
Audreey tersenyum jahat melihat beberapa foto yang diambilnya, foto-foto ini bisa sangat berguna nantinya. Rasanya seperti menemukan sebuah kunci yang tepat untuk membuka jalan menikmati fasilitas nomor satu yang hanya dimiliki kalangan sangat terbatas di negara ini. Seperti restoran mewah ini hanya member terbatas yang bisa masuk dan makan di tempat ini. Beberapa teman sosialitanya sudah sering membicarakan tentang restoran yang perlu reservasi enam bulan sebelumnya. Tentu orang seperti si Tuan Muda Sandro Kristoffer Darwis tidak memerlukan waktu pemesanan selama itu untuk makan di sini.
Suaminya sering menikmati makan di tempat-tempat terbaik dan termahal tapi hanya berdua si Tuan Muda, dia tidak memiliki akses meskipun label dirinya adalah istri sahabat dari si Tuan Muda, dan ini membuat dia marah sejak lama. Tapi kali ini dia senang bisa memaksa suaminya, sehingga bisa memposting moment terbaik memamerkan kesempatan langkah makan siang di tempat ini, hal yang merupakan tujuan terbesarnya saat menyambut girang ajakan suami tadi.
"Maaf Nona... Anda dilarang mengambil foto Tuan Sandro..."
Seseorang datang mendekati Audreey, mungkin manajer restoran itu.
"Saya sudah mengatakan tadi, saya di sini atas undangan Tuan Muda Sandro, suami saya telah duduk di sana, dia teman baik Tuan Sandro, dan saya tidak perlu ijin anda untuk mengambil foto Tuan sandro..."
Audreey berkata penuh percaya diri dan bernada angkuh pada pelayan yang mengganggu aktivitasnya.
"Oh, maafkan saya... silahkan Nona ke meja Tuan Sandro, anda telah ditunggu..."
Pelayan itu mengangguk sopan sambil tangan kanan menyilakan dengan penuh hormat. Audreey melangkah anggun menuju meja yang sudah dilihatnya sejak tadi.
"Halo..."
Sapa Audreey saat mendekat, hanya menggangguk sopan pada Tuan Muda lalu tangan terulur pada Dria. Audreey tersenyum ramah dan bersikap akrab tapi tidak mencolok, interaksi yang harus dia bangun dengan Dria adalah membuat gadis itu merasa nyaman dengannya. Audreey tahu bagaimana bersikap menyenangkan di hadapan seorang gadis muda, dia telah terlatih di komunitasnya bagaimana bersikap bersahabat tapi dengan maksud tertentu.
"Halo juga..."
Dria tersenyum menyambut Audreey.
Sebelum duduk Audreey mengangguk sopan lagi, Dria langsung tertarik dengan Audreey. Bertemu dan berinteraksi dengan wanita dewasa yang sungguh berkelas baru sekarang ini, rasanya seperti bertemu salah satu selebriti tanah air. Dan wanita ini terlihat begitu memukau, Dria merasa senang dengan keramahan Audreey.
"Senang bertemu denganmu... aku istri Miro, Audreey Beily Sofyan, panggil aku Audreey saja..."
"Oh iya... Ahh mungkin kak Audreey saja, itu terdengar lebih sopan, kak…”
“Baik, terserah kamu…”
Audreey tersenyum manis, Dria langsung nyaman saja.
“Aku Sandriana, kak… tapi kak Audreey boleh memanggil Dria saja…”
“Oh… nama yang cantik, seperti orangnya…"
Audreey harus mengambil hati gadis ini, melihat pemandangan di depannya sekarang nalurinya sebagai wanita mencurigai sesuatu, dia harus pandai-pandai memanfaatkan moment serta memanfaatkan kesempatan mencuri foto bahkan video dengan gawainya secara rahasia.
Audreey ingin tahu lebih banyak, si Tuan Muda yang kaya raya tapi hidupnya penuh misteri dan sialnya terlahir dengan fisik begitu sempurna, sekarang ada gadis manis di sampingnya padahal dia punya kekasih dan kekasih itu teman Audreey.
