Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 21. Yang Terlihat Indah tak Selalu Indah



Pagi hari, sebelum Emma memutuskan datang ke kediaman Sandro…


.


Tuan Muda Sandro baru saja masuk ke tempat gymnya, diikuti Timothy.


“Tuan, Miro sedang dalam perjalanan ke sini…”


Timothy memberi informasi setelah membaca pesan masuk di gawai Tuan Muda yang lebih banyak berada di tangannya.


“Kenapa pagi-pagi seperti ini? Apa ada sesuatu?”


“Tidak ada penjelasan lain Tuan, hanya mengatakan sedang dalam perjalanan ke sini…”


“Sudah beritahu security di gerbang?”


“Sudah Tuan, saya baru saja memberitahu mereka…”


Si Tuan Muda memulai exercisenya. Sudah lama Miro tidak berkunjung ke sini, bukannya tidak mengijinkan tetapi karena kesibukan masing-masing dan juga karena hidup si Tuan Muda yang selalu mengikuti aturan, hampir selalu aktivitasnya setiap hari mengikuti schedule dari sekretaris merangkap asistennya, sehingga pertemuan mereka umumnya hanya terjadi saat istirahat makan siang.


Setengah jam kemudian, Miro masuk diantar seorang pelayan pria, Miro juga menggunakan outfit untuk berolahraga, dia tahu pola hidup Sandro yang begitu teratur, pasti memulai harinya dengan memperkuat kebugaran tubuhnya.


“San…”


“Apa di apartemenmu sendiri tidak ada tempat untuk berolahraga?”


Begitulah si Tuan Muda bahasanya tidak pernah ramah, terkesan kasar untuk orang yang tidak mengenalnya dengan baik, tapi Miro sudah menghafalnya dan sudah memaklumi, si Tuan Muda tidak tahu berkata manis.


“Jangan mengecilkan tempat tinggalku San, fasilitasnya sangat lengkap, aku juga member di beberapa club…”


“Kenapa tidak membuat ruang gym pribadi, kamu terlalu pelit untuk dirimu sendiri… katamu apartemenmu cukup luas…”


“Audreey membutuhkan banyak ruangan untuk menyimpan koleksi berharganya…”


“Koleksi?”


“Iya… tas, sepatu, pakaian… “


“Ahh? Sebanyak apa hingga membutuhkan begitu banyak ruangan?”


“Kamu tidak bisa membayangkannya Tuan Muda… begitulah… beberapa wanita hidup tidak pernah jauh dari shoping dan shoping, semakin banyak koleksi sepatu dan tas sepertinya semakin sempurna hidup mereka, sialnya Audreey tergolong pada kelompok itu…”


“Apa Dria seperti itu, Timo?”


Tuan Muda berhenti di tengah set latihannya, dengan tatapan tertuju pada Timo. Timo pun menghentikan larinya di treadmill.


“Anda bertanya apa Tuan?”


“Apa Dria membutuhkan ruang tambahan, untuk sepatu dan tasnya?”


“Itu? Eh… saya tidak tahu Tuan.”


“Cari tahu Timo dan minta Paman mengurusnya…”


Sandro justru menanggapi keluhan Miro mengenai istrinya dengan cara berbeda.


“Eh… tapi mungkin tidak Tuan, sepertinya Non Dria tidak pernah berbelanja sendiri untuk kebutuhannya… bahkan yang aku perhatikan Non Dria selalu menggunakan tas yang sama.”


“Kenapa seperti itu?”


“Eh… itu karena Non Dria sangat sederhana Tuan, menurutku Non Dria tidak terlalu memusingkan penampilannya… bahkan Non Dria tidak bermake-up, tapi Non Dria memang tidak butuh make up… sudah terlihat sangat cantik secara natural…”


“Kamu memperhatikan sampai ke hal itu?”


“Eh… iya Tuan, hanya membandingkan dengan gadis lain yang saya kenal…”


Timo mendadak gugup kedapatan sudah memperhatikan si adik kesayangan yang dia tahu begitu dicintai Tuannya. Tapi dia memang jujur sangat memperhatikan Non Dria bahkan hatinya tidak dapat menyangkali sangat tertarik dengan profil Non Dria yang begitu humble, bu Lia pernah berkata bahwa Nyonya Besar telah mengajari Non Dria dengan baik tentang nilai-nilai hidup.


“Benar kata Timo, San… Dria sangat cantik dengan penampilannya dan pembawaannya…”


Tuan Muda tersenyum, dalam hati dia mengakui telah jatuh dalam pesona seorang Dria mungkin jauh sebelum ini.


