
Jika bertanya tentang siapa pria yang membuat Dria merasa paling berbahagia sekarang ini, itu hanya satu, Sandro orangnya. Tapi Dria harus mengambil resiko hari ini untuk kehilangan kebahagiaan itu, dia telah memikirkan berkali-kali sejak tadi pagi bahwa akan lebih baik jika dia terbuka dengan keadaannya, dengan demikian akan lebih cepat kakaknya menemukan kebahagiaannya sendiri, itu rasanya lebih berarti untuk Dria dan lebih tepat untuk dilakukan.
"Kamu bertemu seseorang dan setelah itu kamu jadi seperti ini... Kenapa?"
Sandro pun tidak ingin menunda, langsung bertanya pada intinya. Dria belum menjawab hanya melihat kakaknya sejenak dan membiarkan kakaknya melakukan yang sedang dia lakukan dengan anak rambut di dahinya, sudah biasa kakaknya melakukan hal itu.
"Siapa dia Dee?"
Si Tuan Muda sudah bisa menduga siapa pria itu bagi Dria karena dia bisa membuat Tety membuka mulut untuk menjelaskan sedikit yang dia dengar dari pembicaraan di teras antara Dria dan Reginald bahwa Reginald adalah masa lalu Dria. Tapi di sini Sandro merasa bahwa pria itu ada hubungannya dengan apa yang dia ketahui dari sang papi waktu itu.
Dria kemudian mengumpul keberanian untuk bicarakan tentang Reginald. Tapi saat hendak mulai bicara lidah terasa berat untuk menyampaikan dengan jujur apa yang selama ini menjadi rahasianya untuk banyak orang. Memang di tempatnya yang lama semua orang yang mengenalnya mengetahui cerita buruk yang telah terjadi.
Dria menelan ludah saat matanya bertemu tatapan lekat kakaknya yang sedang menunggu Dria menjawab pertanyaan. Sebenarnya Sandro pun tidak akan memaksa Dria untuk menjelaskan keadaannya. Dia telah belajar dan mengetahui watak sang adik yang di sisi lain begitu ceria dan terbuka, tapi jika ada hal-hal dari masa lalu yang dibicarakan Dria tidak akan memberi tanggapan lalu berubah murung.
Dengan menguatkan hati Dria memandang kakaknya coba menanggalkan rasa malu terhadap keadaannya walaupun seketika perasaaan tidak nyaman segera terasa di tubuhnya. Dua lengannya merasakan tekanan arus dingin demikian juga punggungnya.
“Apa dia menyakitimu? Siapa dia? Apa dia teman dekatmu di masa lalu?”
Melihat Dria kesulitan untuk memulai Sandro akhirnya melemparkan pertanyaan yang sejak tadi telah ada di bibirnya. Dria mengangguk, dan itu membuat hati Sandro seperti dicubit, walau sudah menerima tapi tetap mengganggu hatinya saat membicarakan tentang pria lain dalam hidup Dria.
“Apa dia orangnya? Yang telah menjadi yang pertama untukmu?”
Pertanyaan ini hanya bergema dalam hati saja, rasanya itu terlalu vulgar untuk ditanyakan walau ini hal yang telah diketahuinya dan ingin dia pastikan siapa orang itu.
“Lalu kenapa jadi sedih berjumpa dengannya? Apa dia menyakitimu, Dee?”
Sandro memilih mengulangi pertanyaannya sebelum ini, dan kembali Dria menggeleng. Kali ini Dria mengangkat wajahnya dan menatap dengan berani wajah kakaknya.
“Kakak… Dee tahu keinginan kakak untuk Dee tidak main-main…”
“Keinginan?”
“Iya… tentang itu… menjadi istri kakak…”
Dria menjawab dengan suara sendu sambil menunduk sejenak menghindari tatapan Sandro.
“Keinginan kakak jelas, kamu sudah paham dan terus menolaknya… kakak bisa apa?”
Dria kembali mencari netra kakaknya…
“Karena itu Dee minta sekarang, kakak harus ubah keinginan kakak, bukan hanya Dee wanita di negara ini… ini sangat penting untuk perjalanan hidup kakak. Dee bukan wanita yang baik untuk kakak, Dee sudah ternoda…”
Bagian yang sulit telah terucap, dengan perasaan malu yang muncul Dria menunduk lagi…
“Pria yang datang mencarimu, diakah orangnya???”
