
Gawai Timo berdering, Dia melirik id pemanggil dan mengetahui itu dari Tety. Tety tidak mungkin lancang menelponnya jika bukan berkaitan dengan Non Dria. Timo sengaja membiarkan.
Timo sedang berada di kamar Tuannya untuk mengecek persiapan terakhir kelengkapan barang si Tuan Muda sebab penerbangan besok pagi ke negara tetangga dulu untuk transit sehari lalu besoknya baru berangkat ke negara asal Nyonya Besar. Begitulah rute perjalanan permintaan si Tuan Muda, entah apa yang ingin dia lakukan di negara tetangga, Timo hanya menuruti saja. Ini bukan perjalanan bisnis, bahkan karena rencana mendadak ini Timo beserta Tim Sekretaris kalang kabut menjadwalkan ulang semua kerja dan meeting si Tuan Muda.
"Hpmu kenapa tidak kamu angkat, Timo? Itu sangat menganggu."
Tujuan Timo berhasil, si Tuan Muda terusik.
"Ah... Maaf Tuan."
Timo sedikit menjauh sambil memberi isyarat pada Age bahwa perkerjaannya sudah selesai. Age pun keluar dari kamar. Timo menjawab panggilan sekarang.
.
"Ada apa Tety? Saya sedang sibuk... Kenapa mengganggu?"
Timo melirik, apakah Tuan Muda akan terpengaruh? Timo melihat ada sedikit, ada riak yang terlihat di wajahnya.
"Saya tidak akan mengganggu kalau tidak penting, pak... baru sekarang juga saya menelpon bapak..."
"Saya bukan bapakmu, jelaskan segera apa keperluanmu."
Timo sengaja menjawab sedikit kasar, berusaha supaya Tua Muda lebih terganggu lagi, karena jika panggilan dari Tety tentu otak Tuan Muda bisa mencerna pembicaraan telpon ini tentang siapa.
"Jangan marah-marah pak Timo, bukan saya yang butuh, saya tidak butuh bapak, Non Dria yang butuh Tuan Muda."
"Apa yang terjadi?"
"Sejak sore, sejak Non Dria tahu Tuan Muda sudah pulang Non Dria tidak berhenti menangis, saya khawatir pak, takut terjadi sesuatu pada Non Dria..."
"Tety?? Kenapa kamu baru memberitahu?"
Reaksi Timo kali ini bukan lagi ditujukan untuk mempengaruhi si Tuan Muda, murni karena dia peduli dengan Non Dria.
"Tidak usah banyak tanya, segera beritahu Tuan Muda. Mungkin hanya Tuan Muda yang bisa menghentikan tangisan Non Dria..."
Timo masih ingin bertanya tapi Tety telah mengakhiri panggilan, jika situasi normal ini tentu membuat jengkel, tapi pikirannya lebih tertuju ingin melakukan sesuatu untuk Non Dria.
Tapi dia juga harus menjaga perasaan Tuannya, bukan hanya Non Dria yang perlu penyelesaian masalah hati, Tuannya juga. Pancaran wajah si Tuan Muda sejak tadi terlihat emosinya berganti-ganti, kadang terlihat sangat marah, kemudian terlihat seperti putus asa dalam kesedihan yang begitu dalam.
Kondisi sekarang pun menjadi tidak memungkinkan untuk dia bicara tentang Non Dria, si Tuan Muda keluar dari kamarnya sambil membanting pintu. Timo tahu ini pasti karena percakapan telponnya. Meskipun dia tidak mengaktifkan speaker, orang yang tak cerdas pun bisa menafsirkan sesuatu telah terjadi dari sepotong kalimat yang didengar. Apalagi si Tuan Muda...
.
🐢
.
Kota kelahiran maminya ini menjadi tempat yang dipilih untuk belajar melepaskan cintanya pada Dria, baru sekarang dia tidak mampu menghadapi perasaannya sendiri, fase paling emosional dalam hampir tiga puluh lima tahun hidupnya. Apakah dia menjadi tidak dewasa sehingga terlalu lemah dengan perasaan cintanya, entahlah Sandro sendiri sulit untuk menjabarkan keadaannya.
Empat hari dia melakukan ini, berjalan sejauh mungkin mencari ketenangan batinnya, tapi semakin jauh langkah kakinya membawa tubuhnya, semakin jauh pula hatinya dari ketenangan yang dia cari.
