Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 44. Penghalang



Semalaman Sandro berpikir, mata tidak bisa terpejam.


Kala merenungkan cintanya, hatinya selalu menjadi sakit. Mengetahui kenyataan tentang Dria, dia begitu terpukul, ada rasa marah karena Dria begitu ceroboh dan terlalu murah menyerahkan kehormatannya. Dia marah karena Dria tidak mengikuti ajaran sang mami, dia tahu bagaimana sang mami mengajarkan mereka berdua tentang nilai diri.


Tapi selalu setiap kali dia menghakimi Dria sebersit pertimbangan akal sehat selalu datang, bahwa Dria hanya terjebak pada satu situasi yang salah waktu itu dan dia tidak punya seseorang yang mendampinginya.


Sandro mengingat saat itu dia yang sudah lebih dewasa saja begitu terpukul dengan kehilangan sang mami, dan dia tahu bagaimana kondisi Dria saat itu dan tiba-tiba juga harus pindah ke suatu lingkungan yang baru.


Seperti kata papinya, ayah saat itu tidak tahu bagaimana mengurus Dria. Akal sehatnya menuntun dia untuk setuju dengan papinya bahwa masa itu Dria kehilangan pegangan, dan siapapun lelaki itu dia satu-satunya yang menjadi tempat sandaran Dria, perihal dia mengambil keuntungan dari Dria, itu karena Dria saat itu sangat lemah dan tidak punya pertahanan.


Sangat keterlaluan saat dia mengatakan Dria terlalu murah dan tidak menjaga dirinya. Dan salah satu bukti yang dia lihat selama ini, sekalipun Sandriana sangat supel tetapi Dria selalu menjaga sikapnya jika berhadapan dengan pria, dia sangat hormat dengan semua orang dan selalu menghargai siapapun.


Jika Dria gadis murahan, tentu Dria akan sembarangan bergaul dan mungkin kekasihnya akan berderet dan yang pasti dia akan bergaul dengan bebas. Tapi Dria tidak seperti itu, bahkan Dria menolak cintanya karena merasa tidak pantas untuk itu, dan mungkin saja ini akan menjadi sikap Dria untuk lelaki manapun yang mendekatinya.


Dalam konklusi ini Sandro justru kemudian menyalahkan diri sendiri karena dia juga seperti meninggalkan Dria, dia sangat marah pada ayah Rahmadi yang memaksa membawa Dria sampai berdebat dengannya waktu itu sehingga dia menolak dorongan hatinya saat itu untuk pergi ke kota S melihat keadaan Dria.


Sepanjang malam semua pikiran saling bertentangan di kepalanya.


Pagi hari, Timo masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu, dia punya kartu akses sendiri. Timo melihat Tuan Muda masih berbaring tapi dengan mata terbuka.


“Selamat pagi Tuan, Anda ingin sarapan sekarang?”


Sandro tidak menjawab tapi segera bangkit dan duduk di ranjang besar itu sambil mengurut pelipisnya dengan dua jari telunjuk.


“Jam berapa sekarang Timo?”


“Jam sembilan Tuan… apa saya bisa membuka tirai jendela sekarang?”


“Bukalah.”


Timo membuka tirai lalu menghubungi line room service hotel ini untuk meminta layanan kamar untuk breakfast sang Tuan Muda.


“Papi masih ada?”


Sandro masih memijat pelipisnya.


“Sudah berangkat ke rumah sakit, Tuan… Tuan Besar akan pulang hari ini, Tuan mau berpamitan pada Non Dria…”


Sandro terpekur. Setelah pencaharian pelik semalaman, dia belum menemukan sikap hati untuk Dria walau kenyataannya dia menyadari bahwa cinta untuk Dria tidak pergi oleh karena kenyataan tentang keadaan Dria.


“Mana hpku Timo…”


Timo mengambil gawai Tuannya dari tas milik Tuannya, menghidupkannya lalu menyerahkan pada Tuan Muda Sandro.


Saat gawai itu telah beroperasi sempurna Sandro menghubungi Miro, dia butuh seseorang di tengah kegelapan yang menyelubungi hatinya soal Dria, dia perlu mendapatkan dukungan untuk segera melangkah dan hanya Miro yang dia percaya bisa memberikan masukan yang obyektif.


.


“Tuan Muda… kita sudah lama tidak makan siang berdua…”


“Kamu terlalu sibuk…”


“Bisnisku di luar pulau berjalan lebih lancar jadi aku lebih banyak ke luar daerah… tapi aku ada di J sekarang… kita bertemu? Siang ini jadwalku kosong…”


“Apa sekarang ini kamu bisa keluar?”


