Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 66. Tuan Muda Jadi Miskin



Dria akhirnya memutuskan datang ke kantor setiap hari mengikuti permintaan calon suami, haha sekarang kakaknya sudah jadi calon suami karena mereka sedang merencanakan sebuah tujuan terindah dan termulia dalam hidup.


Datang ke kantor ini juga karena memang di rumah dia hanya bersibuk ria membantu para pelayan di pagi hari saja, sisa harinya kemudian menjadi begitu membosankan karena hanya mengitari rumah besar ini tanpa aktivitas berarti.


Dria segera berlari kecil saat keluar dari lift meninggalkan Tuan Muda untuk bergabung dengan teman-temannya di lantai ini. Tindakan Dria membuat tangan Tuan Muda hanya menggenggam angin karena tangan Dria lolos begitu saja tidak sempat ditangkapnya. Timo yang di dalam lift ini berdiri di belakang tidak dapat menahan cengirannya pada pasangan beda usia dan berbeda pula tingkah lakunya.


" Hi... selamat pagi semua..."


"Selamat pagi Non Dria..."


Barisan sekretaris kompak menjawab dengan tone suara yang berbeda. Hal itu membuat Dria tertawa.


"Kompak sekali... hahaha..."


Iseng Dria mengulangi...


"Sehat semuanya?"


"Sehat Non..."


"Sehat Non..."


"Sehat, Dri..."


"Iya Non Dria..."


"Sehat Non, thank God."


Hope dan Gio menjawab dengan perkataan yang sama, sementara Barry, Ruby dan Delfris dengan cara masing-masing.


"Ahhh... kenapa tidak sekompak tadi?"


Tapi Dria masih tertawa walaupun jawaban mereka tidak seperti yang dia harapkan.


Sandro tersenyum di belakang Dria, benar adanya Dria selalu membagi keceriaan dalam setiap kehadirannya dan tentu saja di hatinya sendiri. Semua tentang Dria menjadi sebuah energi postif pemberi semangat dan kebahagiaan yang berlimpah-limpah di hatinya, terbukti debit cinta di hatinya terus bertambah dan menanjak dengan signifikan sekarang.


"Selamat pagi Tuan..."


Kali ini barisan sekretaris berdiri dan menunduk hormat seperti biasa.


"Hahaha... ini lebih lucu tapi keren sekali... jawabannya susul-menyusul seperti diatur saja..."


Para sekretaris ikut tersenyum bersama Dria, terlebih saat memandang Tuan Muda yang juga tersenyum.


"Dee... ke ruanganku.”


Dria bersikap patuh pada kakaknya, hanya Timo yang tahu kalau Dria suka melawan sang kakak, walau pun dari sudut pandang sang kakak sikap perlawanan Dria adalah hal yag terlalu menggemaskan. Dria melambai ke arah squad sekretaris sambil tersenyum dan sambil mengikuti si Tuan Muda tampan.


Dria duduk di single chair yang dudukannya empuk tepat di depan meja kekuasaan Sandro. Sementara yang empunya ruangan juga duduk dengan senyum cerah memandang Dria. Pagi ini langit di luar sudah terang benderang oleh sinar mentari tetapi di sini serasa penuh bintang kelap-kelip memenuhi ruangan karena perasaan senang di hati Tuan Muda Dria ada di sekelilingnya, Dria tanpa bantahan mengikuti aktivitasnya sejak subuh hingga sekarang.


“Ahh iya kakak… aku lupa memberitahu, ayah sekarang sudah tinggal di rumah kita, jadi rumah mungilku sekarang ditempati Bena dan istrinya…”


"Bena itu siapa?"


"Salah satu karyawan ayah, dia ikut ayah sudah lama sekali... karena sudah menikah kasihan jika tinggal bersama di mess yang isinya pria semua, jadi ayah memutuskan Bena menggunakan kamar ayah dan ayah pindah ke rumah kita."


“Berarti sepulang dari sini kamu akan tinggal di rumah kita…”


“Iya… Dee sudah minta bu Popie memindahkan barang-barang milik Dee.”


"Bu Popie itu siapa?"


"Astaga kakak, itu salah satu pelayan kakak dahulu, waktu kakak kecil bu Popie yang mengurus kakak."


"Bu Popie ya? Aku lupa Dee... sudah lama juga..."


"Iya bu Popie berhenti karena ikut suaminya, tapi sekarang sudah menjanda dan katanya tidak memiliki anak jadi bu Popie begitu senang saat pak Lucas menghubungi... Jadi bu Popie sekarang yang mengatur urusan di rumah kita..."


