Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 64. Kantor



Sepanjang waktu sebelum makan siang, Dria tidak bisa beranjak dari ruangan si Tuan Muda. Dia hanya bisa memandang melewati dinding kaca kesibukan di luar sana yang begitu menggelitiknya, ingin sekali bergabung dan bekerja dengan mereka lagi. Tadi saat datang Dria hanya sempat menyapa mereka sebentar karena tangannya langsung ditarik si Tuan Muda.


Mejanya sudah terisi dengan seseorang dan yang membuatnya surprise bahwa orang itu adalah Ruby. Dia ingin sekali mengobrol dengan Ruby, menanyakan banyak hal termasuk mengapa dia bisa ada di lantai istimewa ini.


“Kakak… Dee keluar ya… Dee ingin bertemu Ruby.”


Dria bertanya untuk kali yang ketiga, kepalanya sedang mengarah ke luar dinding kaca ruangan kakaknya. Dalam hati sudah kesal sejak tadi karena apa yang sudah ada dalam pikirannya yang ingin dilakukan di gedung ini terhalang pemilik otoritas terbesar di gedung ini yang hanya memberi dia ruang gerak di dalam 'aquarium' ini saja, entah apa alasannya.


“Kamu akan mengganggu mereka… sekarang sedang sibuk-sibuknya, Dee...”


“Tidak akan mengganggu, Dee justru berniat membantu mereka.”


“Dari pada membantu mereka, kenapa tidak membantuku di sini?”


“Sejak tadi Dee ingin membantu kakak tidak mengijinkan…”


“Bukan tidak mengijinkan, ada Timo kan…”


“Tapi setidaknya Dee melakukan sesuatu, tidak hanya duduk diam di sini… kakak seperti menyandera Dee di ruangan ini sejak tadi…”


“Kamu bosan di sini?”


“Iya…”


“Bosan menemaniku?”


“Iya…”


“Deedee?”


Sandro mengangkat pandangannya dari dokumen yang sedang dia tanda-tangani saat mendapatkan jawaban Dria. Pertanyaan random tadi benar-benar dijawab Dria dengan jujur. Di dekatnya, Timo yang berdiri menunggu di samping kursi kekuasaan si Tuan Muda tak dapat menyembunyikan senyum gelinya, karena dirinya pun sama dengan si Tuan Muda, berharap Dria akan bersikap manis walau sekedar basa-basi.


“Apa? Dee hanya menjawab pertanyaan kakak…”


Dria menjawab cepat. Dan Sandro hanya bisa menatap Dria dengan gemas, ingin marah tapi terlalu cinta.


“Kamu ke sini untuk menemaniku, Dee… bukan untuk hal yang lain.”


“Dee datang ke sini karena kita akan bertemu WO…”


“Iya itu nanti sesudah makan siang… sekarang tugasmu hanya menemaniku.”


“Itu sangat aneh Tuan Muda… seperti anak kecil saja minta ditemani…”


Timo masih tersenyum, memang Tuannya kadangkala akan seaneh itu, beberapa kali dia mendapati si Tuan Muda bersikap sama sekali tanpa dasar jika berhubungan dengan Non Dria.


“Kamu menertawakan apa Timo?”


Sandro yang selesai menandatangani file segera menatap Timo yang kali ini lambat untuk mengambil map kulit berwarna hitam itu.


“Tidak ada Tuan… saya tidak tertawa hanya tersenyum, tidak ada larangan untuk tersenyum kan Tuan…”


Timo menundukkan kepala memberi hormat lalu segera keluar ruangan dan itu segera membungkam mulut si Tuan Muda. Sandro hanya menatap kesal punggung sekretarisnya, entah kenapa dia selalu punya jawaban yang membuat Sandro diam.


“Sini Dee…”


Sandro melambaikan tangannya meminta Dria mendekat. Dria sedang duduk di sofa sekarang, sejak tadi dia hanya berpindah-pindah tempat duduk atau melihat dari dinding kaca ke arah jalan nun jauh di bawah sana, atau mengutak-atik buku milik kakaknya


“Mau apa?”


“Sinii… duduk di dekatku…”


Sandro memindahkan sebuah kursi di sampingnya.


“Ahh… tidak, Dee duduk di sini saja, itu akan terlihat aneh dari luar… meskipun mereka terlihat sibuk bekerja, tapi mata mereka selalu mengawasi kita…”


“Kenapa jika mereka melakukan hal itu?”


