
Akhirnya panggilan telpon yang dinantikan dengan segenap emosi berbunyi setelah kurang lebih satu jam Dria menunggu.
.
"Lamaaa..."
"Hei... kenapa menggerutu? Biasanya… Kakak kenapa menelpon? Apa kakak tidak bekerja?”
“Iyaa… karena kakak sangat sering menelponku…”
“Kalau begitu kenapa sekarang berubah? Kamu tidak berhenti menelpon padahal tahu kakak sedang meeting?”
“Aku… aku tiba-tiba ingin bicara dengan kakak…”
Suara sendu Dria bisa ditangkap Sandro, senyum merekah di sudut bibirnya, tapi dia ingin sedikit mengorek isi hati sang adik.
“Tadi pagi kita sudah bicara lama dan kakak hanya punya sedikit waktu sekarang… kakak harus menutup panggilan…”
“Kakak… ah… Dee minta waktu dua menit ya…”
“Dua menit? Untuk?”
“Dee masih ingin mendengar suara kakak…”
“Maksudnya? Ahh kakak masih ingat perkataanmu tadi pagi... kakak harus mementingkan pekerjaan, dan seperti kakak mendengar tentang menjadi pengganggu buatmu…”
“Itu? Ahhh itu Dee tidak sungguh-sungguh mengatakannya…”
“Ah kakak mengerti sekarang… semua penolakanmu untuk kakak selama ini sebenarnya tidak sungguh-sungguh ya? Termasuk penolakan jadi istri…”
“Kakak… itu tidak termasuk…”
“Ah?? Baiklah… kakak sibuk, kakak tutup sekarang…”
“Ehhh jangan… jangan dulu akhiri panggilannya..."
"Iya... Kenapa?"
"Apa besok kakak tidak bisa datang juga, apa kakak masih sibuk sampai besok?"
"Besok kakak ke sana, hari ini saja yang mendadak rekanan kakak memajukan meeting..."
"Ahh, aku senang... besok ada sedikit acara di kafe..."
"Iya kakak tahu, kamu sudah berulang-ulang memberitahu kakak tentang itu..."
“Aku khawatir kakak melupakan itu…”
“Tidak mungkin, sudah ya… kali ini kakak benar-benar harus mengakhiri panggilan…”
“Baiklah…”
“Tidak ada yang ingin kamu katakan?”
“Apa?”
“Rindu misalnya?”
“Ahh… kakak, itu tidak mungkin…”
“Jadi, tadi ingin berbicara dengan kakak lebih lama bukan karena rindu?”
“Bukan… hanya ingin mengingatkan kakak tentang acara besok hari di sini.”
“Baiklah, berarti jika kakak membatalkan untuk datang besok tidak masalah kan?”
“Ahh… jangan seperti itu… baik. Dee memang rindu. Puas?”
.
Dria mengakhiri panggilan dengan wajah bersemu merah. Kakaknya berhasil mempermainkan perasaannya. Di seberang telpon, kurang lebih 800 km jauhnya, seseorang sedang tertawa kecil merasa terhibur dengan percakapan jarak jauh dengan Dria. Dia segera menyesal karena panggilan tadi bukan panggilan video jadi tidak dapat melihat reaksi Dria, sekarang dia hanya bisa membayangkan ekspresi Dria, itu pasti sangat menggemaskan untuk dinikmati.
.
🦔
.
"Non Dria, ada yang mencari Non Dria..."
"Sepagi ini? Siapa Tety?"
Dria baru selesai mandi dan sedang memoleskan bedak ke wajahnya.
"Seorang pria... Dia tidak mau menyebut nama, hanya mengatakan dia teman Non Dria."
"Kamu sudah mengatakan aku ada di sini?"
"Iya Non... maaf. Pria itu sudah berdiri di depan pintu saat saya membuka pintu, dan katanya dia telah melihat Non Dria saat Non Dria masuk ke dalam rumah..."
