Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 32. Pria Paling Dekat



Sandriana dan Tety duduk di tepi tempat tidur susun yang baru dibeli Dria. Dria dibantu Tety nekad memasang sendiri wallpaper di kamar hanya menggunakan tutorial di you*tube. Tety, pelayannya waktu di rumah besar akhirnya tinggal bersama Dria atas kehendak Tuan Besar Harlandy.


Dengan adanya Tety bersama Dria Tuan besar Harlandy merasa lebih tenang. Ada maksud si Tuan Besar di balik itu, Tety punya tugas rahasia, melaporkan semua hal tentang Dria. Tentu bukan dalam konotasi negatif menjadi seperti mata-mata, bukan seperti itu tapi Tuan Harlandy atas ijin ayah Rahmadi ingin lebih memberi perhatian pada Dria sekarang.


Sebelas tahun sebelumnya hubungan terputus begitu saja, tapi sekarang walau tak memaksa tapi Tuan Harlandy tetap pada keinginannya berharap Dria bukan hanya sebagai putri angkat tetapi juga menjadi menantunya.


"Bagus tidak... Tety..."


Dria mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar berukuran 4x4m itu, melihat hasil kreatifitas mereka berdua.


"Lumayan, hasilnya rapih, walau ada yang motifnya tidak tepat bersambung, tapi itu tidak terlalu kelihatan..."


Dinding kamar sekarang menjadi dua warna, putih tulang di bagian atas, sementara bagian bawah berwarna coklat muda. Suasana kamar jadi lebih kalem dengan corak dan warna walpaper yang lebih netral, sesuai keinginan Dria. Sebelumnya cat kamarnya berwarna biru benhur yang membuat kamarnya berkesan gelap dan sempit.


"Haha, tentu saja kita tidak mungkin mengalahkan tenaga profesional... Aku hanya coba-coba, tapi hasilnya tidak mengecewakan... aku hanya menyerah di dinding bagian atas, untung saja kamu tidak penakut Tety, bisa memanjat tangga sampai setinggi itu."


"Dengan tangga seperti ini rasanya aman saja..."


"Ahh... Ayo kita keluarkan tangganya setelah itu kita bawa masuk barang-barang yang lain..."


Kedua gadis itu segera menggotong tangga teleskopik yang bisa ditinggikan hingga lima meter itu ke luar.


"Apa yang pertama kita masukkan Non?"


"Lemari pakaian, itu yang paling besar, kita hanya perlu mendorong itu... Tapi Tety, tidak apa kan pakaian kita berdua disimpan bersama di lemari ini?"


"Jangan Non... saya minta kamar belakang jadi kamar saya ya... saya sungkan sekamar dengan Non Dria... tapi saya pasti akan sering di sini juga, hanya beberapa meter dari kamar itu kan..."


"Baiklah Tety, aku tidak akan memaksa lagi. Padahal akh sudah beli temlat tidur susun untuk kita berdua..."


"Ditukar saja lagi Non, toch belum digunakan... Apalagi Non Dria membeli banyak barang di toko itu..."


"Nanti akh tanyakan ke pemilik tokonya, apa bisa seperti itu..."


Setelah lemari pakaian telah ditempatkan di posisi yang diinginkan Dria...


"Kamar Non Dria di sana sebesar keseluruhan rumah ini..."


Tety bicara sambil mulai mengantung lagi pakaian Dria yang ada di sebuah dus besar.


"Ahhh jangan kamu bandingkan Tety... bahkan rumah belakang jauh lebih besar dan jauh terlihat lebih mewah dari pada rumahku ini."


"Di sana juga rumah non Dria..."


"Haha... boleh aku sebut rumahku ya? Aku setuju saja karena papi mengatakan aku anaknya, haha... Ahh... Tety, kalau kita bosan di sini, kita berkunjung ke sana ya... suatu saat aku pasti merindukan rumah itu."


"Tahu tidak, Non Dria pergi... banyak yang sedih, terutama Jojo dan adik-adiknya..."


"Seperti itukah? Ahh aku tidak pamit dengan benar..."


"Non Dria membuat semua panik, mulai dari Tuan Besar, Tuan Muda..."


"Masa? Aku ternyata membuat rusuh..."


Dria berkata lirih dan senyum sedih.


"Tuan Muda panik waktu itu saat masuk kamar Non Dria tidak ada. Baru sekali itu aku lihat Tuan Muda sekacau itu, Tuan hampir membatalkan perjalanannya untuk mencari Non Dria... Tapi dicegah Tuan Besar..."


