Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 24. Mengubah Perasaan Seorang Adik



Miro menghubungi Sandro dengan gawainya, panggilan kedua baru Sandro menjawab.


.


“Aku sedang menuju kantormu San, sudah dekat…”


“Kamu akan menggangguku Miro, aku sedang sibuk…”


“Sebentar lagi waktu istirahat, Tuan Muda… aku sudah mengubungi Timo untuk mencari tahu jadwalmu hari ini… jadi aku tahu kamu sedikit bebas sesudah makan siang…”


“Baiklah, kali ini kamu mengantisipasi dengan baik…”


“Iya… kamu tahu aku tidak akan lancang mencarimu jika kamu sibuk…”


.


Sandro menutup panggilan, untuk apa berpanjang-panjang jika sebentar lagi mereka akan bertemu.


Saat Miro tiba di ruangan Sandro…


“Ada apa tiba-tiba ingin bertemu?”


Sandro tidak berbasa-basi begitu Miro duduk di sofa berwarna abu-abu milik Sandro.


“Ahh, kamu benar-benar selalu to the point… tapi seingatku kita tidak pernah merencanakan pertemuan kita, hampir selalu tiba-tiba kamu menelponku bertemu di suatu tempat, dan aku harus ada di sana, hahh… seperti itu Anda selama ini Tuan Muda…”


Sandro hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya. Kesadaran datang sekarang bahwa kadang dia bersikap tidak adil pada sahabatnya ini, memaksakan bertemu saat butuh teman bercerita tapi bila Miro membutuhkan dirinya kadang dia seenaknya menolak. Baru Tuan Muda menyadari betapa berharganya sahabatnya ini untuk dirinya.


“Lain kali aku tidak akan seperti itu, bila kamu sibuk atau tidak bisa bertemu beritahu aku saja…”


“Ahh serius San?”


“Iya… ”


Sandro berpindah dari kursi kebesarannya ke sebuah sofa tunggal, duduk sambil menyilangkan satu kakinya.


“Ini sesuatu yang luar biasa San… tapi sebenarnya ini maksudku datang bertemu, aku merasakan sesuatu sedang terjadi padamu…”


Sandro tersenyum kecil sambil memperbaiki duduknya. Dia juga coba melihat ke dalam dirinya apakah benar sesuatu sedang terjadi padanya? Ya… mungkin ada benarnya sebab entah mengapa hari-hari ini dia seperti selalu punya energi tambahan untuk melakukan sesuatu.


Memang Tuan Muda nampaknya mulai lebih aware dengan situasi dan orang-orang di sekitar, dia mulai lebih peduli dengan perasaan dan keadaan seseorang, dan ini yang dilihat Miro sahabatnya. Ya secara perlahan konsep berpikir si Tuan Muda mulai berubah.


“Apa?”


Sandro bertanya sedikit penasaran mengenai apa yang dilihat temannya padanya.


“Salah satunya… ekspresimu… denganku saja kamu jarang tersenyum apalagi dengan orang lain… tapi mmh… nampaknya ada sesuatu yang terjadi di hatimu… pancaran wajahmu lebih happy sekarang…”


“Apa seperti itu?”


“Iya Sandro… kupikir itu karena kamu telah terlepas dari sedih berkepanjang tentang kepergian mamimu… tapi minggu yang lalu saat Emma datang mencariku dan Audreey, kalimatnya membuat aku terusik…”


Sandro hanya mengangkat sedikit keningnya, otaknya telah meniadakan nama Emma di sana dan melarang dia untuk bereaksi berlebihan terhadap nama itu sekarang. Maka Sandro hanya bersikap mendengar saja.


“Dia bertanya kenapa baru sekarang kamu mengatakan tentang cinta, kenapa baru sekarang kamu menganggap cinta itu penting dalam hubungan kalian. Dan hal itu membuatku berpikir tentang sesuatu, San… kamu telah menemukan seseorang yang kemudian membuatmu menyadari tentang adanya perasaan cinta… seseorang yang membuatmu sadar bahwa dirimu tidak pernah cinta Emma…”


Walau tak ada sepatah katapun dari bibir Sandro, Miro tahu bahwa pernyataannya benar adanya, eskpresi Sandro seolah memberi persetujuan. Karena Sandro hanya menyimak dirinya, Miro bicara lagi…


“Mengenai Emma, aku ingin beritahu padamu, San… Emma masih ingin berusaha kembali padamu… dia coba membujukku untuk membantunya.”