Memang dia tidak mungkin bertanya secara langsung, dia tahu aturannya jika dengan si Tuan Muda ini tak ada orang yang boleh bertingkah seenaknya atau berbicara begitu cerewet di depannya, ini sudah pernah dinyatakan oleh suaminya bagaimana bersikap jika dia bertemu Sandro. Maka Audreey bersikap sebagai wanita yang sangat elegant, sopan dan terjaga baik bicara maupun perilakunya.
"Kak Audreey terlalu memuji. Kak Audreey juga sangat cantik dan glowing, aku seperti bertemu dengan salah satu selebrita negara ini..."
Siapapun tak tahan menerima pujian, apalagi wanita seperti Audreey yang haus pengakuan, ibu satu anak ini tersenyum senang.
"Oh... terima kasih, aku biasa saja Dria, sudah menjadi ibu-ibu, hanya berusaha tampil baik saja biar suami tidak bosan..."
"Ahh begitu ya... kak Audreey sudah punya anak?"
"Sudah..."
Sebetulnya Audreey malas sekali membahas anak, tapi alur percakapan dengan Dria harus lancar. Jika dia bisa mendekati Dria, ada kemungkinan untuk makan siang di tempat mewah lainnya lagi. Berteman dengan Emma memang dia bisa menikmati layanan kelas atas, tapi tetap saja layanan kelas satu milik si Tuan Muda tak ada tandingannya, terlebih tidak pernah ada kesempatan seperti ini sebab Emma pun sangat jarang menemani Tuan Muda, dan yang dia tahu dari suaminya si Tuan Muda tidak suka para wanita makan siang bersama mereka berdua. Tapi, kali ini dia menilai itu berbeda, gadis ini ada di sini dan si Tuan Muda terlihat bahagia dan menikmati jam makan siang ini, siapa tahu ada kesempatan yang istimewa bila dekat dengan gadis ini…
"Ada berapa anak kak Audreey?"
"Satu... satu saja, itu pun repot mengurusnya..."
"Masa kak? Berapa usianya?"
"Tiga tahun... lelaki, jadi bayangkan saja lincahnya, terlalu aktif... makanya aku menyerah untuk menambah anak..."
"Ahh... Tapi menurutku ya... memiliki anak banyak itu sangat membahagiakan, di rumah ada pelayan kita yang punya tiga anak, usia mereka selisihnya tidak jauh, mereka lucu-lucu kak, walau sedikit nakal... jika aku menikah aku ingin memiliki banyak anak dan tinggal di rumah mengurusi mereka, hehehe..."
Sandro tersenyum kecil mendengarnya, sekalipun dia sedang bercakap seru dengan Miro soal bola kaki tapi telinganya juga memperhatikan omongan Dria. Kenapa keinginan Dria sama seperti keinginannya? Terlahir sebagai anak tunggal, mendapatkan Dria sebagai adik waktu itu membuat dia senang. Kehilangan Dria kemudian meninggalkan sepi yang panjang di hatinya sehingga dia kemudian mulai berpikir jika menikah dia ingin memiliki beberapa anak.
Tapi herannya, dia tidak pernah membahas sampai sejauh itu dengan Emma, bahkan saat mendengar Emma enggan memiliki anak, Sandro tidak terpengaruh bahkan tak acuh. Jika dia ingin menikah dengan Emma seharusnya dia kecewa saat tahu Emma tidak menginginkan anak. Entahlah, tapi saat mendengar mendengar omongan Dria sesaat tadi, dia merasa bahagia dan lebih tertarik untuk berpindah merespon Dria.
"Anak-anak siapa yang kamu maksud Dee?"
"Yang di rumah?"
"Iya, yang katamu lucu-lucu..."
"Anaknya kak Rahel dan kak Amos..."
"Pelayan yang mana?"
"Kak Sandro harus lebih sering ke belakang supaya kak Sandro mengenal pelayan yang melayani kak Sandro."
"Pelayan di rumah terlalu banyak, Dee..."
"Tapi Tuan yang baik itu harus mengenal pelayan atau karyawannya..."
Sandro tersenyum kecil lalu mengacak pelan rambut Dria. Suatu interaksi yang membuat jiwa kekepoan Audreey semakin meningkat tajam, diam-diam dia merekam semua itu.
"Dee penasaran, empat sekretaris kak Sandro hafal tidak nama mereka? Dee tidak pernah mendengar kak Sandro memanggil mereka dengan menyebut nama, kecuali pak Timo..."
