
Entah ke mana berlalunya waktu, dalam kehidupan yang sibuk ketika detik berganti menit dan menit berganti jam, itu seperti bergulir begitu saja tanpa dapat disadari. Di kantor yang menjadi jantung perusahaan raksasa ini, waktu seolah tak cukup buat Tuan Muda. Walau akhirnya meeting yang pertama selesai, waktu untuk makan siang menjadi terlambat. Tak hanya Tuan Muda tapi juga barisan asistennya terlambat untuk makan siang karena banyaknya pekerjaan hari ini.
“Saya akan mempersiapkan makan siang anda, Tuan…”
Sandro hanya akan makan di luar kantor jika berkenaan dengan bisnis atau bersama sahabat dekatnya. Timothy meletakkan tablet milik tuannya di meja besar dari kaca itu lalu segera ke luar dari sana.
Sandro mengambil gawai lain dari atas meja besarnya, gawai yang secara khusus digunakan untuk beberapa komunikasi sangat pribadi. Ada beberapa panggilan dari Miro. Sandro mendial balik, sekalipun dia begitu sibuk dia akan menyempatkan menelpon balik khusus untuk Miro.
.
“Sand, hari ini ulang tahunku…”
“Aku tahu… aku sudah mengirim hadiah… “
“Tidak ada ucapan selamat, Tuan Muda?”
“Kamu kekanakan masih meminta itu…”
“Aku ingin mendengar ucapan itu dari sahabatku, dan kamu tidak akan melakukan jika tidak kuminta…”
“Selamat ulang tahun…”
“Tuan Muda… itu terdengar seperti seorang atasan sedang memecat karyawannya…”
Miro protes dengan cara bicara Sandro yang terlalu datar tak ada ketulusan, sebuah perkataan yang memang tidak diniatkan untuk disampaikan.
“Aku mengatakan apa yang ingin kamu dengar… tapi aku tidak akan datang jika kamu membuat pesta…”
“Begitu cepat mengantisipasi, padahal baru mau kusampaikan…”
“Aku selalu bisa bergerak melampaui yang kau pikirkan…”
“Hah… sombongnya Tuan Muda ini…”
“Itu salah satu kelebihanku…”
“Ya kamu memang pantas untuk memuji diri sendiri… tapi kamu keterlaluan Tuan Muda… tidak bisakah kamu menyisihkan waktu untuk menyenangkan sahabatmu ini?”
“Kamu sendiri tahu waktu tidak pernah ramah padaku… jika pestamu di pagi hari, mungkin aku bisa menghadirinya”
“Astaga Sandro… mana ada pesta ulang tahun dilaksanakan pagi hari?”
“Jika kamu mau, itu tergantung padamu kan?”
"San... ayolah... Kamu bisa datang di jam sepuluh, kamu tidak lagi bekerja di jam itu... Bertahun-tahun kita bersahabat kamu sekali saja datang di pesta ulang tahunku..."
"Kamu tahu kan aku tidak keluar lagi di malam hari, aku pantang tidur larut malam..."
"Astaga San... kesenangan hidup dimulai di jam itu..."
“Kesenangan kudapatkan ketika cukup tidur dan makan dengan baik…”
“Hah… Aku menyerah denganmu Sandro, menurutku… kamu tidak pernah menikmati hidup dengan benar…”
“Aku menikmatinya menurut caraku bukan caramu…”
“Kamu tidak pernah menghadiri pesta apapun, selain pesta perusahaanmu sendiri…”
“Itu hanya membuang-buang waktu…”
“Ah Tuan Muda... Tidakkah kamu butuh sosialisasi, menambah teman bisa memungkinkan ekspansi bisnismu lebih terbuka..."
"Aku tidak butuh itu..."
"Ah iya... aku lupa siapa dirimu... "
"Beritahu aku jika hadiahnya tidak kamu sukai, aku akan menggantinya..."
