Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 52. Tidak Mengenali?



Dhapne meneriakkan namanya, terlihat tangannya yang satu melambai-lambai padanya.


Naluri Dria mulai memberikan alarm bahwa Dhapne mengenal pria yang mirip dengan seseorang… dan hampir pasti pria itu memang Reginald, karena tatapan mata yang sekarang serta cara dia menatap dengan kepala sedikit miring ada sikap tubuh seorang Reginald yang sangat melekat di ingatannya.


Dia pernah sangat membenci pria itu, seseorang yang dia labelkan sebagai ‘orang brengsek’ tidak punya hati, yang mendustai dirinya dengan segala macam janji manis.


“Sandriana… ini Egi, kami kebetulan bertemu di sini…”


Dria yang terpaku sesaat, segera pulih setelah mendengar perkataan Dhapne, dan memutuskan akan bersikap seperti apa.


Dia tidak akan dan tidak mau terbawa perasaan masa lalu kemudian menangis lagi di hadapan Egi, cukup airmatanya tidak pernah berhenti di saat itu, saat dia memberitahu Egi tentang keadaannya, saat dia kemudian tahu Egi pindah sekolah ke kota B, saat dia meninggalkan rumah kerabat Egi di kota B diikuti tatapan kebencian dari orangtua Egi. Sekarang, luka di hati itu tinggal bekasnya saja, dan untuk apa melihat kepada seseorang yang pernah menorehkan luka.


Sekarang ini… dia bukan sesuatu yang penting, tidak perlu mengenal lagi dan tidak butuh menjalin hubungan lagi, sekalipun ada fakta bahwa Egi menjadi pengunjung tetap kafe. It’s not a big deal, mau meneruskan mengunjungi tempat ini atau mau berhenti tidak berpengaruh buat Dria.


Dria mengangguk sewajarnya membalas senyuman manis Dhapne lalu mengambil langkah untuk pergi meninggalkan tempat itu sebab rasanya dia telah cukup bersikap ramah sebelum ini pada Dhapne.


Serombongan ibu-ibu dan sekarang bertambah lebih banyak karena ada para pria dan anak-anak di antara mereka datang dari arah toko, termasuk Ivanka yang berjalan cepat mendatangi Dria.


“Dria…”


Suara panggilan Ivanka mencegah Dria melanjutkan langkahnya. Perhatiannya tertuju pada Ivanka dan tidak melihat sedetikpun pada Dhapne apalagi pada pria itu. Dia sudah memutuskan menghapus semua tentang pria itu dan sekarang dia tidak ingin terbawa oleh arus kehidupan masa lampau yang coba menariknya.


Sudah lama sekali ketika dia berhasil bangkit dengan penerimaan tentang dirinya, membuka diri untuk tahapan lain dalam hidupnya. Secara perlahan dia berhasil meraih kepercayaan diri dan kembali menjadi sosok Dria yang periang, dia tidak ingin kembali di masa itu, di masa terkelam dalam hidupnya.


“Ternyata tempat ini milikmu…”


“Ahh… iya…”


Dria kembali tersenyum setelah sesaat ketegarannya sempat limbung.


“Kamu sukses sekarang… usia masih muda sudah punya bisnis sebesar ini…”


“Ah itu… kakakku yang memberikan modal dan mengatur banyak hal tentang menjalankan bisnis ini, aku hanya meneruskan saja…”


Nalurinya berkata dia perlu memberi sedikit penjelasan, dia ingat cerita Tety tentang hal-hal negatif tentang dirinya. Sekarang marak issue entah benar entah tidak bahwa ada gadis muda yang menjadi sugar baby seorang pengusaha dan menjadi tajir karena itu. Cukup dirinya diceritakan yang tidak baik, jadi tidak apa menceritakan sedikit tentang dirinya.


Apalagi di sini ada si mantan, orang brengsek yang ternyata telah cukup lama mengamatinya. Perlahan Dria menyambungkan kumpulan ingatan bahwa Egi telah sering dilihatnya di tempat ini, dan tatapan Egi padanya bukanlah tatapan orang asing, Egi menatapnya karena memang Egi telah mengetahui siapa dirinya.


“Kakak? Bukannya kamu anak tunggal?”


“Ah?? Apa aku tidak pernah menceritakan kakakku yang di kota J padamu?”