Suara Sandro berubah menjadi penuh emosi membuat Dria terperanjat semua indranya menstimuli keadaan itu sehingga emosi semakin mengental.
“Iiiya… iya… karena itu Dee selalu menolak kakak selama ini. Maaf jika Dee tidak berterus-terang sejak awal Dee tahu perasaan kakak… maaf, itu karena Dee takut kakak marah dan benci sehingga tidak mau melihat Dee lagi… Dee juga malu tidak bisa menjaga diri, Dee malu pada mami dan kakak…”
Dria menutup wajahnya dengan dua tangannya, rasa marah dan sedih untuk dirinya sendiri kembali muncul, sekarang bertambah dengan rasa malu karena harus mengakuinya di depan kakaknya, di depan pria yang menginginkan dirinya menjadi istrinya, di depan pria yang sekarang dia sadari menjadi pria yang dicintainya.
Beberapa detik berlalu, Dria tak mendengarkan suatu bunyi atau merasakan suatu gerakan apapun. Dria tidak punya keberanian untuk melihat kakaknya sehingga bisa mengetahui apa respon kakaknya. Rasanya Dria ingin mengikuti emosinya yang bertambah, menangis dengan kencang untuk masa lalu hidupnya yang buruk dan berdampak di masa sekarang.
Tapi kemudian dia merasakan tangan Sandro menarik kepalanya dengan lembut, membawa dia masuk ke dalam pelukan dua tangan besar kakaknya. Suara tangisan Dria pecah di sini. Sandro mengusap kepala adiknya dan memberikan ciuman kasih sayang, dia tak kuasa menahan hatinya setelah melihat reaksi Dria, seluruh tubuh Dria menunjukkan emosi yang sedang berkecamuk.
“Tidak apa-apa Dee… jangan sedih ya… tidak apa-apa… kakak tidak akan marah apalagi membencimu… tidak Dee… kakak sangat mencintaimu, Dee… ini perasaan kakak yang sesungguhnya, kakak begitu mencintaimu…”
Dria menggeleng kuat dalam pelukan sang kakak.
“Jangan kak… kakak harus melupakan cinta kakak untuk Dee supaya bisa mencintai wanita lain…”
Suara Dria yang begitu pelan dibalut emosinya menggema di telinga Sandro membuat Sandro semakin mempererat pelukannya.
“Tidak Dee… kakak hanya mencintaimu…”
“Tapi Dee… tidak layak untuk kakak…”
“Jangan mengatakan hal itu, ya… jangan merendahkan harga dirimu… kamu layak untuk kakak cintai…”
“Kakak… jangan…”
Dria terdiam kaku di dalam pelukan kakaknya.
“Dee?”
Dria perlahan melepaskan pelukan, fakta yang dia dengar membuat dia sedikit bingung dan hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya.
“Kakak sudah tahu? Jadi selama ini kakak sudah tahu?”
Suara rendah penuh keraguan sekaligus perasaan canggung mendapati kenyataan bahwa keadaannya sudah diketahui kakaknya.
“Sudah, Dee…”
“Kakak… Dee malu tentang itu kak…”
Dria berkata setengah berbisik sambil menunduk dalam, rasanya jika boleh dia ingin menghilang sekarang, pernah merasakan bagaimana direndahkan dan dipermalukan sehingga dia begitu membenci dirinya sendiri dan ingin mati. Dria menelungkup di dua kakinya seolah ingin menyembunyikan diri dari dari kakaknya bersamaan dengan semakin meluapnya tangisan dukacita karena masa lalu.
“Dee… jangan seperti ini, sayang… sini…”
Sandro mengangkat tubuh Dria yang bergetar karena emosi yang begitu nyata. Sandro memeluk Dria lebih erat dari pelukan sebelumnya, hati Sandro turut nelangsa.
“Sayangku… itu tidak masalah untuk kakak, percaya ya… kakak cinta kamu itu kenyataannya, Dee. Setelah kakak tahu itu tidak mengubah perasaan kakak…”
Beberapa waktu Sandro menenangkan Dria dengan usapan dan ciuman sayang di kepala Dria. Dalam pelukan erat Sandro Dria sadar bahwa ketakutannya selama ini tidak berdasar. Secara perlahan semua perlakukan Sandro padanya meredakan gejolak emosinya.