"Delfris kakak ingat, yang lain tidak..."
"Karena Delfris yang kakak harus jauhkan dari kamu sekarang..."
Si Tuan Muda menyambung dalam hati.
Di depan kakak adik yang berinteraksi tanpa melibatkan teman semeja mereka, Audreey seperti mendapatkan jackpot mendengar isi percakapan pasangan di depannya, menyimpulkan bahwa gadis ini mengenal orang-orang di lingkaran terdekat si Tuan Muda, berarti dia sangat dekat dengan Tuan Muda. Terlalu banyak rahasia tentang Tuan Muda bahkan Emma mengeluhkan itu padanya, dan dia tahu sesuatu sekarang...
"Jangan-jangan ini kekasih yang dirahasiakan dari Emma, suamiku pasti tahu tentang ini tapi tidak membicarakan denganku supaya aku tidak membocorkan pada Emma... aha... Ketahuan kau Tuan Muda. Pantas saja aku dilarang datang tadi, dan wajah Tuan Muda terlihat tidak suka aku ada di sini..."
Sementara Dria saat mendengar pengakuan kakaknya membelalakkan mata almondnya.
"Ahh? Gio, Hope, Barry?"
Sandro menggeleng...
"Nama kakak tahu tapi yang mana Barry, yang mana Gio suka tertukar... Kakak tidak peduli orangnya, yang kakak pedulikan etos kerjanya, keahlian dan hasil pekerjaan mereka..."
"Kak Sandro?"
Dria menghadap Sandro lalu telunjuk kanan terangkat di depan Sandro sambil digoyang-goyang, mata Dria membulat pertanda dia sedang serius...
"Kak Sandro tidak boleh seperti itu, mereka orang-orang yang telah bekerja penuh dedikasi untuk kak Sandro, kak Sandro harus menghargai orangnya bukan hasil pekerjaannya, kak Sandro harus memberi perhatian untuk mereka, itu baru seimbang, itu bos yang baik..."
"Kamu... mirip sekali dengan mami, suka mengomeli kakak..."
Tangan Sandro terangkat lagi mengusap sayang kepala Dria, tapi Dria belum ingin berhenti...
Di seberang mereka pasangan suami istri itu hanya menjadi pendengar yang baik, dan Audreey semakin memastikan sesuatu, gadis manis ini saingan terberat temannya, suaminya pernah kelepasan berbicara saat mereka berdua membahas tentang Emma, bahwa si Tuan Muda menginginkan istri yang mirip maminya.
"Kak Sandro harus janji untuk lebih peduli lagi..."
Sandro hanya tersenyum, mana bisa dia melakukan itu, dia tidak terbiasa mempedulikan orang lain, Emma saja dia tidak pikirkan, mungkin satu-satunya orang yang menerima perhatiannya sebelum Dria hadir di sisinya hanyalah Miro.
"Kak?"
"Apa?"
"Janji akan lebih perhatian pada bawahan kak Sandro, Dee tidak akan membuat kopi lagi untuk kak Sandro kalau kak Sandro tidak mau berjanji..."
Sandro tersenyum gemas mengusap sayang kepala Dria lalu mengangguk, dia teringat jauh sebelum ini, soal deal-deal adiknya untuk memaksa dia melakukan apa yang Dria inginkan, sikap Dria yang menggemaskan ini yang membuat kepala akan selalu mengangguk meluluskan permintaan Dria.
Sementara Sandro tidak bisa berhenti sekarang untuk melakukan sesuatu buat Dria, tangannya hampir selalu berada di pundak atau di kepala Dria. Dria menikmati sekarang berdasarkan perkataan pak Timo bahwa perhatian Sandro adalah perhatian seorang kakak untuknya.
Saat hidangan utama tersaji mereka kemudian menikmati sambil meneruskan bercakap. Tentu saja sesekali Sandro memperhatikan kebutuhan Dria. Saat Dria hendak menambah air putih dengan cekatan Sandro menuangkan dari sebuah teko yang tersedia di situ, termasuk menanyakan apa Dria ingin menambah sesuatu. Saat Dria terganggu dengan lengan panjang kemeja putih yang melorot karena hanya ditarik asal ke sikunya Sandro membantu menggulung dengan rapih.