"Ahh baguslah... aku senang akhirnya rumah itu akan ditinggali oleh pemiliknya..."


"Siapa pemiliknya?"


Dria bertanya dengan wajah pura-pura polos dan mengundang senyum sang Tuan Muda. Tangan Tuan Muda ingin melakukan sesuatu di wajah Dria tapi posisi mereka berdua terhalang meja kerjanya.


“Kamu. Gunakan kamar kita ya?”


“Kamar yang mana? Kamar kita ada dua, kamar milikku dan kamar milik kakak… ahh ini agak aneh membahas tentang ‘kamar kita’ padahal kita belum menikah.”


“Tidak lama lagi kan?”


“Tidak lama bagaimana, persiapan pernikahan kita masih 0 %, WO saja belum kita dapatkan...”


“Timo sedang mencari yang lain, aku sudah beritahu Timo saja yang berurusan dengan mereka, yang penting dia sudah tahu seperti apa keinginanmu Dee… ”


“Kasihan pak Timo, beban pekerjaannya jadi bertambah…”


"Kamu kasihan padanya? Lihat bawahannya di luar sana, dia hanya mengatur saja tetapi yang mengerjakan banyak hal sebenarnya mereka…”


Sandro menunjuk dengan dagunya ke arah luar ruangan.


“Ahh… ini yang ingin Dee tanyakan sejak lama… kenapa sekretaris kakak ada banyak?”


“Urusan pekerjaan kita sangat banyak Dee. Selama kamu kerja waktu itu apa pernah melihat salah seorang di antara mereka menganggur?”


“Ahh… rasanya tidak pernah, satu-satunya waktu mereka bisa bersantai adalah saat makan siang, kadang kala juga jam istirahat harus terpotong karena kakak…”


“Itu Resiko bekerja di sini Dee, tapi itu sebanding dengan salary mereka.”


“Iya… aku tahu… aku pernah menerima gaji yang fantastis dari kakak, haha…”


“Itu nilainya bisa sebanyak itu bukan karena pekerjaanmu, Dee… itu karena kamu adikku…”


“Iya… itu aku tahu juga…”


“Dan kamu tidak pernah berterima kasih dengan benar padaku.”


“Haha… Tuan Muda, terima kasih ya… pernah memberiku gaji dengan nilai yang besar."


"Terima kasih yang sangat terlambat, Dee..."


"Dari pada tidak sama sekali, tapi memang waktu itu Dee tidak pernah tahu Dee menerima gaji dari kakak, Dee tidak pernah memeriksa rekening..."


"Sekarang tidak pernah memeriksa juga?"


"Kenapa?"


"Timo tidak memberitahu?"


"Tentang apa?"


"Setiap bulan Timo mentransfer sejumlah uang untukmu, Dee..."


"Ahh?? Pak Timo tidak pernah mengatakan tentang itu... Ahh iya Dee tidak menggunakan kartu Dee yang itu untuk keperluan Dee sehari-hari, Dee menggunakan kartu yang lain, kan Dee punya penghasilan sendiri sekarang."


"Pantas saja kamu tidak pernah mengungkitnya..."


"Kenapa kakak melakukan itu? Uang milik Dee saja sudah lebih dari cukup untuk Dee..."


Sandro menyandarkan dua sikunya di meja kaca itu.


"Karena aku calon suamimu Dee... tidak ada yang salah dengan itu, kelak semua milikku akan jadi milikmu. Dan setahuku paman juga rutin mentransfer sejumlah uang untukmu."


"Ahh??? Kenapa pak Lucas masih melakukannya? Dee tidak bekerja di perusahaan sekarang..."


"Aku anak keluarga Darwis ya? Berarti aku kelak mendapatkan warisan?"


"Tentu saja, papi sudah pernah menyinggung hal itu... malahan mungkin sudah diatur legalnya oleh paman."


Dria mengikuti cara Sandro duduk sekarang, mendekat ke meja lalu menyandarkan dua sikunya dengan telapak tangan menopang dagunya.


"Berarti kakak harus memikirkan ini dengan serius... kakak bisa jatuh miskin..."


"Hahaha.... Tidak mungkin Dee..."


"Ini serius kakak... kalau kakak menikah denganku, kakak sudah pasti bakal jatuh miskin, kakak akan jadi Tuan Muda yang miskin..."


Sandro tersenyum geli, dia sudah tahu arah pembicaraan Dria, tapi dia begitu menikmati cara Dria berbicara, gerakan otot-otot wajah mungil yang tertahan telapak tangan memunculkan sebuah perasaan indah bercampur gemas level 'perlu pelampiasan' yang termanifestasi sebagai keinginan seorang kekasih.