Sekembali Sandro di hotel tempat dia dan Timo menginap, Timo menyambutnya di lobby hotel, dia telah menunggu Tuan Muda Sandro sejak tadi, maklum Tuan Muda tidak lagi memegang gawainya sendiri enam hari ini, kembali sama seperti kebiasaannya dulu.
"Tuan... Tuan Besar menelpon..."
"Aku tidak ingin hicara dengan siapapun Timo, termasuk papi... katakan apa saja sebagai alasan, terserah padamu."
Sandro berjalan terus menuju lift, Timo mengikuti seperti anak ayam mengikuti induknya.
Termasuk dengan waktu perjalanan dan tinggal sehari di negara S, berarti sudah enam hari mereka meninggalkan negara mereka dan dalam enam hari ini Timo tidak berani mengganggu Tuan Mudanya, mereka berdua tidak banyak bercakap hanya Timo saja yang menanyakan hal-hal penting dan dibalas anggukan saja olen majikannya termasuk untuk urusan urgen di kantor.
Beberapa kali panggilan langsung dari Tuan Besar bisa diatasi Timo, tapi kali ini sesuatu telah terjadi pada Non Dria dan itu membuat Tuan Besar menelpon lagi. Dan Timo memilih menyampaikan saja walau wajah Tuannya masih begitu kelabu, dia telah berjanji pada Tuan Besar untuk meneruskan informasi tentang Non Dria.
"Tuan Besar berkunjung ke kota S dan ternyata Non Dria dirawat di rumah sakit... Tuan Besar ingin anda tahu tentang hal ini, karena itu saya menyampaikan pada Anda, Tuan."
Sandro diam saja dan masuk ke lift. Tuan Muda tak merespon apapun dan terlihat tak ingin tahu.
Sesuatu yang sengaja ditekan ke dasar hati memang tidak akan muncul ke permukaan, Timo tidak dapat melihat dengan matanya apa yang ada di pikiran Tuannya.
Sesungguhnya pikiran itu sekarang sedang berkecamuk, ingin mengetahui mengapa dan bagaimana keadaan Dria. Tapi Sederet emosi dalam hati masih terlalu kuat menghalangi Sandro untuk segera pulang menjumpai Dria.
Di dalam lift hanya berdua dan Tuannya yang diam membuat Timo memberi informasi terserah itu penting atau tidak untuk Tuannya, dia hanya ingin menyampaikan yang dia ketahui.
"Saat Non Dria tahu Tuan pulang waktu itu menurut Tety Non Dria tidak berhenti menangis, bahkan sejak saat itu Non Dria tidak bicara, tidak makan dan minum. Beberapa hari yang lalu Tety sempat mengirim chat pada saya bahwa Non Dria sangat sedih entah karena apa. Non Dria pingsan tadi pagi makanya segera dilarikan ke rumah sakit. Tadi Tuan Besar menelpon dari rumah sakit, Non Dria masih belum sadarkan diri, Tuan."
Timo bisa melihat perubahan di wajah tampan Tuannya, segera Tuannya menjadi gelisah. Seseorang yang menyebabkan dirinya terpuruk seperti ini ternyata juga dalam keadaan yang sama. Walaupun tidak begitu berselera tetapi dia masih makan dan masih minum, masih memikirkan kebutuhan tubuhnya secara fisik walaupun jiwanya sedang bermasalah. Ternyata akibat yang terjadi pada Dria justru buruk. Orang yang menyebabkan luka juga terluka, sungguh ironi.
"Kenapa harus sepelik ini? Kenapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri, Dee? Kenapa kita berdua jadi seperti ini?"
Sandro membatin. Logikanya segera bekerja lagi setelah selama beberapa hari ini dia membiarkan perasaanya yang menguasai tubuhnya. Harus dia yang berani menyelesaikan ini, Dria adalah adiknya dan mereka berdua seharusnya tidak saling menyakiti. Sandro mengesampingkan lukanya sekarang, jika sesuatu terjadi pada Dria dia tak akan bisa memaafkan dirinya.
"Kita pulang, Timo."
Sandro berkata tegas sesaat setelah keluar dari lift.
Masalah Sandro yang sesungguhnya ada di pikirannya, ketika Sandro bisa menangani pikirannya, otomatis dia bisa menangani perasaannya. Yaa... Masalah itu mudah diselesaikan begitu emosi-emosi yang menyertainya bisa dihadapi. Semangat Sandrooo...
.