
Mengitari bagian-bagian rumah ini tadi di luar dan di dalam ruangan, kemewahan begitu terlihat di rumah ini, membuat Emma mulai membayangkan bagaimana kelak ketika menjadi istri Sandro. Setelah beberapa waktu hanya diam dan bercakap seperlunya, apa yang ditanyakan Emma soal bagian rumah yang mereka lewati dijawab sekedarnya oleh Sandro.
Lalu Sandro akhirnya memutuskan sesuatu…
“Em… aku perlu membicarakan sesuatu yang serius mengenai kita, tapi tidak di sini… kita ke suatu tempat…”
“Mengenai apa San? Apa tentang kelanjutan hubungan kita?”
Emma tidak sabar, sebab hanya itu yang terpikirkan, hubungan dengan Sandro harus tetap berlanjut. Sandro tak menjawab Emma, tapi ketika mereka bertatapan, hati kecil Emma seperti dapat membaca sesuatu yang tidak baik, sorot mata Sandro dan gurat emosi yang terpancar di sana begitu dingin. Hati Emma tersentil kuat, nalurinya membuat dia paham apa yang harus dia lakukan.
“Ini tak lama lagi makan siang, San… mungkin mereka sudah menyiapkan makan siang di belakang?”
“Ahh??”
Emma ingin makan siang di sini, tadi sengaja dia membawa Sandro masuk ke dalam rumah melewati pintu belakang dan dia sempat melihat aktivitas Dria di dapur, dia terlihat begitu akrab dengan pelayan di rumah ini.
Sesuatu semakin memicu desiran di dadanya. Dia harus melakukan sesuatu, dia tidak mau kalah dengan gadis muda itu sekalipun sepertinya gadis itu telah masuk ke lingkungan terdekat Sandro melampaui dirinya, dia harus mendapatkan Sandro, jalan satu-satunya adalah menggunakan niat Sandro menikahinya. Hanya itu cara yang terpikirkan.
Seorang pelayan yang melintas agak jauh dari mereka dipanggil Sandro.
“Panggilkan Timo ke sini…”
“Baik Tuan…”
Tak lama Timo datang…
“Timo, aku akan makan dengan Emma, siapkan tempat…”
“Di sini Tuan? Itu sementara disiapkan…”
“Tidak, Timotius… di tempat lain. Aku akan bersiap… aku bawa mobil sendiri, dan minta sopir Emma pulang saja…”
Kata-kata yang tegas dan bernada berat dari Sandro membuat Timo paham seperti apa hati Tuannya. Sandro segera naik ke ruang atas tanpa bicara sesuatu pada Emma lagi. Sekalipun ini hari libur Timo tetap ada di rumah ini, tidak ada waktu libur untuk dirinya, begitu perjanjian awalnya, liburannya mengikuti liburan sang Tuan Muda.
Timo segera merogoh gawai di dalam saku celana pendeknya. Timo segera melihat gawainya untuk membuat reservasi.
“Tim…”
Panggilan Emma membuat Timo batal melanjutkan langkah menuju kamar Sandro.
“Aku ingin makan di suatu tempat… tolong pilih tempat itu saja.”
“Di mana?”
Emma menyebutkan suatu tempat makan yang tidak begitu jauh dari rumahnya.
“Itu agak jauh dari sini Nona Emma, kalian akan terlambat untuk makan siang…”
“Tidak masalah, Tim… aku ingin tempat itu, lakukan saja… dan jangan beritahu Sandro bahwa aku yang meminta tempat itu…”
Timo memandang sejenak kekasih Tuan Muda yang dia tahu sedang diliputi emosi, sangat jelas di pancaran wajahnya. Dia pernah mendalami ilmu membaca wajah seseorang secara iseng dulu, dan ternyata berguna karena dia sering berhadapan dengan begitu banyak orang di perusahaan, ini membantunya melihat yang tak terlihat dari garis wajah yang ada pada seseorang.
