
“Dee…”
Sandro berhenti, menatap dengan sepenuh hati.
“Iya?”
Dria sedikit terpaku melihat tatapan Sandro padanya, sesuatu yang selalu dia tekan ke dasar hati, sesuatu yang disadari oleh sanubarinya tentang kak Sandro sekarang menguat dan membuat Dria menyadari sesuatu. Semua realita sambung menyambung tentang bagaimana Sandro memperlakukan dirinya selama ini, dia harus mengakui bahwa itu bukan semata rasa sayang seorang kakak, sebenarnya hatinya saja yang terus menyangkali tentang adanya cinta itu.
Tak perlu ribuan kata untuk menjabarkan rasa yang dia miliki untuk Dria, tatapan dalam Sandro lebih dari cukup untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya, tatapan yang begitu terbuka sekarang, tidak menutupi lagi sesuatu yang telah tumbuh sejak lama di dalam hatinya. Sandro tak ingin memendam rasa ini lebih lama lagi...
Sandro mengangguk saat melihat mata Dria yang seolah menuntut kebenaran bahwa pengertian mereka sama, bahwa cinta yang Sandro maksud adalah dirinya.
"Deedee... kamu yang kakak inginkan... hanya kamu yang kakak cintai sejak awal cinta itu ada di sini, itu hanya kamu..."
Sandro menunjuk dadanya sendiri, mengatakan perkataan itu dengan lembut dan ada getaran pada suaranya menunjukkan kesungguhan ucapannya. Untuk pertama kali dia menyatakan cinta pada seorang wanita dan tak pernah menyangka bahwa wanita itu adalah seseorang yang dilihatnya sejak hari pertama gadis itu ada di bumi ini, seseorang gadis mungil yang kehadirannya membuat dia belajar menyayangi dan peduli, seseorang yang menjadi sumber bahagia untuknya.
Dria merasa semua bulu kuduknya meremang, kalimat yang tidak ingin dia dengarkan lagi dari pria mana pun, kenapa harus dia dengar dari kakaknya sendiri, dari seorang kakak yang sangat dia sayang. Tiba-tiba Dria merasakan tekanan dalam pikirannya. Keputusan itu telah lama ada di sana, seperti telah tersistem di alam bawa sadarnya tentang tak menerima cinta lagi dalam hidupnya, sehingga setiap kali ada pria yang coba mendekatinya refleksi sikapnya adalah penolakan.
Dria segera berlari meninggalkan Sandro dengan emosi yang telah melingkupi dirinya, rasa takut, rasa sedih, bahkan rasa kecewa rasa marah dan rasa malu di masa lampau kini bermunculan. Perasaannya seketika menjadi begitu buruk membuat Dria tidak mempedulikan panggilan Sandro dan berlari tanpa arah hanya ingin pergi sejauhnya meninggalkan Sandro. Kekecewaan semakin mendalam karena Dria tidak bisa menerima bahwa itu Sandro, kenapa harus Sandro sang kakak yang mengucapkannya, pria yang paling dekat dan selalu menjadi tempat dia mencurahkan semua hal dalam hidupnya sekarang. Airmata segera memenuhi seluruh wajahnya.
Sandro mengejar, dan langkah panjangnya membuat dia mampu menangkap tangan Dria dalam sepersekian detik kemudian. Dria berontak, berusaha melepaskan tangan Sandro, dengan seluruh emosi yang menguasai hatinya seolah Dria mendapatkan kekuatan lebih sehingga kekuatannya sebanding dengan Sandro. Sesaat Dria bisa melepaskan diri lalu berlari lagi.
Melihat keadaan Dria yang menangis dengan sedih dan terlihat begitu tertekan penuh emosi, Sandro segera meraih tubuh Dria dan segera memeluknya dengan erat. Dria masih berontak dan Sandro harus mengerahkan tenaganya untuk tidak melepaskan Dria.
“Deedee… jangan begini… ya… jangan marah kakak mengatakan hal ini… kakak mohon jangan marah…”
Perkataan Sandro membuat Dria menangis dengan suara yang tidak ditahan lagi, suara tangis Dria terdengar memilukan, dan Sandro seperti dibawa pada situasi saat mami mereka berpulang, suara tangis sedih Dria yang mendalam sama seperti waktu itu, dan ini menjadi seperti ribuan jarum yang menusuk hati Sandro, dia tidak mengerti juga terkejut kenapa reaksi Dria sehebat ini saat mendengar pernyataan cintanya.