"Kenapa aku bisa jatuh miskin?"


Tuan Muda bila dengan Dria bisa menjadi bodoh atau berakting pura-pura bodoh. Semua pembicaraan dengan Dria dengan topik random ringan sangat menghibur dirinya membuat dia betah berlama-lama mengobrol dengan Dria dan tak jarang melupakan kesibukan pekerjaannya.


"Dee sebagai anak papi dapat setengah milik keluarga Darwis. Kalau menikah dengan kakak, sebagai istri, kakak mengatakan tadi semua milik kakak kelak menjadi milikku. Nah... bukankah semua harta keluarga Darwis menjadi milik Sandriana Aubrey Rahmadi? Dan Tuan Muda Sandro Kristoffer Darwis tidak memiliki apa-apa lagi... hahaha... Tapi tenang, Dee tidak akan setega itu merebut semuanya, Dee akan memberikan sebagian milikku untuk keluarga Darwis yang lain yaitu anak-anak kakak... tapi mereka anak-anakku juga, dan sebelum mereka dewasa tetap saja semua milik keluarga Darwis ada di tanganku, hahaha.... aku kaya..."


Dria bersandar di kursi dengan dua tangan terangkat ke atas sambil tertawa saat mengatakan akhir kalimat panjangnya. Dan Sandro tidak bisa menahan desakan keinginannya maka Sandro berdiri mendatangi dan segera mencium bibir yang sejak tadi jadi pusat dan fokus netranya, dua tangan Sandro bertumpu pada dua sandaran tangan di kursi Dria sehingga Dria terkurung oleh tubuh berotot Sandro.


Arus aliran darah menghangat membuat keintiman pagi yang hangat ini membungkus dua insan ini dengan kenikmatan hakiki.


Di luar rungan, Timo yang sudah berada di dekat pintu membawa semua pekerjaan Tuan Muda pagi ini buru-buru masuk dan mengambil sebuah remote di meja Tuannya lalu mengaktifkan fungsi kaca buram di dinding kaca itu. Pemasangan yang dimulai sejak mereka pulang kantor dan baru selesai dipasang menjelang subuh. Tuan Muda Sandro meminta Timo memasang smart film di dinding kacanya karena sekarang dia membutuhkan privasi di ruangannya.


Timo segera keluar lagi setelah berhasil menjaga apa yang harus dia jaga, tapi saat dia memandang Ruby, ternyata Ruby sempat menyaksikan kemesraan Tuan Muda dan Dria. Dengan matanya Timo mengirim isyarat seolah berkata 'kamu tidak melihat apa-apa'.


Ruby melengos. Dia masih jengkel dengan pria tampan nomor dua di gedung ini, pria dengan banyak kekuasaan di tangannya, dia tidak suka berada di satu lantai dan di satu ruangan dan di lingkup pekerjaan yang sama dengan pria ini, pria yang menyebabkan dia memilih tinggal di rumah kost dari pada di rumah besar.


Timo menuju ke mejanya dan meletakkan semua file di tangannya di situ lalu duduk dengan tenang menunggu beberapa saat untuk masuk lagi ke ruangan Tuan Muda.


"Hei... ada sesuatu yang berbeda, ruangan Tuan Muda tidak tembus pandang lagi..."


Perkataan Delfris membuat semua mata memandang ke arah ruangan Tuan Muda di hadapan mereka. Barry tersenyum penuh arti berdasarkan pengalamannya otaknya paling cepat menerjemahkan kenapa demikian. Sementara Timo bersikap serius di tempat duduknya, dan yang lainnya hanya bersikap biasa, itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.


"Itu sangat baik, aku suka itu, aku suka jengah seolah selalu diawasi Tuan Muda, sekarang bisa lebih santai."


Delfris melanjutkan lagi.


"Santai apa? Coba lihat lagi, sekarang ruangan itu kembali menjadi aquarium dan Tuan Muda serta Non Dria sedang melihat pada kita."


Barry berkata dengan sisa cengiran di bibirnya, dalam otaknya muncul gambaran apa yang telah dilakukan Tuan Muda dengan posisi sedekat itu dengan Dria.


Timo segera berdiri dan melangkah masuk lagi ke ruangan itu.


Beberapa waktu sebelumnya, Dria yang tidak bisa menolak serbuan kakaknya hanya bisa menikmati keintiman, lalu beberapa waktu kemudian Dria sadar situasi, ruangan kerja kakaknya begitu transparan, karena dindingnya terbuat dari kaca bening maka semua terlihat jelas dari luar.


Dria segera melepaskan tautan mereka dengan panik.


"Kakak... kita melakukan apa? Ahh... mereka semua melihat kita."