Timo bisa menafsirkan apa yang akan terjadi dari tindakan Tuannya beberapa waktu terakhir dan lebih disahkan saat mendengar percakapan Tuan Muda dan Miro tadi pagi. Maka Miro memilih mengabulkan permintaan Emma, wanita ini nampaknya tahu apa yang sedang menunggunya, dan Timo merasa Emma berhak mendapat sedikit kebaikan hati dari Tuan Muda.
“Baiklah… Anda duduk saja di sini menunggu Tuan Muda…”
Emma tak ingin duduk, itu terlalu menyiksa hanya berdiam diri. Emma berjalan perlahan mengamati ruang tamu yang sangat besar ini. Dan Emma tercenggang melihat sebuah foto sangat besar berisi Sandro dan Dria dipasang di sebuah dinding. Ini foto baru, tampilan Sandro yang sekarang, dengan rambut yang dibiarkan panjang, saat bertemu tadi dia memang melihat perubahan Sandro.
Dua tetes airmata tak bisa tertahan keluar dari dua matanya yang segera memanas. Ini mendeskripsikan dengan jelas siapa gadis itu untuk Sandro, dia merasa yakin telah tersingkir sebelum Sandro menyatakannya dengan bibirnya.
Emma kembali ke tempat duduknya, mengambil gawainya lalu melakukan panggilan. Sesuatu harus dia lakukan. Sementara bertelpon di melihat Sandro turun tapi tidak datang ke arahnya dan dengan matanya dia menyaksikan siapa yang Sandro cari. Gadis itu entah kebetulan sedang masuk ke dalam ruangan tamu yang besar ini. Dengan jarak lebih dari sepuluh meter walau tak mendengar percakapan mereka tapi Emma bisa melihat gadis itu berbicara sambil tertawa pada Sandro dengan satu jari terangkat dan bergoyang-goyang di depan Sandro, sikap Sandro kemudian yang membuat hatinya sakit… Sandro menangkap jari itu lalu meraih gadis itu dalam pelukannya sambil mengacak rambutnya, terlihat sangat sayang. Tak lama gadis itu seperti menunjuk dirinya, dan mata Emma masih sangat baik untuk membaca perubahan di ekspresi Sandro.
.
🥀
.
Mereka makan dalam diam di sebuah ruang privat. Emma sangat tidak berselera, Sandro juga. Sebenarnya mereka sudah selesai makan, dan Emma gelisah menunggu dua hal. Jika Sandro memulai bicara sekarang, kemungkinan hubungan mereka tak terselamatkan. Dia tidak menginginkan itu, dia masih berharap sebuah kesempatan untuk mempertahankan hubungannya dengan Sandro, dan selama Sandro belum mengatakannya dia masih punya peluang untuk hal itu.
Gawai rosegold milik Emma berbunyi, Emma tersenyum lega ini satu hal yang juga ditunggunya. Emma lalu menjawab panggilan, sengaja menghidupkan speaker gawainya.
.
“Mam… ada apa?”
“Papimu tidak mau makan sejak tadi, dia ingin bertemu denganmu baru mau makan… begitu katanya…”
“Aku sedang makan bersama kekasihku, mam… mungkin aku tidak bisa pulang ke rumah secepatnya… tapi selesai makan, aku janji akan pulang ke rumah… kebetulan tempat makan siangku tidak jauh dari rumah…”
“Mami ada di Botanica, kamu di mana?”
“Oh mam… kebetulan sekali, aku di sini juga… mami di ruangan mana?”
“Mami di sisi kiri, tempat yang biasa kita gunakan…”
“Oh baiklah… kami ke sana…”
.
“San… tolong ikut denganku sebentar? Papiku sakit, dia susah sekali makan dan dia ada di sini… hanya sebentar setelah itu kita kembali ke sini…”
Sandro sedang tidak ingin ada gangguan, sejak tadi dia sudah merangkai kata dan kalimat untuk disampaikan pada Emma tapi mendengar situasi Emma jiwa kemanusiaannya bicara.