“Dee tidak nyaman kakak… walaupun pria-pria itu terlihat serius dengan pekerjaannya tapi ada satu keanehan sikap manusia yang dimiliki bukan hanya kaum wanita, tapi sebenarnya para pria juga melakukan itu…”


“Apa?”


“Bergosip. Dee tidak keluar dari ruangan ini pasti sudah jadi topik pembicaraan, jadi Dee tidak mau menambahkan dengan topik hangat yang lain…”


“Topik hangat apa?”


“Ya… kalau Dee duduk dekat kakak, siapa yang tahu apa yang kakak bisa lakukan… tangan kakak atau bibir kakak… ahh sudahlah…”


Dria memerah mukanya membicarakan kemungkinan sesuatu yang intim yang bisa saja dilakukan kakaknya, seolah memang mengharapkan itu terjadi. Untung saja dia duduk agak jauh dari Sandro jadi dia bisa secepatnya menetralkan perasaannya tanpa takut Sandro mengetahui itu, dan Sandro tersenyum dengan kalimat Dria.


“Masa pria juga bisa bergosip?”


“Memang seperti itu. Coba kakak ingat-ingat, saat berbincang biasa dengan mereka, memang topiknya politik tapi kemudian lebih cenderung membahas sepak terjang politikus kan… berbincang soal bisnis tapi lebih banyak membahas si pengusaha ini, konglomerat itu… ya kan?”


“Mereka akan bergosip apa tentang kita Dee?”


“Apa yang mereka lihat lah… orang akan penasaran ketika melihat sesuatu, pasti akan timbul pertanyaan, nah dia pasti mencari orang lain untuk menjawab rasa penasarannya, itu apa namanya kalau bukan bergosip?”


“Tidak mungkin mereka melakukan itu.”


“Ya ampun kakak… itu lumrah terjadi di mana-mana, kakak saja jika penasaran dengan perilaku orang lain pasti bertanya… Dee tidak mau mereka membahas kita berdua.”


Baru sekarang Sandro menyesali telah mengganti dinding ruangannya dengan kaca, dia menjadi tidak bebas melakukan ini-itu dengan Dria di sini. Melakukan apa? Entahlah banyak hal yang bisa muncul saat menatap Dria terutama ekspresi sekarang, nyata sedang kesal dan itu sesuatu untuk Sandro, apalagi tiba-tiba kumpulan rindu melahirkan banyak keinginan di otaknya.


“Biarkan mereka bicara tentang kita, selama itu positif tidak masalah kan? Kenapa jadi sensitif?”


“Iya… mungkin karena bosan di sini terus…”


“Astaga, bosan lagi? Benar-benar kamu Dee... Sudah sana keluar…”


Sandro yang gemas sekaligus tertekan oleh sejumlah keinginan yang mendesak otaknya dan tidak mungkin dia lakukan di sini karena dinding sialan yang transparan itu menyerah dengan keinginan Dria, dia segera mengayunkan tangannya memberi isyarat untuk Dria keluar.


“Serius boleh?”


“Iya… sana pergi… tapi jangan mengganggu mereka…”


Telapak tangan kanan Sandro masih mengayun. Dria tersenyum sumringah lalu bangkit meninggalkan ruangan Sandro


“Terima kasih kakak, bekerja dengan rajin ya…”


“Jangan makan siang di bawah, aku tidak mengijinkan.”


Suara bernada ultimatum terdengar di belakang Dria. Dria berhenti dan menoleh ke arah kakaknya.


“Kakak… itu salah satu yang ingin Dee lakukan di sini…”


Dria mendekati kakaknya, suara merajuk dia perdengarkan dengan harapan kakaknya menjadi terharu dan memberi keluasan untuknya. Sandro menatap tak rela, sejak hatinya pulih dan bebas dari kekalutan dan kegalauan, rasanya setiap hitungan detik waktu milik Dria itu sangat ingin dikuasainya.


“Masa aku makan sendiri dan kamu makan dengan orang lain?”


“Minta pak Timo menemani kakak, mungkin Dee hanya sekali ini datang ke sini… ya?”


Suara memohon masih Dria perdengarkan, wajah masih dibuat semenggemaskan mungkin demi mendapatkan ijin dari Tuan Muda yang level keposesifan dan kebucinannya sedang naik ke derajat tertinggi.


“Baiklah… baiklah…”


Dria tersenyum merayakan keberhasilannya memanipulasi sang kakak. Dria telah belajar dengan baik tentang cara itu selama ini.


