Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 12. Tidak Berkurang atau Berubah



Beberapa waktu ini si Tuan Muda tampaknya telah mengalami evolusi dalam kesadarannya tentang Dria, di benak Sandro Dria mendapat tempat terbaik sekarang dalam urutan seseorang yang paling dipedulikan.


Tapi ini tentu tidak terjadi begitu saja, sesuatu tentang Dria sekarang secara natural tersistem dengan baik dalam konsep realitas si tuan Muda, ini adalah karena perasaan baik ini sesungguhnya telah sejak lama ada di hatinya, tidak berkurang dan tidak berubah, hanya mengendap oleh karena waktu dan oleh karena beberapa hal yang telah terjadi dalam kehidupan keduanya yang terpisah jarak di rentang sepuluh tahun ini.


“Timo… panggil Dria ke sini…”


Suara si Tuan Muda tiba-tiba memecah kesunyian di ruangan kedap suara ini.


“Baik Tuan.”


Timo segera keluar ruangan untuk menjalankan perintah. Padahal si Tuan Muda bisa memanggil langsung lewat alat berkomunikasi yang tersedia di mejanya, tapi lebih cepat mulutnya mengeluarkan sebuah perintah dari pada melakukan sendiri.


Sandro memberi perintah setelah melihat Delfris tanpa berdiri dari kursinya mendorong kursi ergonomisnya mendekati Dria kemudian nampak sedang menjelaskan sesuatu sambil keduanya memperhatikan monitor berwarna putih di meja Dria. Ada rasa tak nyaman mencuat karena pemandangan itu, posisi mereka terlalu dekat, seperti sebuah rasa kepemilikan yang memunculkan statusnya bagi Dria, dirinya adalah seorang kakak bagi Dria. Emosinya mendengungkan sebuah bisikan di hati bahwa Dria tidak boleh sedekat itu dengan pria lain, terutama Delfris.


“Iya kak? Kak Sandro butuh bantuan?”


Dria muncul dan berdiri di depan kak Sandronya tak berapa lama setelah Timo keluar memanggilnya.


“Ah?”


Tak siap menjawab karena tidak membutuhkan Dria sebenarnya, Sandro menatap Dria tapi otak sang CEO seperti masuk mode bug, bagian otak yaitu lobus frontal yang ada di dahinya yang mengontrol ucapan dan proses penalaran sejenak mal-fungsi. Semua tugas sekretarisnya telah tertata dan tersistem dengan baik, dia sangat jarang meminta squad sekretarisnya melakukan sesuatu karena pasti telah diatur dengan baik oleh Timothy, lagi pula Timo sangat siaga bila ada perubahan atau ada kebutuhan mendadak sang CEO tampan itu, dia terbiasa melakukan semua hal untuk si Tuan Muda.


Jadi, untuk apa di memanggil Dria? Beberapa detik Sandro hanya bertatapan dengan Dria tanpa mengucapkan sesuatu.


“Kak? Kak Sandro butuh bantuan?”


Pengulangan Dria membuat jaringan otak Sandro kembali terkoneksi dengan realita, maka fungsi intelektualnya kembali normal dan segera membuat sebuah keputusan…


“Nanti ada meeting di Fairmont, kamu ikut kakak sekaligus makan siang..."


“Biasanya kak Barry yang ikut… lagi pula pekerjaan Dee belum selesai…”


"Meetingnya diundur Tuan, pihak MedcoEnergy telah mengkonfirmasi di jam dua, itu sesudah makan siang… saya sudah memberitahu Tuan tentang ini sebelumnya dan tidak ada makan siang bersama mereka..."


Baik Dria maupun Timo memberi argumen menyanggah tentang apa yang diinginkan si Tuan Muda berhubungan dengan rencana mendadaknya.


"Saya tahu Timotius, tidak usah dijelaskan lagi... Saya akan makan siang dengan Dria."


"Oh? Baik... baik Tuan."


Semakin jelas untuk Timo bahwa si Tuan Muda semakin suka melibatkan Dria dalam aktivitasnya. Timothy segera melakukan reservasi di tempat yang sama dengan tempat meeting untuk makan siang Tuannya dan Non Dria, ada waktu tertentu dia harus melakukan reservasi mendekati jam makan siang, karena Tuan Muda ini suka tidak terduga, untung saja Tuan Muda yang dia layani ini punya unlimited akses dan layanan VVIP dalam banyak fasilitas.


Sementara itu Dria masih berdiri di hadapan Sandro.


“Kak… Dee makan siang di sini saja…”


“Ikut kakak, Dee… kamu jangan hanya terkurung di sini terus, mulai sekarang kakak akan membawamu setiap kali ada meeting di luar…”


“Tapi, itu bukan tugas Dee, itu tugas kak Barry…”


“Mulai sekarang jadi tugas kamu… tapi Barry akan tetap ikut…”


“Ah??? Jika seperti itu… untuk apa Dee ikut kak Sandro?”