“Tidak ada kata kembali Ro… aku menyesali pernah terikat dalam hubungan yang seperti itu dengannya, dan hanya untuk ini rasa bersalahku padanya membiarkan ikatan ini terlalu lama …”


“Aku tahu… kamu tidak pernah mengubah apa yang kamu putuskan… tapi aku hanya mengingatkan, aku mendengarnya mengatakan membencimu tetapi dia juga menunjukkan keinginan yang kuat untuk kembali padamu, entah maksudnya apa bertekad ingin memiliki dirimu lagi… ”


“Aku tidak khawatir tentang hal itu, Ro… dia tidak akan mendapatkan kesempatan apapun dariku… aku telah meminta legal officer untuk meninjau kembali perjanjian bisnis dengannya, aku tidak ingin dia mendapatkan peluang memasuki hidupku lagi…”


“Aku tahu kekuatanmu, San… aku hanya mengingatkan saja… apakah dia sedang berniat membalas sakit hatinya entah… yang pasti dia sedang mengincarmu…”


“Emma salah jika dia merencanakan hal yang tidak baik terhadapku. Sayang sekali jika dia menghabiskan banyak energi hanya untuk membalasku, itu sia-sia…”


“Tak ada yang sia-sia dan tak ada yang salah untuk orang yang punya dendam. Menurutku, ego seseorang ketika tersakiti membuat seseorang mampu melakukan sesuatu yang tak terduga bahkan di luar nalar… seseorang yang sedang marah sanggup melakukan apapun, dan dalam dirinya tidak akan ada pertimbangan akal sehat selagi dia mau mencapai tujuannya…”


“Kenapa kamu berbicara seolah-olah kamu tahu tentang sesuatu yang jahat yang sedang dirancang Emma untukku?”


“Aku melihat ekpresinya, itu mengerikan… dan tidak ada salahnya bersikap waspada San… wanita cantik bisa berubah menjadi malaikat pencabut nyawa… banyak peristiwa mengerikan di luar sana bermula dari sakit hati…”


“Ah sudahlah, jangan bahas Emma…”


“Baiklah, kita bahas yang lain. Jadi… siapa wanita itu? Itu yang membuatku penasaran, San… Kupikir Emma tidak pernah membuat dirimu sebaik sekarang…”


Sahabatnya pernah menyatakan beberapa waktu yang lalu jika cintanya bukan Emma, apakah dia masih akan menyimpan hal ini dari sahabatnya, ini bukan rahasia lagi karena Timo saja bisa mengetahuinya. Tapi Sandro ingin tahu sesuatu, apakah sahabatnya akan seperti Timo dapat membaca untuk siapa cintanya berlabuh? Maka Sandro tak menjawab Miro.


“Kita makan sekarang, Ro…”


Sandro berdiri, dia telah melihat makang siangnya telah selesai diatur. Ada Dria yang sedang bicara dengan Timo di luar ruangan, dan ada Delfris yang menunggu tidak jauh dari mereka. Nalurinya segera bicara, Sandro segera melangkah cepat keluar.


“Deedee… ayo makan, kakak lapar…”


“Non Dria minta ijin langsung saja Non… kebetulan Tuan Muda ada di sini…”


Pak Timo segera meninggalkan Dria yang mengerucutkan bibirnya, dia terlambat mengantisipasi situasi. Seharusnyanya dari tadi dia bergerak cepat pamit pada pak Timo sebelum si Tuan Muda melihatnya. Kadangkala dia kesal dengan dinding kaca yang menjadi pembatas ruangan maha berkuasa itu dengan ruangannya, karena kakaknya sekarang terasa begitu protektif padanya, seolah selalu dapat membaca gerakan kecilnya yang hendak melakukan sesuatu sendirian.


“Mau ke mana Dee? Ayo masuk… kita makan sekarang…”


Tangan yang satu ada di pinggang yang satu melambai padanya…


“Dee mau makan dengan mereka, kak Sandro punya teman untuk makan, ada kak Miro… Dee makan di kantin ya? Boleh kak?”


“Tidak boleh… kamu makan siang di sini…”


Suara menjadi begitu berkuasa sekarang, lalu dengan dagu yang terangkat dan pandangan tajam pada Delfris yang sekarang telah berdiri bersama Barry, si Tuan Muda melanjutkan titahnya…


“Kalian boleh istirahat makan siang, Dria tidak ikut bersama kalian.”


