Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 47. Mereka yang dari Masa Lalu



Dria mengawasi dua karyawan prianya mengatur pot keramik berbagai ukuran, warna dan bentuk. Usahanya telah berkembang jauh, toko ini juga menyediakan berbagai produk pernak-pernik kebutuhan rumah. Dria mengamati pengunjung atau konsumennya rata-rata ibu rumah tangga, umumnya pengunjung yang sedang merenovasi rumah, membangun rumah, atau mau menata kembali interior rumah.


Bisnis ayah digabung dengan bisnisnya menjadi paduan yang menaikkan minat pengunjung berlama-lama di lokasi ini dan tak sedikit yang melakukan transaksi karena tertarik dengan apa yang dilihat. Lokasi yang dilengkapi sebuah kafe keluarga yang hommy di area yang hijau asri karena dikelilingi oleh taman cantik, jadi semacam tempat hangout yang kini ramai pengunjung.


Seorang pengunjung yang sedang mengitari toko besar itu memperhatikan Dria dengan seksama merasa mengenal Dria, postur Dria seta wajahnya yang dia kenali dulu tidak banyak berubah hanya terlihat lebih dewasa, walau keseluruhan penampilan saat remaja masih melekat di tubuh Dria. Saat melihat salah seorang karyawan yang berseragam coklat muda dengan banyak saku, pengunjung itu bertanya untuk memastikan…


“Eh... perempuan yang mengunakan terusan kotak-kotak hijau muda itu, siapa?”


Karyawan Dria lalu menjawab sopan…


“Itu pemilik toko ini…”


“Sandriana? Namanya Sandriana?”


“Iya… kak… benar, ibu Sandriana.”


Karyawan pria itu senyum ramah pada pengunjung wanita yang bertanya, wanita yang entah sudah menikah atau masih gadis.


“Eh… saya bertanya lagi… seluruh kompleks ini milik Sandriana atau dia hanya menyewa tokonya…”


“Setahu saya ini milik keluarga boss kami, kak…”


“Oh ya? Seluruh kompleks ini? Kafe juga?”


Seperti ada mimik tidak percaya pengunjung wanita yang bertubuh tinggi di atas 170 cm dengan bobot yang lumayan. Dia masih mengamati Dria dari posisinya di dekat rak yang berisi berbagai model keranjang, tampah, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lain berbahan rotan.


“Iya kak…”


Karyawan toko ini masih menunggu di dekat wanita itu dengan sikap siap membantu, entah pengunjung benar-benar niat membeli atau sekedar bertanya mereka wajib melayani dengan sikap sopan dan ramah. Pengunjung wanita itu tanpa bicara lagi meninggalkan karyawan pria itu dan mencari rombongannya.


Pengunjung wanita itu bernama Adeleyda gadis yang mengenal Dria karena peristiwa di masa lalu dalam keluarganya. Saat bertemu sekumpulan pengunjung yang adalah keluarganya dia segera memanggil mamanya.


“Mama… ma…”


Seorang wanita dengan rambut bergelombang dipotong pendek tampilan ibu-ibu sosialitas memandang anaknya dengan mengernyit melihat anaknya yang bertumbuh bongsor melangkah cepat ke arahnya, wanita yang ada di kisaran usia lima puluh tahun itu sedang mendorong trolly besar berisi belanjaannya.


“Keranjang rotan yang mama inginkan ada?”


“Ada ma… banyak pilihannya lucu-lucu… mama tinggal pilih, tapi… mama tahu tidak siapa pemilik tempat ini?”


“Kamu mengenal pemiliknya? Bagus itu… kita bisa minta potongan harga.”


“Mama juga mengenalnya… pemilik seluruh tempat ini Sandriana.”


“Sandriana? Sandriana yang kita kenal?"


"Iya ma..."


"Sandriananya Reginald?”


“Iya… dia.”


“Dari siapa kamu tahu tempat ini miliknya?”