"Aku suka hadiahmu San, tapi aku lebih menyukai kehadiranmu sebenarnya..."
"Sudahlah... jangan memaksa..."
"Tapi San... Audreey mengundang Emma... dan dia sudah mengkonfirmasi akan datang, apa Emma tidak memberitahu ini padamu?"
"Tidak. Lagi pula Emma sangat tahu aku tidak suka pesta, dia tidak akan berharap aku ada di sana..."
.
Sandro telah menutup panggilan, satu hal yang akhirnya harus dipahami dan ditoleransi oleh Argemiro tentang sahabatnya, dia tidak menyukai pesta apalagi tentang gemerlap kesenangan dunia malam, Sandro sangat menghindari itu.
Sandro masih memegang gawainya lalu tertarik untuk melihat riwayat panggilan di gawainya, tanggal terakhir dia dan Emma berbicara adalah seminggu yang lalu, itu pun insiatif darinya bukan Emma.
“Emma sedang tidak butuh diriku…”
Sandro mengubah ekspresi wajahnya mengangkat dua alisnya dan melipat bibirnya, benar-benar bukan sebuah hubungan yang saling bergantung, dan dia juga merasa nyaman tidak terganggu dengan keribetan sebuah romansa percintaan.
Saat meletakkan gawainya di meja, matanya melihat para sekretarisnya di luar ruangannya. Mereka entah sedang menertawakan apa, akhir-akhir ini mereka lebih banyak bercanda satu dengan yang lain. Mata Tuan Muda auto mencari Sandriana, gadis itu sedang menutup wajah dengan file yang ada di tangannya. Sandro memperhatikan dengan seksama bagaimana para pria itu memperlakukan Dria.
“Ini sudah terlambat untuk makan siang, mereka tidak memanfaatkan waktu istirahat?”
Tuan Muda mengguman sambil melihat jam di tangannya, lalu matanya segera beralih kembali mengamati Dria, menemukan para lelaki sedang menatap Dria yang sekarang berbicara dengan senyum mengukir di wajah manisnya.
Dria memang terlalu manis, siapapun tak dapat memungkiri itu, siapa pria yang mampu mengabaikan kehadirannya? Hanya si Tuan Muda saja yang sedang membutakan mata.
Tak lama, Barry, Gio dan Hope berjalan beriringan menuju lift. Mata si Tuan Muda masih merekam aktivitas Sandriana. Delfris terlihat mengambil sebuah tas, berdiri menunggu lalu berjalan berdampingan dengan Dria.
Tuan Muda mengernyit, lelaki itu belakangan sangat peduli pada Sandriana, melakukan banyak hal untuk Sandriana sekalipun banyak kali Dria terlihat menolak.
Tingkah Delfris yang menyampirkan tas selempang di bahu Dria, membuat alis Sandro semakin menyatu.
“Tidak boleh seperti itu…”
Timothy dan seorang karyawan yang sudah ada di dalam ruangan itu dan sedang menata meja untuk makan siang Tuan Muda menoleh saat mendengar suara gumanan si Tuan Muda. Tapi maksud jelas kalimatnya hanya bisa didengar oleh telinga si Tuan Muda sendiri.
Entah kenapa hal yang dilihatnya itu membuat sebuah sudut di hatinya tidak suka. Emosi sedikit bergelombang terjadi hati Sandro di ruangan maha mulia jantung kerajaan bisnis keluarga Darwis ketika dia menatap kepergian Sandriana bersama Delfris.
“Tuan… makan siang anda sudah siap…”
Si Tuan Muda tidak merespon, arah pandangnya masih mengikuti dua karyawannya yang sedang menjauh…
Dua bulan telah berlalu. Sebenarnya tanpa disadari diam-diam si Tuan Muda memperhatikan tingkah laku Dria. Dari mejanya sendiri matanya sering terarah ke luar ruangan menembus kaca tebal mengamati adik yang masih enggan diakuinya.
