
Sandro sesekali melirik dalam diam Dria yang sedang sarapan. Jujur sekarang dia lebih terganggu justru setelah Dria tidak pernah lagi berangkat bersama menuju kantor. Mengapa? Karena sejak itu dia merasakan perubahan dalam sikap Dria terhadapnya. Tuan Muda ini tidak nyaman dengan sikap Dria, tidak menjauh tapi juga tidak mendekat.
Dria tidak pernah menghindar saat harus berpapasan atau bertemu entah di rumah ini atau di kantor, Dria juga tidak menunjukkan wajah takut atau wajah kaku, dia tetap seperti biasa, tenang dan menunjukkan mimik muka yang ramah, meskipun tidak pernah tersenyum lagi khusus untuk dirinya.
Ini ternyata lebih menjengkelkan, seperti sebuah ejekan untuk dirinya yang telah bersikap super dingin, super jutek dan semua sikap super menyebalkan lainnya. Sementara orang yang menjadi sasaran perilakunya bersikap biasa saja.
Tuan Muda membenci status quo yang ditunjukkan Dria ternyata, melihat padanya dengan tatapan tidak takut tapi tidak juga bersorot akrab, menunjukkan kinerja sebagai karyawan baik, dan sama sekali tidak pernah menunjukkan lagi bahwa mereka pernah sangat dekat dulu. Dan yang paling menyebalkan adalah gadis itu sekarang menyebutnya 'Tuan Muda' bukan lagi kak Sandro.
“Tuan, saya berangkat sekarang…”
Suara Dria yang lembut menyapa gendang telinga Sandro, spontan dia memperhatikan Dria. Gadis itu sedang mencium tangan papinya dengan takzim. Saat Dria melihat padanya, Sandro terlambat untuk menghindari pandangan itu, Dria hanya menundukkan wajah memberi hormat, hanya sejenak lalu pergi tanpa bicara apapun padanya.
Selalu seperti itu sekarang, dan Tuan Muda jengkel dengan hal itu.
“Apa susahnya bicara… Aku pamit kak Sandro?”
Hei... Tuan Sandro mengharapkan itu sekarang. Sesuatu secara rahasia sedang terjadi di alam bawah sadar si Tuan Muda, dan jika boleh disebutkan sebenarnya neuron-neuron dalam jaringan otak yang mengatur emosi Tuan Muda ini selalu bereaksi terhadap kehadiran Sandriana.
Sebenarnya otaknya tidak benar-benar menganggap Dria tak ada. Logikanya selalu menolak kehadiran Dria dalam penyangkalan-penyangkalan tentang apapun mengenai Dria. Tapi bukankah itu justru menunjukkan bahwa sikap perhatian hanya bersembunyi dibalik semua penolakan?
Rasanya ada sesuatu yang sedang bekerja, sesuatu di luar kendali sang Tuan Muda, sesuatu yang mulai mempermainkan emosinya...
“Dia berangkat ke kantor sepagi ini?”
Si Tuan Muda jadi penasaran dengan cara apa gadis itu berangkat ke kantor dua bulan ini. Asistennya dan asisten si papi pasti tahu karena mereka akan mengatur semua hal dengan baik untuk kenyamanan dirinya dan sekarang termasuk kenyamanan Sandriana. Tapi bertanya hanya akan menjatuhkan harga dirinya, mereka terlanjur tahu tentang sikapnya terhadap Dria, dia terlalu gengsi untuk mencari informasi pada Timo apalagi pak Lucas.
Sandro memperhatikan Dria yang melangkah menjauh dari meja makan hingga Dria menghilang ke ruangan yang lain.
Sementara itu Tuan Harlandy memperhatikan dengan cermat tingkah anak lelakinya. Walau tidak secara frontal ditunjukkan, Tuan yang bijaksana ini tahu tentang penolakan anaknya atas kedatangan Dria termasuk penolakan ketika Dria dijadikan salah satu staff sekretaris.
Sengaja tidak pernah membicarakan tentang Sandriana, tapi pagi ini Tuan Harlandy ingin mengukur dan melihat sesuatu pada diri anak lelakinya.
“Bagaimana Sandriana di kantor?”
Suara papinya membuka percakapan. Tadi sebelum Dria berangkat mereka bertiga duduk diam di tempat masing-masing.
“Ah... Dria? Dia baik… dia bekerja dengan baik… dia sudah punya pengalaman kerja, dia punya skill yang baik, jadi… ya, dia bisa diandalkan… dia cepat beradaptasi…”
Sandro menjelaskan sambil menatap sang papi yang juga sedang menatapnya.