Tadi Dria sempat mengitari taman yang luas ini untuk melihat-lihat apa yang perlu ditambah atau diperbaharui, karena mulai banyak permintaan menggunakan lokasi untuk foto prewedding outdoor. Dia juga melihat dekorasi dalam rangka anniversary apa sudah ditambahkan.
Dria sedikit khawatir, siapa yang datang mencari dirinya? Beberapa teman kantor dahulu telah berjumpa dengannya tapi pertemuan itu di kafe, tidak ada yang tahu tempat tinggalnya, dan sekalipun tidak ada aturan tertulis tapi tidak ada karyawan yang akan memberitahu orang lain di mana dia tinggal.
Memang tidak ada security yang secara khusus di tempatkan untuk menjaga jalan ke arah bagian belakang area ini di bagian mana terletak rumahnya, tidak ada pagar pemisah juga jadi siapapun sebenarnya bisa mengakses tempat ini.
"Sekarang dia ada di mana?"
"Saya minta menunggu di teras depan Non, dia duduk di sana..."
"Orangnya seperti apa Tety?"
"Orangnya tampan tapi tidak setampan Tuan Muda."
"Ah... Tety, ciri-cirinya... kamu sekarang sering sekali bicara tentang pria-pria tampan, apa kamu sedang jatuh cinta?"
“Sudah lama saya jatuh cinta pada seseorang Non…”
“Ahh?? Siapa?”
“RM… Namjoon… hehe…”
“Astaga Tety, berani bersaing dengan Luna Maya? Cari lelaki yang real… jangan ikutan bias seperti banyak orang…”
“Hehehe, di kehidupan nyata tidak ada yang menyukai saya, Non…”
“Belum bertemu saja, Tety… bukannya tidak ada…”
Dria selesai dengan riasan naturalnya. Hari ini hari istimewa karena menjadi hari perayaan anniversary bisnisnya. Dria memilih untuk tampil berbeda dengan makeup yang lebih lengkap tapi hanya dengan warna soft saja, biasaya dia hanya menggunakan lipgloss dan bedak. Dria juga memilih menggunakan Dress berwarna kuning muda, warna yang menjadi ciri beberapa spot di kafe dan tokonya.
“Aku sarapan di kafe Tety, aku sudah memberitahu bu Sonia tadi… Ayah sudah sarapan?”
“Sudah… bi Sisi dan bi Ati sudah selesai masak, pak Rahmadi sarapan bersama karyawan di kantor pak Rahmadi tadi…”
“Ya sudah…”
“Non… pria yang menunggu Non Dria…”
Tety segera mengingatkan ketika melihat Dria hendak keluar lewat pintu samping.
“Ahh?? Iya… iya.”
Dria mengganti arah dan bergegas ke teras bagian depan rumah mungil di kawasan besar ini. Dria terkejut saat melihat Reginald duduk di salah satu kursi yang ditempatkan di teras itu. Dari luar sini suara percakapannya dengan Tety pasti terdengar walau sayup saja. Egi berdiri saat melihat Dria muncul di ambang pintu.
“Untuk apa dia datang ke sini… dari mana dia tahu aku tinggal di sini? Berarti setiap datang ke sini dia bukan hanya duduk diam sambil mengerjakan pekerjaannya seperti informasi bu Sonia.”
Dria memadang dengan perasaan tak suka.
“Ada apa mencari saya?”
Dria tidak melangkah lagi, berdiri dengan satu tangan memegang kusen pintu rumahnya.
“Aku ada perlu, Ya…”
Kali ini Egi lebih siap untuk bertemu Dria, nampak dari sikapnya yang sekarang terlihat cool, menatap Dria dengan kebulatan hati untuk berbicara sesuatu.
“Katakan…”
Dria berkata pendek tanpa bergerak dari posisinya.
“Hal ini tidak bisa dibicarakan dengan cara ini, Ya… apa kita bisa ke suatu tempat?”
Wajah Dria mengeras, sebuah permintaan yang tidak masuk akal untuk keadaan hubungan mereka yang sekarang adalah dua orang asing yang hanya pernah terhubung di masa lalu dan di masa sekarang sudah ada batas yang jelas di hati Dria.