“Tadi aku melihatnya sedang mengawasi karyawannya lalu aku memastikan pada salah satu karyawannya bertanya siapa dia, karyawannya mengatakan itu boss mereka pemilik tempat ini.”


“Tempat seluas ini?”


“Iya semuanya… dia pemiliknya.”


“Apa… apa kamu sudah berjumpa dengannya?”


“Belum, ma… aku hanya melihatnya… cukup dekat, tapi dia belum melihatku. Mama mau temui dia?”


“Bertemu? Mmmh adikmu Egi mana?”


“Dia di kafe, katanya mau menyelesaikan pekerjaannya di sana.”


“Panggil adikmu, Adel… minta dia datang ke sini…”


“Kafenya jauh ma…”


“Astaga Adel… tidak sampai seratus meter…”


“Iya tapi kakiku sakit sejak tadi mengikuti mama berputa-putar di toko besar ini. Mama telpon saja…”


Wanita mama si Adel menelpon anaknya.


.


“Egi, kamu bisa ke sini sekarang?”


“Mama sudah selesai belanja?”


“Belum… tapi…”


“Ma, pekerjaanku banyak, jangan ganggu aku dulu, boss menunggu email dariku. Ada Elsar kan jika mama butuh bantuan mengangkat barang ke mobil…”


.


Telpon ditutup anaknya Reginald. Sang mama tahu anaknya tidak mungkin dipaksa jika pekerjaannya belum selesai.


“Anak itu, dia ijin sakit tapi harus bekerja… percuma mama memaksa dia ikut…”


Sang mama menggerutu.


“Adel… kita cari Sandriana, bukan untuk bertemu dia, hanya ingin melihat apa itu benar-benar dia…”


“Mama tidak mempercayai aku?”


“Bukan tidak percaya Adel, hanya ingin melihat seperti apa dia sekarang.”


Adeleyda berjalan mendahului mamanya.


“Elsar… kamu pegang trolly ini…”


Seorang remaja tanggung berseragam SMA yang dipanggil Elsar bangkit dari sebuah kursi yang disediakan untuk tempat istirahat bagi pengunjung mengambil trolly besar sang mama lalu kembali ke kursinya semula, dia sedang menambah daya gawainya di tempat yang disediakan untuk itu.


Wanita yang juga berbadan tinggi itu mengikuti anaknya Adel yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya, mencoba mencari Dria di tempat dia melihat Dria tadi.


Tidak ada Dria di sana. Adel mencegat seorang karyawan yang berseragam setelan coklat muda dengan banyak saku dan di dada kiri ada logo toko milik Dria.


“Eh… Sandriana mana?”


Karyawan Dria yang ditanyai tersenyum ramah, lalu tangannya menunjuk dengan sopan di mana Dria berada sekarang.


“Ibu ada di sebelah sana…”


Adeleyda berhenti di posisi yang cukup aman, berada di antara rak-rak yang berisi pot-pot keramik tempat di mana Dria berdiri tadi. Adel tidak ingin mendekati Dria dan bertemu langsung, dia berbalik dan melihat mamanya sedang mendekati dirinya.


“Itu… ma…”


Adel menunjuk seorang wanita muda yang sedang berjongkok menyamakan tingginya dengan seorang anak perempuan kecil yang terlihat menggemaskan, terlihat sedang mengobrol dengan anak kecil itu. Di samping anak kecil itu berdiri seorang anak lelaki yang terlihat sebagai kakaknya.


“Apa benar itu Sandriana?”


Mama dari Adel melebarkan matanya seolah mau memastikan sosok yang dilhatnya benar-benar Sandriana yang dia kenal sebagai teman anak lelakinya, Reginald.


“Itu memang dia… sekarang mama yakin?”


“Iya… dia semakin cantik ya Del?”


