
Betapa luar biasa dampak dari kekuatan pikiran. Sejak Sandro menyadari tentang keberadaan Dria untuknya, maka sejak itu yang ada dalam pikirannya adalah Dria, apa yang sedang Dria lakukan, apa yang akan Dria makan atau minum, mengapa wajah Dria seperti itu… semua tentang Dria telah menguasai mekanisme berpikir seorang Sandro, si Tuan Muda selalu ingin tahu tentang Dria.
Dari tempat duduknya Sandro tak tertahankan lagi, matanya selalu mengawasi Dria, seperti sekarang Dria tertangkap netra hitam legamnya memukul-mukul punggung dan lengannya. Sandro segera berdiri meninggalkan sebuah dokumen yang sangat butuh tanda-tangannya.
“Tuan… ini butuh tanda tangan anda sekarang…”
Si Tuan Muda tidak menggubris Timo hingga Timo mengambil dokumen di meja dan mengikuti si CEO, tidak mengerti mengapa si Tuan Muda tiba-tiba meninggalkan pekerjaannya. Langkah Timo terhenti ketika melihat arah dan tujuan Sandro.
“Kamu kenapa Dee?”
“Ahhh?? Ehh, maksudnya? Dee tidak ada masalah, kak…”
Dria menatap Sandro dengan wajah setengah bingung kenapa tiba-tiba si kakak tersayang datang ke mejanya.
“Kalau kamu lelah istirahat saja…”
“Ahh?? Dee tidak lelah… tidak eh… rasanya tidak ada sesuatu yang berat yang Dee kerjakan… ehh ini baru jam sebelas kak… Dee belum merasakan itu, sungguh Dee tidak lelah…”
Dria menatap sekilas wajah kakaknya dengan pikiran yang muncul di kepalanya dari mana si kakak menyimpulkan dia sedang kelelahan?
“Punggungmu sudah sakit masih berkata seperti itu… sini kakak pijat sebentar.”
Sandro lalu berdiri di belakang Dria dan mulai memijat lembut punggung sampai pundak adik kesayangannya. Dria yang sekarang terbelalak, matanya membulat dan punggungnya segera menghindari tangan kokoh sang kakak. Dria menjadi risih karena di sekeliling mereka tim sekretaris lengkap sedang duduk di depan meja masing-masing sambil mengerjakan pekerjaan mereka.
Walau tak ada yang berani menatap langsung ke arah Dria dan Sandro tapi perkataan Sandro sesaat tadi dapat dipahami dengan benar oleh semua pria dewasa di sini apa yang sedang terjadi sekarang, tapi tetap saja merasa heran dengan sikap Tuan Muda. Hanya Timo yang berdiri maklum sambil memalingkan muka.
“Adduhh kak… punggung Dee tidak sesakit itu, itu biasa kan… hanya sedikit kaku saja… tidak usah kak… itu tidak masalah…”
“Benar tidak apa-apa?”
Akhirnya Sandro menyerah karena Dria terus menghindari pijatannya.
“Iya… Dee baik-baik saja.”
“Baiklah… bersiap sekarang ya, kita makan di luar…”
“Ahh?? Makan di… luar lagi?”
Dria bertanya pelan, dibalas Sandro dengan sebuah senyuman. Sandro mengusap kepala Dria sejenak lalu meninggal Dria yang sedang diliputi rasa tak nyaman. Dria menatap Timothy yang berdiri menjadi pengamat beberapa langkah dari meja Dria.
“Kenapa kak Sandro jadi seperti ini sekarang?”
Dria membatin. Dalam pikirannya dia mulai mengingat-ingat, ternyata masih terasa lebih nyaman menghadapi sikap kak Sandro yang sepertinya membenci dirinya di bulan-bulan awal dia di sini, dibanding sekarang. Kak Sandro memang berubah menjadi kakak yang baik dan hangat, dan itu membahagiakan… tetapi menerima kedekatan terutama sentuhan fisik yang sekarang semakin sering dilakukan si kakak tersayang, itu meresahkan.
