
Akhirnya tempat usaha yang baru telah selesai seluruhnya. Di kompleks yang sama di area paling belakang sebuah rumah minimalis tiga kamar baru saja selesai, rumah yang lama belum terjual tapi mereka sudah pindah ke tempat ini. Ayah juga membangun mess untuk karyawan di bagian yang lain.
Dria menyetujui ide pembuatan kafe dan ayah mendapatkan seseorang yang mau menangani itu. Konsep kafe keluarga dipilih dan dibangun di bagian yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Di mana-mana makanan masih menjadi daya tarik dan menjadi salah satu jenis usaha yang prospeknya bagus. Dan Dria harus mengakui setelah kafe beroperasi maka tokonya mendapatkan lebih banyak pengunjung, dan ayah mendapatkan lebih banyak konsumen. Usaha ayah memang meningkat secara signifikan tadinya hanya beberapa karyawan sekarang telah bertambah beberapa kali lipat.
Dria menyukai hidupnya yang sekarang, menjalani apa yang seharusnya terjadi. Dia tidak menolak lagi realita tentang menjadi salah satu anak keluarga Darwis, sehingga apapun yang dilakukan baik Sandro maupun sang papi menyangkut hidupnya diterima dengan hati terbuka.
Sandro rutin berkunjung demikian juga Tuan Harlandy acap kali melewati weekend di kota ini sehingga hubungan sebagai keluarga menjadi semakin dekat.
Weekend kali ini Sandro tiba jumat siang dan langsung datang membawa rindu bertemu Dria setelah beberapa waktu lamanya tidak datang.
Sandro menemui Dria di toko besarnya…
“Dee… sedang banyak pengunjung?”
Dria hanya tersenyum manis mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia turun tangan membantu berada di kasir dan sedang melayani sebuah transaksi. Sandro memilih menunggu, duduk di sebuah kursi agak jauh di belakang Dria. Setelah Dria selesai…
“Kak… ayo ke rumah saja, kita makan siang…”
Dria memberi isyarat kepada karyawan kasirnya untuk meneruskan melayani transaksi.
Keduanya beriringan keluar dari ruangan besar itu, dan tanpa canggung lagi Dria sendiri yang berpegangan di lengan Sandro.
“Pak Timo ada?”
“Ada… tidak mungkin dia tidak ikut, Dee…”
“Ahh… Dee sering berpikir, apa jadinya Tuan Muda Sandro tanpa asistennya? Semua hal diurusi pak Timo…”
“Itu pekerjaannya Dee, dan gajinya sangat sesuai…”
“Dee tahu. Dee tahu juga beberapa aset pak Timo, itu fantastis nilainya, jadi bisa menduga berapa digit gaji pak Timo… tapi maksud Dee, tidak selamanya ada pak Timo di sisi kakak… jadi kakak harus belajar mengurus diri sendiri, sesekali ke mana-mana sendiri… ahh kakak itu sama sekali tidak mandiri, hp saja dipegang pak Timo…”
Telunjuk Dria yang terangkat dan berayun membuat Sandro tertawa kecil. Perasaan gemas seketika datang membuat dia meraih jemari lentik Dria dan menggenggam sambil tetap melangkah perlahan bersama.
“Kakak sudah terbiasa semua ditangani Timo, mungkin kakak harus meminta dia menandatangani kontrak seumur hidup sebagai asisten dan sekretaris kakak…”
“Belum tentu pak Timo bersedia…”
“Dia harus bersedia, dia tidak boleh meninggalkan kakak…”
“Astaga…sudah seperti istri saja tidak boleh meninggalkan kakak seumur hidup... setelah menikah dengan kak Emma, banyak tugas pak Timo jadi urusan kak Emma, makanya kakak segera menikah… Ahh, apa kak Emma tidak protes? Hampir setiap sabtu-minggu kakak datang ke sini, waktu untuk kak Emma kapan?”
Sandro melirik Dria yang berjalan tenang di sisinya.
“Emma bukan kekasih kakak sekarang…”
Sandro berkata pelan saja tapi membuat Dria berhenti dan memandang wajah Sandro.
“Sejak kapan?”
“Sudah setahun lebih…”
“Ahh??? Kenapa bisa seperti itu? Wah itu sayang sekali… kak Emma sangat cantik, pembawaannya kalem, terlihat sangat serasi dengan kakak. Kenapa kakak tidak mempertahankan hubungan kalian?”
“Dia tidak bisa menjadi istri kakak, Dee… dia memiliki ambisi dan obsesi yang kuat untuk bisnisnya, menikah bukan prioritas untuknya.”
