengelola bisnis apapun, jadi mulai dari yang Dee sanggup saja tidak usah menambah dengan usaha kafe lagi, bagaimana Dee mengurus semuanya?"


Dari kalimat panjang Dria hanya frasa 'kakakku sayang' yang langsung tertangkap indra dengar Sandro, dia jadi ingin lebih lama tinggal di kota S, demi mendapatkan lebih banyak lagi moment indah bersama Dria.


"Kafe itu tidak perlu Dee yang kelola langsung, nanti Timo carikan rekanan, pasti akan ada yang tertarik... kakak sudah pikirkan sesuatu untuk lahan di sebelah sana, mungkin bisa jadi resting area... Dee kerjakan saja yang Dee mau, sisanya kakak yang atur..."


Tangan Tuan Muda tidak dapat dia tahan lagi mengusap sayang kepala Dria, Dria tanpa sadar mendekat mengikis jarak dan bersandar manja pada tubuh tegap sang kakak...


"Lelah ya?"


Sandro bertanya lembut, sekarang memberikan sebuah ciuman singkat di kepala Dria, tangan beralih memijat lembut punggung adik tersayang.


"Iya... sejak pagi Dee ikut mengatur barang di toko ini, lelah tapi puas... sekarang tinggal menunggu pembeli, hehehe... Ayo kakak, kita minum dulu..."


Dria menarik lagi tangan Sandro menuju sebuah bangunan kecil yang dijadikan tempat istirahat sementara jika berada di sini. Sandro mengikuti saja seperti domba yang taat. Jangan membayangkan ekspresi Sandro, jika dia punya buntut pasti itu sudah bergerak-gerak ke sana kemari karena senangnya.


"Kata ayah... rumah kami akan dijual saja, kita bakal pindah ke sini, Dee setuju, Dee sendiri sudah jatuh cinta dengan tempat ini..."


Dria berkata di depan Sandro.


"Dan aku sudah jatuh cinta padamu, Dee... Jatuh sejatuh-jatuhnya... Kapan kamu melihatku sebagai pria yang mencintaimu..."


Entah kapan itu terjadi, tapi sekarang apapun statusnya yang terpenting adalah bahagia yang dia dapatkan... Yaa dia begitu bahagia saat ini.


.


.


Readers... Cinta Dria tumbuh perlahan, sama seperti sebuah benih yang ditanam membutuhkan waktu untuk tumbuh, jadi jangan minta alurnya secepatnya mereka jadian... Oke? Tapi tetap saja ceritaku mencapai antiklimaks sblm eps 100... sabar yaa, aku harus putar otak soal ritme cerita karena cerita ini dimulai dengan level bawah, level 3, perlu banyak bab utk menaikkan level 😄


✌️✌️✌️


.


.