Keceriaan Dria menghilang, sikap Sandro menjadi semacam beban di hatinya, semacam sebuah pengingat terhadap luka yang pernah diterimanya dari seseorang di masa lalu.
“Tuan… saya hanya reservasi untuk anda dan sahabat anda…”
Timo bersuara di belakang Tuannya, masih dengan beberapa dokumen yang dipegangnya. Tatapan memohon yang dilihatnya dari Dria tadi membuat dia ingin menolong si Nona Muda menghindari makan siang ini. Sudah beberapa kali dia mendengarkan keluhan Dria soal makan siang bersama si Tuan Muda.
“Mana yang harus saya tanda tangan?”
Tangan si Tuan Muda terulur ke arah Timothy dan bersikap tak acuh terhadap pertanyaan Timothy. Si kepala tim sekretaris sekaligus asisten setia akhirnya mengulurkan apa yang diminta si Tuan Muda, lalu tangannya segera merogoh gawainya untuk memperbaharui reservasi makan siang sebelumnya.
Saat Timothy keluar ruangan…
“Pak Timo…”
Dria memanggil dengan suara pelan sambil melirik ke dalam 'aquarium besar', sepertinya dia selalu diawasi sekarang, Dria menarik napas untuk hal itu karena sekarang terasa sangat mengganggu.
“Butuh bantuan, Non?”
Timothy mendekati Dria.
“Aku ingin mengatakan sesuatu…”
“Apa Non?”
Dria melihat sekeliling dan mendapati mata Delfris sedang memandang dirinya.
“Ahh… nanti saja…”
Timothy segera paham, Dria ingin menyampaikan sesuatu yang bersifat pribadi.
“Baik Non…”
Setelah memberikan sebuah dokumen pada Barry, Timothy berbalik ke dalam ruangan bosnya.
“Tuan… Anda belum meminum kopi anda sejak pagi… apa anda ingin minum sekarang, saya akan meminta Non Dria membuatkannya…”
“Ahh benar, saya butuh kopi sekarang…”
Timothy senyum samar, apapun jika menyinggung nama Dria menjadi sesuatu yang tidak dapat ditolak si Tuan Muda. Timo keluar ruangan, lalu…
“Non Dria, Tuan Muda meminta kopinya…”
“Ah? Ini sudah mendekati makan siang, itu tidak baik untuk kak Sandro…”
“Buatkan saja Non… Non Dria tahu mood Tuan Muda sekarang bergantung pada segelas kopi buatan Non Dria…”
”Begitukah?”
“Iya…”
Dria berdiri walau tak yakin dengan kalimat Timothy dia segera menuju ruang istirahat. Timo kemudian melihat si Tuan Muda, merasa yakin si Tuan Muda tidak akan menoleh Timo kemudian mengikuti Dria. Tuan Muda jadi sedemikian kepo dengan hal-hal tentang Dria, jangan-jangan jika Tuan Muda tahu dia mengikuti Dria, dia akan mendengar sebuah pertanyaan aneh tentang itu dari mulut Tuannya.
“Non Dria ingin membicarakan apa?”
Timo langsung pada tujuannya membawa Dria di ruangan ini.
“Ahh… itu… aku tidak ingin ikut acara makan siang kak Sandro, sudah sering seperti itu, aku merindukan makan siang bersama teman-teman di kafetaria karyawan… beberapa kali aku janjian dengan Ruby tapi batal… pak Timo tolong beritahu kak Sandro… sesekali aku ingin bersama teman-temanku lagi menikmati jam istirahatku…”
“Tuan Muda tidak akan menyetujuinya, Non…”
“Tapi…”
“Non Dria… sebenarnya mengapa Tuan Muda sekarang selalu ingin melihat dan menikmati waktu bersama Non Dria, itu karena… eh… Tuan Muda hanya ingin menebus waktu sepuluh tahun tidak bersama Non Dria, jadi Non Dria pahami saja jika Tuan berubah seperti ini sekarang…”
“Tapi… aku jadi tidak sebebas dulu pak Timo, tolong bantu aku supaya tidak semua kegiatan kak Sandro harus ada aku…”
“Tuan Muda sebelum ini merasa bersalah karena pernah bersikap tidak baik pada Non Dria, mungkin jika perasaan bersalahnya menghilang Tuan Muda akan bersikap normal lagi. Jadi harap Non Dria menikmati saja sikap Tuan Muda, itu tanda Tuan menyayangi anda sebagai adiknya…”
“Apa benar seperti itu?”