“Sebentar Dria… oh ya aku ingat, foto di dompetmu bersama mamimu kan?”


“Iya… Iva…”


“Oh begitu? Sepertinya kakakmu orang kaya…’


Dria menangkap nada sangsi pada suara Ivanka.


“Kakakku memiliki bisnis yang lumayan di negara ini, dia pemilik Mega Buana…”


“Oooh yaa???”


Ekspresi Ivanka menunjukkan dia tahu mengenai Mega Buana.


“Aku mengenal seseorang yang bekerja di perusahaan itu… pantas saja kamu bisa membangun tempat sebagus ini…”


Dria sedikit mengeluh dalam hati, dia seperti merasa bersalah seolah membuat pengumunan siapa dirinya. Baru sekarang dia mencatut nama kakaknya untuk kepentingannya dan baru sekarang dia sedikit menyombongkan apa yang dimiliki kakaknya.


Tiba-tiba Dria merasa membutuhkan kakaknya ada di sini, dia mulai merasa tidak nyaman karena bertemu seseorang.


“Kalian mau pulang sekarang?”


Dria ingin segera mengakhiri percakapan dengan Ivanka.


“Iya… kami berada di sini sejak tempat ini di buka… sekarang sudah sore…”


“Begitukah? Aku harap kalian melewatkan waktu yang menyenangkan di sini…”


“Iya tempat ini luar biasa Dria… aku pasti akan datang lagi, mmh aku berencana membuat ulang tahun anakku di sini. Dria, boleh tidak minta diskon…”


“Hehe… boleh saja… tapi jangan semuanya minta didiskon ya, nanti aku merugi… hahaha…”


“Kalau ownernya yang berikan aku tidak menolak… hehe…”


“Ah mungkin kalian jadi member saja, ada banyak penawaran dan keuntungan yang diberikan untuk member… mudah saja mengurus itu, hanya memberikan struk pembayaran minimal seratus lima puluh ribu rupiah sudah bisa mengajukan pembuatan member, kartu member langsung aktif…”


“Oh… baiklah… aku akan mengurusnya nanti…”


“Baik Iva, aku tinggal ya, kalau ada acara sebaiknya reservasi tempat lebih dahulu… beritahu aku nanti ya?”


Mata Dria tertuju pada anak laki-laki lima tahun yang memegang tangan Ivanka. Dria merogoh sakunya, setiap dia berkeliling di kafe dia selalu menyiapkan beberapa coklat di situ. Dria memberikan satu batang coklat pada anak kecil itu lalu tersenyum melihat reaksi senang bocah laki-laki itu, dan kemudian Dria pergi meninggalkan rombongan itu.


“Terima kasih Dria…”


Suara Ivankan terdengar di belakangnya tapi Dria tidak menoleh lagi. Dia merasa cukup telah melayani Ivanka dengan keramahannya. Ivanka dan rombongan yang lain masing-masing kemudian menaiki mobil mereka.


Semua tingkah Dria diawasi tanpa berkedip oleh Egi, rasa sedih menyergapnya. Tatapan Dria memberitahu bahwa dia telah mengenali dirinya, dan sikap Dria yang tidak peduli membuat dia sedih dan sedikit kecewa. Tapi dia seperti bisa memahami ini, tidak mungkin seseorang yang telah tersakiti dan dibuat hancur seperti Dria akan bersikap ramah padanya.


“Gi? Dia tidak mengenalimu?”


Dhapne bertanya pada Egi yang masih menatap bagian belakang tubuh Dria yang menjauh.


“Gi??”


“Dia tahu siapa aku… karena itu dia tidak ingin melihat padaku.”


‘Gi… yang aku ingat… Dria waktu itu… mmh apa janin dalam kandungannya dia pertahankan? Ivanka menyebutkan tadi Dria sekelas dengannya… kalian berdua sekelas juga kan? Berarti dia tertahan satu tahun di SMA, Ivanka satu tahun di bawah kita…”


Dhapne memang tahu banyak soal masa lalu mereka, dan uraian Dhapne tentang kondisi Dria semakin menambah kuat keyakinan Egi bahwa ada anak mereka berdua di dunia ini.


