Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 69. Hidup Timo!!



Sandro mengernyitkan dahinya menemukan di bagian paling bawah dari file-file yang ditandanganinya sebuah buku dari sebuah toko perhiasan. Sandro tidak membukanya, membiarkan di atas meja.


"Tuan... Tuan perlu melihat isinya, di situ ada contoh-contoh cincin..."


"Kamu sekarang punya pekerjaan lain? Gajimu tidak cukup Timo? Atau kamu sekarang punya toko perhiasan?"


"Tidak ketiganya Tuan. Itu toko yang sangat terkenal, kualitas nomor satu di bidangnya, saya meminta mereka mengirimkan buku itu agar Tuan bisa memilih..."


"Apa kamu pernah melihatku menggunakan perhiasan Timo?"


"Itu hanya cincin Tuan..."


"Timo?"


Si Tuan Muda meradang, dia selalu berpikir Timo paling tahu hal-hal yang disukai dan tidak disukainya.


"Aku tidak suka menggunakan cincin, kamu menghabiskan waktuku dengan hal itu."


"Ini untuk Non Dria dan Anda, Tuan... untuk..."


"Untuk Dria?"


Si Tuan Muda memotong kalimat Timo dan meraih buku berisi model-model cincin itu lalu mulai membukanya, di wajahnya terukir senyum.


"Apa Dria memintamu membelikan dia perhiasan? Dria ingin aku yang memilihkan untuknya?"


Timo tidak menjawab, dia tahu setelah melihat semua gambar itu si Tuan akan paham dengan sendirinya. Ahh Timo seringkali hanya bisa mengeluh keheranan, Tuan Mudanya pria dari planet mana? Benar saja baru tiga kali membuka lembar-lembar kertas premium yang tebal itu si Tuan Muda menatap Timo dengan sorot mata tanda sudah paham.


Timo hampir mengatakan, "Tuan di luar masalah perusahaan, Anda selalu lebih lambat berpikir jika hal lain..."


"Aku akan memilih di rumah bersama Dria. Apa mereka bisa membawa beberapa contoh supaya aku dan Dria bisa memilih secara langsung."


"Apa Tuan tidak ingin mengunjungi tokonya agar bisa memilih di sana?"


"Tidak. Kamu tahu aku tidak suka berkunjung ke tempat ramai..."


"Baik Tuan... tapi Tuan, untuk cincin pertunangan atau lamaran mungkin anda lebih baik memilih sendiri tanpa Non Dria."


"Tidak perlu Timo, kami akan langsung menikah, tidak ada acara tunangan. Aku juga tidak melamar Dria."


Timo menjadi heran, ternyata Tuannya memang sedikit lambat tentang hal ini.


"Kita sudah masuk tahapan persiapan untuk menikah, Dria tidak perlu ditanya lagi kesediaannya untuk menjadi istriku, Timo..."


"Wanita selalu menunggu moment itu Tuan bagi mereka itu sangat romantis, moment di mana wanita merasa sangat istimewa karena telah dipilih untuk mendampingi seumur hidup... Apa Tuan tidak pernah tahu jika..."


"Aku tahu tentang Timo, hanya aku berpikir aku dan Dria tidak butuh hal semacam itu, untuk apa? Prosesnya sudah berjalan, kenapa harus kembali ke titik awal?"


Timo ingin mendebat Tuannya tapi sungkan, akhirnya Timo hanya mengambil beberapa file di map kulit hitam di atas meja Tuannya, lalu menunduk hormat pada Tuan Muda dan pergi meninggalkan ruangan itu.


"Timo..."


Sandro memanggil saat Timo hampir mencapai pintu.


"Iya Tuan, Anda butuh sesuatu?"


Timo datang mendekat, melihat mimik serius di wajah Sandro Timo tahu pembahasan belum selesai. Dan Timo berharap bahwa Tuan Muda akan melakukan seperti yang dia sarankan, merasa bahwa Tuan Muda ini terlalu flat reaksi dan tindakannya terhadap pernikahannya.


"Tidak. Tapi... apa menurutmu sebaiknya aku melakukan tahapan ini? Melamar Dria? Ini terasa aneh, tapi apakah Dria menginginkan hal itu? Aku tidak ingin ada kesan bahwa aku tidak peduli dengan keinginan Dria... Lagi pula ini hanya tradisi kan, bukan suatu keharusan sebenarnya. Esensi dari menikah adalah hubungan itu sah di mata hukum. "


"Memang benar Tuan, anggapan tuan Muda tidak salah. Tapi, wanita biasanya menyukai kejutan, mereka juga suka melihat simbol-simbol, cincin sekalipun kecil jika itu menandai suatu peristiwa itu akan sangat berharga, wanita sangat menghargai setiap moment yang lewat dan akan mengingat itu sepanjang hidupnya. Jadi menurut saya Non Dria tidak meminta atau mungkin tidak mengharapkan, tapi dia pasti sangat bahagia jika Tuan memberi sesuatu sebagai bukti keseriusan niat Tuan memperistri Non Dria..."


Timo panjang lebar, jangan heran karena dia banyak membaca artikel seputar hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan sejak dia diperintahkan Tuannyan mencari WO, otaknya terbiasa melakukan riset memperdalam agar bisa melakukan tindakan yang tepat.


"Begitu ya?"


"Iya Tuan..."


Sandro membolak-balik lagi buku mencari sesuatu di sana. Seingatnya, dia belum pernah membelikan sesuatu untuk Dria. Sambil memilih Sandro merasa bersyukur Timo bisa memikirkan hal itu, dalam hati Sandro mengakui kesigapan Timo dan bahwa Timo selalu memikirkan dan melakukan banyak hal untuknya.


.


💍💍


.


Pemirsa, aku gak bisa menulis lebih dari ini, sibuuk. Semoga besok pekerjaanku bisa selesai tepat waktu dan bisa menulis part selanjutnya.


.