“Iya Non…”
“Baiklah… ini kopinya, tolong pak Timo saja yang antarkan… aku mau ke toilet…”
Sekarang ini Dria memilih menghindari bertemu Sandro, karena hampir dipastikan sampai menjelang pulang kantor dia akan selalu di sisi Sandro.
Timothy tidak mungkin memberitahu secara terus-terang pada Dria apa yang ada dalam persepsinya tentang sikap Sandro. Timothy memilih menjelaskan dengan kalimat relatif netral saja. Sedikitnya dia bisa mengerti kebingungan Dria menerima perubahan perasaan yang radikal dari si Tuan Muda yang bermanifestasi dalam semua tindakannya yang menurut Timothy terlihat posesif sekarang.
.
🍽
.
Dria berjalan mengikuti kakaknya dengan pasrah. Perkataan Timothy tadi sedikit menenangkan Dria…
Di dalam, Argemiro duduk di meja yang sudah dipesan oleh sekretaris Sandro. Miro sedikit melebarkan mata melihat Sandro menggandeng seorang gadis yang sangat manis. Beberapa bulan terakhir mereka jarang makan siang berdua karena kesibukan bisnisnya di luar pulau.
Melihat cara Sandro yang tidak biasa bahkan dengan Emma pun belum pernah Miro melihat Sandro bertingkah penuh perhatian, Miro tersenyum. Dia akan mengkonfirmasi yang dilihatnya sekarang serta kalimatnya lama sebelum ini, bahwa suatu saat dia akan melihat Sandro bertemu dengan wanita yang akan merubah sikap Sandro menjadi seperti sikap pria pada wanitanya.
“San…”
Sandro menyambut jabat tangan gaya lelaki ciri khas mereka berdua lalu menarik kursi untuk Dria, menolong Dria duduk dengan benar lalu duduk di kursinya sendiri di samping Dria.
Sambil mengamati tingkah sandro, Argemiro segera paham sesuatu, dia mengambil gawai di meja lalu melakukan panggilan.
“Kupikir melihat ada tiga tempat yang disiapkan, kupikir itu untuk Audreey, aku sudah meminta Audreey datang ke sini, San…”
Sandro memandang Miro lalu melirik Dria untuk menunjukkan bahwa itu untuk Dria bukan Audreey, dan jangan berharap si Tuan Muda akan berubah, dia tidak akan bertoleransi dengan menambahkan satu orang lagi untuk makan bersama, apalagi jika itu Audreey.
Sejak Miro menikah dia tahu bahwa Sandro tidak menyukai saat dirinya membawa istri jika mereka bertemu, bahkan dengan alasan membawa pasangan masing-masing, dia membawa Audreey dan Sandro membawa Emma, Sandro tidak menyukai itu. Mereka berempat makan bersama hanya sekali terjadi itu pun atas inisiatif Audreey, dan setelahnya Sandro akan menolak apalagi saat menyebut frasa double date.
Sebagai sahabat Miro menerima sikap Sandro yang sedikit tak normal dan tak sesuai dengan kaidah bersosialisasi pada umumnya, dia berpikir bahwa Sandro tidak terlalu menyukai perbincangan dengan wanita. Dan satu hal yang Miro pahami bahwa Sandro tidak menyukai hubungannya terekspos, apalagi istrinya merupakan pengguna sosial media aktif yang punya komunitas sosialita, semua hal pasti menjadi bahan postingan sang istri, terlebih jika mengenai Sandro, itu pasti menjadi berita yang besar yang akan menaikkan derajat pengakuan untuk sang istri di mata komunitas sosialitanya.
