Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 70. Puisi



Berada di rumah baru lengkap bersama papi dan ayah, baik Sandro maupun Dria merasakan sesuatu yang berbeda, seperti sebuah keluarga lengkap saja. Hanya tinggal sedikit waktu lagi mereka akan resmi terikat tali keluarga melalui pernikahan Sandro dan Dria.


Tidak ada pembicaraan resmi akhirnya, hanya makan malam kemudian dilanjutkan dengan obrolan ringan yang membahas seputar pernikahan kedua anak mereka, karena justru terasa canggung saat mereka berniat untuk membahas lebih formal.


“Rahmadi… aku dan Sandro datang ke sini untuk membicarakan tentang pernikahan anak-anak… apa kita memerlukan jurubicara?”


“Saya rasa itu tidak perlu, Tuan… Tuan Muda bahkan sudah saya lihat seperti anak lelaki saya…”


“Hahaha… ya aku rasa seperti itu saja, mereka berdua adalah anakku, bukankah sedikit aneh, aku datang melamar putriku untuk putraku…”


Orang-orang yang ada di sekeliling tersenyum menimpali perkataan Tuan Besar Harlandy.


Papi dan Ayah menjadi lebih akrab karena sang Papi sudah sering datang ke kota ini, mereka sudah banyak berinteraksi dan sang Ayah lambat laun sudah tidak lagi memandang Tuan Besar Harlandy sebagai bossnya. Bertiga pak Lucas mereka seperti menemukan teman senasib, kehilangan pendamping hidup, dan ini seperti menjadi pengikat hubungan di antara mereka.


“Aku pikir biar Lucas dan Timothy yang mengurus semua hal menyangkut pernikahan anak-anak. Tapi kita perlu menentukan hari baik untuk acara pernikahan Sandro dan Dria.”


“Saya terserah Tuan…”


Ayah Rahmadi hanya bersikap menerima semua keputusan calon besannya karena pada dasarnya dia berbahagia untuk putrinya, dijinkan oleh garis kehidupan melewati hal yang menyakitkan tetapi garis kehidupan itu juga yang membawa putrinya pada jalan yang baik sekarang ini.


Ayah Rahmadi juga tahu sebenarnya di hati putrinya keluarga Darwis menempati tempat istimewa, dia hanya bersyukur karena putrinya menerimanya sebagai ayah bahkan sekarang sangat terasa jika putrinya menyayangi dan peduli padanya.


“Lucas… kamu tentukan hari yang cocok, hari yang baik.”


“Baik Tuan…”


Begitulah, Tuan Besar rupanya seperti putranya tidak mau memusingkan urusan ini. Di tempatnya Timo menjadi lega, mengakui bahwa dia sedikit kelimpungan menyiapkan acara pernikahan si Tuan Muda yang menyerahkan sepenuhnya pada pengaturannya. Pak Lucas lebih lama bekerja pada keluarga Darwis lebih banyak mengerti kebiasaan dalam keluarga itu, dan bila Tuan Besar telah memerintahkan maka jelas yang akan lebih banyak menangani ini adalah pak Lucas.


Dan dua orang yang menjadi fokus pembicaraan bersikap santai sepertinya urusan pernikahan mereka tidak terlalu membebani. Kenyataan yang sulit ditentang bahwa untuk segelintir orang saja di muka bumi ini mereka dikaruniai hidup yang lebih baik di mana uang bukan masalah untuk urusan apapun, dan ada banyak yang bekerja dengan baik demi mereka.


“Deedee, ikut aku…”


Sandro menarik tangan Dria untuk keluar dari ruang makan yang ada di bagian barat rumah ini merupakan bagian yang diperuntukkan untuk sang papi.


“Mau ke mana kakak?”


Sandro tidak menjawab, keduanya keluar tanpa berpamitan karena papi dan ayah mulai terlibat dalam percakapan yang tidak lagi membahas pernikahan. Sandro membawa Dria berjalan di halaman rumah mereka yang begitu luas. Pohon-pohon yang di tanam sebelum pembangunan rumah dimulai kini sudah melewati tinggi Sandro, masih butuh beberapa tahun untuk pohon itu menjadi besar dan berfungsi sesuai keinginan Sandro.


Di sebuah tempat Sandro berhenti, melepaskan tangan Dria. Sandro terdiam, tenyata ada rasa gugup juga untuk melakukan sesuatu. Tangannya masuk ke saku blazer yang digunakannya.


“Ada apa kakak? Kenapa berhenti?”


Dria menatap heran pada kakaknya yang berdiri diam selama beberapa waktu.


Sandro tersenyum tapi canggung, sedang memilih kata apa yang tepat untuk memulai. Di hadapannya berdiri wanita yang telah dilihatnya sejak hari pertama ada di dunia, wanita dengan nama yang dia pilihkan sendiri, wanita yang membuat hatinya luluh dan yang merebut semua pesona hanya untuknya, wanita yang hadirnya seperti mengisi dirinya dengan semua kekuatan dan energi untuk melakukan segala hal, wanita yang membuatnya sebagai pria tunduk pada cinta dan menakhlukkan seluruh cintanya. Ya... cinta pada wanita ini membuat segalanya menjadi istimewa.