Sandro merenggakan pelukannya dua tangannya berpindah ke lengan Dria sehingga tidak melepaskan kontak fisik di antara mereka.
“Sayang… lihat kakak…”
Satu tangan Sandro memegang dagu Dria mengangkatnya sehingga pandangan mereka bertemu.
“Jangan pernah merasa tidak layak untuk kakak ya? Jangan merasa malu lagi ya? Percaya ya bahwa kakak menerima apapun keadaanmu… ya?”
Dria menatap kakaknya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang dia temukan dalam pandangan kakaknya adalah ketulusan dan cinta. Dria menemukan kelembutan di sana, serasa mendapatkan kekuatan karena melihat penerimaan kakaknya dalam cara kakaknya menatap dirinya. Merasakan seperti tekanan berton-ton dari seluruh waktu yang pernah dia habiskan untuk meratapi keadaan seperti hilang sekarang, ada keteduhan yang perlahan mengambil alih suasana dalam batinnya.
“Dee… Dee percaya kakak kan? Kamu harus percaya Dee, kakak tidak akan memandang rendah padamu karena telah tahu keadaanmu, ya?”
Dria akhirya mengangguk samar tapi melegakan untuk Sandro, maka dia membawa Dria lagi dalam pelukannya, menyandarkan kepala Dria di dadanya. Satu tangannya membuat menggerakkan dagu Dria sehingga kepala Dria yang bersandar itu sedikit mendongak, lalu Sandro mencium dahi Dria lamaaa, menegaskan perasaan hatinya, sekaligus sebuah wujud dari sebuah perasaan bahagia karena penantiannya selesai. Dan sepertinya Sandro boleh yakin sekarang bahwa Dria resmi jadi wanita miliknya, status mereka berdua berubah sekarang.
"Ayo... kamu seharusnya berbahagia hari ini, ini hari special buatmu..."
Sandro turun dari tempat tidur Dria lalu menarik Dria perlahan.
"Kamu juga belum makan sejak pagi kata Tety... makan dulu ya, kakak juga belum makan siang, kita makan di kafe saja."
Dria ikut turun, perasaan karena sebuah energi positif yang muncul di hati karena melihat dan merasakan cinta sang kakak terlebih penerimaan sang kakak kini mendominasi hati Dria. Hatinya sekarang seperti telah mampu menghadapi dan mengatasi ketakutan dari masa lalu, dan untuk pertama kalinya dia mampu menjadi pribadi yang layak. Ternyata setelah mengakui kebenaran tentang dirinya Dria merasa lebih bebas. Peralihan atmosfir tak terpikirkan oleh mereka berdua sebelumnya, kedatangan Egi menjadi pembuka jalan untuk hubungan baru di antara Dria da Sandro.
"Sini... mata jadi bengkak seperti ini... Ini harus jadi yang terakhir menangis seperti ya?"
Sandro mengusap dua pipi Dria mengeringkan airmata di sana. Dria menjadi malu oleh sebuah perasaan yang lain, berdiri begitu dekat seperti ini dengan perasaan bukan sebagai adik membuat dadanya berdebar, tetapi debaran itu seperti membantu aliran darahnya menyebarkan rasa bahagia ke seluruh sel tubuhnya dan terutama mengalirkan rasa panas ke permukaan wajahnya. Entah seperti apa ekspresinya karena kakaknya seperti hendak tertawa.
"Kenapa kakak tertawa?"
"Ahh? Ini hari paling bahagia untuk kakak... dan kamu selalu menggemaskan..."
Sandro mencium cepat salah satu sudut bibir Dria, sebuah perwujudan tindakan yang telah lama disimpan dalam otaknya turut membuatnya berdebar. Segera Sandro menarik Dria keluar dari kamar.
Ternyata ada hal-hal yang dia lakukan yang segera memicu sesuatu dalam hasratnya. Hormon yang dipicu sistem saraf pusat mengirim signal tentang cinta yang kini saling merekatkan batin mereka berdua tentang kebutuhan akan keintiman. Tapi ini terlalu dini, mereka baru saja melepaskan sekat di hati, jadi boleh dikata perjalanan dalam status yang berbeda baru saja dimulai, jadi Sandro menahan hasratnya untuk mencium bibir Dria seperti yang diinginkannya.
.
.
Mereka jadian kayaknya, gais... hehe. Sorry jika kurang mengalir isinya ✌️✌️✌️
.
.