“Aku rasa tidak tepat aku bertemu orang tuamu, tapi kamu boleh pergi, aku akan menunggu kamu kembali di sini…”
“San… aku terlanjur menyebutkan kamu ada di sini, mereka telah mendengar tentangmu dariku, kamu juga sudah membawa aku bertemu papimu… rasanya tidak salah jika kamu juga bertemu orang tuaku, lagi pula papiku sedang sakit…
“Tapi Em… aku mengatakan tadi, tidak tepat untukku bertemu orang tuamu…”
Sandro tidak siap untuk pertemuan seperti ini dan itu tidak dibutuhkan lagi, dia tak perlu berkenalan dengan orang tua Emma.
“San… please, hanya sebentar?”
Emma sudah berdiri dan begitu memohon menatap Sandro sementara Sandro tidak pernah ingin didikte apalagi dipaksa melakukan sesuatu.
“Tidak Em… jangan memaksaku…”
“Oh San… baiklah… baiklah… tapi tunggu hingga aku datang, kamu berkata tadi ada sesuatu yang penting untuk kita bahas…”
“Ya… kita harus selesaikan ini.”
Emma mengernyit dengan perkataan Sandro yang menyiratkan sesuatu tapi segera meraih gawainya lagi lalu beranjak dari tempat duduknya. Sebelum Emma keluar dari ruangan privat itu, pintu diketuk lalu segera terbuka dan masuk seorang pria yang didorong dengan kursi roda oleh seorang suster, diikuti seorang wanita setengah baya yang berdandan sangat baik.
“Mam? Aku baru mau ke sana…”
“Papi tidak sabar, makanya minta ke sini, jadi mami bawa papi ke sini… maafkan mengganggu makan siang kalian…”
“Oh tidak masalah… mam, pap… perkenalkan… ini Sandro kekasihku…”
Sandro yang tak menduga kejadian ini hanya bisa memandang tiga orang yang masuk ke ruangan mereka dan segera memperhatikan kondisi papi Emma, mungkin terkena stroke karena bagian wajahnya sedikit miring. Tapi etika dan kesopanan yang diajarkan padanya membuat Sandro menyambut uluran tangan mami dari Emma serta uluran tangan kanan papi Emma yang dia angkat dibantu oleh tangan kirinya.
“Saya maminya Emma, Naomi Lynne dan ini papinya Emma, William Lynne…”
“Saya Sandro…”
“Timo sedang mengurus untuk tambahan makanan Em… dan aku sebaiknya pamit, masih ada sesuatu yang perlu aku kerjakan…”
“San?”
“Maaf Em… aku tidak bisa menunggu. Maafkan saya paman… bibi… saya senang bisa berkenalan dengan paman dan bibi.”
Sandro berdiri dan mengangguk memberi hormat pada orang tua Emma.
“Maafkan kami mengganggu kalian, Nak Sandro…”
“Oh tidak bibi, kami sudah selesai sejak tadi, dan sangat kebetulan paman dan bibi ada di sini dan butuh Emma… jadi bagiku tidak masalah… tapi maafkan saya tidak bisa menunda lagi untuk urusan saya…”
Sandro melangkah keluar dan mulai meragukan kebetulan pertemuan ini. Dia tahu seseorang yang bertanggung jawab untuk hal ini, asistennya sendiri. Emma juga keluar ruangan dan mengejar Sandro yang menuju ke luar dengan langkah panjangnya.
“San… ini tidak lama, aku hanya perlu meladeni papi sebentar saja…”
“Timo sudah menyelesaikan pembayaran untuk meja orangtuamu juga… aku tidak akan mengantarmu, Em…”
Sandro tak meminta petugas parkir valet mengambil mobilnya, dia mencarinya sendiri dan yang pasti berada di area parkir prioritas. Emma belum berhenti dan segera melewati Sandro lalu menghalangi Sandro masuk ke dalam mobil dengan berdiri di bagian pintu.
“San…”
“Jangan begini Em, aku harus pergi, kita akan bicara tapi tidak sekarang…”
“San… kamu baru bertemu mami papiku beberapa menit dan kamu meninggalkan mereka begitu saja? Papi dengan keadaan seperti itu telah berusaha datang ke ruangan kita… dan kamu seperti tak mengacuhkan…”
“Emma Lynne! Pindah sekarang!”