Tuan Harlandy mendapatkan sesuatu dari penjelasan yang cukup panjang, itu penilaian positif. Tuan Harlandy juga segera tahu dari sorot mata anaknya bahwa membicarakan tentang Dria bukan lagi sesuatu yang mengganggunya. Dan memang Sandro sedang menunggu papinya bicara lebih banyak tentang Dria.
“Ajarkan Sandriana tentang bisnis, jika Dria bisa meningkatkan kemampuannya, mungkin papi akan memberi dia modal untuk membangun usaha sendiri. Dengan begitu papi akan tenang, tidak berhutang pada mami…”
Sandro menatap heran sekarang.
“Hanya itu?”
Tuan Heryandi menatap anaknya yang sedang menampakkan wajah heran sekaligus tidak percaya.
“Hanya itu, Pi?”
“Hanya itu…”
Tegas Tuan Harlandy. Dia masih menatap anaknya, mengamati dengan lekat setiap riak yang muncul di wajah anaknya. Memahami karakter anaknya, ada hal-hal yang harus dibiarkan mengalir secara alami, tidak perlu ada pemaksaan. Sebab pemaksaan bisa merusak bahkan menghancurkan hubungan. Sedapat mungkin Tuan Besar Harlandy menjaga hubungannya dengan anak satu-satunya ini.
Mereka berdua punya duka yang sama, kesedihan yang sama yang hingga kini masih tersimpan bersama sepi dalam hati karena kepergian wanita yang paling berharga, dan menjaga ikatan untuk tetap saling memiliki itu adalah hal paling utama sekarang.
“Dia datang ke sini hanya untuk diajarkan bisnis?"
Sandro mengulangi pertanyaannya.
“Iya? Kamu mengharapkan apa, Sandro?”
Suara rendah dalam ketegasan tapi tidak menekan, dikatakan Tuan Harlandy dalam sebuah senyum samar. Sandro tidak menjawab, seperti merenung menatap jari-jarinya sendiri, salah satu tangannya sedang menggoyang perlahan gelas berisi air putih di tangannya, matanya kini menatap riak yang ditimbulkan oleh air di dalam gelas.
Tuan Harlandy kemudian melanjutkan lagi, ingin mengukur lebih jauh berapa banyak penolakan yang masih bertahta di hati anaknya.
“Atau kamu ingin melakukan sesuatu untuk Sandriana?”
Sandro tetap diam, cara sang papi berbicara membuat dia mengurungkan niat untuk membicarakan keinginan mendiang mami. Sejak kehadiran Dria di sini, tak ada satu kalimat tentang itu yang keluar dari bibir papinya. Ini membingungkan sekarang, apakah hanya dia yang memikirkan kehadiran Dria dari sudut pandang ini? Jika hanya dia, mungkin benar dia terlalu berlebihan dan kegeeran sendiri, sementara papi dan Dria tidak memusingkan itu. Mungkin itu sebabnya mengapa Dria terlihat biasa saja?
Sekali lagi Tuan Besar Harlandy tersenyum samar.
.
Di salah satu gedung milik Mega Buana, gedung tempat Tuan Muda Sandro Kristoffer Darwis berkantor, di lantai teristimewa dan termegah…
Dari jauh sejak melangkah keluar dari lift mata Tuan Sandro mencari seseorang. Melewati area tempat meja para sekretarisnya berjejer, Tuan Muda Sandro melirik meja Dria, tidak ada gadis itu di sana.
“Apa dia belum sampai di sini?”
Hanya ada empat staff sekretarisnya yang merupakan barisan lelaki terpilih karena latar belakang pendidikan yang sangat bagus dan juga karena mereka punya penampilan yang menarik. Rata-rata mereka telah bekerja di sini kurang lebih tiga sampai dengan lima tahun.
“Non Dria belum sampai?”
Timo bertanya saat melihat meja Dria masih kosong.
“Sudah pak, lagi ke toilet pak…”
Barry menjawab atasannya.
“Berkas yang butuh tanda tangan Tuan sudah siap?”
“Sudah saya letakkan di dalam pak…”
“Kopi?”
“Mmh itu… Non Dria belum membuatnya pak…”
Barry memelankan suara, seolah takut terdengar Tuan Muda. Sedikitnya dia tahu bahwa Dria tidak diijinkan berhadapan langsung dengan Tuan Muda. Tetapi soal kopi untuk Tuan Muda, sejak ada Dria para lelaki di ruangan ini meminta Dria membuatkan itu, karena kopi buatan Non Dria enak terasa. Pak Timo pun yang awalnya memarahi mereka turut ketagihan.