Dorongan hati segera membuat langkah Egi mengejar Dria. Dria tidak menuju toko tetapi ke arah lain. Egi mempunyai tubuh yang tinggi dan langkah yang panjang dapat menyusul Dria dalam beberapa langkah.


“Ya... Ya…”


Sebuah suara seperti datang dari masa silam, kembali menyapa telinganya dengan cara yang sama. Sepenggal kata yang berasal dari pengucapan sebuah suku kata dari namanya.


“Ya…”


Suara itu sekarang ada di sampingnya. Egi ternyata menyusulnya, dan terus mengikuti walau Dria tidak menjawab. Saat Dria melihat rumahnya, dia tidak ingin Egi tahu itu tempat tinggalnya maka Dria berbelok ke sebuah unit bangunan di mana bagian fasad depan tertampal huruf akrilik timbul ‘Aubrey Park’, bangunan yang diperuntukkan untuk kantor ayah.


Pikiran Dria segera mengemuka bahwa dia tidak perlu menghindari Egi, itu sikap yang lemah dan menunjukkan dia terintimidasi dengan kehadiran Egi. Delapan tahun telah membentuk mentalnya sedemikian sehingga yang tersimpan di hatinya sekarang adalah sikap apatis untuk cinta dan ini lebih kepada keberadaan dirinya, bukan karena pengaruh Egi lagi. Dia hanya pernah sakit hati lagi pada keadaannya saat kakaknya menyatakan cinta, dan tidak ada hubungannya dengan sosok Egi hanya penyesalan karena tidak dapat menjaga diri sendiri.


Dia juga tidak mungkin bersikap pura-pura amnesia dan tidak mengenal Egi lagi. Terlalu drama ketika otaknya memunculkan perkataan… kamu siapa ya? Maaf aku lupa siapa kamu, apakah kamu tetanggaku dulu? Aisssh…


Karena itu Dria berhenti, Egi mengikuti. Dria dengan tenang menatap Egi tepat di matanya. Sesaat ada rasa sakit yang muncul tapi kemudian Dria bisa mengendalikan perasaannya. Masa lalu adalah masa lalu seindah apapun atau sepahit apapun itu, dan yang dia ketahui adalah bahwa keadaannya yang sekarang telah baik-baik saja.


Dria tak berkata apapun hanya memandang tajam dan membuat Egi grogi sehingga Egi tak bisa berkata dalam beberapa detik. Dria bergeser menegaskan jarak, dengan santai Dria memasukkan tangannya ke saku celana berkaret di pinggang yang jadi outfit kebesarannya.


Karena Dria tidak berkata apapun hanya memandang padanya, dengan kaku dan gugup Egi bertanya…


“Apa… apa… tidak mengenaliku?”


Tangan kanan Egi spontan memegang tengkuknya berbicara tanpa sanggup menatap Dria.


“Sebelum ini tidak… baru sesaat tadi saya tahu bahwa kamu adalah Reginald.”


Dria berkata datar dan bernada sangat formal. Dria mengamati Egi sekarang, jadi tahu apa perbedaan di wajah itu yang membuat dia pangling sebelum ini, rahang yang lebih tegas dan dewasa, tidak ada sisa-sisa wajah ‘bayi’ yang halus di wajah itu sekarang.


Egi kehilangan semua perbendaharaan katanya, entah bagaimana menafsirkan sikap Dria, dia berpikir sebelum ini bahwa saat Dria mengenalinya dan mereka berdua bertemu seperti ini Dria akan memakinya atau membombardir dengan kata-kata kebencian atau bersikap bermusuhan. Yang dia hadapi sekarang adalah sikap Dria yang sama seperti sikap kliennya saat pertama bertemu.


“Ada yang ingin kamu sampaikan?”


Dria menantang Egi, membuka percakapan ingin melihat apakah Egi punya nyali untuk menyinggung masa lalu.


“Hahh?? Aku… aku ingin tahu… apa kamu baik-baik saja?”


Suara Egi masih lemah dan terselip keraguan di balik itu, tidak yakin apa pertanyaannya tepat untuk ditanyakan.


“Menurutmu? Rasanya saya mulai mengingat, kamu selalu memperhatikan saya, apa saya terlihat baik-baik saja di matamu?”


