
Sandriana memasukkan gawainya ke saku celana longgar yang dia kenakan. Kakaknya baru menutup panggilan memberitahu minggu ini tidak bisa datang ke kota S karena pekerjaannya. Dria lebih menyukai hal itu, menyukai kakaknya yang fokus pada pekerjaannya ketimbang hanya datang untuk ‘mengganggu’ dirinya.
Sebenarnya dia mulai memikirkan juga keadaan kakaknya yang ternyata tidak main-main telah menjatuhkan pilihan padanya. Merasa bersalah karena kakaknya pernah berucap jika Dria tidak mau menikah dengannya maka Sandro tidak akan pernah menikah. Ahh, apakah hanya untuk mengintimidasi dirinya atau mengancamnya atau sebuah kepasrahan pada nasib?
“Sandriana?”
Seseorang menyapa Dria yang berjalan melewati sekumpulan wanita muda yang sedang memilih barang di salah satu rak. Tak jauh dari mereka ada seorang wanita tersenyum dan melambaikan tangan. Dria menoleh dan memperhatikan sejenak.
“Iya?”
“Aku pikir aku salah orang… sedang apa di sini?”
“Ahh?? Sedang melihat-lihat…”
Setelah dapat mengingat siapa yang menyapa dirinya Sandriana tersenyum lebar.
Dria mendekati sahabatnya saat kelas dua dan kelas tiga SMA. Ivanka memberikan toss dan Sandriana menyambut sambil tertawa.
“Ivanka? Aku hampir tidak dapat mengenalimu, kamu berubah Iva…”
“Iya… berubah sangat banyak, aku telah memiliki anak, itu mengapa badanku mengembang seperti ini…”
“Kamu sudah menikah? Mana anakmu?”
“Tadi ada di luar melihat ikan koi bersama papanya, kami datang rombongan Dria, ibu-ibu perkumpulan arisan… sekarang suami-suami menjaga anak-anak dan kami shopping-shopping…”
“Ahh begitu ya… jadi semua ini rombongan?”
“Iya, di antara kami ada yang sudah pernah datang dan mereview tempat ini, dan ternyata recommended… bagus sekali tempatnya…”
“Ahh? Wahh senang mendengarnya. Aku ingin bertemu anakmu, Iva… berapa umurnya?”
“Lima tahun…”
“Ahh? Sudah sebesar itu, berarti selepas SMA kamu langsung menikah?”
“Hehe, aku sempat kuliah dua semester, setelah itu aku melihat tawaran untuk menikah lebih menarik dari pada kuliah…”
“Haha… begitu ya…”
“Dria, mereka teman-temanku, di antara mereka ada yang mengenalmu juga…”
“Begitu? Apa teman kuliahku atau?”
Ivanka memanggil seorang wanita yang berpakaian sangat modis dan yang menonjol adalah kalung seperti rantai berwarna gold dengan liontin huruf D kapital.
“Dhapne… Dav…”
Wanita bertumbuh tinggi langsing itu menoleh dan segera menghampiri Ivanka dan Dria sambil mendorong trolly berisi barang-barang yang sudah dipilihnya.
“Ini benar Sandriana…”
Wanita itu mengembang senyum entah untuk Dria atau untuk Ivanka.
“Halo…”
Sandriana menyambut uluran tangan wanita yang dipanggil Ivanka dengan nama Dhapne.
“Apa kita pernah bertemu sebelum ini?”
Dria mencoba menjalin interaksi, dia tidak mengingat pernah bertemu di mana dengan wanita berdandan glamour dan terlihat tidak kaku berjalan walau dengan heels yang sangat tinggi.
“Sebenarnya bukan bertemu… saya hanya pernah melihat anda di rumah bibi saya… saya tinggal bersama mereka waktu SMA. Sudah lama sekali, karenanya sempat ragu apakah itu anda. Kalau saya tidak salah mengingat kejadian waktu itu, anda datang bersama ayah anda mencari Reginald…”
Wanita itu berkata ringan, sementara Dria segera terusik.
“Reginald?”
Dria seperti mengguman. Setelah delapan tahun tidak mendengarkan seseorang menyebut tentang pria itu.
“Iya saya sepupunya Reginald… Kalau tidak salah mengingat juga, anda mantan kekasihnya Reginald kan?”