Kehadiran Dria memang sesuatu di antara para lekaki ini. Itulah mengapa ruangan ini menjadi lebih dinamis dan berwarna karena ada gadis manis yang ramah yang jadi anggota baru, suasana jadi lebih fresh dan bersemangat.
“Ingatkan Non Dria…”
“Baik pak…”
Dria yang datang dan mendengar kalimat Timothy segera melangkah cepat…
“Maaf, pak Timo… saya dari toilet…”
“Tidak apa-apa Non… tolong buatkan kopi untuk Tuan Muda sekarang, Non Dria… Tuan sudah meminta kopinya sejak turun dari mobil…”
“Baik pak Timo…”
Dria segera menuju ruangan lain di lantai ini, sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk Tuan Muda atau para tamu, juga sering digunakan tim sekretaris untuk makan atau melewatkan jam istirahat.
Sebenarnya Timothy masih sungkan menyuruh Non Dria sekalipun dengan embel-embel kata tolong, rasanya tidak sopan. Sejak awal telah ditegaskan Tuan Besar padanya untuk melayani Non Dria dengan baik sama halnya melayani Tuan Muda.
“Barry, jangan lupa segera antarkan kopinya begitu siap…"
“Iya pak…”
Timothy segera masuk untuk memulai tugasnya di ruangan Tuan Muda. Sandro sudah mulai membubuhi tanda-tangannya pada beberapa file di map kulit berwarna hitam.
“Mana kopi saya?”
“Sedang disiapkan, Tuan…”
“Siapa yang buat itu, kenapa lama sekali?”
“Maaf Tuan… sebentar, saya cek dulu…”
Timothy keluar dari ruangan itu, jika kopi yang diminta tidak segera datang mungkin sesaat lagi Tuan Mudanya akan semakin kesal dan yang pasti akan mengganggu suasana sepanjang hari jika itu terjadi, dampaknya pun akan dirasakan semua orang.
Dan si Tuan Muda matanya menangkap sebuah aktifitas di luar ruangannya…
Sandriana di dekat ruangan istirahat staff terlihat melambaikan tangannya pada Barry. Barry setengah berlari menuju ruangan itu dan menghilang bersama dengan Sandriana di dalam, beberapa detik kemudian Barry keluar dengan nampan di tangan. Sedangkan Timo hanya berhenti di tengah jalan ketika melihat apa yang dibawa Barry. Kedua lelaki itu kemudian bergegas ke dalam ruangannya. Sandro mengalihkan pandangannya tapi ekor matanya menangkap bayangan Dria yang keluar dari ruangan itu dengan nampan yang lain berisi beberapa gelas.
Berulangkali Tuan Muda ini merasa bahwa keputusannya tepat saat mengganti dinding ruangannya dengan kaca yang tembus pandang, karena bisa melihat apa yang dilakukan staffnya, termasuk apa yang sedang berlangsung sekarang.
“Mmmh… apa selama ini Sandriana yang selalu membuatkan kopi untuk semua orang di sini? Termasuk kopi yang selalu kuminum? Tapi kenapa dia tidak membawa langsung kopi itu ke sini?”
Si Tuan Muda Sandro Kristoffer melupakan bahwa sebelum ini dia pernah memberikan ultimatum pada Timo untuk melarang Dria masuk ke ruangannya atau melakukan sesuatu untuknya, karena si tuan Muda tidak ingin melihat dan berbicara dengan Dria.
Barry meletakkan kopi itu di depan Tuan yang telah meneruskan kegiatan sebelum ini membubuhkan tanda-tangan di beberapa file.
Tuan Muda yang telah menginginkan kopi ini sejak tadi segera menyesap kopi itu.
“Rasanya selalu pas, suhu yang tepat untuk diminum…”
Sambil menikmati kopinya si Tuan Muda coba mengingat-ingat, sejak kapan dia mulai ketagihan meminum kopi di pagi hari? Itu sejak dua bulan lalu, saat dia melihat dari dalam ruangannya para lelaki di sini menikmati gelas kopi mereka, termasuk Timo yang tidak pernah melewatkan gelas kopinya juga… si Tuan Muda meminta dibuatkan juga, dan sejak itu pula dia hampir selalu meminta itu di pagi hari sebelum memulai pekerjaannya.
Dari balik meja kekuasaan tertinggi di gedung ini, sambil memegang gelas kopi yang isinya tersisa setengah, si Tuan Muda menatap Sandriana lebih lama dari biasanya.
.
Hai pembaca setia... Semoga bisa menikmati alurnya dan punya kerelaan hati untuk meninggalkan tanda cinta untuk cerita ini 🥰🥰
.
🌼🌼🌼
.