
Cinta ini begitu bernilai untuk Sandriana, bukan hanya karena cinta ini adalah kakaknya yang sudah ada sejak dia mengenal kehidupan, tetapi karena tadinya dia merasa tidak berharga dan tidak layak, tetapi kemudian dia merasakan bahwa sekarang dirinya begitu berarti untuk kakaknya. Luapan cinta sang kakak dalam tindakan sering kali tidak dapat dibendungnya… pagi, siang, sore, malam dipenuhi sapaan cinta yang melambungkan rasa.
Pagi hari, Dria rutin dibangunkan dengan sebuah panggilan video…
.
“Pagi, Sunshine…”
Sandro bersiap untuk kegiatan workoutnya, mentari belum menampakkan diri di persada tapi dua insan yang baru saja menapaki fase kehidupan penuh romantisme sudah saling menyapa.
“Pagi kakak… ahh kakak jangan mengikuti orang lain… sunshine apa? Panggil Dee saja kakak…”
Dria meletakkan gawainya berdiri bersandar pada lampu tidur lalu mulai merapihkan tempat tidurnya.
“🎶 You are my sunshine, my only sushine…”
Sandro malahan melantunkan sebuah lagu.
“Astaga… itu lagu pengantar tidur, lagu mami untuk Dee saat Dee kecil… apa tidak punya lagu lain? Jadul sekali...”
“🎶 You make me happy when skies are gray…”
Si Tuan Muda masih bersikukuh meneruskan lagunya. Dia sedang berjalan menuju ruang gymnya di lantai bawah.
“Kakak… coba kakak cari lirik lengkapnya… pasti kakak tidak mau menyanyikan lagu ini lagi untuk Dee…”
Dria yang sedang melipat selimut mendekatkan wajahnya ke gawainya.
“Lirik selanjutnya seperti apa?”
“Cari tahu sendiri…”
“Ahh… Timo carikan lirik lengkap lagu You are My Sunshine…”
Perintah pertama untuk Timo di subuh hari, Timo yang sedang menunggu di depan pintu ruangan gym itu sedikit mengernyit, tentu lagu itu bukan hal yang berhubungan dengan materi meeting hari ini kan? Melihat gawai yang hidup dan menghadap wajah si Tuan Muda Timo paham perintah receh beraroma rasa cinta yang sangat kuat ini berasal dari kehendak Tuan Muda yang ingin sekali menjadi pria romantis di mata Non Dria.
“Astaga kakak… hal seperti itu saja harus pak Timo yang lakukan…”
“Kakak tidak ingin panggilan ini terganggu kalau kakak mencari sendiri…”
“Alasan saja… jangan-jangan kakak tidak bisa browsing sesuatu, tidak bisa menggunakan internet…”
“Kamu meremehkan kakak? Kakak CEO perusahan beromzet jutaan dolar…”
Ada apa dengan si kakak tercinta? Tuan Muda seharusnya jauh lebih dewasa mengingat umurnya, tapi setiap kali menjadi begitu terpengaruh dengan perkataan gadis manis dengan banyak rasa ini… rasa adik menggemaskan, rasa kekasih yang sangat dirindukan, dan rasa ingin menikahi secepatnya.
“Ahh… pak CEO pagi-pagi sudah sesensitif ini… itu hanya kalimat kiasan saja kakak, bukan arti sebenarnya, itu karena kakak jarang melakukan sesuatu sendiri… itu yang Dee mau koreksi dari kakak sejak lama… rasanya sudah pernah Dee katakan waktu itu… jangan semuanya dilakukan pak Timo dan Age ya?”
Dria memutuskan memegang hp dan wajahnya muncul close up memenuhi layar, sebuah senyum disegerakan agar pak CEO tidak terganggu moodnya, Sandro senyum melihat itu. Sandro belum memulai kegiatannya, masih ingin menatap wajah cantik adik sekaligus kekasihnya.
Dria tahu kakaknya memang dikondisikan seperti itu, sejak kecil semua hal sudah ada yang menyiapkan, bahkan saat kuliah di negara J ada beberapa pelayan yang mengikuti untuk meladeni si Tuan Muda pada waktu itu, Dria juga merasakan hal yang sama di tengah keluarga Darwis. Tapi di era sekarang, rasanya melakukan hal pribadi sendiri itu cara hidup yang lebih wajar dan normal.