“Tidak, siapa kamu meminta hal seperti itu? Dan sekarang kita tidak punya urusan yang mengaitkan kita, jadi maaf saya harus menolak berbicara denganmu. Permisi.”
Suara Dria berubah penuh emosi. Kebahagiaan hari ini menjadi terganggu dengan kemunculan Egi. Setelah memberi tatapan marahnya Dria berbalik.
Emosi Dria benar-benar tersulut sekarang. Dria berbalik dan mencari tatapan Egi, dan dengan suara dalam yang bergetar karena emosinya Dria berkata…
“Apa yang terjadi di masa lalu sudah selesai, jangan mengungkit lagi, dan jangan membicarakan lagi. Kamu boleh pergi sekarang dan jangan berani mencariku untuk hal semacam itu.”
Entah kenapa, Egi lebih bisa menerima sikap Sandriana yang marah seperti ini padanya dibanding sikap Sandriana sebelumnya yang bicara seadanya dengan sikap sebagai orang asing.
“Ya… tolong dengarkan aku sebentar… aku tahu kesalahanku tak termaafkan, tapi izinkan aku memperbaiki apa yang salah.”
Hati Dria bagai dipukul sesuatu lagi. Dria maju selangkah, dua tangan naik di pinggangnya sekarang.
“Apa kamu bisa memperbaiki diriku? Aku hancur, aku rusak Reginald! Apa yang akan kamu lakukan dengan itu? Apa kamu bisa membayar semua airmataku karena dirimu? Apa kamu bisa membayar rasa sakit yang aku alami? Jangan mengatakan apapun tentang memperbaiki yang salah, kamu tidak melakukan apapun waktu itu dan kamu tidak dapat melakukan apapun sekarang.”
Egi menatap Dria dengan sedih mendengar kenyataan dampak perbuatannya bagi Dria di masa itu yang dinyatakan dengan gamblang penuh emosi, tapi itu kebenaran yang tdak bisa ditolaknya.
“Aku tahu Ya… tapi tolong beri aku kesempatan untuk membayar itu semua walau aku tahu tidak akan pernah sebanding dengan penderitaanmu. Apapun itu, Ya… katakan apapun itu, aku ingin melakukan sesuatu untuk kesalahanku itu.”
“Tidak… tidak ada, jangan memaksa. Silahkan pergi.”
Tatapan mengusir bisa dibaca Egi, tapi Egi tidak ingin secepatnya menyerah, dia sudah bertekad ingin meminta maaf, bertekad ingin bertanggung jawab meskipun sangat terlambat dan mungkin tidak akan mengubah apapun, tapi ada anak mereka…
“Ya… anak kita…”
“Anak?”
Dria menyambar cepat.
“Apa waktu itu kamu menganggap dia anakmu? Apa kamu memikirkan tentang dia waktu itu? Kamu tidak memperjuangkannya, kamu diam saja ketika mamamu meminta aku mengugurkannya, bahkan tanganmu sendiri yang memberikan uang padaku untuk biaya ke dokter, Reginald. Kamu tahu sehancur apa hatiku saat itu? Jangan berani sebut itu ‘anak kita’, kamu tidak berhak!”
Dria sekarang berbicara dengan airmata yang tidak bisa dia tahan. Dia pernah menyadari bahwa ada anak dalam rahimnya, dan rasanya sangat sakit ketika anak itu terang-terangan ditolak keberadaannya.
“Maafkan aku, Ya… aku tidak bermaksud seperti itu, aku ditekan orang tuaku, Ya. Aku tahu aku pengecut, tapi… beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab, Ya…”
“Tidak, Reginald. Tidak ada kesempatan untuk apapun.”
“Ya… aku memohon, demi anak kita.”
Dria menggeleng sangat kuat mengatasi emosi yang menggelegak karena membahas anak, hal yang paling menyakitkan setelah kepulangan mereka dari kota B adalah tentang anak dalam kandungannya.
Dria mengeringkan airmatanya dengan tangannya.