Dia sendiri menyatakan bahwa istrinya itu hanya membuang banyak uang untuk interaksinya dengan sesama wanita yang perilaku hedonismenya sangat jelas, walau dengan alasan bahwa wanita modern tidak mungkin lepas dari komunitasnya. Tapi memang ada beberapa kerjasama bisnis yang sangat menguntungkan dirinya berasal dari teman istrinya yang kebetulan istri seorang konglomerat, jadi Miro tidak pernah mengeluhkan hedonic behavior Audreey lagi.
Telpon Miro dijawab istrinya…
.
“Honey, kamu sudah di mana?”
“Sudah dekat, lima menit lagi…”
“Tapi, maaf sayang, kupikir Sandro mengajak kita berdua makan siang bersama, ternyata tidak… dia membawa temannya, kamu makan sendiri ya di tempat lain, kamu tahu kan Sandro tidak menyukai jika aku membawamu…”
“Honey… sahabatmu keterlaluan tahu tidak... jika dia benar-benar sahabatmu, dia harus menerimaku sebagai istri sahabatnya. Aku akan tetap ke sana… masa bodoh dengan ketidaksukaan Sandro. Aku sudah berusaha memahami hal ini sejak kita menikah, aku harus katakan sekarang keberatanku mengenai sahabatmu itu… itu sangat tidak patut dilakukan seorang sahabat! Aku sudah dekat dan aku sudah lapar, aku tidak peduli dengan Tuan Muda itu!!!”
Istrinya berteriak marah di telpon.
“Honey…”
.
Panggilan sudah diakhiri sang istri dan Miro memandang Sandro pasrah.
“Audreey sudah dekat San… dia sudah lapar juga, masa istriku makan terpisah dari meja kita di sini… atau aku pindah bersama dia saja, nanti setelah makan kita berbincang…”
“Maaf kak Miro… tapi kenapa harus seperti itu… kak Audreey makan bersama kita saja… itu tidak masalah kan? Aku juga perlu teman di sini… aku kan wanita sebaiknya berbincang dengan sesama wanita juga…”
Dria menimpali, dia segera mengenali Miro dan sedikitnya dia segera menangkap sesuatu dari percakapan Miro yang bergulir sejak tadi baik dengan Sandro maupun dengan istrinya.
Miro memandang Sandro menunggu reaksi Sandro, dan sesuatu yang luar biasa terjadi, anggukan kepalanya membuat Miro lega dan segera memanggil seorang waitress untuk menambah pesanan mereka. Pikirannya segera menyimpulkan sesuatu, gadis manis di sebelah sahabatnya punya kekuatan yang bisa mengubah perilaku Sandro, itu tidak akan terjadi jika Emma yang memintanya.
“Dee pamit ke toilet sebentar, ya kak…”
“Ayo, kakak akan mengantarmu…”
“Hanya ke toilet kak… Dee bisa sendiri…”
Dria menatap tajam pada kakaknya, membuat Sandro tak berkutik hanya mengikuti saja keinginan Dria. Dria berdiri meninggalkan kedua pria di situ yang memandangnya dengan tatapan berbeda, yang satu dengan pandangan tak rela dan yang satu dengan pandangan takjub karena gadis itu bisa membuat Sandro patuh.
“Ini luar biasa San… akhirnya aku melihat sesuatu yang berbeda denganmu…”
“Maksudmu?”
“Apapun alasanmu, aku rasanya menyetujui kekasihmu yang ini… dia membuatmu menjadi terlihat seperti pria yang sesungguhnya…”
“Maksudmu?”
“Aura seorang pria yang sangat melindungi dan menyayangi kekasihnya sangat jelas terpancar darimu sekarang… kamu harus mengakui bahwa perkataanku tempo hari benar… saat kamu bertemu seorang wanita yang kamu cintai, itu akan mengubah dirimu sepenuhnya… aku benar, itu sama sekali bukan Emma Lynne.”
