
Dria mencari Sandro saat dia keluar dari kamarnya.
"Tety... Lihat kak Sandro?"
"Oh... Tadi Tuan Muda sudah pergi Non..."
"Pergi? Ke mana?"
"Saya tidak tahu Non... Mungkin ke hotel..."
Jika datang ke kota ini Sandro memang akan tinggal dua atau tiga hari dan menginap di hotel. Dria menjadi risau, Sandro tidak berpamitan padanya saat kembali ke hotel. Memang dia terlalu lama berada di kamarnya menangisi keadaan dirinya, kekecewaan serta kesalahannya di masa lalu.
"Kak Sandro tidak menitip pesan apapun, Tety?"
"Tidak Non... Tuan Muda hanya berpamitan pada bapak..."
Perasaan mulai galau, apa kakaknya mulai membuat jarak dengannya? Tidak biasanya seperti ini. Dria pergi keluar rumah mencari ayah Rahmadi. Biasanya sore seperti ini ayah melepas lelah dengan berkumpul bersama para karyawan sambil minum kopi di sebuah gazebo dekat dengan tokonya, ada empat gazebo di bagian depan tokonya yang biasanya diperuntukkan untuk pengunjung yang ingin menikmati taman terbuka yang cukup luas. Di sana tempat yang paling nyaman untuk bersantai karena dekat dengan sebuah kolam besar ikan koi yang pinggirannya dari kaca sehingga terlihat seperti aquarium, duduk di sana bisa menikmati ikan besar dengan warna menyolok itu berenang ke sana ke mari.
Tergesa Dria menuju ke sana tak sabar untuk mengetahui tentang kakaknya yang tidak berpamitan padanya. Sekarang tiba-tiba muncul rasa takut, jangan-jangan karena kecewa terhadap Dria lalu kakaknya tidak lagi menginginkan hubungan mereka sebagai kakak-adik.
"Ayah..."
Dria hampir berteriak, suara kerasnya segera membuat ayah Rahmadi menoleh.
"Kenapa, Nak?"
Ayah Rahmadi melihat ekspresi khawatir Dria segera berdiri menyambutnya. Beberapa karyawan yang ada di sana segera menyingkir karena melihat Dria yang berhenti tidak masuk ke dalam gazebo.
"Ada apa?"
Ayah Rahmadi kembali bertanya. Setelah tertinggal berdua saja Dria masuk lalu duduk bersila seperti ayahnya.
"Kak Sandro tadi pamit pada ayah?"
"Oh... iya."
"Pulang ke mana?"
"Pulang ke hotel, kenapa bertanya, nak? Apa kamu tertidur tadi sehingga Sandro tidak pamit padamu?"
"Ah?? Iya..."
Dria tidak berani jujur.
"Kak Sandro tidak cerita apapun atau bertanya apapun?"
"Tidak... Tuan Muda duduk lama di sini bersama nak Timo, sesudah itu pamit mau ke hotel... Itu saja... Kenapa? Biasanya kamu yang paling tahu semua hal jika Tuan Muda datang..."
"Ahh... tidak selalu seperti itu... tapi aku heran saja Kak Sandro tidak pamit padaku..."
Dria mendadak sedih lagi, di sini Sandro selalu berhubungan dengannya saja, jarak bercakap dengan ayah karena jika datang di sini benar-benar Sandro hanya bersama Dria, fakta tentang Sandro yang dianggap Dria hal biasa sebelum ini, sekarang dia jadi mengerti bahwa memang Sandro datang ke kota ini hanya untuk menghabiskan waktu dengannya.
"Kenapa tidak menelpon? Biasanya hampir tidak ada waktu kalian tidak melakukannya..."
Menyadari itu Dria berlari meninggalkan ayahnya. Kenapa tidak sejak tadi teringat melakukan itu?
Di kamar, Dria sempat ragu sejenak, menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. Dia tahu kakaknya kecewa dan terlihat begitu sedih karena penolakannya. Hal ini yang dia mulai takutkan, bisa saja karena kecewa bahkan marah padanya maka kakaknya tak ingin melihat dirinya lagi. Rasanya Dria ingin menangis lagi sekarang.
Tangannya segera menekan tombol hijau di nama Kak Sandro. Tersambung... Itu sedikit melegakan. Lalu...
.
"Non Dria... ada perlu apa?"
Dada sedikit sesak, sejak Dria protes waktu itu, Timo tidak pernah lagi menjawab panggilan Dria di hp khusus milik Sandro.
.
"Tuan sedang mandi, Non..."
Dria merasa lega, sempat berprasangka si kakak tidak ingin lagi menjawab panggilannya.
"Sudah lama?"