“Dia memang cantik sejak remaja, ma… sekarang terlihat semakin bersinar…”


"Dia berhasil memperbaiki hidupnya, memiliki usaha sebesar ini berarti hidupnya sangat mapan."


“Adel… apa itu… mungkinkah… mungkinkah itu anak Egi?”


Adel terbelalak, di masa itu dia berusia dua tahun di atas Dria dan usianya sudah cukup dewasa untuk mengetahui apa yang terjadi antara Sandriana dengan adiknya Reginald.


“Dia masih terlalu kecil, ma… mungkin masih tiga tahun, tidak mungkin ma…”


“Bukan anak perempuan, yang kakak… anak lelaki itu…”


“Hahh? Mungkin saja…”


Jiwa Adel segera diliputi rasa ingin tahu yang besar segera mencari sumber seseorang yang bisa ditanyai, dan itu mudah saja karyawan toko ini dengan mudah dapat dikenali dari seragam mereka.


“Eh… pot keramik ini berapa harganya?”


Adel mengangkat sebuah pot keramik yang mengkilat berbentuk kotak berwarna hijau tua. Karyawan toko yang lewat sigap datang mendekat.


“Ada harga di bagian bawah, kak…”


“Oh… saya tidak melihatnya… apa ada warna yang lain, saya mencari warna putih…”


“Ada kak… kita menata sesuai warna, warna putih ada di bagian ujung sana, kak…”


“Oh? Mana?”


Adel mengikuti karyawan wanita yang berjalan di depannya. Posisi mereka sekarang semakin dekat dengan posisi Dria yang masih mengobrol riang dengan kedua anak dari pengunjung toko.


Dria memang seperti itu, bila ada anak-anak yang mengikuti orang tuanya mereka datang di tokonya Dria selalu mengajak bercanda kadang memberikan coklat atau sekedar memberikan merchandise tokonya.


“Ini kak…”


“Oh iya… terima kasih ya… eh anak-anak itu lucu kan?”


Telunjuk Adel mengarah pada dua anak yang bersama Dria.


"Oh iya benar kak..."


Karyawan itu hanya menimpali ramah saja sebagai salah satu kewajiban mereka dalam memberikan layanan yang terbaik untuk pengunjung.


"Anak laki-laki itu usianya berapa ya?"


"Oh... Kalau tidak salah ingat tujuh tahun tahun kak..."


Karyawan masih menjawab dengan ramah, dia sempat mendengar saat Dria bertanya pada anak-anak itu, dan sekarang dia kembali bertugas karena pengunjung yang dia ladeni telah meninggalkan dia begitu saja, tidak menyentuh atau melihat barang yang tadi dicarinya.


Adel mencari mamanya lagi.


"Ma... Anak lelaki itu berusia tujuh tahun..."


"Sangat cocok dengan perkiraan mama, Del... kemungkinan besar itu anak Egi... Itu... Itu cucu mama?"


"Sebentar ma, aku mencari informasi lagi..."


"Jangan, mereka bisa mencurigaimu jika terlalu banyak bertanya, dan bisa saja mereka memberitahu Sandriana, mama tidak siap bertemu dia sekarang. Panggil adikmu saja, biar dia yang melihat sendiri, dia saja yang bertemu Sandriana."


"Kenapa sekarang mama ingin Egi bertemu Sandriana? Apa mama sudah lupa dahulu melarang Egi sampai Egi disingkirkan jauh ke kota B?"


"Sekarang berbeda, dahulu mereka belum pantas menikah, masih anak-anak... sekarang mama menginginkan cucu mama..."


"Astaga ma... mungkin Sandriana sudah menikah dengan orang lain."


"Lakukan saja, yang penting adikmu bertemu Sandriana dahulu. Eh... coba kamu lihat, anak perempuan itu ternyata anak salah satu pengunjung toko ini..."


Sang mama tersenyum saat melihat sepasang suami istri telah bersama dengan anak perempuan lucu itu dan sedang berjalan ke pintu lebar keluar meninggalkan toko, pemandangan yang kemudian memicu rasa ingin tahu yang segera diwujudkan oleh sang mama...


