
Sebuah deringan di gawai khusus Tuan Muda berbunyi. Di dalam ruangan besar kantornya meskipun volume gawainya rendah tapi tetap saja itu terdengar karena memecah kesunyian. Dalam tiga kali panggilan Sandro tak melirik sedikitpun, alunan nada dering ‘As Long As You Love Me’ dari Backstreet Boys lebih menjadi sebuah instrumen penghibur si Tuan Muda tanpa keinginan menjawab panggilan yang menggunakan nada dering tersebut.
Ini membuat Timothy paham apa yang harus dia lakukan, menjawab panggilan itu mewakili si Tuan Muda. Ya... Tuan Mudanya memang seperti itu, kadang bisa begitu mengacuhkan panggilan di gawainya, padahal jika gawai khusus itu berbunyi itu adalah dari seseorang yang terdekat dengannya. Tapi begitulah... jika sedang serius dengan pekerjaannya, panggilan dari Tuan Besar pun bisa diabaikan, jadi jangan dibahas jika dari Emma, itu tidak ada pengecualian.
“Tuan, saya tidak bisa menjawabnya, ini dari nona Emma…”
Timo menyodorkan gawai hitam milik si Tuan Muda. Wajah serius Tuan Muda sedikit ada riak nampak terganggu, tapi tak urung mengambil apa yang disodorkan Timo.
Sandro menjawab lalu menghidupkan speaker dan meletakkan gadgetnya di meja.
.
“Em…”
“Kita ketemu, ya… makan siang bersama… Aku perlu bicara sesuatu.”
“Hari ini? Tentang apa Em?”
“Iya, hari ini… Nanti saat bertemu aku ceritakan…”
“Tapi siang ini aku tidak bisa, kita dinner nanti malam, nanti Timo reservasi tempatnya.”
“Nanti sekretarisku saja… ada tempat yang ingin aku datangi bersamamu.”
“Baiklah… aku tutup, aku sedang sibuk Em...”
.
Itu saja, terlalu singkat sebenarnya untuk sepasang kekasih, tapi itu percakapan normal mereka selama ini.
Timo saat si Tuan Muda menjawab telpon kekasihnya sengaja menjauh sejenak, sekarang segera datang mendekat lagi, tanpa menjauh pun sebenarnya tidak masalah untuk Tuan Muda, dan lagi isi percakapan mereka sangat biasa dan selalu seperti itu.
Timo membantu membereskan file yang telah diperiksa Tuan Muda yang berserakan di meja besar penuh kekuasaan yang menguasai hajat hidup ribuan karyawan Mega Buana. Sandro selalu memilih mempelajari semua file penting dengan membaca hasil cetakan, dia tidak menyukai terlalu lama berhadapan dengan layar elektronik termasuk komputer, gadget bahkan tv. Sandro sangat menjaga kesehatan matanya terhadap pancaran radiasi alat elektronik.
Tuan Muda kemudian berkutat lagi dengan hal yang sementara dia periksa, dia akan sangat teliti dengan semua hal sekalipun jika sebuah berkas penting sampai ke mejanya seharusnya itu sudah beres karena dia punya bawahan yang sangat berkompeten di bidang masing-masing.
Saat istirahat siang…
“Tuan… setelah makan siang, ada meeting dengan Direktur Pemasaran dan Direktur Produksi.”
Timothy mengingatkan, Tuan Sandro tidak bereaksi. Matanya justru mengarah ke luar ruangan karena melihat bayangan Dria yang sedang meninggalkan mejanya bersama Delfris mengikuti tiga sekretarisnya yang lain.
“Dria mau ke mana? Sebentar lagi makan siang…”
“Oh itu… Non Dria tadi memberitahu akan makan di kafe bersama Ruby, karyawan dari Divisi Keuangan, anaknya bu Lia…”
“Lain kali minta Dria memberitahu sendiri pada saya.”
“Kenapa juga Tuan tidak mengatakannya secara langsung pada Non Dria?”
Timothy menjawab seperti itu tapi tentu saja hanya di dalam hatinya.
Sandro berkata setengah jengkel, baru dua kali mereka melewatkan makan siang bersama dan Sandro mulai menikmati kebersamaan mereka, meskipun Dria belum banyak bercerita, masih sedikit kaku bercakap dengannya. Walaupun begitu hatinya seperti tak sabar untuk menunggu jam makan siang. Bahkan tadi sengaja menolak ajakan makan siang dari Emma karena lebih memilih makan siang di kantor bersama Dria. Rasanya Sandro ingin membayar semua waktu kebersamaan yang hilang sepuluh tahun ini, ingin merealisasikan janji seorang kakak pada adiknya.