“Terima kasih kakak…”


“Iya… tapi aku tidak terima ucapan terima kasih hanya dengan kata-kata…”


Sekarang si Tuan Muda beraksi, dia tahu bahwa tadi sengaja Dria bertingkah seperti itu dan dia tidak terima begitu saja.


“Ahh?? Astaga… baiklah… nanti di mobil saat kita pulang ya?”


“Memang kamu tahu apa yang aku minta?”


“Tahu… memang apalagi?”


“Apa?”


Dria hanya membalas dengan wajah memberengut diikuti gelak tawa kemenangan Sandro, permainan ‘kamu minta aku juga minta’ ternyata begitu menyenangkan hati si tuan Muda. Konsep menang-menang, sama-sama mendapatkan keinginannya, tapi pastinya yang akan lebih banyak diuntungkan adalah si Tuan Muda.


“Jangan lupa setelah makan siang kita akan bertemu WO…”


Sandro mengingatkan.


“Iya…iya…”


Dria meninggalkan ruangan itu dan segera menghampiri Ruby.


“Ruby… apa ada yang bisa aku bantu kerjakan?”


“Dri… hai, apa kabar?”


“Seperti yang kamu lihat…”


Dria dan Ruby saling berpelukan. Ruangan para sekretaris si Tuan Muda langsung berubah saat Dria menyapa mereka semua. Delfris yang paling cepat datang mendekati untuk menyalami Dria diikuti yang lain, keinginan yang tertunda karena tadi pagi ada si Tuan Muda di samping Dria, Dria hanya bisa melambai ke arah mereka yang terkejut senang dengan kehadiran Dria di kantor ini.


“Non Dria… apa kabar? Tambah cantik sepertinya ya?”


Delfrits menjabat tangan Dria dengan erat dan sesaat kemudian segera dilepaskan Barry. Mata Barry melirik dan menemukan padangan tajam penuh arti dari pak Timo. Di ruangan ini hanya Barry yang mengetahui posisi dan status Non Dria yang sebenarnya. Barry sedikit mendorong tubuh Delfrist lalu berjabat tangan dengan Dria.


Dria tertawa menyambut jabat-tangan pria-pria terkeren di kantor ini.


“Non Dria… apa kabarnya?”


Barry bersikap formal, demikian juga Gio dan Hope yang notabene memang selalu bersikap kaku.


“Aku baik… aku senang berjumpa kalian lagi…”


Dria mengatakannya sambil tersenyum lebar.


“Non Dria apa akan kerja di sini lagi? Kita rindu kopi buatan Non Dria.”


Delfris menyampaikan perkataannya sambil berusaha mendekat lagi dengan mendorong tubuh Barry yang menghalanginya dari Dria.


“Ahh… nanti sore aku buatkan kopi untuk semua ya, haha… tapi aku tidak akan kerja di sini lagi…”


“Ehh… nanti diteruskan berbincang dengan Non Dria saat istirahat, selesaikan pekerjaan kita lebih dahulu.”


Barry pun segera mendorong Delfris ke mejanya.


“Iya itu benar, tadi kakakku melarangku mengganggu kalian… aku akan duduk bersama Ruby… itu meja milikku dahulu, haha…”


Semua kembali ke meja masing-masing, dan Dria mendekati meja Ruby.


“Ruby… aku akan membantu mengerjakan pekerjaanmu, setelah itu kita makan siang bersama ya? Aku rindu makan di kafetaria lagi, hehe…”


“Eh… boleh-boleh… sebentar aku ambilkan kursi untukmu, Dri…”


Sambil membantu Ruby sambil mereka bertukar cerita. Sesekali Dria akan menjawab pertanyaan Delfris. Delfris beberapa kali mencuri pandang pada Dria, ada yang tidak tersampaikan di waktu yang lalu dan masih berharap hal itu bisa menjadi kenyataan walau pun ada feeling yang kuat bahwa rasanya hal itu tidak akan mungkin terwujud. Sosok Tuan Muda sebagai kakak terlihat begitu protektif, itu saja sudah menjadi penghalang yang besar untuk Delfris. Tapi memang sosok Dria sangat menarik siapa pun bisa jatuh pada pesona Non Dria. Andai dia seberani Barry, mungkin sudah lama Dria jadi kekasihnya.


Delfris memandang Dria lagi dan saat dia menatap lurus dia menemukan tatapan Tuan Muda yang menghujam padanya. Delfris bergidik, tatapan itu serasa mau membunuh perasaannya saja. Delfris segera berpikir realistis, di sini dia lebih membutuhkan gajinya.


.


Hi semua...


.


.