"Ahh Tety... aku jadi merasa bersalah pada kak Sandro, makanya aku takut menghidupkan hpku... takut kak Sandro marah, aku pernah lihat kak Sandro marah, itu menakutkan."


"Kamu lupa ya awal aku di sana, kak Sandro tidak pernah bicara bahkan menatapku... tapi lucunya setelah itu justru aku harus mengikuti semua kegiatannya, bahkan makanpun aku tidak boleh dengan yang lain... haha..."


"Itu karena Tuan Muda sangat sayang pada Non Dria..."


"Begitu ya?"


"Sangat terlihat Non..."


"Ahh itu aku merasakannya juga, Tety... tapi maksudku terlepas dari rasa sayang kak Sandro padaku ada sikapku yang membuat kak Sandro marah seperti yang baru saja terjadi... nah itu yang aku takut hadapi..."


"Yang aku lihat, Tuan Muda justru terlihat sedih dan ingin segera mencari Non Dria, bukan karena marah, tapi justru terlihat sangat khawatir..."


"Ahhh? Apa... Itu benar Tety?"


"Iya Non... saya sangat yakin tentang hal itu..."


Dria terdiam memikirkan apa yang disampaikan Tety. Nama kak Sandronya segera bergema di hati beserta semua hal yang dia ingat tentang kakaknya. Setahun bersama lagi terlepas dari sikap awal Sandro yang agak kejam padanya, tidak bisa dia pungkiri untuk sekarang ini sosok kakaknya itu menjadi pria paling dekat dengannya sebenarnya, dan Dria cukup nyaman dengan itu karena sesungguhnya hatinya tidak pernah bisa melepaskan nama Sandro.


Hanya, memang hati kecilnya sempat menangkap signal yang berbeda, firasatnya berbicara tentang sesuatu dari sikap dan perhatian kak Sandro untuknya, sesuatu yang pernah dia rasakan dari seseorang dulu, dan ini sedikit meresahkan. Dia telah berusaha tidak terpengaruh karena tidak ada alasan untuk menganggap hal itu benar, sampai dia tiba di sini dan dikejutkan dengan fakta lain tentang perjodohannya dengan Sandro yang ternyata dipandang serius oleh sang papi.


Sekarang Dria menjadi bingung bagaimana memilah-milah semua hal yang telah terjadi. Jika kak Sandro datang mencarinya juga, bagaimana dia menempatkan diri di hadapan kak Sandro setelah tahu keinginan sang papi yang secara jujur menyampaikan harapannya?


Perasaannya menjadi rumit sekarang, untungnya dia telah kembali ke S sehingga tidak harus bertemu kak Sandronya.


.


.


Dokter Magda hanya memberi vitamin untuk Sandro serta nasihat untuk beristirahat yang cukup saja, karena keadaannya hanyalah akibat dari perjalanannya, tidak ada sesuatu yang serius.


Selesai dengan pemeriksaan kesehatannya Sandro segera menemui sang papi. Tubuh lebih bugar selepas tidur beberapa jam lagi, maka dia mengingat papinya meminta dia untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, karena niatnya ke S dibocorkan oleh Timothy pada Tuan Besar.


"Kenapa aku tidak boleh langsung menemui Deedee ke S tapi harus menemui papi terlebih dahulu? Apa alasannya?"


Sandro langsung bertanya saat bertemu papinya di kamar sang papi.


Tuan Besar tahu anaknya begitu tidak sabar sekarang jika tentang Dria. Si Tuan Besar melangkah tenang saja dari tempat tidurnya lalu duduk dengan baik di sebuah kursi yang ada di sana. Sementara Sandro hanya memegang sandaran kursi yang lain yang di tempatkan di sekeliling sebuah meja bulat kecil, tepat berhadapan dengan papinya yang duduk santai, tak terpengaruh dengan sikap tak sabar anaknya.


"Pi?"


Ulang Sandro dengan suara lebih keras meminta ayahnya segera bicara.


"Kamu bukannya memberitahu papi hasil pekerjaanmu tapi langsung menanyakan Sandriana."


"Jangan berlagak tidak mengerti, Pi... Papi tahu perasaanku sekarang..."


"Perasaan apa? Apa hubungan perasaanmu dengan Dria?"


"Jangan mengejekku..."


Sandro menunjukkan mimik kesal dan itu sama sekali tidak mempengaruhi ketenangan sikap Tuan Besar.


"Dria telah tahu niat papi untuk menjalankan keinginan mami menjodohkan kalian."


Akhirnya Tuan Besar bicara…