"Adel... cari tahu apa Sandriana sudah menikah atau belum..."


"Tadi mama melarang aku mencari informasi lagi."


"Iya tadi... sekarang tanya ke karyawan toko yang berbeda, pandai-pandai menyusun kalimat supaya tidak mencurigakan."


Adel pun melakukan instruksi sang mama, tak lama dia telah kembali dengan senyum puas di wajahnya.


"Sandriana belum menikah ma..."


"Bagaimana caramu bertanya? Mereka tidak curiga kan?""


"Tidak... tenang saja."


"Beritahu adikmu, Del... siapa tahu hubungan mereka bisa tersambung lagi, adikmu masih menyimpan foto Sandriana di dompetnya."


"Mama juga melihat itu?"


"Iya... ayo cepat sana..."


"Mama aneh... Kenapa sekarang jadi bersemangat seperti ini? Padahal dahulu paling menentang dan paling menolak keadaan Sandriana, menolak menikahkan mereka."


"Iya mama tahu, itu sudah lama berlalu... dahulu juga mereka ayah Sandriana begitu sederhana, mama malu berbesan dengan pria dengan penampilan seperti ayah Sandriana, tapi sekarang berbeda, Del... makanya sekarang cari adikmu, dia pasti ingin bertemu Sandriana."


"Telpon lagi saja ma..."


"Tidak akan diangkat lagi, kamu tahu adikmu..."


.


Di tempatnya Dria baru saja berpisah dari anak-laki-laki yang disalah artikan oleh mama si Adel. Ada Tety menemani si Nona Muda.


"Bertemu anak itu membuatku merindukan Jojo dan adik-adiknya. Apa kabarnya mereka ya?"


Dria memandang anak lelaki itu yang sedang mengikuti mamanya ke arah sekitar kafe tempat di mana mobil mereka diparkir.


"Kita ikut Tuan Muda pulang nanti Non... sudah lama Non Dria tidak pulang ke rumah besar."


"Astaga Tety... rumahku di sini sekarang..."


"Kan itu rumah Non Dria juga..."


"Baiklah... itu rumahku... tapi ide untuk berkunjung ke sana aku setuju, Tety... aku akan beritahu Tuan Muda tampan itu supaya tidak usah datang akhir minggu ini... kita berdua saja yang ke sana, bagaimana?"


"Saya mau, Non... saya merindukan suasana di rumah itu..."


"Tapi kita naik kereta..."


"Iya, Non... tidak masalah..."


"Ah... aku jadi ingat bu Sonia menyuruh aku ke kafe mencoba menu baru... ayo Tety kita ke sana."


Dria hanya sesekali datang mengontrol tokonya, sudah ada manager toko. Setelah usahanya semakin besar, kak Sandronya lewat Timo mengatur managemen toko sehingga sekarang lebih tertata, tidak lagi dilayani secara tradisional tetapi telah tersistem dengan baik. Perubahan besar dan terlihat seperti toko houseware yang terkenal di banyak kota di negara ini.


.


.


Di kafe milik Dria yang dikelola oleh bu Sonia, seseorang menatap tanpa berkedip dari dalam kafe kedatangan dua orang perempuan, tapi matanya tertuju pada Sandriana.


Pria itu, sedang duduk menghadapi mejanya dengan sebuah laptop dan beberapa makanan dan minuman di atasnya. Dia tertegun saat mengangkat muka menangkap sosok perempuan yang sedang melangkah sambil berbicara dengan teman di sampingnya. Dia adalah Reginald, pria dari masa lalu, melihat Dria lagi setelah delapan tahun berlalu.


Dia tidak akan mungkin lupa sosok cinta pertamanya, tidak akan mungkin lupa apa yang pernah terjadi di antara mereka berdua.


.


.