Gadis itu ternyata punya ethos kerja yang baik tidak hanya bermalas-malasan di sini. Cara Dria berinteraksi dengan para sekretarisnya juga sungguh menarik perhatian Tuan Muda, tidak canggung tapi juga tidak bersikap sembarangan.
Keceriaan Dria juga sebenarnya berpengaruh pada sikap si Tuan Muda tanpa dia sadari, walau tak pernah benar-benar berinteraksi dengannya tapi sikapnya saat memandang Dria perlahan berubah. Tak ada lagi mimik marah di wajahnya.
Lama Timo menunggu Tuan Muda untuk bangkit berdiri dari kursi kekuasaannya untuk menikmati makan siang. Matanya searah dengan tatapan Tuannya dan menangkap siapa yang menjadi titik pandang sang pria muda yang menguasai miliaran dollar itu di genggaman tangannya.
“Tuan… anda menjadi pria yang tidak konsisten… katanya tidak akan melihat Non Dria… berapa kali Tuan melanggarnya sekarang? Ratusan kali dalam sebulan ini… kenapa masih gengsi menerima adik sendiri? Apa yang menghalangimu Tuan?”
Ingin sekali Timothy menyampaikan langsung hal ini pada Tuan Muda, sebuah pengamatan yang teliti dari Timo mengenai kebiasaan baru si Tuan Muda.
“Maaf Tuan… makan siang anda sudah siap…”
Timo berbicara lagi memutus pengamatan dan lamunan sang Tuan Muda.
“Ah? Iya…”
Sandro berdiri lalu menuju bagian di ruangan itu di mana terletak meja makan.
“Apa kamu tidak lagi menyiapkan makan siang untuk Sandriana?”
Tiba-tiba si Tuan Muda bertanya. Timo yang duduk di sebuah kursi kurang lebih tiga meter dari tuannya mengangkat muka, lalu dengan sigap menjawab…
“Non Dria meminta ijin makan di kantin karyawan… saya sudah mengkonfirmasi itu pada Tuan Besar, Non Dria diberi keleluasaan untuk berbaur dengan karyawan, Tuan…”
Timo menjelaskan dengan rasa heran yang muncul, Tuan Muda pertama kalinya menyebut Dria dengan menggunakan nama, sebelum ini Dria hanyalah seseorang tak bernama untuk Tuan Mudanya, seseorang yang hanya disebutkan dengan ‘gadis itu’ atau ‘dia’.
“Itu bukan hal yang tepat untuk Sandriana…”
“Saya sudah mengaturnya Tuan, Delfris saya tugaskan melayani Non Dria…”
“Itu mengapa mereka dekat?”
Mendapatkan alasan tentang sikap Delfris tetap tidak membuat si tuan Muda senang atau lega.
“Tetap saja tidak boleh seperti itu, dia seorang pria dan Sandriana seorang gadis yang menggemaskan…”
Tuan Muda bermonolog dalam resah yang tak disadarinya.
Dalam diam sambil meneruskan makan siangnya, Sandro mulai memikirkan lagi tentang pengaturan sang papi untuk Dria, gadis itu diberi banyak keleluasaan. Jika Sandriana datang untuk menjadi istrinya tidak mungkin sang papi menempatkan Dria bekerja di antara banyak pria.
Harus dia akui para asistennya dengan performa mereka ada kemungkinan salah seorang di antaranya jatuh cinta pada Dria atau sebaliknya. Terlebih beberapa waktu ini dia melihat hubungan Sandriana dengan Delfris sedikit berbeda dibanding hubungan Dria dengan asistennya yang lain. Ini hal yang mulai menganggu, entah dari mana datangnya tiba-tiba sebuah sudut hati yang lain mengingatkan dirinya siapa Dria untuknya, Sandro mulai merasakan kepemilikan…
“Sandriana itu adik kesayanganku, dan tidak akan kubiarkan dia bergaul dengan sembarang pria…”
Oh… Tuan Muda, begitukah?