Wanita itu tersenyum seolah mengatakan sesuatu yang menyenangkan tanpa tahu kalimat itu memunculkan luka lama dalam ingatan Dria. Dria tidak tahu harus bereaksi apa hanya memandang dengan senyum yang berubah masam.
Secara random selalu ada kemungkinan seperti ini untuk siapapun, temanmu mengenal seseorang yang merupakan tetangga atau teman kantor atau teman arisan atau sepupu dari mantanmu, atau temanmu berteman dengan teman mantanmu… aishhh…
“Reginald sekarang bekerja di sebuah kantor Akuntan… kantornya di jalan Jendral S.”
Wanita itu menyebut sebuah lokasi perkantoran elite di pusat kota. Dria tidak butuh informasi apapun mengenai Reginald, bertahun-tahun dia meredam kemarahan dan kekecewaan dan menekan ke dasar hati kenangan yang menyakitkan karena pria itu. Ingatan tentang pria itu tersingkir dari otaknya sejak lama tetapi ternyata dia tidak akan pernah benar-benar lupa. Nama itu kembali berdengung di kepalanya dengan menghadirkan lagi rasa getir karena sebuah peristiwa yang pahit.
Wanita bernama Dhapne itu masih menceritakan tentang Reginald, tapi Dria tidak mendengar lagi otaknya seperti memerintahkan telinganya untuk menolak mendengar tentang itu. Dria segera memikirkan bagaimana cara menyingkir hingga tidak perlu berbasa-basi berlama-lama dengan si sepupu seseorang ini. Tidak mungkin Dria pergi begitu saja meninggalkan mereka terutama temannya Ivanka.
“Ah… begitu…”
Entah jawaban sesuai Dria hanya menjawab asal setelah bersitatap dengan Dhapne yang terlihat tengah memandang padanya.
“Ah… kalian masih sedang memilih barang kan? Sebentar ya Iva… aku akan berikan sesuatu untuk kalian…”
Dria segera mengalihkan pembicaraan. Dria memanggil seorang karyawan yang ada di dekat mereka.
“Iya bu…”
Karyawan tersebut menunduk hormat pada Dria sambil menunggu apa yang harus dilakukan untuk bossnya.
“Iva… rombongan kalian ada berapa orang ibu-ibu?”
“Kami? Berapa ya?”
Ivanka menghitung teman-temannya.
“Ada tigas belas, Dria… kenapa?”
“Anak-anak ada berapa orang?”
Kembali Ivanka menghitung di kepala dengan mata sedikit menyipit, karena hanya ada dua anak bayi yang bersama mereka yang sedang berada di kereta bayi.
“Anak-anak ada tujuh…”
Dengan cepat Dria meminta karyawannya mengambilkan merchandise edisi khusus sebanyak yang disebutkan dan mainan kecil untuk anak-anak yang sedang tersedia sehubungan dengan bulan ini adalah bulan anniversary yang pertama S2 HouseWare.
“Iva… ini kenang-kenangan untuk kalian… terima kasih sudah memilih tempat ini untuk berbelanja ya… jangan sungkan kembali di sini…”
“Sebenarnya ini khusus untuk total pembelanjaan dengan harga tertentu, tapi untuk kalian aku memberikan sebagai kenang-kenangan… tapi jika kalian membayar di kasir mungkin akan mendapatkan juga…”
“Wah, Dria… kamu bekerja di sini ternyata…”
Dria hanya tersenyum sambil meraih sebuah barang secara acak lalu memberikan kepada seorang karyawan sambil membisikkan sesuatu. Tak lama karyawan itu datang membawa barang itu yang sudah tertempel stiker panjang tanda sudah lunas.
“Iva… ini untukmu, aku senang bertemu denganmu, jangan bosan berkunjung lagi ya…”
“Wow… Dria… ini benda yang ingin kubeli tapi karena harganya mahal aku batalkan… terima kasih, Dria…”
“Sama-sama Iva… kapan-kapan aku ingin kita bertemu lagi… maaf masih ada yang harus aku kerjakan… aku permisi… sampai jumpa Ivanka…”
Dria melambai lalu tersenyum dan meninggalkan Ivanka. Bukan Dria tidak ingin lebih lama berbincang dengan sahabat semasa SMA, tapi Dria ingin menghindari Dhapne yang terlihat masih ingin berbincang dengannya.