Kalimat Dria bersifat sarkastis, walau disampaikan dalam nada biasa tanpa tekanan tapi itu bagai ujung pisau tajam yang menggores hati Egi, seolah memberitahu padanya ‘kamu terlambat menanyakan itu, itu tidak berfaedah lagi sekarang’.


“Kamu… kamu terlihat sangat baik Ya.. sangat baik…”


Egi menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.


“Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?”


“Hahh? Ehh… tidak, tidak ada.”


Rasa gugup semakin menguasai dirinya, sehingga pertanyaan mengenai anak mereka atau lebih tepatnya janin milik mereka dulu tidak dapat dia ucapkan. Hanya sekali dia melihat Dria bersama seorang anak lelaki, setelahnya Dria tidak terlihat mengandeng atau merawat seorang anak.


“Baiklah… saya masih harus bekerja. Selamat menikmati waktumu di tempat ini…”


Dria mundur dua langkah dengan menatap langsung ke mata Egi, Egi membuang pandang. Dria berbalik dan berjalan dengan menjaga irama langkahnya sambil menghembuskan satu napas panjang.


Hanya seperti itu pertemuan dengan Reginald, dan Dria ingin memuji dirinya sendiri ternyata dia sanggup berhadapan dengan seseorang yang telah membuat luka dan meninggalkan duka yang panjang dahulu. Dia tersenyum saat mengingat lagi bagaimana dia dengan sikap yang begitu tenang bisa berdiri bahkan berbicara dengan Egi dan bagaimana dengan elegan dia meninggalkan Egi tadi. Dria coba meraba dadanya seperti mencari tahu emosinya sendiri apa ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya karena pertemuan itu?


Dia adalah wanita yang sama seperti wanita pada umumnya yang mengkoneksikan hal-hal yang dia hadapi dengan emosi dan perasaan. Jelas ada rasa sakit di sana, tapi tidak sampai membuat dia harus menangis, ada rasa tidak nyaman juga karena jujur dia tidak ingin berhubungan dengan Egi. Di saat yang sama Dria seperti menemukan dan mulai mengenali sesuatu yang berbeda, ada bagian hatinya yang membutuhkan seseorang di saat seperti ini, dan nama kakaknya tiba-tiba menjadi sosok yang dia butuhkan.


Dria menyapa Zifa, satu-satunya karyawan ayah yang berkantor di sini, Zifa bagian yang menerima konsumen sekarang serta mengantarkan konsumen untuk melihat contoh-contoh taman yang ada atau menunjukkan foto-foto taman yang pernah dibuat ayah.


Dria memasuki ruangan ayahnya yang tidak dikunci, hanya sesekali ayah menerima tamu di sini. Dria duduk di sana dan mencari gawainya lalu melakukan panggilan video dengan Sandro.


Dua kali Dria melakukan panggilan, tapi tidak diangkat. Dria mencoba lagi dan masih tidak dijawab. Hal ini tiba-tiba membuat emosinya meningkat, perasaan sedih muncul dan menguasai hatinya.


Dria memilih menelpon Timothy. Dalam sekali deringan panggilannya dijawab pak Timo.


.


“Pak Timo, mana kakakku? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?”


“HP Tuan Muda ada pada saya Non… meeting masih sementara berlangsung, Non Dria bisa menunggu sebentar?”


“Ahh… baiklah.”


Dria berkata dengan suara hampir menangis, emosi dengan cepat datang karena dia begitu ingin mendengarkan suara kakaknya. Dria meletak gawainya di meja lalu menelungkupkan kepalanya, lalu mulai memikirkan dia sesedih ini apa karena Egi atau karena merindukan kakaknya?


Ini karena kakaknya... Tadi dia ingat saat bertelpon dengan kakaknya dia sedikit kecewa karena kakaknya batal datang melihatnya. Kenapa baru sekarang dia menyadari memiliki perasaan seperti ini untuk kakaknya?


.


.


Hi… masih antusiaskah dengan cerita ini? Cerita bgm Dria menghadapi mantannya semoga pas aja 🫣 Oh ya... aku ingin membagi cerita lucu tentang mantan. Ketemu dia bersama pasangannya, dia salting brutal dan ngomong ke aku... "Eh, kamu adiknya si O itu kan?" Mak... Aku pengen ninju bibirnya hiks tapi entar pasangannya balas ninju aku.


.


.