.
🐡
.
“Sandriana…”
Memasuki area kantin seorang gadis menyapa Dria saat Dria melewati sebuah meja. Dria berhenti dan menoleh, mencoba mengingat wajah lalu sesaat kemudian tersenyum…
“Ruby… akhirnya kita bertemu…”
Dua bulan berkantor di sini, di awal Dria ingin mencari Ruby, tapi dia terkurung di lantai tertinggi, masuk di pagi hari dan keluar dari sana sore atau malam hari, dan baru beberapa hari ini dia bebas menggunakan waktu istirahatnya.
Ruby berdiri dengan canggung dari kursinya lalu menghampiri Dria. Walau dulu mereka pernah bermain bersama tapi berhadapan sekarang setelah sama-sama dewasa itu berbeda.
“Apa kabar Ruby? Kamu bekerja di lantai berapa?”
“Saya baik Dria… Saya di…”
“Non Dria… Nona Sandriana…”
Delfris memperbaiki sapaan Ruby…
“Eh? Iya… maaf… Non Dria…”
Ruby semakin canggung bahkan mulai diserang rasa gugup sekarang, terlebih ada para lelaki yang sangat populer di kantor ini. Siapa gadis yang dapat bersikap normal di hadapan mereka, lelaki dengan sejumlah kualitas teratas dalam daftar lelaki idaman ada dalam diri mereka, terutama karena mereka masih dinyatakan single. Dan dia baru melakukan kesalahan di hadapan mereka.
Dria melihat kecanggungan situasi segera bersuara…
“Jangan seperti itu kak Del, sejak lama aku ingin dipanggil Dria saja…”
“Tidak boleh Non Dria… itu aturan yang tidak boleh dilanggar, itu status Non Dria di sini, sama seperti Tuan Muda…”
“Kak Del… aku tidak akan mendapatkan teman jika seperti ini… lagi pula, Ruby temanku, sejak bayi hingga berumur tiga belas kami berdua tinggal di rumah besar…”
“Tapi Non Dria…”
“Baik kak, aku paham… itu aturan, tapi Ruby sebagai pengecualian ya?”
Sandriana tersenyum mengulurkan tangannyanya. Ruby ragu-ragu tapi akhirnya menerima jabat tangan Sandriana dengan kepala tertunduk sekali.
“Aku minta nomor hpmu, Ruby…”
“Eh… iya Non… nomor saya 081…..”
Dria memasukkan dengan cepat nomor yang disebutkan Ruby di gawainya, lalu melakukan panggilan. Gawai Ruby pun berbunyi…
“Itu nomorku… disimpan ya?”
“Eh… baik Non Dria…”
“Jangan sungkan Ruby, Dria saja… seperti dulu… Aku akan mengambil makan siang dan kembali ke mejamu, aku ingin mengobrol denganmu…”
Ruby hanya mengangguk, belum bisa memilih bagaimana cara menyapa Sandriana. Sementara Dria antara senang dan sedih memahami kenyataan… bahwa dia tidak sebebas dulu untuk bersosialisasi itu membuat dia sedih di antara rasa senang yang muncul akhirnya bisa bertemu seseorang yang dia kenal. Dia memerlukan seorang teman wanita juga.
Selesai mengambil menu yang diinginkannya…
“Kak Del… aku duduk dengan Ruby ya, kalian cari meja yang berbeda, aku ingin lebih bebas berbicara dengan temanku… ada kalian terasa begitu canggung…”
“Baiklah Non… kami ada di sekitar Non Dria, jika butuh sesuatu…”
“Kak… biarkan aku menangani kebutuhanku mulai sekarang ya… perlakukan aku dengan lebih normal, oke?”