Setelah Sandriana pergi, Ivanka bertanya pada salah seorang karyawan yang ada di sekitar mereka…
“Apa Dria manager di sini?”
“Ibu?”
Tunjuk karyawan itu pada sosok Dria.
“Iya… yang baru saja pergi…”
“Ibu Sandriana pemilik tempat ini…”
“Oooh??? Serius?”
“Iya…”
Percakapan yang Sandriana segera bergulir di antara Ivanka dan Dhapne, masing-masing tidak menyangka tentang hal itu, mereka mengenal Sandriana yang sangat berbeda dahulu.
Dria memilih menuju kafe. Dia belum melihat tempat ini seminggu terakhir, ayah sakit dan Dria memilih mengurus sang ayah, membawa ke dokter dan menemani di rumah. Hari ini keadaan ayah sudah membaik dan Dria mengunjungi dua bisnisnya yang sedang berkembang cukup baik selama setahun ini.
Di kafe Dria segera berkeliling. Dria melihat dan memperhatikan terutama mengenai kebersihan dan pelayanan kepada pengunjung. Ini akhir pekan, cukup ramai pengunjung dan tiga hari ini ada even memperingati setahun tempat ini dibuka. Tidak diperingati secara khusus dengan sebuah acara meriah, hanya menyediakan life music di S2 Cafe n Resto miliknya dengan mendatangkan artis papan atas negara ini, acara itu untuk besok hari, dan memberikan potongan harga di toko.
“Non Dria…”
Bu Sonia segera datang menjumpai Dria, mengikuti Dria berjalan pelan sambil mengamati keadaan.
“Bagaimana bu Sonia… bisa teratasi kan… agak ramai ya…”
“Sejauh ini bisa bu… ada beberapa grup pengunjung yang mengadakan acara di sini sudah reservasi jauh-jauh hari, jadi kita bisa mengantisipasi…”
“Itu bagus bu… jangan lupa merchandisenya bu… hanya tiga hari ini saja pembagiannya ya…”
“Iya Non… saya sudah mengatur mekanismenya…”
“Termasuk untuk para karyawan, bu Sonia… jangan sampai lupa…”
“Sudah bu…”
“Bersiap untuk besok hari ya bu Sonia, harus ekstra kerja, kita buka lebih pagi dan tutup lebih malam…”
“Saya sudah mengaturnya bu…”
“Ahh… aku tahu aku bisa mengandalkan bu Sonia…”
Bu Sonia tersenyum sumringah, ini sebagai bentuk compliment untuknya. Mereka berdua masih berjalan, dan di satu bagian…
“Non… itu seseorang yang pernah saya bicarakan, dia telah menjadi pelanggan tetap di sini selama tiga bulan kalau tidak salah…”
Bu Sonia menunjuk seorang pria yang sedang sibuk dengan gadget di tangannya sementara di depannya laptopnya sedang on. Area ini agak sepi karena ada di bagian paling belakang dekat dengan area pintu ke ruang dalam kafe.
“Seseorang? Mengenai apa bu Sonia?”
“itu… dia Akuntan yang pernah saya bicarakan…”
“Ahh iya… aduh maaf aku lupa menanyakan pada kakakku tentang hal itu, tapi sepertinya kita belum membutuhkan itu… biarkan pak Timo yang mengaturnya untuk sekarang ya…”
“Baik bu… dia memang tidak pernah menanyakan bu, mungkin juga karena dia banyak pekerjaannya, sepertinya dia datang ke tempat ini hanya untuk mencari tempat yang nyaman untuk bekerja bu selain di kantornya tentu saja…”
“Wah… bu Sonia sudah tahu siapa pelanggan kita ya…”
Dria tersenyum dan secara tidak sengaja bersirobok tatapannya dengan pria yang dimaksud bu Sonia. Dria melihat pria itu menatap lebih lama tanpa bergerak dan tidak mengalihkan pandangan. Alam pikiran Dria seperti di bawah pada suatu kenyataan.
Tatapan itu… apa dia mengenal pria ini? Rasanya iya… apa karena bu Sonia menyebutkan dia sebagai pelanggan tetap, jika dia sering mengunjungi tempat ini berarti Dria sering melihatnya, itu mengapa wajah itu menjadi cukup familiar.