"Hanya Timo yang melihat..."


"Tidak mungkin..."


Dria berbalik dan melihat kaca sekarang menjadi pekat seperti dilapisi embun keseluruhannya.


"Ahh? Kacanya berubah ya, seperti di film yang Dee tonton... Ternyata dinding kaca kakak juga seperti itu, keren... Dee baru tahu."


"Itu baru saja dipasang, Dee..."


Sandro meraih remote di meja, dia sempat melirik saat Timo memfungsikannya tadi. Sandro menekan sebuah tombol fungsi dan kaca berubah jadi bening lagi.


"Benar hanya pak Timo yang melihat? Tadi kacanya belum berkabut seperti tadi."


"Hanya Timo... jangan khawatir."


"Walau hanya pak Timo, tapi itu memalukan kita berciuman di jam kerja... Ahh kakak lain kali jangan seperti itu."


"Lain kali? Akan aku pertimbangkan."


Sandro hanya menjawab taktis dengan senyum kecil di wajahnya.


"Ahh kakakkk... sudah sana... duduk lagi di kursi kakak... ini juga pemandangan yang aneh untuk mereka..."


Dria mendorong tubuh kakaknya menjauh darinya.


"Dee, sayang... kenapa jika mereka melihat, apa yang harus disembunyikan? Kita akan menikah dalam waktu dekat, jadi kenapa harus merahasiakan hubungan kita?"


"Bukan bermaksud merahasiakan, tapi Dee tidak mau melakukan hal yang intim di depan umum... tidak baik, tidak etis. Jangan mengulangi lagi kakak melakukan hal seperti itu di sini.."


"Aku sudah merubah dinding kacanya, rasanya hal seperti tadi tidak masalah dilakukan di sini, sebagai penambah semangat kerja..."


Sandro meangkat dua keningnya menggoda Dria. Dria ingin membantah tapi pak Timo ada di sini sekarang. Dria segera berpindah ke sofa menghindari pak Timo sebab mukanya tiba-tiba memerah karena malu pada pak Timo. Tapi tak berapa lama kemudian pak Timo justru mendatangi dirinya.


"Non Dria... silahkan melihat brosur yang dikirimkan WO AZ, mungkin Non Dria tertarik."


Pak Timo meletakkan di meja sebuah brosur yang desainnya sangat bagus dengan bahan kertas premium.


"Ahh? Eh itu tadi... kata kakak, pak Timo sendiri yang akan menangani itu."


Dria sedikit salah tingkah berhadapan dengan pak Timo.


"Tapi saya tidak tahu persis keinginan Non Dria."


"Waktu itu kamu sudah mendengarnya Timo, jangan bertanya lagi."


Tuan Muda segera menjawab pertanyaan Timo.


"Kakak, memangnya kakak tidak punya keinginan sama sekali tentang pernikahan kita?"


Dria kembali ke kursi semula masih jengah berhadapan dengan pak Timo ini, rasanya pak Timo terlalu banyak tahu tentang mereka berdua.


"Aku tidak menginginkan pesta dengan banyak orang, Timo... Itu saja yang harus kamu pikirkan tentang keinginanku, dan Dria ingin pesta outdoor yang tidak macam-macam, kamu atur dengan WO konsepnya berdasarkan hal itu... tidak rumit kan?"


"Baik... akan saya laksanakan Tuan..."


"Ahh.... kakak, bagaimana kalau pestanya di rumah besar saja?"


"Papi tidak suka ada orang yang tidak terlalu dekat datang ke rumah."


"Kita tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga dan teman dekat. Teman-temanku di sini hanya mereka tim sekretaris kakak, teman kakak hanya kak Miro dan istrinya... itu saja undangannya. Bagaimana?"


"Aku tanya papi lebih dahulu..."


"Atau jika papi tidak suka, kita buat di S saja? Di rumah baru kita? Ya?"


Tuan Muda Sandro menatap calon istrinya yang terlihat begitu bersemangat sekarang membahas tentang pernikahan mereka.


Sementara Timo dalam hati membatin, orang dengan uang yang banyak hanya membuat pesta pernikahan sederhana dengan sedikit undangan, seolah tidak dapat membiayai sebuah pesta mega nan mewah.


Cara berpikir tiap-tiap orang memang berbeda, pemuasan diri untuk segala sesuatu pun berbeda-beda. Mungkin orang di level seperti mereka yang punya kemampuan untuk mewujudkan apapun justru tidak lagi punya keinginan yang bermacam-macam, hanya menikmati hidup saja. Betapa anehnya manusia.


.


.


🐥❤️🐢


.