“Tidak ada ‘anak kita’ sejak kamu menolaknya, Reginald.”
“Maafkan aku yang sangat bodoh waktu itu, Ya… maafkan aku…”
Dria menggeleng, maaf saja tidak cukup, sampai kapanpun dan sebanyak apapun pria di depannya meminta itu Dria tak dapat memberikan itu.
“Kamu harus tahu satu hal Reginald, aku pernah berharap kamu menyesal dan datang mencariku lagi waktu itu, tapi… kamu tidak pernah datang. Aku pernah berharap kamu datang dan meminta maaf waktu itu, aku pernah sangat berharap kamu kembali padaku… tapi kamu tidak datang. Dan aku memutuskan melupakanmu dan berharap tidak akan pernah berjumpa lagi di dunia ini, tapi ternyata itu terjadi… aku menganggap ini tidak sengaja. Tapi selanjutnya jangan pernah sengaja mencariku lagi. Silahkan pergi dari sini.”
Kalimat itu dikatakan Dria dengan intonasi yang lambat dengan mata yang diarahkan tepat di mata Reginald. Dia sungguh-sungguh pernah mengharapkan Reginald kembali waktu itu. Bahkan Dria memilih kuliah di Universitas yang diinginkan Reginald, memilih Fakultas yang menjadi cita-cita Reginald dengan harapan bertemu Reginald di tempat itu. Dan setelah penantiannya mencapai limit dia memutuskan melupakan, tapi sekarang pria ini datang, dan dia tidak inginkan apa-apa lagi, sudah selesai.
Melihat tatapan dan sikap beku Dria, hati Egi menciut. Ada kekuatan dalam tatapan itu, kekuatan yang berasal dari hati Dria yang tidak ingin kembali ke masa lalu. Egi merasakan itu sebagai keputusan final, kehendak seorang wanita yang telah tersakiti begitu hebat dan memutuskan tak akan ada cerita yang sama. Egi menyerah.
“Baiklah, Ya… aku tahu aku tidak layak mengatakan ini… tapi, kamu harus tahu, Ya… aku tidak pernah melupakanmu, kamu selalu ada dihatiku. Aku tidak mencarimu karena aku merasa tidak mampu berhadapan denganmu…”
“Pergi sekarang, Reginald… jangan mengatakan apapun lagi, itu tidak berarti.”
Dria memutuskan perkataan Reginald, dia tidak mau mendengarkan isi hati Reginald.
Egi memandang Dria dengan hati penuh luka, hatinya ikut terluka delapan tahun yang lalu karena ketidakmampuannya untuk tetap berada di sisi Dria, dan luka di hatinya itu dibiarkan seperti itu, dia tak ingin sembuh karena perasaan bersalah yang begitu dalam untuk Dria sebanding dengan lukanya sendiri. Dan sekarang mendengar sendiri apa yang Dria alami membuat lukanya bertambah perih.
Egi tertunduk, tak sanggup melawan tatapan Dria.
“Maafkan aku, Ya… Maafkan aku…”
Egi mengatakan dengan suara bernada pasrah. Egi kemudian menatap Dria sekali lagi lalu beranjak dari teras rumah Dria. Dia tahu tempat ini karena pernah beberapa kali mengikuti Dria secara diam-diam dan mungkin tidak boleh melakukan apapun lagi setelah ini dengan alasan apapun. Ketegasan sikap Dria sangat jelas, masa lalu tidak dapat dibawa menjadi masa depan sekalipun cinta masa lalunya mungkin tak akan pernah menghilang dan akan dibawanya sampai ke masa depan.
.
☘️
.
Sandro merasa heran, Dria yang sehari sebelum ini begitu intens menghubungi walau dia sedang meeting kemudian tadi pagi lebih dahulu menelponnya, sekarang justru tidak menggubris panggilan yang sudah kesekian kali.
“Timo… Apa Dria marah padaku?”
“Saya tidak tahu, Tuan… saya ada di sini bersama Anda, Tuan… bukan bersama Non Dria…”
“Aku tahu Timo, maksudku Dria tidak menjawabku, coba kamu yang menelpon, mungkin dia akan menjawabnya.”
