Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 28. Sekarang, Masih Sangat Sakit...



Mobil online yang ditumpangi Dria sampai di rumahnya. Dria mendorong railing pagar besi berwarna hitam, memperhatikan sejenak rumahnya. Tak ada yang berubah setahun ini, bagian depan masih dipenuhi dengan segala macam media tanam, berbagai ukuran dan bentuk pot batu alam, serta tentu saja beragam jenis tanaman. Bau khas dari tempat itu segera menyerbu indra penciumannya.


“Bena!!!!”


Dria berteriak melihat lelaki yang berusia seumuran dengan Dria.


“What the he**… ampun-ampun Dria… kebiasaan teriak-teriak sama sekali tidak berubah, kaget…”


Dria tertawa.


“Ayah mana?”


“Ada di dalam, baru selesai makan… paman tidak sabar menunggu kamu tiba di sini… sejak tadi bolak-balik melihat ke arah jalan…”


“Ayah tahu aku pulang?”


“Iya… aku tinggal ya, paman tidak ikut lagi…”


“Ada proyek?”


“Ada… di Palm Regency…”


Bena membuka kembali gerbang dan segera pergi dengan mobil pickup yang menjadi mobil operasional bisnis sang ayah. Dria memperhatikan sejenak city car warna putih miliknya, mungkin tidak dipergunakan ayahnya? Karena mobil itu terhalang tumpukan karung berisi media tanam dan susunan pot dari semen cor berbentuk persegi panjang.


Dria masuk ke dalam rumah, hati yang sejenak merasa bahagia karena berada lagi di kota ini kini kembali resah. Jika ayah telah menunggunya berarti keluarga Darwis telah memberitahu ayah, ya memang tidak mungkin mereka diam saja saat dia pulang tanpa berpamitan langsung pada Tuan Harlandy.


“Ayah…”


Dengan suara lirih Dria mendekati pria berambut hitam dan masih lebat. Ayah Rahmadi menghentikan kegiatannya mencuci piring, tak ada suara hanya memandang Dria yang berhenti sekitar dua meter dari sang ayah. Saat mata mereka berdua bertaut, dan mata ayah mengerjap, ada riak emosi yang dibaca Dria. Dia tahu itu wajah kesal sang ayah, tapi di sisi lain dia melihat pancaran rindu di mata ayah.


Dria tidak menahan diri lagi, segera dia meraih tangan kanan ayah mencium dengan takzim lalu segera memeluk sang ayah.


“Aku pulang ayah… aku mau tinggal di sini bersama ayah saja selamanya, aku rindu ayah…”


Dria menangis dalam pelukan ayahnya. Bertemu ayah setelah memasuki usia remaja memang sempat menjadi penghalang kedekatan mereka, walau tinggal dalam satu rumah tapi mereka jarang mengobrol bebas. Semenjak tinggal jauh dari sang ayah komunikasi mereka justru membaik, pembicaraan rutin di telpon seperti merekatkan hubungan mereka.


Ayah Rahmadi akhirnya mengusap kepala anaknya beberapa kali. Merasakan usapan kasih seorang ayah Dria tambah menangis dan semakin erat memeluk ayahnya.


“Sudah makan?”


“Hikss… belum ayah… aku malas membeli makanan di kereta…”


“Makan dulu…”


Ayah Rahmadi melepas pelukannya lalu mengambilkan piring di dalam lemari untuk Dria. Dria melepas tasnya di sebuah kursi lalu memperhatikan ayahnya.


“Cuci tangannya…”


Ayah melirik Dria.


“Iya…”


Saat Dria mencuci tangannya di bak cuci piring, ayah mengeluarkan makanan dari dalam lemari dan mengatur lagi di atas meja makan. Dria duduk lalu mulai makan, dan ayah kemudian duduk diam di hadapan Dria.


"Ayah masak atau beli?"


Dria coba menjalin percakapan.


"Lauknya beli, nasi masak sendiri."


Ayah menjawab singkat. Dria makan sedikit saja dan ayah tidak memaksa, tapi dengan sikap ayah yang tidak beranjak keluar dari ruang makan seperti biasa, Dria tahu ayah pasti ingin bicara padanya.


Saat Dria selesai, belum sempat Dria berdiri ayah bicara…


“Tuan Harlandy menelpon ayah. Kenapa pulang, nak? Seharusnya bicara dengan Tuan Sandro soal rasa takutmu…”


“Sudah… tapi kak Sandro tetap memaksaku ikut dengannya…”


“Sudahlah ayah… ini saatnya aku pulang, sejak lama aku sudah memberitahu ayah kan…”


“Dria… ayah telah melepasmu untuk keluarga Tuan Harlandy… tempatmu bukan di sini lagi, nak… kamu telah menjadi milik keluarga Tuan Harlandy.”


Ayah Rahmadi berbicara dengan menahan gejolak emosi di dadanya. Dia telah berjanji pada Tuan Harlandy, tapi anaknya justru pulang lagi ke rumahnya.


“Maksud ayah? Aku ayah berikan pada keluarga Darwis? Apa aku barang ayah?”


Suara Dria bergetar, baru saja tiba di sini, dia seperti mendengar sebuah kalimat penolakan ayah atas kepulangannya.


