
“Kamu baru mencarinya setelah delapan tahun Gi?”
Egi terdiam di ujung telponnya. Dia sedang berbicara melalui sebuah aplikasi pertemanan dengan teman sekelasnya dahulu, si ketua kelas waktu itu yang bernama Iyan.
“Aku sepertinya pernah melihatnya di Aubrey Park, kamu tahu tempat itu Gi?”
“Iya… itu milik Sandriana…”
“Lalu kenapa kamu sekarang bertanya padaku? Pergi ke tempat itu dan bertemu langsung dengannya.”
“Aku… aku ingin tahu, apa setelah dia pindah sekolah kalian pernah bertemu dengannya?”
“Tidak, dia seperti hilang ditelan macan. Apa kamu tidak berani bertemu dengannya secara langsung sekarang?”
“Aku sudah bertemu dengannya. Aku, aku hanya ingin memastikan sesuatu.”
“Haha, aku tahu… mendengar kamu pindah ke kota B aku tahu kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu lakukan pada Sandriana. Kamu ingin tahu anakmu ya?”
“Hahh?? Eh… iya… aku ingin memastikan itu.”
“Sayang sekali, aku tidak tahu tentang anakmu apa ada atau tidak dipertahankan oleh Sandriana, haha… tanyakan langsung Reginald, cukup waktu itu kamu menjadi pengecut…”
“Dia menolak memberitahuku tentang anak itu…”
“Ohh… maksudmu anak itu ada tapi Dria melarangmu menemuinya? Itu wajar jika dia melarangmu. Hahaha akhirnya kamu menyesal Gi… sayang sekali waktu itu aku kalah cepat darimu, kalau aku gadis secantik Sandriana tidak akan kulepaskan.”
“Baik, terima kasih… aku tutup Yan…”
“Hei… kamu marah?”
“Tidak, untuk apa aku marah padamu?”
“Kukira kamu marah, Eh iya… kamu bisa mencari tahu tentang anakmu ada atau tidak pada Yuni, dia tinggal satu kompleks dengan Sandriana.”
“Yuni yang mana?”
“Yunita Ekasaputra, gadis yang mengejarmu dahulu…”
“Yuni yang itu? Yang bertubuh tinggi menjulang?”
”Hahaha… ternyata kamu mengingat penggemar nomor satumu. Eh, begini saja… aku invite kamu di grup wa angkatan dan kamu cari di grup nomor wa si Yunimu itu… messenger padaku nomor hpmu..”
“Baik. Terima kasih, Yan…”
.
☘️
.
Di sini Egi sekarang, di depan sebuah rumah berhalaman luas dengan banyak tanaman. Yuni tidak bisa memberikan informasi yang memuaskan, menurut Yuni dia tidak pernah bertemu Sandriana walaupun tinggal di kompleks yang sama. Dia hanya mendengar Sandriana sudah melahirkan, itu saja.
Penelusurannya akhirnya membawanya berhenti di depan rumah Sandriana, memperhatikan rumah itu dari dalam mobilnya. Kenangan masa lalu melintas sempurna di ingatannya, tak ada yang terlewatkan karena memang tidak sanggup dia lupakan. Cintanya untuk gadis itu adalah cinta yang begitu melekat. Orang berkata bahwa cinta pertama bukanlah cinta sebenarnya dan pria akan mudah melupakan itu, tapi Egi mungkin pengecualian, dia tidak pernah melupakan cintanya untuk Dria.
Sekelas di kelas satu SMA, awal berinteraksi ketika Mem Linda guru bahasa Inggris memberikan tugas membuat conversation berpasangan dan secara acak mereka berdua dipasangkan. Egi terpukau karena Dria dengan cepat bisa membuat materi conversation untuk mereka berdua sesuai tema yang diberikan Mem Linda, dan Dria mengajarkannya cara mengucapkan kalimat-kalimat itu. Egi yang pada dasarnya tidak terlalu suka pelajaran bahasa Inggris menjadi terdorong untuk lebih giat belajar sejak momen itu.
Beberapa kesempatan berikut Egi merasakan keramahan Dria padanya lalu Egi yang selalu menyendiri seperti punya seseorang yang peduli mulai merasakan ketertarikannya terlebih karena Sandriana mempunyai wajah yang cantik. Akhirnya Egi memberanikan diri mendekati Dria bahkan menembak Dria sehingga mereka jadi pasangan.
Dua remaja yang saling mengisi sepi dan semakin sering jalan berdua, Egi kemudian sering mengantar Dria pulang dengan motornya, melewatkan waktu di rumah Dria yang sepi dan akhirnya membuat Egi tidak bisa jauh dari Dria begitu juga sebaliknya, kedekatan yang menjerumuskan mereka pada hal yang sebenarnya belum layak mereka lakukan.