“Ah… itu, mmh... banyak hal yang bisa kamu pelajari saat ikut dalam meeting seperti ini.”


“Lalu… pekerjaan Dee di sini bagaimana?”


“Biarkan Timo yang mengaturnya…”


Dria menatap Timo dan segera mendapatkan sebuah anggukan dari lelaki yang berusia sama dengan si Tuan Muda.


"Baiklah... Berangkat sekarang, kak?”


“Nanti, Dee… ini baru jam sepuluh…”


“Ah… iya… hehehe… berarti Dee masih punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan Dee lebih dahulu…”


Dria berbalik menuju mejanya sendiri di luar ruangan ini.


“Eh… Deedee… kakak memerlukanmu di sini!”


Suara seorang CEO segera kental bernada wibawa, tidak mengijinkan Dria untuk beranjak dari ruangan itu. Dria berhenti di tempatnya lalu kembali netranya tepat mengarah di wajah si Tuan Muda.


“Ah?? Bukannya ada pak Timo?”


Sandro tidak punya jawaban kali ini karena tidak menduga sejak tadi Dria akan seberani dan secerewet ini menyanggahnya. Tatapan serius Sandro padanya serta suara deheman Timo membuat Dria akhirnya tak menuntut jawaban lagi kali ini. Pandangannya berganti ke arah pak Timo.


“Non Dria di sini silahkan membantu Tuan Muda mengecek beberapa dokumen di meja Tuan...."


Timo segera mengantisipasi, dia tahu si Tuan Muda sedang kelabakan dengan arus komunikasi yang benar-benar baru dengan seorang gadis. Dengan Emma Timo tahu si Tuan Muda sangat tahu menjawab dan juga tahu untuk membuat Emma diam.


Si Tuan Muda menarik napas pelan, mengakui Timo cukup mengerti situasi dan menyelamatkan dirinya yang terkena serangan bingung tentang tindakan dan reaksinya sendiri terhadap Dria, kenapa dia tak rela Dria pergi dari ruangannya.


Dan Dria mengernyitkan dahi, semua dokumen penting yang masuk ke meja CEO pasti sudah siap sempurna tak mungkin ada kesalahan, Hope dan Gio adalah orang-orang sangat teliti sampai hal yang terkecil, bahkan kesalahan remeh hanya terletak pada spasi antar kalimat yang lebih, pasti sudah dikoreksi.


Gawai di saku celananya mengeluarkan bunyi notifikasi pesan masuk. Dria mengambil gawainya, sebuah chat dari pak Timo.


Tuan ingin Non Dria di dalam sini menemani Tuan...


Kenapa pak Timo?


Dria ingin melanjutkan pertanyaannya tapi sekarang pak Timo telah memasukkan gawainya sendiri ke saku celana hitamnya.


Dria hanya bisa memandang tak mengerti si kakak yang sekarang duduk membeku di kursinya, serius menatap sebuah dokumen, akhirnya Dria mendekati meja itu dan hanya mengikuti dengan ekor matanya sosok pak Timo yang dengan cepat telah keluar ruangan.


“Yang mana yang perlu Dee periksa, kak?”


Telunjuknya terarah ke beberapa dokumen yang tergeletak di meja kaca milik sang kakak. Secara acak Sandro mengambil satu dari antaranya dan menyerahkannya pada Dria.


Sekarang si Tuan Muda berusaha menentramkan diri yang telah diserbu berbagai macam rasa yang tak sanggup dia identifikasi apa itu dan mengapa seperti itu. Tak mengerti apa yang sementara terjadi di otak, di hati, dan di sekujur tubuhnya... Rasa nyaman dan tak nyaman muncul secara bersamaan, berganti-ganti dan menambah kecepatan denyut nadinya. Senang tak terdefiinisikan Dria ada di dekatnya, sekaligus membuat dirinya tak bisa mengontrol reaksi tubuh beberapa waktu terakhir.


"Aku rasa aku perlu ke dokter, apa yang terjadi dengan tubuhku?"


Si Tuan Muda bermonolog dalam hati saat menyadari tangannya yang tiba-tiba berkeringat dingin dan dadanya tiba-tiba berdenyut lebih cepat.


Sementara, Dria duduk di sebuah kursi yang menghadap sang kakak, mencoba membaca dokumen yang ada di tangannya sambil mencoba menalar untuk menemukan sesuatu yang kira-kira masih kurang, tapi entah apa yang dapat dia temukan dari dokumen ini.


Dan sebenarnya yang ada dalam pikirannya adalah soal tindak-tanduk sang kakak yang sungguh-sungguh di luar dugaan, seorang pria yang secara ekstrim sikapnya segera mencair menjadi seperti air sungai yang mengalir dari hulu dan muaranya adalah Dria... di rumah, di kantor belakangan Sandro menjadi sosok yang akan selalu mencari Dria.