Saat hidangan penutup dihidangkan, Dria teringat sesuatu...
"Kak Audreey... tahu tidak, nama keduaku Aubrey, mirip ya, hehehe..."
"Eh... iya, itu benar... Tapi nama Dria dan Tuan Muda juga mirip..."
Audreey berbicara lebih pelan tidak ingin si Tuan Muda mendengarkannya walaupun terlihat sangat asyik membahas Piala Dunia yang telah lama berlalu dengan suaminya, sungguh lucu mereka baru membahas itu sekarang, mungkin karena selama gelaran turnamen itu berlangsung mereka tidak bertemu.
"Ahh itu... Namaku memang kak Sandro yang pilihkan kata Mami..."
"Mami? Mami siapa?"
"Mami kami berdua kak, mami siapa lagi..."
"Oh?? I... iya..."
Audreey hampir tersedak walau sudah tidak mengunyah sesuatu.
"Gadis ini adik Tuan Muda? Ah apa yang telah aku lakukan?"
Audreey ingat sebelum duduk tadi dia telah melakukan sesuatu karena marah pada si Tuan Muda, dia mengirim foto dan video pada Emma untuk mengacaukan hati si Tuan Muda. Tadi sebelum melihat manfaat yang bisa dia peroleh jika dekat dengan Dria, dia tidak berpikir panjang, hanya ada niat jahat bahwa Emma harus tahu sesuatu yang penting dan fatal untuk kelanjutan hubungan mereka.
Audreey tersadar banyak hal yang tidak dia ketahui tentang pria tampan ini, suaminya terlalu susah diajak bergosip soal si Tuan Muda, dia begitu loyal dengan sahabatnya yang terlihat sekali terjaga benar soal-soal pribadinya, bahkan tadi suaminya mengatakan si Tuan Muda datang dengan temannya dan melarang dia untuk bergabung. Sudah seperti artis di negara gingseng saja yang tidak pernah mengungkapkan tentang keluarganya.
Saat Audreey hendak menghapus foto dan video yang telah terlanjur dikirimkan pada Emma, itu sia-sia karena sudah dibaca dan dilihat Emma. Bahkan sekarang ada rentetan chat yang menanyakan siapa yang bersama Sandro, di mana dan kapan, apa itu bukan editan... Audreey kelabakan untuk menjawabnya, dia membiarkan saja chat Emma.
Gawai Sandro yang diletakkan di meja berbunyi, Dria melihatnya dan bisa membaca id penelpon. Ketika Dria melihat Sandro tidak ada niat menjawab...
"Kak, itu dari kak Emma..."
"Ahh? Tapi kita lagi makan..."
"Sudah selesai... Masa kak Sandro tidak menjawab panggilan kekasih tersayang?"
Sandro melirik Dria dengan perasaan kesal yang muncul karena gangguan yang tak diharapkan, lalu mengambil gawainya dan menjawab panggilan sambil menjauh dari meja, sementara Audreey menjadi takut karena telah bersikap lancang, semakin pasti bahwa kecurigaannya salah dengan kalimat Dria baru saja. Jangankan si Tuan Muda suaminya pun pasti akan marah besar padanya.
"Sial, baru sekali bisa menikmati makan siang ternikmat, bodoh, aku merusak kesempatanku sendiri..."
Dengan cepat Audreey memutuskan beranjak dari situ.
"Honey, sebenarnya aku ada janji makan siang dengan teman-temanku, aku memprioritaskan makan denganmu makanya ke sini, tapi aku masih ditunggu teman-temanku, aku pamit saja. Sampaikan terima kasihku pada Tuan Sandro..."
Dengan gugup yang disembunyikan dalam sikap tenangnya Audreey berdiri mengambil tasnya.
"Dria... Aku harap kita bisa makan siang berdua lain kali..."
"Oh... Aku menunggu itu kak Audreey..."
"Sampai bertemu nanti ya..."
"Iya kak... hati-hati di jalan..."
Buru-buru Audreey keluar dari restoran itu sebelum dia dipermalukan oleh kemarahan Sandro padanya.
Tak lama Sandro datang lagi di meja mereka. Ada sesuatu di guratan wajahnya yang bisa dibaca sahabatnya.