“Dee… kakak tidak ingin Deedee seperti ini, maafkan kakak…”
Dria masih menangis hebat dan Sandro segera menyesali telah mengatakannya tentang cintanya.
“Deedee… sayang… maafkan perasaan kakak seperti ini untuk kamu, maafkan ya… kakak tidak mampu menolak itu Dee… maafkan kakak… jangan menangis Dee…”
Ingin sekali Sandro mengecup atau melakukan tindakan sayang lain untuk menenangkan Dria tapi dia takut reaksi Dria selanjutnya, pikiran Sandro segera kalut dan rasa marah pada diri sendiri mengaduk-aduk perasaannya. Waktu menjadi begitu berat dilewati karena Sandro tak tahu harus melakukan apa selain hanya memeluk Dria saja.
“Dee… katakan sesuatu, tidak apa Dee menolak kakak, tapi kakak ingin tahu kenapa Dee jadi sedih seperti ini…”
Sandro pasrah Dria menolak cintanya, walau hatinya sakit tapi dia lebih menginginkan hubungan mereka tetap sama, dan sekarang ada rasa penasaran yang mengusik ingin tahu kenapa Dria bereaksi seperti itu.
Perlahan kekuatan Dria mengendur dan tidak lagi berusaha melepaskan pelukan Sandro, tubuh Dria yang dia rasakan tidak lagi berontak terhadap pelukannya membuat Sandro refleks mengusap kepala Dria dengan lembut, semua indranya seperti ingin memperlakukan Dria dengan penuh kasih, karena hanya itu saja yang muncul di pikirannya.
Ada Tety yang membuka pintu menyambut mereka dengan wajah heran dan sedikit panik. Sandro memberi isyarat agar Tety meninggalkan mereka, Tety menuruti walau dia merasa khawatir. Sandro menuntun Dria duduk di sebuah sofa kulit minimalis warna hitam. Sandro ikut duduk bersama Dria tapi kini menjaga jarak.
“Dee… berhenti menangis ya… maaf sudah membuat kamu sedih begini…”
Dria berusaha menghentikan tangisnya. Perasaan jadi campur-baur, tadi begitu ingin lari sejauh-jauhnya dari Sandro dan sekarang tidak ingin kehilangan rasa sayang seorang kakak.
“Kak… kak Sandro itu… ka… kakak buat Dee… kenapa kakak harus mengatakan hal itu…”
Terbata-bata Dria bicara masih berusaha mengendalikan emosi di dadanya dan berusaha untuk tidak menangis lagi.
“Dee… kakak tidak mengerti kenapa harus ada perasaan seperti ini untukmu... perasaan itu datang dan kakak tidak bisa mengendalikan itu. Kakak berusaha menahan ini sejak lama, mempertimbangkan ribuan kali untuk menyatakannya."
Sandro berhenti dan menarik napas panjang, perasaan sedih telah menguasai karena tak bisa mencintai Dria sepergi yang dia mau. Sandro kemudian melanjutkan lagi dengan suara yang semakin rendah...
"Sekarang kakak tidak akan memaksakan perasaan kakak, cukup Dee sudah mengetahuinya… tidak apa seperti ini saja Dee, tetap jadi adikku ya…jangan menjauhi kakak… jangan marah ya?”
“Dee tidak marah kak… Dee hanya tidak mau kakak berubah menjadi yang lain, kakak tidak boleh mencintai Dee, jangan memiliki perasaan seperti itu… Dee tidak mau seperti itu…”
Dria terisak lagi, Sandro meraih kepala Dria masuk dalam pelukannya, entah bagaimana hatinya sekarang. Memang selalu terlintas dalam pikirannya kemungkinan ini bahwa Dria menolaknya, setelah menghadapi sendiri lagi-lagi dia hanya bisa menyalahkan dirinya.
“Baiklah... tapi, apa kakak boleh tahu kenapa kakak tidak boleh mencintaimu Dee? Apa yang salah dengan itu? Mami dan papi menginginkan itu jauh sebelum kakak menyadari cinta kakak..."
"Dee yang salah kak... Dee yang tidak pantas menerima itu..."
Dria berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Sandro yang terpaku karena kalimat terakhir Dria...
"Apa yang salah denganmu, Dee?"
.
🐥
.
Slmt mlm semua, slmt bobo 😴
,