“Panggilan Anda saja tidak Non Dria jawab, apalagi panggilan dari saya.”
“Timotius kerjakan saja jangan menjawabku seperti itu.”
Timo mengulurkan tangannya meminta gawai tuannya.
“Apa? Pakai hpmu Timotius. Kenapa kamu jadi lambat berpikir…”
“Ah baik Tuan…”
Setelah mencoba tiga kali… Timo mengangkat gawainya…
“Tidak dijawab Tuan…”
“Ahh? Kenapa Dria tidak menjawab panggilanmu?”
Dengan bingung Sandro bertanya memastikan.
“Itu yang saya maksud, Tuan… panggilan dari nomor Anda saja yang begitu penting untuk Non Dria tidak…”
“Jangan teruskan, aku paham… jangan mengatakan aku yang lambat berpikir.”
Pandangan intimiasi Tuannya dibalas dengan senyum oleh Timo, senyum yang membuat Sandro jengkel.
“Jangan mengejekku, Timotius…”
“Saya? Saya tidak mengatakan apapun.”
“Tatapanmu Timo, matamu tidak bisa bohong.”
Timo dengan cepat menguasai dirinya, mengembalikan dua sudut bibirnya yang tertarik ke atas. Tuannya kadang bersikap begitu menggelikan saat tidak dapat menghubungi Non Dria. Apa Tuannya ini tidak dapat bersabar? Ini sudah di bandara, sebentar lagi bertemu Non Dria, begitulah… untung saja Timo punya banyak stok sabar untuk Tuannya.
Timothy, nama keren yang dipotong Tuannya ini dengan sesuka hatinya menjadi Timo dan akhirnya menjadi nama populernya yang terkenal luas di kalangan manapun yang berhubungan dengan perusahaan Mega Buana ini, yang dengan semena-mena diubah menjadi Timotius saat mood Tuannya ini terganggu. Jika tak ada hubungan pekerjaan mungkin mereka berdua bisa menjadi sahabat yang akan selalu saling mengejek dan saling membully.
Di lokasi Aubrey Park, si Tuan Muda Sandro Kristoffer Darwis menunggu di mobil saat Timo turun dan menanyakan Dria di kafe dan di toko.
“Non Dria belum terlihat baik di kafe maupun di toko, Tuan. Menurut Sonia, seharusnya Non Dria sarapan di kafe tadi pagi tapi hingga sekarang Non Dria belum muncul…”
Timo menjelaskan pada Tuannya saat dia kembali naik ke mobil.
“Pak Mulyo, kita ke rumah…”
Timo memberi perintah pada sopir setia Tuan Muda yang selalu ikut ke kota S ini karena Tuannya tidak pernah merasa nyaman disopiri oleh orang lain. Salah satu mobil Tuannya sudah ditinggalkan di kota ini untuk kebutuhan sang Tuan Muda bila berada di sini.
Mobil itu bergerak lambat menuju ke bagian belakang area ini.
“Kamu sudah memberi tahu pak Aries aku akan memeriksa rumah hari ini?”
Sandro bertanya saat matanya melihat dari jauh bangunan rumah miliknya yang sudah masuk tahap finishing.
“Sudah Tuan… pak Aries akan datang jam tiga sore nanti…”
Timo memeriksa chat dengan pemborong yang menangani pembangunan rumah Tuannya. Tak lama mobil berhenti di area rumah mungil Dria, pak Mulyo langsung memarkir mobil di garasi yang tersedia di samping mobil milik Dria.
Sandro yang tak sabar segera turun dan masuk melalui pintu samping yang tidak dikunci. Ada Tety yang sudah berdiri siap menyambut Tuan Muda.
“Dria mana?”
“Ada di kamar Tuan… Sejak pagi Non Dria tidak keluar... sejak..."
"Sejak apa?"
Sergah Sandro tidak sabar.
"Sejak bertemu seseorang bernama Reginald."
"Reginald??? Siapa dia?"
.
.
🐢🐤
.