Akhirnya kalimat protes pertama disebutkan Dria untuk Delfris, selama ini lelaki itu selalu meladeni banyak hal hal untuk dirinya, kecuali membuat kopi.
Delfris tak menjawab tetapi mengikuti Dria dari belakang dan menempati sebuah meja tak berapa jauh dari Dria.
“Ruby… kamu sudah selesai?”
Dria datang dengan senyum, dua wanita teman Ruby segera berdiri berpindah ke meja yang lain. Dria mengernyitkan dahinya, dua karyawan itu belum selesai dengan piring makan siang mereka. Padahal Dria ingin menyapa mereka juga, ingin masuk dalam kelompok para gadis di kantor ini.
Dria kemudian menyadari bahwa dia masuk dan bekerja di sini dengan status yang sudah disematkan padanya, seorang Nona Muda… ah dia tidak menginginkan hal ini.
“Saya sudah selesai Non Dria…”
Ruby membalas dengan senyum yang kikuk.
“Ruby, aku sudah meminta padamu tadi, panggil aku Dria saja…”
“Eh… baik, Dria…”
Dria tersenyum dalam harap bisa menjalin kembali pertemanan yang sewajarnya dengan Ruby, seperti saat dia masih di kota S, dia punya banyak teman di sana.
“Aku ingin mencarimu sejak ada di sini, bu Lia memberitahu kamu karyawan di sini… tapi karyawan ada ribuan orang, dan aku ada di lantai teratas di gedung ini…”
"Saya sudah melihat Dria sejak awal…”
“Oh? Maaf aku tidak memperhatikan, tapi mengapa kamu tidak menyapaku, atau memanggilku seperti tadi…”
Sandriana mengeluh dalam hati, awal bekerja dia tak begitu merasakan, tapi setelah beberapa hari berbaur di bawah sini, tatapan tidak suka dari para gadis saat pertama makan di sini, kemudian dengan cepat berganti tatapan penuh hormat ditambah sikap mereka yang selalu menganggukkan kepala, Dria sadar dia telah ditempatkan di tempat yang tinggi dalam piramida sosial di gedung ini.
“Sejak awal sudah diberitahukan, adik Tuan Muda akan datang bekerja di kantor ini, jadi saya tidak mungkin mendekati Dria…”
“Kenapa?”
“Eh… karena kami harus menghormati status Dria sebagai salah satu anak keluarga pemilik perusahaan ini…”
Dria mengerucutkan bibirnya tanda menolak dan tidak dapat menerima hal yang diutarakan Ruby. Tapi dia tahu sia-sia dia membantah itu, semua hal yang dia lalui sejak detik pertama di kota besar ini adalah kenyataan yang mengkonfirmasi tentang perubahan statusnya, bukan lagi anak Rahmadi seorang pengusaha kecil di kota S.
Anak dalam keluarga Darwis? Itu masih canggung untuk hatinya mengakui kedudukannya itu. Lagi pula tidak ada pernyataan resmi dari Tuan Harlandy tentang ini, Dria pun tidak pernah tahu adanya ikatan yuridis tentang Dria yang diangkat sebagai anak keluarga Darwis.
“Ruby… aku ingin minta sesuatu padamu…”
“Apa?”
“Boleh tidak…jangan membuat jarak, aku ingin diperlakukan seperti kamu memperlakukan teman-temanmu di kantor ini…”
“Tapi Dria…”
“Di sini… hanya kamu yang mengenalku lebih baik dari orang-orang yang lain… aku harap kita bisa berteman lagi seperti dulu…”
Dria menatap dengan penuh harap… dan Ruby akhirnya menganggukkan kepalanya. Dria membuang napas walau dengan itu rasa tak nyaman di hati tidak ikut terbuang dan menjauh. Kenyataan tentang hidupnya yang berubah sepenuhnya mulai menekan Dria, ini bukan hidup yang dia rencanakan atau inginkan.
.
🌼🌼🌼
.