“Iya Dee, ini hp kakak sudah kakak pegang sendiri kan sekarang, bukan Timo yang menjawab lagi…”
“Hahaha…”
Dria hanya tertawa menanggapi kalimat kakaknya seolah sebuah pencapaian yang gemilang dalam kehidupannya. Ingin Dria meneruskan, anak kecil saja tidak melepaskan gawainya… tapi sudahlah, pria dewasa ini seperti menjadi anak kecil di depannya. Dria meletakkan lagi gawainya.
"Kenapa hpnya diletakkan lagi, kakak ingin melihatmu seperti tadi, Dee..."
"Sebentar, Dee rapihkan tempat tidur lebih dahulu... Dee juga mau jalan pagi, di sini tidak seperti di rumah besar begitu banyak yang bisa dikerjakan di pagi hari, jadi mau jalan kaki saja untuk olahraga, ahh Dee mau lihat rumah kita..."
"Dee..."
Si Tuan Muda yang rindunya seperti air yang meluap di bendungan tak rela kehilangan wajah Dria.
"Iya... sabar, sedikit lagi..."
"Ada Tety, dia yang harus membereskan kamarmu, kenapa melakukannya sendiri?"
"Dee punya tangan sendiri, berbeda dengan seseorang..."
"Jangan menyindir..."
"Hahaha..."
"Tuan..."
Timo menyodorkan gawainya. Sandro melihat dan membaca apa yang ada di layar itu, lirik panjang lagu You are My Sunshine beserta terjemahan setiap barisnya, agak lama lalu menggumankan dua baris lirik yang dia pikir dimaksudkan Dria...
"But now you've left me and you love another
And you have shattered all my dreams..."
"Nah... Kakak mau seperti itu?"
Dria menanggapi gumanan Sandro, wajah Dria sudah muncul full memenuhi layar gawainya lagi.
"Tidak... Tapi tidak usah nyanyikan bagian itu saja... kakak menyukai lagunya..."
"Kakak? Dee pikir selera kakak keren, sebelum ini nada dering untuk kak Emma lagu As Long As You Love Me, untuk panggilanku You are My Universe..."
"Kakak tidak menyukai lagu itu..."
"Ahh??? Jadi itu pilihan pak Timo ya?"
"Iya..."
"Ahh... begitu ternyata... padahal Dee sempat berpikir, kakakku romantis sekali, Dee kira itu penggambaran kakak tentang siapa Dee untuk kakak... ternyata pak Timo yang melihat Dee seperti itu... sudah ya... Dee tutup saja..."
Dria menutup panggilan, bukan karena kesal hanya mengesankan seperti itu untuk mengerjai kakaknya, itu pun karena Dria menemukan kesempatan untuk memutus panggilan karena dia hendak ke toilet.
"Timo... carikan lirik lagu You are My Universe."
Timo yang sudah selesai dengan bagian pemanasan datang mendekat dan meraih gawainya yang diletak Tuannya di sebuah meja yang ada di situ. Tuannya mungkin tidak akan melakukan latihannya lagi, Tuannya sedang berpindah jalur ke dunia sebelah yang isinya hati semua. Padahal lagu itu setiap hari sering berbunyi beberapa kali sekarang jika Non Dria melakukan panggilan, tapi pikiran tidak tertuju pada lagunya jadi lirik lagu yang didengar tidak pernah singgah di otak Tuan Muda. Timo menyodorkan gawainya, Sandro membaca liriknya...
"Kenapa kamu memilihkan lagu itu Timo untuk nada panggil dari Dria?"
Si Tuan Muda sedikit terusik dengan perkataan Dria tentang Timo, apa Timo ikut menyukai Dria juga?
"Itu lagu kesayangan Non Dria, Tuan... Apa Tuan tidak tahu?"
Timo menjawab dengan serius, dia tahu pikiran Tuan Muda, si Nona Muda berhasil memprovokasi Tuan Muda dengan kalimatnya tadi. Dia juga melihat ada kecemburuan samar di mata Tuannya. Timo ingin tertawa, Tuan Muda saat jatuh cinta akut seperti ini jadi sedikit kehilangan keribadiannya yang semula tangguh dan tidak gampang terpengaruh. Non Dria benar-benar segalanya, benar-benar keseluruhan dunia si Tuan Muda sekarang.
.
"Ahh?"
.