Sandro yang marah berusaha mengontrol suaranya agar tidak terlalu kasar tetapi penuh tekanan. Mereka ada di luar, ada orang-orang di sekitar mereka.
“San… jangan seperti ini padaku, kumohon…”
Sandro berkacak pinggang dengan wajah marah. Dia menarik napas beberapa kali agar bisa bicara pada Emma.
“Coba katakan padaku… apa sebuah kebetulan Timo memesan tempat ini untuk kita makan siang? Timo tidak akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan Emma! Dia tahu jam makanku dengan baik... dan… apa kebetulan orang tuamu juga makan siang di sini? Apa kebetulan saja aku bertemu mereka?”
“Apa masalah bagimu bertemu orang tuaku… sekalipun aku mengaturnya seperti itu?”
“Ya! Itu masalah buatku Emma, aku tidak punya rencana bertemu mereka, dan aku marah karena kamu sengaja melakukannya!”
“Ini tidak adil buatku San… aku telah bertemu papimu, kita harus lewati ini sebelum menikah… ini tahapannya…”
“Aku tidak berencana menikah denganmu Emma Lynne, tidak lagi!”
Akhirnya kalimat yang ingin diucapkan Sandro dan sebaliknya kalimat yang tidak ingin didengar Emma tercetus dari mulut Sandro di area parkir. Walau Sandro tidak menginginkan mengungkapkan dengan cara dan situasi seperti ini tetapi Sandro telah mengatakannya.
Emma tersandar lemas di pintu mobil Sandro, dua bulir airmata keluar kemudian disusul dengan aliran bening lain di pipinya. Emosi sejak saat dia melihat pelukan mesra di bagian belakang rumah Sandro yang berusaha ditahan sekuat hati beberapa jam ini akhirnya bermanifestasi lewat tangis tertahannya.
Sandro tak biasa dengan wanita yang mengumbar emosi di depannya, dia hanya bisa diam memandang Emma dan tak tahu harus melakukan apa. Apakah dia harus menarik Emma dari pintu mobilnya? Rasanya itu terlalu kasar dilakukan untuk seorang wanita yang sedang menangis.
“Kamu menyakitiku San… kamu yang mencetuskan ini pertama kali, kamu yang menginginkan menikah denganku pertama kali… kamu yang memberiku harapan Sandro Kristoffer Darwis… kenapa kamu tega menghancurkan hatiku?”
Emma berkata lirih di antara tangisannya. Dia mengusap airmata di pipinya, dua tangannya memegang dadanya yang terasa sangat sakit sambil memandang Sandro. Sandro masih diam di depannya.
“Tidakkah kamu lihat usahaku agar kita menjadi dekat? Kenapa justru seperti ini San, Apa salahku?”
Sandro melepaskan napas beratnya. Semua harus dikatakan meskipun di tempat seperti ini, dia juga lelaki bermartabat yang harus menjelaskan sikapnya. Maka Sandro menurunkan tangannya dari pinggangnya, mencoba merilekskan sikap tubuhnya agar bisa bicara dengan baik.
“Maaf aku menyakitimu... tapi ini tidak benar jika kita teruskan, ini tidak akan berhasil Em, karena itu tidak perlu mencari siapa yang salah. Tapi aku harus tegaskan lagi padamu... hubungan kita tidak bisa diteruskan, kita tidak punya perasaan cinta satu dengan yang lain. Maafkan aku yang bicara tentang pernikahan sebelum ini, tapi aku harus mengatakan aku tidak bisa menikah denganmu tanpa perasaan cinta. Aku tidak pernah mencintaimu Emma…”
“San, cinta bisa datang kemudian… kita bisa memulai dengan berteman dulu, kita mulai yang baru perlahan saja, yang terpenting kita saling berkomitmen…”
“Aku sudah putuskan Em, aku tidak bisa melanjutkan hubungan denganmu…”
Dada Emma kembali seperti ditusuk, begitu sakit rasanya mendengar penolakan Sandro. Airmatanya kembali menetes.