“Dria berbeda dengan Audreey dan Emma, mereka memang cantik dan wah di setiap penampilan mereka, tapi terlihat tidak natural. Mereka sendiri tidak percaya diri jika tanpa make up, tidak percaya diri jika di tubuh mereka tidak melekat barang-barang branded… bahkan parahnya mereka akan cepat bosan dengan apa yang mereka gunakan sehingga mereka akan terus membeli yang baru… jiwa konsumtif mereka sudah susah untuk diubah…”


“Ahh? Jadi itu ternyata menyusahkanmu?”


“Iya San... itu membuatku mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk memenuhi keinginan Audreey…”


“Tapi, apa benar Dria tidak menginginkan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan wanita, Timo?”


Berbeda dengan Miro, si Tuan Muda masih ingin memastikan soal keinginan Dria, sebab menurutnya dia tidak akan susah jika Dria menginginkan banyak hal seperti Audreey atau Emma, dia justru ingin mengabulkan semua keinginan Dria.


“Sepertinya tidak Tuan… tapi nanti saya akan tanyakan pada Tety… atau Tuan sendiri menanyakan secara langsung pada Non Dria…”


“Ahh… kemarin aku mengajak Dria ke mall… dia menolaknya…”


“Ironis sekali… aku tidak bisa membayangkan nafsu belanja Audreey jika dia yang menjadi adikmu, bukan Dria… mungkin Emma akan melakukannya setelah menikah denganmu…”


Miro masih mengeluhkan soal Audreey.


“Kamu boleh menjelekkan istrimu sendiri, tapi jangan bawa-bawa Emma…”


“Hahaha… maafkan aku San, jangan marah jika aku turut menyebut nama Emma, tapi menurutku mereka berdua wanita dengan aliran yang sama … wanita modern yang untuk perawatan dan penampilan butuh biaya yang besar…”


Sandro tidak marah, hanya mulai tidak suka nama Emma disebutkan.


“Kenapa sekarang kamu sepertinya keberatan Ro, dahulu kamu begitu memuja istrimu…”


“Iya… itu dulu sebelum dia bersentuhan dengan budaya konsumtif, sebelum dia menjadi ibu-ibu sosialita… aku baru menyadari sekarang aku yang tidak memberi batasan padanya sehingga dia menjadi kebablasan.”


“Jangan hanya mengeluh padaku Ro… kamu yang harus memberitahu istrimu jika kamu tidak setuju dengan gaya hidupnya…”


Miro tidak menjawab lagi tetapi meneruskan melakukan pemanasan dan Sandro pun meneruskan menyelesaikan set latihan yang sedang dia lakukan, begitu juga Timothy. Selama beberapa waktu mereka fokus dengan latihan mereka. Setelah melakukan beberapa set latihan, dan melakukan pendinginan, mereka bercakap lagi.


“Apa kamu punya instruktur pribadi?”


Miro bertanya setelah menenggak habis sebotol air mineral.


“Iya… tapi bila aku butuh arahan baru dia datang…”


“Oh begitu… mungkin aku akan berolahraga di sini saja, paling tidak seminggu dua kali…”


“Terserah padamu, tapi datang ke sini terlalu jauh sepagi ini… istrimu tidak keberatan gulingnya pergi?”


“Kamu sudah tahu arti guling seorang istri? Haha… mungkin sudah saatnya kamu menjadi guling seseorang sehingga masa produktifmu tidak menjadi sia-sia…”


Sandro hanya mengangkat satu sudut bibirnya, antara menganggap serius kalimat Miro atau menerimanya sebagai gurauan semata.


“Kita ke teras saja, Ro… menghirup udara pagi sangat baik untuk paru-paru…”


Sandro mendahului Miro keluar dari ruang gymnya, sebenarnya tujuannya ke sana karena dari sana area belakang rumah mereka bisa terlihat jelas. Dia baru tahu bahwa Dria bersama pak Abdi memelihara ayam yang banyak di pekarangan belakang, ayam-ayam dibiarkan berkeliaran di halaman belakang yang luas itu dan tidak dibuatkan kandang. Mata Sandro segera mencari Dria dan menemukan Dria sedang melemparkan makanan pada ayam-ayam yang menyambut dengan suara kotek yang riuh.


Sandro tersenyum, Sandro menikmati semua aktivitas Dria sekarang, menyukai adiknya yang seperti menduplikasi semua yang dilakukan maminya dulu. Di teras belakang dia menghirup udara pagi dan seolah yang masuk adalah kebahagiaan yang menyusup ke rongga hati sepagi ini. Adiknya seperti menciptakan dunia yang berbeda dengan semua tingkahnya dan sedang menarik dia masuk ke dunia itu, dan dia sama sekali tidak keberatan.