“Emma masih kekasihku, Ro…”
“Hahh?? Oh my god… San… jangan bilang kamu selingkuh, ini sebuah lonjakan yang drastis darimu, walau aku tahu itu tidak masalah untuk beberapa pria, tapi kamu tidak mungkin seperti itu…”
Walaupun hati Sandro merasa senang Miro menyatakan penilaiannya tentang dirinya dan Dria, baginya itu lebih indah terasa sebab dia tahu seperti apa perasaannya untuk Dria sekarang, tapi pikiran real segera datang…
“Aku tidak selingkuh, Ro… Emma masih kekasihku…”
“Lalu gadis manis itu siapa? Dia sangat cantik San, wajar jika kamu jatuh hati padanya…”
“Dia bukan kekasihku…”
“Walau aku sekarang sangat ingin menjadikan Deedee kekasihku, aku sangat menyayanginya ternyata…” Sandro menyambung kalimat itu dalam hati.
“Lalu siapa? Kalian terlihat seperti pasangan kekasih, kamu terlihat sangat posesif padanya?”
“Kamu mengenalnya, apa kamu lupa?”
“Siapa?”
Mata Miro menyipit dan keningnya berkerut mencoba mengingat wajah gadis cantik tadi dan siapa gadis itu sehingga Sandro terlihat berbeda memperlakukannya.
“San?? Apa itu Dria adikmu? Iya benar, pantas saja di langsung menyebut namaku tadi, sekarang aku mengingat tatapan matanya. Wow… Dria tumbuh sangat baik, benar San… dia sangat cantik dan manis…”
Sandro tersenyum dalam pengakuan hati apa yang diucapkan Miro benar adanya.
“Kupikir kamu selingkuh dari Emma, hehehe… aku tahu kamu tidak akan berubah jika tentang Emma, katamu dia calon istrimu. Tapi San, coba kamu pikirkan hal ini, jika kamu benar-benar mencintai Emma, tidakkah kamu punya keinginan impulsif untuk memilikinya? Maaf jika aku berkata bahwa sebenarnya kamu tidak pernah menginginkan apapun dari Emma. Dia mengeluh pada Audreey tentang dirimu yang seperti tidak mempedulikan perasaannya…”
Sandro diam, perasaan hatinya menolak jika Emma dan Dria disandingkan dalam satu perbincangan.
Miro meneruskan lagi…
“Emma bertanya padaku San… apa kamu sungguh-sungguh mencintainya, dia sedang sedih sekarang karena sikapmu seperti menjauh padahal kalian sudah merencanakan pernikahan…”
“Emma menelponmu?”
“Iya… beberapa kali… mungkin kamu harus menghargai usahanya untuk lebih dekat denganmu San, jika kamu masih mengharapkan dia jadi pendamping hidupmu, kalian harus membangun chemistry untuk hubungan kalian ini…”
Sandro tak bereaksi, dari tatapan datar Sandro, Miro tahu benar bahwa tidak ada cinta Sandro untuk Emma.
Sementara itu, Audreey masuk restoran dengan perasaan marah tapi sudah menyiapkan mental untuk menghadapi Sandro. Matanya mencari Sandro dan suaminya, dan dia menemukan suatu pemandangan luar biasa, Sandro sedang menyambut seorang gadis untuk duduk di sampingnya, tangan Sandro berhenti di pundak gadis itu dan terlihat mengusap pundak itu.
Penasaran dengan sesuatu, Audrey tidak langsung mendekati meja mereka tetapi mengambil arah berputar untuk melihat siapa gadis itu, mulut dan matanya membulat karena menemukan sikap Sandro yang lain, sedang memperbaiki geraian rambut gadis itu. Secepatnya tangannya mengambil foto, dia sangat ahli mengabadikan sesuatu dengan gawainya, dan secepatnya pun dia mengirimkan foto mesra itu pada temannya, Emma Lynne. Tentu dalam angle foto yang tidak menyertakan suaminya di sana.
"Ini kesempatanku membalasmu, Tuan Muda sombong, aku sudah lama menyimpan sakit hatiku karena sikapmu padaku... Rasakan nanti bagaimana reaksi Emma..."
.
.
Hi.... Mana dukungannya untukku 😁😁😁
.