“Mmh coba aku lihat apa pekerjaanku bisa kutinggalkan… sebentar San…”


Sandro menunggu beberapa waktu, berbeda dengan Sandro yang dulu, dia tidak akan sabar untuk menunggu.


“Halo, San?”


“Iya…”


“Haha kupikir kamu sudah menutup panggilan… baik, kita bisa bertemu sekarang, jadwalku tidak terlalu penting…”


“Ke bandara, Miro… aku di S… Timo akan mengirim tiketnya dan menjemputmu di sini…”


“Apa?”


.


Telpon sudah ditutup Sandro, dan Sandro memberi isyarat pada Timo untuk segera melakukan apa yang sudah didengarnya. Sisa-sisa arogansi Sandro pada Miro sesekali masih muncul, dan biasanya Miro tidak pernah dapat membantah saat arogansi Sandro muncul seperti sekarang. Dan kali ini…


Tak berapa lama gawai Timo berdering.


“Ya…”


“Belikan aku dua tiket pp, aku berangkat bersama Audreey, kami akan menginap sehari. Katakan pada Tuanmu jika dia tidak setuju, aku tidak akan berangkat.”


.


Panggilan ditutup Miro, Timo hanya bisa menghembuskan napas, kapan urusannya menjadi urusan normal seorang Sekretaris? Ke depan dia ingin meminta salah satu anak buahnya di kantor untuk ikut bila Tuan Muda bepergian supaya dia bisa fokus mengurus masalah kantor yang juga begitu memusingkan.


“Tuan, Tuan Miro meminta datang bersama istrinya, jika tidak...”


“Atur saja Timo, apapun itu…”


Sandro kembali berbaring di ranjangnya.


“Tutup kembali tirainya, aku mau tidur…”


“Anda belum sarapan Tuan…”


“Nanti.”


Timo melakukan perintah si Tuan Muda lalu duduk di sofa, dia akan menunggu sampai sarapan diantarkan di kamar ini. Dia sendiri sudah menikmati sarapannya di kamarnya, dia juga turut menikmati layanan seperti Tuannya. Salah satu keuntungannya menjadi asisten Tuan Muda ini jika soal fasilitas di mana pun dia ikut menikmati layanan first class.


.


🐢


.


Siang hari, selesai makan siang yang terlambat di sebuah resto ternama di kota ini. Audreey selesai makan segera minta diri ke hotel, mereka akan menginap sehari di kota ini dan Timo sudah mengurusnya.


“Bagaimana kalian?”


“Aku dan Audreey?”


Sandro mengangguk.


“Tumben kamu bertanya tentang kami, hehe… Seperti yang kamu lihat… Audreey sedang hamil, karena itu jadi manja ingin selalu bersamaku…”


“Ahhh? Tidak terlihat hamil…”


“Kupikir kalian…”


“Ah… tidak San, aku yang akhirnya membatalkan niatanku berpisah. Kami memperbaharui komitmen pernikahan kami. Dia meninggalkan komunitasnya, dia menjadi lebih peduli dengan anak kami dan mau hamil anak kedua. Dan aku sadar bahwa dia adalah pilihanku dan cintaku, jadi akulah yang harus menguatkan lagi hatiku untuknya… aku menghargai perubahannya dan rasanya aku semakin mencintai dia saja…”


Sandro menyimak dan hatinya tersentil, Dria adalah cintanya, jadi diapun harus menguatkan hati bahkan membulatkan hati untuk Dria.


“Tidak apa-apa dia ke hotel sendirian?”


Sandro berkata sedikit canggung, baru sekarang memperhatikan istri sahabatnya.


“Dia pasti menelponku jika butuh sesuatu, dia paham sekarang kalau kamu mengajak bertemu itu karena kamu ingin bicara berdua denganku… hehe dia sangat manis sekarang…”


Sandro tersenyum melihat pancaran bahagia di wajah Miro. Beberapa kali bertemu sebelum ini wajah itu terlihat berbeda karena ingin berpisah dengan Audreey dan ternyata tidak terjadi, setiap masalah ada jalan penyelesaiannya, hah… Sandro tercenung sendiri dengan pikirannya itu.


“Emma sudah menikah, San…”


Miro memecah keheningan di antara mereka.


“Aku tahu… dia mengirim undangan.”