“Tidak, jangan salah paham, nak… kamu anak ayah yang paling berharga, kamu bukti cinta ayah dan ibu…”


“Lalu perkataan ayah tadi maksudnya apa? Ayah tidak lagi menganggapku anak ayah?”


Dria mulai terisak. Emosi seminggu ini yang terkumpul dan dipendamnya kini mulai menyeruak dalam tangisannya.


“Kamu tahu berapa lama Tuan Harlandy membujuk ayah untuk melepasmu kan? Tidak benar ayah melepaskanmu begitu saja, tidak… itu salah. Ayah harus menahan perasaan ayah karena kehilanganmu lagi, karena kamu satu-satunya yang berharga buat ayah, itu mengapa ayah menjemputmu dulu…”


“Tapi mengapa ayah mengatakan rumah ini bukan tempatku lagi, ini rumahku ayah, rumah besar itu bukan rumahku, bukan… sesaat saja aku merasa bahagia di sana, tapi aku merasa hidup di dunia berbeda ayah, cara hidup mereka bukan untukku, aku tidak bisa benar-benar menjadi bagian keluarga Darwis…”


“Masalahnya ayah sudah berjanji pada Tuan Harlandy, nak…”


“Janji apa ayah? Ini yang menganjal hatiku selama ini, mengapa ayah sendiri yang mendorongku pergi meninggalkan ayah? Janji apa yang membuat ayah sekarang ini sampai tega mengatakan tempatku bukan di sini?”


Ayah Rahmadi terdiam. Dia juga punya janji yang lain untuk tidak mengatakan hal itu pada anaknya.


“Ayah? Aku ingin tahu ayah… aku bukan anak kecil lagi… apa firasatku benar? Hati kecilku mengatakan tidak mungkin aku ke sana hanya untuk alasan bekerja di perusahaan mereka, ada alasan yang lain kan ayah?”


“Nak… untuk saat ini kembalilah ke sana, nikmati hidup yang lebih baik untukmu di sana, ya?”


“Tidak ayah, hidupku tidak cocok di sana, aku yang merasakan bukan ayah."


"Tapi... dengan menjadi anak Tuan Harlandy kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan..."


"Ahh... apa ayah tahu yang aku inginkan?"


Dria mengusap airmatanya dengan dua tangannya, belum kering benar sudah basah lagi.


"Ayah harus jujur padaku… aku ke sana karena ada tujuan keluarga Darwis untukku kan?”


Ayah Rahmadi menatap anaknya yang wajahnya basah dengan airmata. Melihat tangisan Dria yang semakin deras, dia paham bahwa anaknya paham tentang sesuatu yang menjadi rahasianya bersama sedikit orang dalam keluarga Tuan Harlandy.


"Aku bisa mengingat sekarang pesan mami waktu itu ayah... mereka sedang mewujudkan permintaan mami kan mengenai aku dan kak Sandro? Itu alasan yang sesungguhnya kan?"


Melihat ekspresi ayahnya Dria tahu firasatnya benar.


"Mengapa mereka harus melaksanakan hal itu? Mami sudah meninggal, mami tidak akan menuntut lagi... Hiksss... Kak Sandro kakakku, dia tidak bisa menjadi suamiku, tidak akan bisa. Ayah tahu juga kan... aku tidak akan pernah menikah. Kenapa ayah mengiyakan keinginan Tuan Harlandy?"


"Dria... Itu hal yang baik untuk hidupmu, mengapa ayah tidak menyambut keinginan baik mereka? Setiap ayah menginginkan masa depan yang baik untuk anaknya..."


"Ahhh ayaaah... Ayah tahu keadaanku... mengapa ayah melakukan itu padaku? Mengapa ayah tidak mengerti keadaanku?"


"Justru karena ayah tahu dan ayah mengerti, ayah pikir mereka akan menerima keadaanmu dan akan memahaminya Dria... mereka sangat menyayangi dan menginginkanmu."


"Tidak ayah... mereka akan menolakku jika tahu... Ayaaaah, aku tidak ingin merasakan dipermalukan lagi. Rasa malu itu masih aku ingat dengan baik, ayah. Itu sangat sakit... Sekarang pun masih sangat sakit ayah..."


Dria menelungkup dengan menutup wajahnya dengan dua tangannya. Sejumlah kesedihan, sejumlah sakit hati di masa lalu memunculkan lagi rasa malu dan kebencian pada diri sendiri, membuat dia menangis senggukan di tempat duduknya. Ada ayah yang tak bisa berbuat banyak, yang hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena tidak dapat melindungi permata hatinya dengan baik di masa lalu maupun sekarang.


Tak ada yang pernah lupa tentang kepedihan hidup sekalipun bertahun-tahun telah berlalu. Mungkin hanya tersingkir sesaat, tersembunyi di bagian terdalam sanubari. Pembawaan riang seorang Dria memang bukan kamuflase atau bentuk penyangkalan tentang hidupnya, itulah sejati dirinya karena didikan dan pengaruh seorang mami di masanya. Tapi tentang luka, itu bisa bangkit lagi jika ada yang memicunya.


.


.