Seperti tadi malam, Dria memilih makan malam bersama dengan bu Lia dan para pelayan di belakang, karena memang hanya di pagi hari saja mereka seperti wajib untuk duduk dan sarapan bersama. Di malam hari Tuan Besar Harlandy akan makan lebih cepat, Dria dan Sandro makan sendiri-sendiri, itu rutinitas selama beberapa bulan ini. Tapi tadi malam, si Tuan Muda ikut makan di dapur bersama Dria, menyebabkan pelayan di dapur memandang heran, bu Lia kalang kabut menyiapkan meja, karena ini tidak biasa.


“Kak… Dee bingung… ini apanya yang harus Dee periksa?”


Dria mengangkat dokumen di tangannya di hadapan wajah Sandro.


“Berikan…”


Sandro meminta dokumen itu lalu meletakkan di tempat semula di atas meja. Sandro berdiri lalu mengenakan jasnya…


“Kita pergi sekarang saja…”


Dria mengangkat alisnya.


“Kak? Makan siangnya masih dua jam lagi, meetingnya masih empat jam lagi, Dee dan kak Sandro masih punya banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan kita… kenapa berangkat sekarang? Sayang waktunya jika kita sia-siakan…”


“Ayo Dee… tidak usah protes, ikut saja…”


Ada yang aneh dengan sikap seorang CEO yang sebelumnya sangat menghargai waktu kerjanya, entah kenapa tiba-tiba muncul begitu saja keinginan untuk melakukan sesuatu bersama adiknya ini di luar kantor ini, terlepas dari rutinitas kantor.


“Ayo…”


Si Tuan Muda dengan tersenyum kecil meraih tangan Dria yang akhirnya terpaksa bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah sang kakak yang sedang beranjak ke luar ruangan kerja kakaknya itu.


Dria menjadi risih sebab Sandro tidak melepaskan genggaman tangannya dan itu mulai diperhatikan para pria di ruangan ini.


"Kita mau ke mana kak?"


Dengan lembut Dria mencoba menarik tangannya, dengan netranya dia menangkap mimik heran dari para pria di sini.


"Ke suatu tempat..."


Dalam hati Sandro masih sedang memikirkan akan ke mana, dia tidak punya banyak referensi tempat untuk tujuan dadakan seperti ini, dia terbiasa keluar dengan tujuan yang jelas yang telah diatur untuknya karena kebutuhan pekerjaan.


"Tuan... apa ada sesuatu yang terjadi?"


Timo mengejar si Tuan Muda yang sedang melangkah ke arah lift tanpa melepaskan tangan Dria.


"Kita bertemu di tempat meeting, siapkan mobil saya..."


"Baik Tuan..."


Timo menyimpan senyum karena si Yuan Muda menatap dengan sorot tajam merasa terganggu, akhirnya Tmo menghentikan langkah dan membiarkan Tuan Muda melakukan hal yang dia inginkan dia tahu dia tidak dibutuhkan saat ini.


"Mungkinkah Tuan Muda sudah jatuh cinta pada Non Dria?"


Pria yang punya wajah lumayan ganteng juga, berbalik ke mejanya sambil mengukir senyum. Meskipun Tuan Muda tidak ada bukan berarti dia bebas untuk tidak bekerja.


"Tuan Muda mau ke mana? Kenapa pak Timo tidak ikut?"


Delfris bertanya tanpa menyimpan rasa herannya. Melihat Dria pergi dengan si Tuan Muda membuat hati sedikit kecewa, dia baru saja berniat mengajak Dria makan siang nanti.


"Kita jadi meeting kan pak?"


Barry ikut melontarkan sebuah pertanyaan.


Timo tak menjawab, baru sekarang memang si Tuan Muda keluar kantor tanpa didampingi. Jangankan di kantor, sejak subuh saat Sandro membuka mata hingga malam saat Sandro berbaring untuk beristirahat Timo menjadi seperti bayangan untuk Tuannya. Timo mulai berangan, jika Tuan Muda semakin dekat dengan Non Dria mungkin waktu untuk dirinya sendiri tanpa Tuan Muda akan semakin panjang.


Satu-satunya orang di kantor ini yang mengetahui tentang perjodohan si Tuan Muda dengan Dria, dan satu-satunya orang yang mengetahui bahwa ada sesuatu di hati si Tuan Muda sekarang, sesuatu yang menjadi penyebab si Tuan Muda bertingkah tidak biasa. Mungkin ke depan Tuan akan lebih banyak meninggalkan kantor dengan cara seperti ini demi untuk berdua saja dengan Dria, itu sudah dapat diprediksi oleh sekretaris pribadi sang Tuan Muda Sandro.dia pernah mengalami seperti ini dan dia belum lupa rasanya seperti apa saat jatuh cinta...


.


🌼🌼🌼


.


Hepi Christmas utk yg merayakan...


Semoga menikmati ceritaku yg terlalu biasa ini... 🫣


.