“Kupikir dia akan terus mengejarmu, ancamannya begitu menakutkan… ternyata…”


“Mana sempat dia melakukan itu, dia terobsesi dengan bisnisnya di negara S… itu hanya luapan kekecewaan saja, setelah berlalu dia segera mendapatkan penggantiku kan… itu baik buat dia…”


“Aku bertemu beberapa kali dengannya, dia selalu menanyakanmu… dia masih ingin tahu tentangmu…”


“Wajar saja… seseorang bertanya mengenai orang yang dikenalnya…”


“Ah… iya, kamu selalu dapat bersikap realistis.”


Sandro tidak menyambung lagi memikirkan bahwa mengenai Dria dia seperti tidak mampu untuk bersikap realistis.


“San… katakan saja…”


“Apa?”


“Aku jauh-jauh datang ke tempat ini bukan hanya karena kamu ingin makan siang denganku saja, Tuan Muda… wajahmu menunjukkan dengan jelas sesuatu sedang membebanimu…”


“Ahh… itu. Aku… benar aku sedang terganggu oleh sesuatu."


"Ceritakan saja..."


"Ahh? Iya... Dria, ini mengenai Dria."


"Kamu belum bisa menyatakan perasaanmu? Di mana keberanianmu? Ahh tapi aku ingat mengenai Emma, haha dia yang menembakmu kan?"


Sandro tersenyum masam, dia lupa kejadiannya tapi dia ingat dia menyetujui saja keinginan Emma waktu itu.


"Aku sudah mengatakannya San... dan Dria menolakku karena suatu alasan..."


"Ah? Alasan apa?"


"Dria merasa... merasa tidak pantas untukku..."


"Hah... Itulah dirimu Tuan Muda, kamu berada di piramida teratas dalam strata kehidupan, bahkan adikmu sendiri merasa tidak dapat menjangkau dirimu."


Sandro memandang Argemiro tanpa berkedip menyimak dengan penuh perhatian, hati dan cintanya sedang butuh soslusi.


"Kenapa kamu memandangku seperti itu San?"


"Aku sedang mendengarkanmu Ro..."


"Haha... kenapa aku selalu merasa lebih pintar darimu, ya... padahal rangking kelasku jauh di bawah rangkingmu."


"Teruskan Ro, jangan tertawa."


"Mengenai apa?"


Miro meringis melihat mimik serius Sandro.


"Apa yang harus aku lakukan untuk Dria?"


"Tuan Muda... Kenapa membuat ini rumit? Cari tahu alasan Dria, dan sikapi dengan benar alasannya... itu saja. Jika kamu ingin Dria menerima dirimu maka terima alasannya, maka tidak akan ada alasan untuk menolakmu lagi... selesai."


"Aku tahu alasannya dan... itu sejalan dengan prinsipku juga. Aku ingin mundur tapi hatiku melarangnya... aku bingung..."


"San... Kamu yang harus menurunkan sedikit mengenai prinsipmu, cara pandangmu, jadilah pria normal Tuan Muda... Cinta harus dikejar dan diperjuangkan dan kamu harus berkorban demi cintamu. Kamu tidak melakukannya pada Emma, tapi kamu harus melakukannya untuk Dria karena kamu mencintainya..."


"Karena aku mencintainya... aku harus menerima semua tentang dirinya, begitu?"


Sandro berkata dengan lambat, seperti sedang mendoktrin dirinya sendiri, sementra Miro mengerti sesuatu..


"Apa alasan Dria berkaitan dengan... ketidakpantasannya apakah mengenai..."


Miro ragu-ragu dan tidak meneruskan, dia takut salah dan kemudian menyinggung Sandro.


"Apa?"


"Tidak, kamu saja yang mengatakan, aku tidak berani."


"Iya... Dria pernah melakukan kesalahan di masa remaja, dia telah ternodai..."


Sandro berkata lirih, sangat berat mengucapkan itu, tapi dia sudah buntu karena hal itu.


"Aku tahu prinsipmu. Berarti kamu selesai dengan Dria. Carilah gadis lain."


"Ro??"


"Apa? Prinsipmu menjadi penghalang cintamu, apa yang harus aku katakan?"


Sandro diam, Miro juga membiarkan Sandro menemukan jawaban untuk dilema hatinya. Ini bukan sesuatu yang harus diperdebatkan, hanya Sandro yang dapat memutuskan sendiri.


.


Hi...jgn bosan denganku yaaa


Besok bertemu lagi, bab terakhir kegalauan Sandro... setelah itu aku akan mulai dengan alur lebih cepat... Okay?


.


.