“Apakah karena gadis itu? Aku bisa menerima kamu selingkuh San, aku telah memaafkanmu, aku paham kita berjauhan dan kamu butuh selingan…”
“Emma Lynne? Kamu pikir aku lelaki seperti itu? Gadis mana yang kamu maksudkan?”
Emosi Sandro naik lagi, otomatis tangannya kembali berada di pinggangnya.
“Gadis yang ada di rumahmu, gadis yang kau peluk tadi, dia selingkuhanmu kan?”
“Dia adikku Emma, dia Sandriana… Apa yang ada di pikiranmu?”
“Adik? Sandriana?”
Emma terhenyak dengan sebuah fakta bahwa tak banyak yang dia tahu tentang Sandro. Jadi tidak ada selingkuhan Sandro di antara mereka, ini murni karena Sandro memang tidak ingin menikahinya?
Dan bagi Sandro, sekalipun cinta untuk Dria begitu besar sekarang, menempati seluruh bahagian hatinya, menjalar ke seluruh neuron di otaknya dan mendominasi ribuan pikiran yang keluar dari otaknya setiap hari, tapi dia tidak rela Dria disebut selingkuhannya. Dia tidak pernah berselingkuh, itu terlalu rendah untuknya, dan satu hal cintanya hanya untuk Dria sejak ada cinta di hatinya, dia tidak pernah merasa jatuh cinta dengan siapapun selama ini, termasuk Emma.
Tapi tentu dia tidak dapat mengatakan dengan jujur bahwa dia memang mencintai Dria karena dia tidak ingin Emma menyimpulkan bahwa Sandriana hadir di hidupnya setelah Emma dan telah menjadi pengganggu hubungan mereka. Apalagi dia masih harus berjuang agar Dria mengetahui perasaannya dan masih harus berusaha membuat Dria jatuh cinta padanya.
“Dia adikku… dan lucu sekali kamu tidak tahu aku punya adik perempuan padahal kamu adalah kekasihku… tapi sebenarnya kita sama Em… kita tidak dalam tahap hubungan yang layak disebut pasangan kekasih karena kita tidak saling mengetahui apapun, kurasa kita tidak saling peduli sebenarnya…”
“Maafkan aku San… aku akan berusaha mengenalmu dan keluargamu, ijinkan aku lebih dekat untuk itu…”
“Tidak Em… tidak! Cukup sampai di sini, kita selesai. Tolong bergeser, aku harus pergi, aku tidak mau bertindak kasar padamu…”
“Tapi San… orang tuaku telah mengetahui hubungan kita…”
“Kamu bisa menjelaskan pada mereka…”
“Aku tidak bisa, papiku tidak boleh terlalu banyak berpikir, jika dia kena serangan stroke lagi, dia akan meninggal… aku tidak bisa mengatakan hal ini padanya… dia telah menantikan pernikahanku sejak lama…”
“Emma??? Ahhh! Aku tahu sekarang, kamu sengaja kan, itu tujuanmu kan? Kamu menggunakan sakit papimu untuk menahanku di sisimu? Sebenarnya kamu sudah tahu sikapku! Aku tidak peduli Em, jangan mendikteku, selesaikan masalahmu sendiri! Minggir!”
Sandro akhirnya menarik Emma bergeser dari pintu mobilnya, dia tidak ingin memperpanjang ini, dia sudah muak sekarang, Emma sedang memaksa dia, dan dia tidak ingin terjebak pada tindakan manipulatif Emma. Sandro masuk ke mobilnya.
“Jika papiku meninggal, itu karena dirimu, San…”
Emma cepat mengatakan sebelum pintu tertutup. Sandro melepaskan tatapan tajamnya.
“Kamu mengancamku? Itu tidak akan berhasil Em… kamu tidak mengenalku!”
Mobil yang ditumpangi Sandro melesat pergi, meninggal Emma yang lemas dalam kekecewaan karena strateginya tidak berhasil. Bagaimana cara membuat Sandro tetap di sisinya? Emma memutar otaknya.
.
.
.
.
.
😭 Aku tdk tahu alurnya pas tidak, hiksss
.