Si Tuan Muda segera masuk ke ruangan. Dria akan protes, tetapi di depan bawahan kakaknya dia tahu dia tidak boleh bersikap sembarangan, dia harus tetap menjaga kehormatan sang CEO dengan tidak melawannya di depan para sekretarisnya.


Dengan wajah yang menahan kesal Dria melepas senyum pasrah yang lebih cocok disebut ringisan pada Barry lalu mengikuti kakaknya masuk ruangan.


Sandro sudah berada di dekat meja makan, Timo juga sudah ada di sana bersama seorang karyawan. Miro nampak menjawab telponnya tapi ikut mendekati meja makan. Sementara Dria hatinya sedang menyimpan rasa jengkel karena rencana makan siang bersama teman-temannya batal, hanya berdiri di area yang lebih jauh dari meja makan.


Dria sangat menyukai berada di sekitar banyak orang terlebih jika hendak makan, rasanya dia tidak dapat makan dengan benar jika hanya ada dua atau tiga orang di sana, seperti yang selalu dia alami di rumah saat sarapan pagi dan saat makan siang bersama kakaknya entah di kantor atau di sebuah restoran. Hal yang paling dia nikmati adalah moment saat makan malam bersama bu Lia dan teman-temannya di bagian belakang.


Sandro segera sadar Dria tidak ada di sana padahal dia sudah menarik sebuah kursi di sampingnya untuk Dria duduki.


“Deedee?”


Sandro berbalik karena Dria tidak juga mendekat selangkah pun. Karyawan yang membantu pak Timo menyiapkan meja sudah keluar ruangan tanda meja makan sudah siap, rasanya Dria boleh menunjukkan tingkah merajuknya.


“Kamu selalu berwajah seperti itu setiap kali mau makan… Kenapa?”


“Ahh… Dee tidak suka makan di sini, terlalu sepi… Dee tidak berselera meskipun makanannya enak-enak…”


“Ini ada teman kakak, masa sepi?”


“Kalian berdua akan asyik mengobrol sebentar dan Dee akan bengong sendirian…”


“Lalu?”


“Dee makan di bawah ya?”


Rasanya Sandro tidak ingin tidak melihat Dria sekarang, terlebih dia sedang mewaspadai seseorang. Sandro datang dan meraih tangan Dria dan menuntunnya ke arah meja makan.


“Timo… kamu makan bersama kita di sini, panggil Barry dan lain-lain juga…”


Sebenarnya Sandro tidak menyukai makan beramai-ramai tapi demi Dria makan dengan nyaman dia meniadakan ketidaknyamanan dalam dirinya, maka dia melakukan sesuatu yang tidak biasa.


“Tuan?”


“Lakukan Timo…”


Sandro fokus pada Dria dan tersenyum kecil melihat wajah Dria yang telah berganti menjadi ceria.


Selesai makan siang pertama kali di ruangan CEO, mereka masih melanjutkan dengan percakapan yang cukup seru karena ada Miro yang bisa menjalin suasana sehingga para sekretaris tidak terlalu canggung berada di sana dalam situasi tidak formal bersama si Tuan Muda, demikian juga Sandro, bahkan sekarang dia bisa menyebutkan dengan baik yang mana Hope dan yang mana Gio. Dan ternyata begitu menyenangkan bisa bicara dengan bebas dan lugas dengan mereka mengenai sesuatu.


Kemudian saat para sekretaris kembali ke meja masing-masing termasuk Dria…


“Kamu tak berniat kembali sekarang, Ro?”


“Tidak, meskipun kamu mengusirku… hahaha…”


“Miro… aku akan memanggil security sekarang jika itu maumu…”


“Aku masih penasaran terhadap sesuatu… kamu belum memberitahuku siapa wanita itu… dari feelingku, wanita itu ada, eksis, pengaruhnya sangat nampak padamu…”


Sandro tertawa melihat sikap memaksa Miro, nampaknya dia tidak akan pulang sebelum Sandro berbicara terus terang.


“Dia memang ada, tapi aku tidak akan memberitahumu, Ro…”


“Apa aku sahabatmu atau bukan? Kenapa kamu merahasiakan ini? Jujur aku tidak punya petunjuk siapa dia… wanita yang kamu kenal dan dekat denganmu hanya satu, aku tidak pernah melihat ada wanita lain dalam hidupmu selain… ahh tapi itu tidak mungkin.”