“Tapi sayang sekali hubungan indah kalian harus berakhir, hubungan kalian sudah lama kan? Ahh kakak harus lebih berusaha, mana mungkin kak Emma tidak mau menikah dengan kakak…”
“Jika tentang menikah, Emma bersedia menikah dengan kakak, Dee… tapi kakak yang menolak akhirnya, kakak menyadari ada hal yang paling penting dalam hubungan kami selama tiga tahun itu yang justru tidak pernah kami miliki… cinta tidak ada di antara kami Dee…”
“Seperti itu kenyataannya. Sudahlah Dee, hubungan kami sudah lama berakhir, tidak perlu dibahas lagi…”
“Lalu… kakak mau menikah dengan siapa? Kakak tidak mencari pengganti kak Emma?”
Sandro tergugu di sini. Apa dia harus jujur mengungkapkan sekarang siapa wanita yang ingin dia nikahi, jujur bahwa tidak tidak perlu mencari lagi karena wanita itu sudah lama ada di hatinya? Sandro sudah memikirkan berkali-kali bagaimana cara memberitahu Dria tentang perasaannya. Apa sekarang saja?
Sandro memilih meraih bahu Dria sekarang lalu mulai berjalan lagi.
“Kakak sudah punya seseorang yang kakak cintai, Dee… seseorang yang ingin sekali kakak jadikan istri…”
“Ahh… kakak harus mengenalkan kekasih kakak itu padaku… Dee harus mengenal calon kakak ipar kan?”
Sandro tersenyum, pandangannya kini lurus ke depan berharap percakapan ini terus berlanjut sampai dia bisa memberitahu Dria tentang perasaan hatinya.
“Kalian tidak perlu berkenalan…”
“Eh??? Jangan seperti itu kakakkk… Dee ingin bertemu calon sitri kakak…”
“Itu tidak perlu sama sekali Dee, apalagi kakak belum mengungkapkan perasaan kakak… kakak masih takut perasaan kakak hanya sepihak…”
“Ahhh??? Ayooo kakak harus punya keberanian untuk melakukannya, jadi lelaki sejati yang berjuang untuk cinta…”
Sandro tersenyum kecut, apa jika Dria tahu siapa cinta Sandro, dia akan sesemangat itu mendorongnya? Bagaimana reaksi Dria itu yang ditakutkan Sandro.
“Sejak kakak menyadari perasaan cinta itu, kakak sudah berjuang Dee, kakak melepaskan diri dari Emma dan terus berusaha menunjukkan perasaan kakak, hanya dia mungkin masih melihat itu bukan sebagai perasaan seorang lelaki pada wanita yang disukai… mungkin dia masih melihatnya sebagai rasa sayang yang lain…”
Sekarang Sandro berjalan dengan menunduk memperhatikan jalan setapak dari beton yang berlapis tegel bercorak bebatuan yang mereka lalui. Perasaan sedikit getir saat menyatakan itu sambil bertanya dalam hati mengapa Dria tidak dapat melihat perhatian dan rasa sayangnya dari sudut pandang yang lain?
Walaupun Dria pantas untuk dia tunggu karena semua yang ada pada Dria telah membuat dia terjebak dalam pesona cinta, tapi ini telah terlalu lama seperti ini tanpa ada kemajuan. Ada rasa takut Dria menghilang saat dia mengungkapkan perasaannya, tapi umurnya hampir memasuki tiga puluh lima tahun, dan waktu tidak pernah menunggu dia dan keadaan dengan Dria tidak akan berubah dengan sendirinya, itu akan selalu sama, maka dia harus mengatakannya.
“Dee jadi penasaran, siapa wanita beruntung itu, kakakku jadi semellow ini, berarti dia begitu luar biasa…”
“Dee…”
Sandro berhenti, menatap dengan sepenuh hati.
“Iya?”
Dria sedikit terpaku melihat tatapan Sandro padanya, sesuatu yang selalu dia tekan ke dasar hati, sesuatu yang telah lama mengusik dan disadari oleh sanubarinya tentang kak Sandro, terlebih setelah mendengar realita soal kakaknya dengan kekasihnya dulu, sekarang hal itu menguat dan membuat Dria menyadari sesuatu.
Semua realita sambung menyambung sekarang, bagaimana perhatian Sandro selama ini, hampir setiap minggu ada di sini, setiap hari mereka rutin saling menelpon, dia bisa mengingat perasaan kuatir sang kakak bila dia sakit, mengingat semua perlakuan sayang sejak lama ditunjukkan sang kakak… apakah dia cinta itu?
.
🐥
.
Hi kk semua...
Dua minggu nanti kesibukan sangat padat, jadi akan berusaha up walau pendek saja...
Makasih atensinya...
.