Tapi ada sesuatu yang begitu diingat dari mata itu. Dria mengibaskan sedikit kepalanya karena yang datang ke memorinya adalah sebuah nama, nama yang disebutkan lagi baru saja oleh seorang sepupu pria itu, dan pria ini terlihat mirip.
Otaknya segera memberi persepsi, tidak mungkin dia, pria ini lebih tinggi dan lebih besar bentuk tubuhnya, terlihat kekar dan dadanya begitu lebar… sementara dalam ingatannya tangan yang dulu pernah begitu posesif melingkari tubuhnya kurus dan dada tempat dia pernah bersandar juga tidak sebidang itu.
Dria berjalan menjauh dengan konklusi bahwa banyak orang yang terlihat mirip di dunia ini, tapi ada pikiran lain menggema di hatinya, dia mungkin saja datang ke tempat ini karena siapapun bisa muncul di sini terlebih karena faktanya mereka tinggal di kota yang sama.
Dria memusatkan pikirannya pada apa yang hendak dilihatnya di kafe ini, tapi pikirannya sedang berlarian mendesaknya mengingat masa lalu. Ternyata tidak bisa menafikan bahwa masa lalu adalah bagian dari kehidupan yang suka atau tidak suka tetap ada di sana tidak dapat dihapus sehancur apapun kenyataan yang dilalui di masa itu.
Dan pria itu, sebenarnya di sini Dria tidak salah mengingat, dia memang Reginald yang menjadikan kafe Dria sebagai destinasinya setiap akhir pekan, menjadi nyaman untuk mengamati Dria dengan diam-diam jika kebetulan Dria datang ke kafe bersamaan di saat dia sedang berkunjung, nyaman saja karena Dria seperti tidak mengenalinya lagi.
Tapi baru saja dia melihat tatapan terkejut Dria, apa Dria sekarang dapat mengingatnya? Egi mulai merasakan debaran di dadanya. Debaran karena indra keenamnya sedang membisikkan sesuatu bahwa saat ini semesta sedang membawa mereka dalam satu lintasan untuk bersua lagi dalam kesadaran penuh tentang eksistensi masing-masing, buka sekadar melihat tanpa saling menyadari siapa mereka di masa lalu.
Dria berputar dan baru menyadari sesaat kemudian bahwa bu Sonia masih mengikutinya.
“Bu Sonia… saya tidak perlu ditemani lagi, silahkan bu Sonia melanjutkan pekerjaan…”
“Oh… baik Non Dria…”
Beberapa menit berjalan mengitari dan sempat memberi arahan pada seorang karyawan yang sedang mengeringkan sebuah area seperti bekas ketumpahan minuman. Dria kemudian melihat dari jauh menemukan dengan netranya bahwa pria tadi tidak ada di tempat itu. Perasaan was-was karena pikiran masa lalu yang datang menyergap segera hilang, berharap pria tadi sudah keluar dari kafe ini.
Dria memutuskan kembali ke rumah saja. Karena menuju pintu ke luar harus melewati area tadi maka kembali Dria memastikan memandang dan mencari pria itu di antara pengunjung yang lain, tidak terlihat. Dria segera berjalan untuk keluar dari tempat itu. Sepertinya adrenalinnya telah mengalirkan rasa panas di kaki dan punggungnya membuat dia ingin sesegera mungkin berlalu dari sana.
Di bagian terbuka di luar kafe, Dria turun dengan tergesa…
“Sandriana…”
Wanita yang ternyata sepupu dari seorang pria dari masa lalu memanggilnya, dia berdiri di dekat sebuah mobil dan ada pria tadi, si Akuntan yang ditunjukkan oleh bu Sonia. Pria itu sedang berdiri bersama dengan sorang pria lain yang belum pernah dilihatnya. Dhapne sedang bergelayut di tangan pria lain menunjukkan suatu kemungkinan bahwa pria itu suaminya karena si pria sedang menggenggam tangan seorang gadis kecil.
Terlihat sekali mereka sedang bercakap sebelum Dhapne meneriakkan namanya. Dan tanpa sungkan lagi malahan nampak sekali Dhapne ingin sekali berinteraksi dengannya, terlihat tangannya yang satu melambai-lambai padanya.
Naluri Dria mulai memberikan alarm bahwa Dhapne mengenal pria yang mirip dengan seseorang… dan hampir pasti pria itu memang Reginald.