Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 56. Timo Pensiun



Timo tahu ada peningkatan dalam hubungan sang Tuan Muda dengan Non Dria karena sepanjang jalan dari rumah menuju kafe ini bibir si Tuan Muda tak berhenti mencium kepala si Nona Muda. Rangkulan pun berubah menjadi begitu posesif, tangan tidak pernah diturunkan sedetik pun dari aktifitasnya yang beragam sekarang, merangkul, memegang kepala, memegang punggung, merapihkan rambut, dan lain-lain. Timo hanya mengikuti dari belakang dengan senyuman, terlebih dalam pandangannya si Tuan Muda terlihat seperti anak remaja yang baru mengenal cinta.


Timo mencatat dalam otaknya bahwa ini hari bersejarah sang Tuan Muda, mungkin satu tahun ke depan dia akan ketambahan mengatur satu jadwal acara si Tuan Muda, perayaan hari berkencan pertama kali, atau perayaan menjadi sepasang kekasih. Atau bahkan mungkin saja dia harus segera mencari wedding organizer terbaik. Dalam prediksinya hal terbaik sedang datang untuk Tuan Mudanya.


Untuk pertama kali Timo tidak memesankan makanan atau membayarkan makanan untuk Tuannya, dia hanya perlu memesan untuk diri sendiri. Kafe ini milik Non Dria, pasti Non Dria tahu menu apa yang terbaik, maklum Tuan Muda akan selalu mencari menu terbaik untuknya.


Nampaknya Timo akan pensiun dari kegiatan mengurus sang Tuan Muda. Sekarang biarlah Non Dria yang merasakan bagaimana repotnya melayani Tuan Muda yang hanya tahu menikmati sesuatu, semua sudah diatur dengan baik, benar-benar seperti seorang pangeran yang tidak tahu menggunakan tangannya, bahkan gawai sendiri enggan dipegangnya.


Benar saja, dia yang siaga tidak dipanggil, bahkan mungkin tidak dibutuhkan sekarang, tapi demi reputasinya sebagai bawahan yang baik, Timo mengambil meja yang tidak begitu jauh dari Tuan Muda untuk berjaga-jaga atau mengantisipasi sesuatu untuk kenyamanan Tuannya.


Tapi untuk Dria dan Sandro dari banyak makan siang yang telah mereka lakukan bersama sebelum ini, makan siang berdua kali ini berjalan dengan aneh jusru, padahal menjadi makan siang pertama di mana Sandro lebih bebas untuk mempraktekkan jurus-jurus romantisnya, baru sekali ini dia dapat bertindak sebagai seorang kekasih perhatian untuk Dria.


“Kakak… berhenti menyuapkan makanan… ya? Dee bisa sendiri…”


“Kenapa? Apa tidak boleh? Itu dilakukan banyak pasangan. Coba kamu perhatikan di beberapa meja, ada yang seperti itu…”


“Iya Dee paham, Dee melihat juga… tapi untuk mereka cocok saja, untuk kakak sama sekali tidak cocok…”


“Tidak cocok? Itu yang dilakukan para pria untuk kekasihnya…”


“Kakak sudah terlalu tua untuk melakukan itu.”


“Dee???”


Sandro terperangah Dria menyebutnya sudah tua, dia agak sensitif dengan umurnya sekarang. Tangan Sandro yang sedang memegang sendok langsung lemas dan sendok terjatuh di dalam piring.


“Hahaha… jangan marah, itu hanya gurauan, hahaha… kakak terlihat jelek dengan wajah seperti itu… hahaha…”


Dria tertawa, matanya menyipit dan Sandro tersihir dengan ekspresi tertawa lepas Dria, hati yang dongkol karena perkataan Dria seketika langsung adem dan bahkan sebuah rasa penuh teka-teki yang berasal dari rasa memiliki yang kuat terhadap wanita yang sedang menertawakan dirinya menjadikan dirinya ikut tersenyum walau canggung. Otaknya berubah, jutaan neuron secara aktif melepaskan hormon yang membuat dia senang sekaligus hormon yang menyebabkan emosi tentang rasa cinta yang sekarang terikat pada Dria, sehingga Sandro tak bisa marah pada Dria.


“Kamu…”


Hanya itu yang bisa Sandro katakan, dia melipat tangannya di dada bersandar dengan wajah entah seperti apa. Dria menghentikan tawanya saat melihat Sandro hampir merajuk.