"Iya Non... sebentar lagi... kami sedang bersiap untuk pulang ke..."
.
Telpon terputus. Apa panggilan sengaja ditutup? Apa kak sandro sudah selesai dan tidak ingin pak Timo mengonformasikan apapun tentang kak Sandronya?
Degg... Hati Dria mendadak sakit, perasaan seperti ini yang tidak dapat dia mengerti, dia telah menolak kak Sandro berarti seharusnya dia tidak boleh mengharapkan kak Sandro tetap bersikap sama, itu terlalu egois, tidak mungkin Sandro tidak apa-apa jika mengingat bagaimana keadaan kak Sandro tadi.
Tapi di kehidupannya sekarang kak Sandro telah menempati banyak ruang di hatinya, bersama kak Sandro banyak moment membahagiakan telah tercipta. Apa memang Sandro hanya sebagai kakak baginya? Dria tidak bisa memilah-milah perasaannya saat ini. Suatu saat dia bisa bermanja sebagai seorang adik, tapi di saat lain dirinya bersandar karena menginginkan sentuhan dan kehangatan pelukan seorang pria.
Dan sekarang, Dria merasa telah melakukan hal terburuk untuk Sandro tapi dia juga punya luka yang sekarang menganga lagi, rasa malu bila kak Sandro tahu siapa dirinya dan rasa takut justru kak Sandronya yang kemudian menolaknya.
Apa yang harus dia lakukan? Dan bagaimana menahan Sandro tetap berada di sisinya? Perasaannya bertambah sekarang, Dria malu untuk melakukan panggilan lagi.
.
🐣
.
Dria berbaring dan hanya menangisi semua yang telah terjadi di kamarnya sejak selesai menelpon Sandro sore hari hingga sekarang. Berulang-ulang Tety membujuk Dria untuk berhenti menangis lalu kemudian makan malam. Ayah tidak tahu apapun karena kebiasaan ayah mengobrol sampai jauh malam dengan karyawannya sejak sore.
"Non... ada apa... Kenapa Non menangis terus... saya harus apa biar Non tidak sedih lagi?"
...
"Non... Non Dria belum makan... Nanti Non sakit bagaimana?"
Tety duduk di lantai kamar di sisi tempat tidur Dria sambil memijat kaki majikannya. Dria tidak menjawab, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Tety dan rasanya dia tidak mau melakukan apapun sekarang, hanya tergolek dan tidak pernah merubah posisinya beberapa jam ini. Sesekali tangisnya menjadi keras lalu mereda lalu kembali menangis lagi.
Hampir jam sembilan, Tety yang khawatir keluar kamar mencoba melakukan sesuatu untuk Nona Muda kesayangan yang terlihat sangat tidak baik, entah apa masalahnya. Pikiran sederhananya bisa menyimpulkan keadaan si Nona Muda ada hubungannya dengan Tuan Muda, sebab jika Tuan Muda datang berkunjung Non Dria bawaannya akan bahagia sepanjang hari dan di mana ada Non Dria di situ ada Tuan Muda, hari ini terlihat berbeda.
Tety menelpon pak Timo, sejak lama nomor itu tersimpan di gawainya belum pernah sekalipun dia menghubungi sekretaris Tuan Muda itu. Panggilan tidak diangkat dan Tety mencoba lagi, biar saja si pak Timo menjadi jengkel dengannya, hati Non Dria harus diselamatkan dari keadaannya yang begitu memprihatinkan.
Panggilan kelima Timo menjawab...
.
"Ada apa Tety? Saya sedang sibuk... Kenapa mengganggu?"
"Saya tidak akan mengganggu kalau tidak penting, pak... baru sekarang juga saya menelpon bapak..."
"Saya bukan bapakmu, jelaskan segera apa keperluanmu..."
Terasa sekali dari kalimatnya dan suaranya si pak Timo tidak menyukai telpon dari Tety.
"Jangan marah-marah pak Timo, bukan saya yang butuh, saya tidak butuh bapak, Non Dria yang butuh Tuan Muda. Sejak sore Non Dria tidak berhenti menangis, saya khawatir pak, takut terjadi sesuatu pada Non Dria..."
"Tety?? Kenapa kamu baru memberitahu? Apa yang terjadi?"
"Tidak usah banyak tanya, segera beritahu Tuan Muda. Mungkin hanya Tuan Muda yang bisa menghentikan tangisan Non Dria..."
.
Sambungan telepon diakhiri Tety, entah dia punya keberanian dari mana bersikap agak kurang ajar pada pak Timo. Mungkin pak Timo akan memarahinya nanti bila bertemu, tapi itu karena yang dia pikirkan hanya Nona Mudanya... Semoga Tuan Muda mau segera datang...
.
.