Ketika takdir memisahkan, Egi tetap membawa cintanya meskipun tak punya keberanian untuk mempertahankan wanita yang dicintainya itu tetap dalam jangkauannya.
Sekarang, Egi tahu jalan untuk meraih cinta kembali ke pelukan tak mungkin lagi, tapi ada buah dari cinta tak dewasa mereka di masa itu, seorang anak. Dria tidak mau memberitahu apapun tentang anak itu dan Egi justru semakin terdorong untuk mencari tahu sendiri. Hanya ada satu kesimpulan sementara bahwa anak itu tidak ada bersama Dria sekarang. Seorang anak yang pernah dilihatnya bersama Dria mungkin adalah anak mereka, tapi ada di mana?
Rasa penasaran membuat Egi datang ke rumah Dria yang lama, ingin menelusuri dari tempat ini saja. Walau sebenarnya dia pesimis, tapi dia tidak bisa menemukan cara. Hari ini, sengaja dia ijin dari kantornya untuk meneruskan pencahariannya tentang keberadaan anaknya.
Egi turun dari mobilnya ketika melihat seorang wanita seumuran mamanya keluar dari rumah lama Dria sambil membawa sebuah tabung gas warna hijau.
“Permisi bu… boleh saya menanyakan sesuatu?"
“Iya?”
“Saya sedang mencari seseorang, dulu dia tinggal di rumah ibu ini…”
“Siapa?”
“Namanya Sandriana bu… apa ibu kenal? Dia gadis berumur dua puluh lima tahun.”
“Oh, iya… saya kenal, anak saya bekerja pada ayahnya, kami hanya menumpang tinggal di rumah ini sambil menjaga dan merawat rumah dan tanaman-tanaman di sini. Mereka sudah pindah nak… mereka tinggal di tempat yang sedang hits sekarang, apa namanya, saya lupa nama tempatnya… pokoknya tempat pesiar, nak…”
“Oh begitu… sudah lama ibu mengenal mereka?”
“Sebenarnya saya tidak terlalu kenal… tapi anak saya bekerja pada mereka .”
“Oh begitu… jadi ibu tidak terlalu tahu tentang mereka ya? Baik bu, terima kasih, saya pamit…”
Ibu itu segera pergi meninggalkan Egi. Egi tidak bisa melanjutkan mengorek informasi karena ibu itu tentu tidak tahu masa lalu Dria. Egi ingin mencari seseorang yang mengetahui Dria tepatnya yang mengetahui peristiwa yang terjadi pada Dria di masa itu.
Egi berjalan tanpa tujuan sebenarnya, hanya mencari kemungkinan ada yang bisa diajak berbicara, seseorang yang kemungkinan bisa memberikan penjelasan yang dia butuhkan.
Egi melewati sebuah warung dan ada ibu tadi di sana. Egi mengangguk sopan sambil memperhatikan di dalam warung, seorang ibu yang lebih tua usianya dari ibu yang pertama sedang memandang penuh rasa ingin tahu. Kedua ibu terlibat percakapan menggunakan bahasa setempat yang Egi kurang paham. Tak berapa lama ibu yang pertama memanggil Egi…
Egi segera berbalik arah dan mendekati warung itu dengan harapan menemukan sesuatu.
“Iya… ibu ini istrinya pak RT di sini, ibu ini mengenal Sandriana dan ayahnya…”
“Iya, saya mengenal mereka, mereka membeli rumah itu dari saya. Adek siapa?”
“Saya teman sekolah Sandriana, dahulu waktu SMA kami sekelas.”
“Oh begitu, mereka belum lama pindah.”
“Oh begitu…”
Egi bingung harus bertanya dengan cara apa mengenai anak itu.
“Adek teman SMAnya ya… berarti kenal semua teman Sandriana?”
“Cukup kenal bu…”
“Berarti adek tahu teman dekatnya Sandriana waktu itu?”
“Ehh… iiya bu, saya… saya tahu…”
“Iya kasihan, jadi Sandriana itu kebablasan hamil, tapi teman kalian tidak mau bertanggung jawab.”
Egi menunggu dengan debaran di dada, hampir tidak sabar menunggu ibu pemilik warung itu selesai bercerita.
“Tapi kasihan, anaknya lahir cacat, jantungnya bocor katanya. Sejak dilahirkan tidak pernah di bawa pulang karena berat badannya kurang katanya.”
“Sekarang anaknya di mana bu?”