“Maaf ya kakak… maaf… Dee keterlaluan ya…”


Perubahan ekspresi Dria yang begitu cepat membuat tangannya terulur mencubit pipi Dria.


“Kamu menertawakan kakak… kakak hanya ingin lebih memperhatikanmu, Dee…”


Entah sebuah pengeluhan atau memang sudah merajuk sekarang atau hanya perkataan untuk merespon Dria.


“Maaf kalau begitu… Dee hanya salah tingkah sebenarnya… banyak mata menatap kita sejak tadi, terutama karyawan di sini, kurasa mereka merasa agak aneh, mereka tahu kita kakak beradik, dan kakak sejak tadi bersikap agak berlebihan untuk ukuran itu, Dee hanya tidak nyaman.”


“Ahh kakak… jangan keras kepala, seperti biasa saja terhadap Dee ya? Kakak tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya… jadi agak aneh buat Dee…”


“Kakak akan melakukan itu mulai sekarang.”


Sandro bersikukuh, menatap dengan ekspresi merajuk pada adiknya oww sekarang kekasihnya.


“Astaga… Tuan Muda… coba perhatikan, pak Timo saja ekspresinya menjadi aneh sejak tadi… hanya sungkan saja sehingga pak Timo tidak menertawakan kakak…”


“Apa, ekspresi aneh apa? Mana Timo? Berani dia menertawakanku?”


Mata Tuan Muda mencari sekretarisnya…


“Bukan... Pak Timo juga memperhatikan sikap kakak dari sebelah sana… mungkin merasa aneh karena kakak tidak biasa seperti ini... begitu...”


Timo cepat mengantisipasi saat dilihatnya Non Dria menunjuk padanya, Timo segera sibuk dengan ponselnya. Tadi pandangannya beberapa kali bersirobok dengan pandangan mengeluh Dria yang dibalas dengan senyum oleh sang sekretaris, dia sudah memperhatikan tingkah Tuannya, dan sepertinya dia paham dengan apa yang sementara terjadi antara Tuannya dengan Non Dria, ada pertengkaran lucu-lucuan antar kekasih di meja itu.


Sandro menemukan Timothy yang sedang serius dengan gadgetnya seolah tidak peduli dengan sekitar. Sandro melihat Dria lagi.


"Timo tidak melakukan apa-apa."


Dria tak ingin membuat Timo dimarahi kakaknya maka Dria mengalihkan saja.


"Kita teruskan makan saja, kakak makan makanan milik kakak ya, aku makan milikku... Setelah selesai kita melihat pertunjukan musik ya?"


Dria menyentuh sejenak punggung tangan kakaknya, menatap dengan intens membuat kakaknya mengangguk patuh. Akhirnya Sandro bisa makan dengan tenang kemudian. Berhadapan dengan Dria dengan status yang lebih intim membuat Sandro ingin memanjakan atau melakukan apa saja untuk kenyamanan Dria, tapi dia harus menerima juga sudut pandang Dria tentang semua hal termasuk mengenai hal-hal sepele.


Sandro segera mengerti mengenai mereka berdua, ibaratnya dia ingin berlari ingin secepatnya meningkatkan cara mereka saling bersikap, tapi nampaknya Dria perlu setapak demi setapak. Dia ingin buru-buru meningkatkan status mereka, tapi Dria butuh penyesuaian.


Kewarasan Sandro pulih sekarang, nalarnya segera menggiringnya untuk bersikap lebih dewasa, dia hanya mengikuti dorongan hatinya yang begitu menggebu menyikapi status yang baru ini, begitulah...


Yang penting di sini, kehidupan cintanya sekarang linier dengan keinginannya, memiliki Dria sebagai kekasihnya seperti masuk pada level kesejatian hidupnya sebagai pria...


.


.


Aku nulis sedikit banget, sejak kemarin aku agak terpengaruhi dengan performa novelku... Dikit banget yang baca dan kasih like... Hehehe, kadang angka begitu mengintimidasi, begitulah. Terprovokasi dengan seseorang yg melihatku menulis dan mengatakan... Apakah worthed, energi dan waktu yg aku buang, apa sebanding dengan yg aku terima...


Begitulah, jd ambigu teroooos. Maafkan Aby yg sedang labilious 🫣