Miro menatap sahabatnya lama, Sandro yang sedang menurunkan pandangannya tapi terlihat sedang tersenyum, tidak pernah dia melihat hal yang seperti ini dalam ekspresi Sandro. Dan sesuatu yang mengusik hatinya, apa sebaiknya dia menyampaikannya? Dia sangat tahu tentang lingkup pertemanan Sandro yang sangat terbatas, jadi tidak mungkin ada wanita lain.


“San… apa kamu bertemu seseorang, seorang wanita… yang tidak kuketahui?”


“Tidak… bertemu di mana?”


“Mungkin seorang rekan bisnismu… dan kamu jatuh cinta padanya…”


“Miro… sebaiknya kamu pulang… kamu sedang melakukan apa padaku?”


“Aku ingin tahu wanita itu…”


“Tidak ada, aku tidak bertemu siapapun…”


“Lalu?? Ahh San, kurasa ini tidak boleh terjadi… jadi… apa dia adalah… San… mungkin kamu harus menemui seorang profesional…”


Terbata-bata Miro karena masih mencoba mencerna perilaku Sandro serta melihatnya menurut kepantasan dan menurut norma etika yang dia tahu.


“Maksudmu?”


“Mmh… kamu pernah baca soal Napoleon?”


“Kenapa dengan pemimpin Perancis itu?”


“Ada satu hal yang dicatat sejarah tentang dia… ahh… bagaimana aku mengatakan ini padamu…”


Miro mengubah cara duduknya sehingga terlihat menjadi serius saat memandang Sandro, dan Sandro menunggu…


“Napoleon seorang pemimpin militer Perancis yang terkenal…”


“Aku tahu siapa dia, tidak usah kamu jelaskan, nilai pelajaran Sejarahku seratus, Miro…”


“Baik… apa kau tahu… sejarah juga mencatat bahwa dia menyukai adik kandungnya bahkan sampai menidu*rinya…”


“Lalu? Maksudmu aku harus bertemu profesional, apa??”


“Kamu harus bertemu Psikiater sebelum terlambat, karena ini tidak boleh terjadi…”


“To the point Miro…”


“Kamu mencintai Dria kan? Aku mengamati tadi bagaimana kamu memperlakukannya… Jika tidak ada wanita lain, itu pasti Dria...”


Sandro tersenyum lebar mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada khawatir oleh Miro yang takut salah soal kesimpulannya.


“Apakah begitu jelas terlihat?”


“Maksudmu… itu benar?”


Tak ada anggukan tapi cukup jelas dalam ekspresi Sandro yang menyetujui hal itu. Miro sangat syok di sini.


“Astaga San… maka itu kamu perlu konsultasi ke Psikiater… bagaimana tanggapan Tuan Harlandy nantinya, itu akan menjadi masalah besar dalam keluarga kalian, dan dalam segi apapun itu tidak dapat dibenarkan San…”


“Miro… itu bukan sebuah masalah dan aku sama sekali tidak menyimpang, justru mami dan papi setuju Dria menjadi istriku…”


Mata Sandro melewati dinding kacanya dapat melihat dengan jelas adiknya yang sekarang telah serius dengan pekerjaannya.


“San… ini semakin tidak bisa kuterima dengan nalarku…”


“Masa kamu sebodoh itu untuk memahaminya… Dria bukan adik kandungku… tapi Dria lahir di rumahku, ibunya menjadi malaikat penolong saat mamiku butuh donor ginjal… ibu Dria meninggal setelah Dria lahir, maka mami bersama aku yang mengurus Dria… itu kenyataannya…”


“Ooooohh???”


Sebuah oh panjang keluar dari mulut Miro disertai ekspresi antara kaget dengan informasi berharga yang baru diketahuinya itu dan bisa memahami sekarang tentang cinta seorang Sandro.


“Jadi… sejak lama… cintamu pada Dria bukan cinta seorang kakak? Atau kamu baru menyadarinya sekarang?”


“Mungkin sejak lama aku hanya mencintai Dria, karena itu aku tidak dapat mencintai Emma…”


“Tapi Dria tahu tentang Emma… bagaimana perasaannya?”


“Ahhh… sekarang aku ingin bertanya padamu Ro… bagaimana mengubah perasaan Dria padaku… dia begitu sayang padaku, tapi aku tahu itu hanya rasa sayang seorang adik…”


“Ah Tuan Muda… itu menjadi deritamu sekarang… berjuanglah… aku tidak bisa memberi masukan, aku hanya bisa memberi semangat…”


.


.


Hi...


Semoga cerita di part ini berkenan di hati....


Terima kasih 🙏


.


🌼🌼🌼


.