"Dee... kakak malas kembali ke kantor, kita pulang ke rumah ya? Atau kita ke mall? Kamu ingin membeli sesuatu?"
"Ahh... tidak, semua kebutuhanku sudah diurus dengan baik oleh pak Lucas dan Tety. Kita ke kantor saja kak, masih banyak pekerjaan menunggu..."
"Timo akan menangani semua dengan baik, kita pulang saja kalau begitu..."
Tak ada urusan bayar-membayar, semua pasti sudah ditangani dengan baik oleh Timo, yang ada sekarang adalah bagaimana menyelesaikan urusan dengan Emma, Sandro sudah tidak ingin meneruskan hubungan mereka tetapi belum bisa menemukan cara.
Sandro meraih tangan Dria lalu mulai meninggalkan restoran.
"Aku langsung ke kantorku San..."
Miro berkata di belakang Sandro.
"Ahh... Iya, tapi aku perlu bicara denganmu tentang sesuatu, besok malam kita bertemu?"
"Aku selalu siap, San..."
.
Audreey menunggu suaminya di dalam mobil di parkiran, dia bisa melihat ketika Sandro dan Dria naik di mobil dan meninggalkan tempat itu. Audreey keluar dari mobil sesaat setelah melihat mobil si Tuan Muda keluar area restoran.
"Honey... Sandro bilang apa padamu?"
Audreey berlari kecil mendekati suaminya.
"Eh?? Masih di sini?"
Miro batal masuk ke mobilnya.
"Aku menunggumu, aku ingin tahu apa kata Sandro setelah menerima telpon Emma..."
"Dia tidak mengatakan apapun, kenapa?"
"Salahmu tidak pernah menceritakan Sandro memiliki adik perempuan."
"Di mana kesalahannya? Untuk apa menceritakan sesuatu yang tidak ada kaitannya denganmu, honey?"
"Tapi aku kan berhak tahu informasi tentang sahabatmu untuk menghindari kesalahan seperti ini..."
"Kesalahan apa?"
"Aku mengirim foto dan video pada Emma dan mengatakan Dria itu selingkuhan Sandro, aku pikir itu kekasihnya yang dia sembunyikan dari Emma..."
"Audreey! Kamu sangat lancang, pantas saja Sandro terlihat marah, dia minta bicara denganku besok, astaga Audreey, kamu harus jelaskan pada Emma!"
"Lagi pula mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih, Sandro tidak seperti itu pada Emma..."
"Usia mereka terpaut jauh dan Sandro memang sangat menyayangi adiknya itu terlebih setelah mami mereka meninggal. Sepuluh tahun Audreey, baru sekarang aku lihat Sandro tidak lagi sedih karena kepergian sang mami... kamu membuat masalah. Selama ini Sandro begitu percaya padaku..."
"Itu kesalahanmu selalu tutup mulut tentang Sandro..."
"Kami bisa bersahabat sampai sekarang karena kami menjaga privasi masing-masing. Sepuluh tahun Sandro tidak pernah menceritakan apapun tentang papi atau adiknya, baru sekarang dia lebih terbuka dengan membawa adiknya bertemu kita dan kamu menjadi pengacau..."
"Itu karena aku tidak tahu. Persahabatan kalian juga sangat aneh, tahu tidak... masa dia bersahabat denganmu tetapi menolak berinteraksi dengan istrimu..."
"Tidak ada yang aneh, kami berusaha saling menghargai keadaan dan kebiasaan masing-masing... justru hubunganmu dengan teman-temanmu yang aneh, berteman tapi saling memanfaatkan, berteman karena mencari status sosial dan saling bersaing siapa yang paling hebat, berteman tetapi saling menceritakan keburukan... Ahh Audreey, jika Sandro marah tentang ini... Ahh... sini hpmu..."
Miro merampas hp di tangan istrinya, membuka kunci layar lalu melihat galeri, segera menghapus semua foto dan video yang diambil istrinya saat di dalam restoran.
"Kamu harus berubah Audreey, sifatmu dan gaya hidupmu!"
Miro memberikan gawai istrinya lalu pergi dengan mobilnya. Rasa marah membuat dia meninggalkan istrinya begitu saja.
.
.