“San… aku tidak bisa bertemu denganmu nanti malam, makanya aku ke sini pagi-pagi… aku dan Audreey sudah punya rencana bersama keluarga Audreey, ini hari libur… maaf aku lupa sebelumnya…”


“Ahh… tidak masalah…”


Miro sudah siap jika Sandro mengeluhkan kelakuan Audreey kemarin. Memikirkan itu sejak kemarin hari membuat dia kemudian mulai melihat sisi buruk istrinya, itulah sebabnya dia mengeluhkan Audreey tadi pada Sandro. Orang tuanya sendiri pernah mengingatkan dia soal gaya hidup Audreey, tetapi begitulah, dia terlalu cinta hingga tidak terlalu memusingkan apa yang dilakukan Audreey setiap hari.


“Ahh… iya, aku butuh masukan darimu soal Emma…”


“Ada apa?”


“Benar katamu, Ro… aku tahu sekarang hubunganku dengan Emma tidak ada landasan apapun, aku sadar aku tidak mencintai Emma… seperti katamu dulu…”


“Aku selalu mengingatkanmu soal itu San… tapi kamu selalu membantahnya…”


“Iya, aku salah, aku belum pernah berpikir sedalam ini sebelumnya makanya aku berpikir hubungan kami cukup seperti itu.”


“Hahahaha… maaf aku tertawa… kamu sangat pintar dalam banyak hal, tapi tak cukup pintar untuk memahami perasaan sendiri… hahaha…”


Sandro meringis, dia pernah dengar seseorang berkata, cinta tak memerlukan iq yang tinggi.


“Karena itu aku butuh masukan darimu… kamu punya lebih dari satu orang kekasih sebelum bertemu istrimu… bagaimana caramu menyelesaikan hal seperti ini? Aku tidak ingin berlarut-larut dengan Emma, tapi aku tidak tahu caranya…”


Miro menarik bibirnya entah senyum atau apa, tapi yang jelas dia lega, ternyata tak ada kaitan dengan istrinya.


“Dulu aku hanya meninggalkan mereka begitu saja, mantanku saat aku tidak bisa lagi dihubungi dan tidak datang mencari mereka… mereka tidak lagi memaksa, selesai seperti itu… tapi aku tidak tahu kondisimu dan Emma akan seperti apa…”


“Aku sudah mencoba mundur, tapi Emma justru sebaliknya…”


“Sebaiknya kalian bicara, dirimu tidak cocok untuk meninggalkan seorang wanita begitu saja…”


“Aku harus terus terang?”


“Iya... jangan menghindari Emma, hanya itu saranku… bicarakan dengan baik, semoga dia bisa menerimanya…”


.


Saat Sandro memasuki kamarnya untuk membersihkan diri, Emma menelponnya, deringan khusus yang dipilihkan Timothy memperjelas siapa yang menelponnya.


Sandro menjawab panggilan Emma…


.


“Em…”


“Hai… aku salah ternyata…”


“Maksudmu?”


“Iya kupikir sama seperti sebelum ini kamu akan membiarkan panggilanku… kamu menjawabnya di deringan pertama, aku senang San…”


“Ah itu… maaf aku telah melakukan hal yang tidak baik padamu…”


Betapa senangnya hati Emma saat mendengar nada suara Sandro serta Sandro yang paham apa yang telah dia lakukan sebelum ini padanya.


“Aku memaafkanmu, San… maafkan aku juga yang terlalu memaksakan sesuatu yang berbeda… mungkin kamu tertekan San… maaf ya? Mari kita jalani perlahan saja…”


“Ahh?? Eh tentang hal itu… Em… aku ingin bertemu…”


“Oh San… aku juga, aku rindu padamu… aku akan menemuimu…”


.


Telepon dimatikan membuat Sandro tak bisa menambahkan penjelasan tentang maksudnya ingin bertemu Emma. Sementara Emma melompat kesenangan di kamarnya, komunikasinya dengan Sandro membaik. Rasa senang yang membuat dia segera mengambil suatu tindakan, dia akan ke rumah Sandro, toch sebelum ini beberapa kali Sandro membawanya ke sana, rasanya tidak menyalahi kesopanan jika dia datang berkunjung, dia ingin memberi Sandro kejutan, Sandro tidak tahu jika dia ada di negara ini. Emma pun bersiap dengan persiapan terbaiknya sebagai wanita yang akan bertemu pujaan hatinya.


.


🦠


.


Dan di sini Emma sekarang, berdiri dalam luka menyaksikan sendiri seorang gadis tanpa ragu berlari ke arah Sandro dan Sandro yang tertawa bahagia saat memeluk tubuh gadis itu sambil berputar beberapa kali. Jika di sebuah scene drama itu pasti sebuah adegan yang indah untuk dilihat, tapi ini dia sedang melihat sendiri di kehidupan nyata, kekasihnya melakukannya pada gadis lain. Sandro terbiasa mengangkat beban itulah sebabmya bobot Dria seolah tidak berarti sehingga dia mengangkat Dria melebihi tinggi badannya.