Egi tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Anaknya meninggal dek… “
“Me… meninggal bu? Anak itu meninggal?”
“Iya…”
Egi tidak tahu perasaannya seperti apa sekarang ini. Dia tidak pernah melihat anak itu, bahkan waktu itu dia tidak pernah berpikir tentang adanya anak mereka karena dia beranggapan Dria tidak akan mempertahankannya sebagaimana yang dicetuskan sang mama waktu itu.
“Katanya anaknya laki-laki.”
“Eh… bu… boleh saya tahu dikuburkan di mana?”
“Di pekuburan XX… “
“Terima kasih bu…”
Tapi Egi hanya berdiri bengong di depan mereka dengan pikiran yang berkecamuk.
Pantas saja Dria menangis sedih saat dia menyinggung soal anak itu, dia bisa menggambarkan bagaimana keadaan Dria pada waktu itu. Jika dia mempertahankan janinnya, jika Dria mempertahankan buah cinta tak dewasa mereka, berarti dia menginginkan anak itu dan itu juga mengapa Dria berkata bahwa Dria menunggu Egi untuk datang.
Di sini dia merasa dadanya sakit, betapa berdosanya dia terhadap Dria dan dia merasa memang tak pantas mendapatkan maaf dari Dria. Seandainya dia mengikuti dorongan hatinya waktu itu untuk pulang dengan diam-diam dan bersama-sama Dria, mungkin mereka akan bersama sekarang dan kemungkinan anak itu akan bernasib lebih baik.
“Tapi, saya merasa ada yang sedikit aneh. Soalnya ponakan saya kasusnya sama, setelah melahirkan anaknya dinyatakan jantungnya bocor dengan berat badan tidak cukup, dua hari kemudian dinyatakan meninggal. Cucu teman saya juga seperti itu."
“Maksud bu RT apa?”
“Ada sesuatu yang mencurigakan, tapi sudahlah aku takut bergosip…”
Egi meninggalkan warung itu menuju mobilnya dengan langkah gontai tanpa merespon lagi pembicaraan dua ibu itu, dengan niat mencari pekuburan yang dimaksud. Entah kenapa dia ingin menuntaskan pencahariannya hari ini. Jika memang berakhir di pekuburan setidaknya dia tahu di mana anak yang adalah darah dagingnya berada.
"Bu... Jangan-jangan itu teman dekatnya si Sandriana ya? Kenapa sampai dia harus menanyakan di mana anak itu dikuburkan?"
Bu RT menatap punggung lelaki tinggi yang sekarang sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Mungkin saja, bu... Dia terlihat masih muda dan mungkin seumur dengan Sandriana."
.
☘️
.
Lama Egi mencari di pekuburan XX, dengan memberi uang sekedarnya pada bapak penjaga kuburan untuk membantunya menemukan kuburan bayi dengan perkiraan waktu kapan Dria melahirkan. Mamanya pernah menyampaikan perkiraan anaknya lahir kapan, itu saja patokan Egi.
Lalu, nisan itu ditemukan Egi, dan dia tidak meragukan lagi bahwa di bawah nisan itu terkubur anaknya delapan tahun yang lalu, nisan tanpa nama hanya ada kalimat yang tertulis di nisan itu berbunyi: ‘Di sini dimakamkan anak lelaki dari Sandriana Aubrey Rahmadi’ dengan waktu lahir dan waktu kematian hanya berjarak dua hari. Jadi anaknya pernah hidup selama dua hari di dunia ini. Memang tidak tertera nama Reginald di sana tapi dia pernah punya anak lelaki, itu fakta yang sekarang membuat dadanya sesak, terlebih karena dia tidak pernah melihat wujudnya dan seperti apa rupa anaknya.
Mata Egi memanas, dan lelaki itu berjongkok di depan nisan itu dengan sedih, kesedihan yang sangat terlambat, bertemu anaknya yang telah menjadi debu di dalam sana.
.
Halo, terima kasih masih membaca ceritaku...
.
Part ini 'ter-je-gal' sistem 🤪 seharusnya terbit kemarin. Ada beberapa episode cerita ini yang bernasib sama.
Sebenarnya menurut pandanganku itu utk alur cerita ini ke depan, tapi aku harus tunduk pd kebijakan NT, maka bgn itu kuhapus, dan kuedit seringan mungkin.
Semoga aja lolos review, dan bisa lanjut lagi, walau kadang mood lsng turun, apalagi biasanya jika tidak terbit sehari animo pembaca berkurang, padahal pembaca yg aktif merespon memberi like hanya di kisaran 10 org, yang aktif komen hanya dua atau tiga orang 😢 😵💫🥴
.