Dria memang belum sepenuhnya bebas saat berhadapan dengannya, belum seperti saat gadis itu masih seorang gadis kecil hingga beranjak remaja, Sandro bisa mengingat bagaimana begitu manjanya Dria padanya. Sampai saat ini masih terekam jelas dalam ingatannya yang begitu kuat bagaimana tawa paling bahagia Dria serta tangis paling sedihnya.
Karenanya dalam beberapa hari ini Sandro seperti ingin melihat lagi bagaimana Dria bermanja padanya. Sandro lupa bahwa sebelum ini di antara mereka tidak ada interaksi normal sebagai kakak dan adik, wajar sebenarnya jika Dria belum sepenuhnya bisa bersikap terbuka pada si Tuan Muda.
Dan satu hal, sepuluh tahun kehidupan Dria tanpa seorang ibu hanya bersama ayah yang bingung bagaimana mengurus seorang gadis remaja, telah membentuk pribadinya menjadi gadis yang mandiri.
“Tuan… silahkan, makan siang anda sudah siap.”
Timothy memberitahu Tuannya lalu menuju sebuah kursi tempat biasa dia duduk menunggu sang Tuan Muda menyelesaikan makan siang, setelah itu barulah dirinya sendiri yang makan siang dan melanjutkan dengan istirahat selama kurang lebih satu jam jika memungkinkan untuknya, sebelum memulai kegiatan padat kembali.
Sebuah pesan dari sekretaris Nona Emma berdenting di gawai Timothy, memberitahu tempat di mana Tuan Muda dan kekasihnya akan dinner nanti malam.
.
🌵
.
Sandro gelisah di tempat duduknya, lebih kurang lima belas menit dia duduk sendiri di sebuah restoran dan belum ada tanda-tanda Emma akan muncul. Biasanya Sandro memahami jika Emma terlambat karena itu kebiasaan Emma setiap kali mereka bertemu, Sandro akan menunggu dengan tenang, tidak menghubungi menanyakan posisi Emma apa sudah dekat tempat mereka bertemu, tapi kali ini Sandro telah menanyakan posisi Emma lebih dari dua kali.
Setelah setengah jam berlalu, Sandro hampir saja berdiri dari meja mereka untuk meninggalkan resto mewah itu…
“Sandro… jalanan sangat macet… jadi aku sedikit terlambat kali ini…”
Emma duduk dengan wajah penuh senyuman. Penampilannya begitu stunning dan tentu saja sangat berkelas. Apa yang melekat di tubuhnya bisa dipastikan bukan brand dalam negeri meskipun dia seseorang yang berkecimpung di dunia fashion punya garmen dengan brand ternama juga punya perusahaan tekstil yang besar di negara ini.
“Kamu selalu terlambat Em, bukan baru kali ini…”
Sandro tak menahan kekesalannya, begitu jelas mewarnai kalimat yang baru dia ucapkan. Sandro kemudian masih melanjutkan gerutuannya…
“Lain kali jangan membuat aku menunggu seperti ini, waktuku terbuang percuma di sini…”
“Biasanya kamu tidak protes San…”
Emma memberengut. Baru berjumpa lagi setelah dua minggu, langsung mendapatkan kalimat bernada tak sedap dari Sandro.
“Tidak protes bukan berarti aku menerima… lain kali aku tidak akan menunggumu, belajar menghargai waktu kita yang terbatas…”
Emma mengernyitkan dahi memandang Sandro, prianya bersikap berbeda sekarang.
“Aku tadi pulang ke apartemen untuk mandi dan berganti pakaian, aku tidak ingin bertemu kamu dengan pakaian yang sudah seharian melekat di tubuhku, makanya aku sedikit terlambat…”
Emma mencoba memberi penjelasan, raut muka kekasihnya sangat tidak enak dilihat, dia tidak biasa dengan sikap Sandro yang seperti ini, biasanya tidak ada hal yang seperti ini, tidak ada pembahasan soal sikap terhadap satu dengan yang lainnya.
“Aku masih dengan pakaian yang sama Em…”
“San… pria berbeda dengan wanita, aku ingin selalu tampil baik bila bersama dirimu…”
“Aku tidak pernah peduli soal seperti itu Em, bagiku sama saja… kamu tetap Emma apapun yang melekat di tubuhmu, tidak akan merubah apapun tentangmu dalam pandanganku.”
Emma menjadi heran dengan perkataan Sandro, dia beranggapan selama ini Sandro begitu mengerti dirinya dan mereka telah saling memahami. Sisi lain Sandro terlihat sekarang, Emma pikir Sandro pria terbaik yang begitu sabar menghadapi dirinya sebagai wanita dan selalu memberi pengertian yang besar terhadap apapun tentang dirinya sebagai kekasih tiga tahun ini.