Perlahan Sandro mengeluarkan tangannya yang kini menggenggam sebuah kotak beludru warna abu-abu tua. Sandro membukanya dengan mata yang kemudian menyorot lembut memandang Dria.


“Deedee…”


Sandro tidak bisa mengatakan hal yang lain selain nama panggilan yang melekat di otaknya. Hanya pandangannya yang berbicara lebih banyak sekarang.


Saat Dria memandang kakaknya, Dria dapat merasakan pancaran yang begitu kuat tentang cinta di kedua mata Sandro. Tangan Sandro yang terangkat di depan Dria dengan sebuah kotak yang terbuka dan ada sebuah cincin yang sangat indah yang berkilau di tengah cahaya lampu taman di beberapa tiang yang tertata apik di sekitar mereka.


“Kakak?”


Sandro hanya tersenyum melihat binar indah dari mata almond Dria yang bisa ditangkapnya, sebuah ungkapan yang sangat jelas dalam sorot mata itu yang menunjukkan bahwa ini adalah hal yang membahagiakan hati Dria.


"Kakak memikirkan hal ini? Wahh Dee pikir kakak tidak akan melakukan hal seperti ini, ini sangat romantis, ahh... Dee senang sekali, Dee merasa tersanjung... kakak mau melamar Dee ya?"


Sandro tertawa, mengetahui reaksi senang Dria bukan hanya bahagia yang dia rasakan tapi membuat dirinya menjadi seperti pria sejati yang melakukan sesuatu yang menyukakan wanitanya, ternyata ini memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang pria.


"Kakak..."


"Iya?"


"Kenapa diam saja... apa Dee saja yang memasang sendiri cincin itu di jariku?"


Suara Dria terdengan lagi membuat Sandro tersadar dia hanya mengangkat kotak itu, membukanya dan tidak melakukan apapun setelahnya.


"Haha... kakak kenapa gugup begini..."


"Ayo kakak... berlutut di depan Dee..."


Sandro tertawa sekarang, dia bukannya tidak tahu apa yang harus dia lakukan mengenai melamar seorang wanita tetapi entah kenapa dia seperti blank, ternyata memang dia tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini, jika bukan karena Timo dia tidak akan melakukannya, terbersit di otaknya pun tidak. Sandro mulai menyusun kata-kata apa yang harus dia ucapkan.


Dria sudah mengulurkan tangan kirinya dengan senyum yang mengembang di wajahnya, begitu manis, begitu cantik, Sandro bisa melihat ekspresi Dria meskipun penerangan di sekeliling tidak terlalu terang. Sandro kemudian berlutut, menekukkan satu kakinya lalu mengulurkan tangannya yang memegang kotak beludru itu ke arah Dria.


"Deedee..."


"Sandriana Aubrey Rahmadi, kakak... sebutkan dengan jelas..."


"Dee... kamu membuat aku lupa apa yang akan aku katakan..."


"Hahaha... kakak mau bilang apa? Jangan terlalu puitis ya, jangan baca puisi..."


Sandro tertawa karena memang kata-kata yang melintas di kepalanya sepanjang hari ini bagaimana cara melamar Dria sebahagian adalah sebuah puisi yang pernah dihafalnya di bangku SMA.


"Aku memang mengingat sebuah puisi tentang itu, Dee..."


"Ahhhh??? Serius?"


"Iya..."


"Coba kakak katakan sekarang, Dee ingin mendengarkan puisinya..."


Sandro tertawa tapi melihat Dria bersikap menunggu akhirnya menatap Dria lalu mengucapkan puisi tersebut...


Aku telah lama menunggumu


Wahai wanita dalam khayalanku


Wanita yang selalu hadir dalam mimpiku,


manakala senja mulai menjemput tidur panjangnya.


Atas nama cinta dan ketulusan yang menyertainya


Maukah kau menerima pinanganku?


Mengucap janji suci atas nama sang illahi.


Dria bertepuk tangan...


"Wahhh... kakak, itu puisi yang memang cocok untuk melamar seorang gadis..."


"Kakiku sakit, Dee... kapan aku bisa mengatakan yang harus kukatakan?"


"Itu tadi... puisinya sudah kakak ucapkan, pasang saja cincinnya..."


"Ya ampun Dee... kamu mengacaukan lamaranku..."


Keduanya tertawa bersama-sama akhirnya.


"Mana jarimu..."


Dria mengulurkan kembali tangan kirinya, Sandro memasukkan cincin bertatakan berlian itu ke jari manis Dria.


"Jadilah istriku Dee, sampai di mana hidup kita digariskan sang pemberi hidup... jadilah kebahagiaanku selamanya, akupun akan terus membahagiakanmu..."


"Iya kakak..."


.


.


Hi, aku lagi ikut bimtek, jd gak bisa update. Part ini nukis dua hari gak selesai2... Sampai sabtu kk2, mohon dimaklumi.


.