Dan Sandro memang terkejut melihat Emma berdiri tidak jauh dari mereka. Perlahan Sandro menurunkan Dria tapi tidak melepaskan Dria justru merangkul bahu Dria. Sandro juga tidak beranjak dari tempat mereka berdiri.


Emma hampir kehilangan kekuatannya mendapati fakta bahwa ternyata gadis itu kedudukannya melebihi dirinya, dia ada di sini menunjukkan kedekatan mereka melampaui perkiraannya. Emma segera menguasai dirinya, dia tidak ingin sakit hatinya terbaca oleh Sandro, semalam dalam kegelisahannya dia coba menerima kenyataan soal perselingkuhan Sandro, dan dia memutuskan menerima itu dan tidak akan melepaskan Sandro, dia hanya ingin membuat Sandro tetap pada rencana mereka untuk menikah.


Itulah maka dia menguatkan hatinya, menelan sakit hatinya dan tersenyum dengan sangat manis sambil mendekati Sandro dan Dria.


Sementara Timo telah berjalan menjauh diikuti semua pelayan sehingga halaman luas yang tadi ramai kini sunyi sepi.


“Hai… San…”


Emma menyapa hangat beberapa langkah di depan Sandro dan Dria.


“Kak Sandro… kak Emma ternyata cantik sekali dan begitu tinggi, hmm begitu sempurna, Dee jadi merasa anak kecil hehehe… lepaskan Dee sekarang, Dee tidak mau jadi pengganggu dua kekasih yang saling merindukan… hehehe…”


Dria berbisik dengan menengadah ke wajah Sandro sambil berusaha keluar dari rangkulan Sandro. Sandro juga sedang menatap Dria, entah apa yang harus dia lakukan, dia tidak ingin Dria meninggalkannya sekarang berdua dengan Emma tapi dia juga merasa bahwa Emma perlu tahu semuanya sekarang.


Dria mencubit pinggang Sandro karena belum melepaskan rangkulannya.


“Kak Sandro?”


“Aduhhh, sakit Dee…”


“Makanya lepaskan tangan kak Sandro… ihh… masa begitu gugup bertemu kekasih sendiri, hehehe…”


Dria yang tidak tahu apapun yang bergejolak di hati Sandro terus menggoda Sandro dan akhirnya bisa melepaskan diri, diikuti tatapan sakit hati dari Emma melihat keintiman di hadapannya.


Dria segera pergi menuju dapur, dia teringat harus memeriksa kue-kuenya walaupun dia yakin bu Lia telah menanganinya. Sandro terus menatap langkah riang Dria dengan satu pemahaman tentang sikap Dria bahwa adiknya belum memahami perasaan hatinya.


“San…”


Emma memanggil dengan suara sedikit bergetar melihat betapa Sandro begitu penuh perhatian pada gadis yang baru pergi, suara yang memutus tatapan Sandro pada sosok Dria.


“Ahh? Em… kita ke ruang tamu…”


Sandro melangkah kemudian diikuti Emma yang berusaha berjalan sejajar dengan Sandro. Untung saja hari ini dia memilih mengenakan outfit casual dengan sepatu flat sehingga langkah panjang Sandro bisa dia imbangi.


“San… kita di luar saja dulu? Aku ingin melihat-lihat lingkungan rumahmu, aku belum pernah melakukannya…


“Ah?? Boleh jika itu maumu…”


“Terima kasih… tapi boleh tidak langkahmu sedikit pelahan… aku sedikit kesusahan mengejarmu…”


Sandro melirik Emma di sampingnya, lalu memperlambat langkahnya membawa Emma mengitari rumah mereka yang begitu luas. Sandro menimbang-nimbang dalam hati, apakah dia akan membicarakan sekarang, itu berarti dia yang memutuskan hubungan dan itu terlalu kejam bila dilakukan di rumahnya sendiri. Lagi pula itu akan menjadi kenangan yang buruk untuknya karena dia akan selamanya tinggal di sini.


Begitu serius memikirkan tentang keputusannya sehingga dia membiarkan saja tangan Emma berpegangan pada lengannya. Sandro tidak tahu bahagia di hati Emma segera membuncah mengganti kesedihannya tadi. Baru sekarang Emma merasakan mereka berjalan sedekat ini layaknya sepasang kekasih.


Dua orang yang berjalan berdampingan terlihat intim tapi dengan perasaan dan pikiran yang berbeda. Dria mengintip sambil tersenyum melihat pemandangan sepasang kekasih yang terlihat begitu serasi. Ternyata feelingnya sebelum ini tentang sikap kakaknya salah besar, dia sempat kuatir tentang hal itu, benar kata pak Timo, kak Sandro adalah seorang kakak yang begitu menyayanginya.


.


Yang terlihat indah tak selalu indah, yang terlihat benar tak selalu benar…


.


🌼🌼🌼


.