Dan lagi, dia merasa sia-sia telah melewatkan waktu beberapa jam mempercantik diri karena ingin tampak sempurna di mata Sandro.
"Jadi... Selama ini, sia-sia aku selalu menampilkan sisi terbaik dan tercantik diriku? Itu tidak berharga untuknya..."
“Baiklah… kita makan sekarang saja…”
Wanita dengan rambut berwarna coklat itu mengalihkan suasana dengan kalimat itu sambil memberi isyarat kepada seorang pelayan yang akan melayani mereka secara khusus yang telah menunggu tidak jauh dari tempat mereka.
Setelahnya mereka makan dalam diam, terlihat dari cara Sandro makan, dia tidak begitu berselera dan menikmati makan malam mereka.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Sandro tidak berbasa-basi, dia menjadi tidak sabar menunggu Emma selesai makan untuk membicarakan sesuatu yang disebut Emma siang tadi saat menelponnya.
“Sebentar…”
Wanita yang selalu cantik dan sempurna dalam setiap penampilannya segera menghentikan makannya mengambil tissue di meja lalu membersihkan mulutnya. Jangan menunggu Sandro melakukannya, Sandro tak akan mungkin seromantis itu. Sandro hanya memperhatikan kegiatan Emma itu, sejujurnya dia ingin Emma secepatnya menjelaskan setelahnya dia bisa segera pulang juga.
Sekarang Emma menatap Sandro yang berwajah serius yang juga sedang menatap padanya.
“Aku… mulai minggu depan akan menetap lebih lama di S… kamu tahu, brand milikku marketnya sedang terbuka lebar di negara itu, aku perlu melihat sendiri beberapa kerjasamaku dengan pihak sana… ini prospeknya sangat bagus… kantorku yang di sana sudah siap…”
“Itu saja? Aku pikir ada sesuatu yang penting.”
“Ini penting San… tak lama lagi kita akan tinggal di negara yang berbeda, aku harus memberitahu hal sepenting ini padamu kan? Masa aku pergi diam-diam?”
“Bukankah selama ini seperti itu? Kamu telah bolak-balik ke negara itu tanpa memberitahuku?”
“Itu karena aku hanya beberapa hari di sana, ku rasa tak perlu memberitahumu. Tapi sekarang berbeda, untuk sementara ini aku akan ada di sana, mana mungkin tidak memberitahumu…”
“Baiklah, aku sudah mendengarnya jadi sekarang aku akan pulang.”
Emma kembali mengernyitkan kening hasil lukisan di wajahnya itu. Tanggapan Sandro terlalu biasa, dia tidak suka. Masa akan berpisah lama Sandro seolah-olah tidak terpengaruh.
“San… kamu tidak memberi tanggapan apapun?”
“Maksudmu? Apa yang kamu harapkan? Kamu memberitahu kegiatanmu nanti dan aku sudah mendengarnya. Tanggapan apa yang kamu inginkan dariku?”
Emma menghembuskan nafasnya dengan kasar. Seorang teman baiknya pernah mengkritisi hubungan mereka berdua yang menurut dia terlalu aneh, hubungan kekasih yang tanpa hati… Emma bersikeras membantah dan menegaskan pria seperti Sandrolah yang paling sempurna untuknya terlebih karena selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Tapi nampaknya pernyataan temannya ada benarnya, Sandro terlalu datar dan sama sekali tidak pernah berperilaku sebagai kekasih yang lembut dan manis. Mengapa dia tidak melihat hal ini sebelumnya?
“Kita akan tinggal di dua negara berbeda dan tampaknya itu tidak masalah buatmu…”
“Em… kenapa memperumit keadaan? Kamu sendiri yang akan pergi, apa itu masalah buatmu?”
“Ya… maksudku… aku ingin mendengar sesuatu tentang itu dari mulutmu, bagaimana menurutmu tentang kita yang akan tinggal di tempat yang berbeda…”
“Apa itu penting dan bisa membuatmu mengubah keputusanmu?”
“Ya… tentu saja… tidak…”
Emma menjawab setelah berpikir sejenak.
“Berarti jelas sekarang, ku ulangi Em… jangan memperumit keadaan, kamu akan pergi, silahkan… itu hidupmu sendiri, obsesimu, pekerjaanmu… aku tidak pernah mencampuri hal-hal itu kan selama ini…”
“Ya… aku tahu… tapi aku butuh tanggapanmu sebagai seseorang yang paling dekat denganku mengenai langkahku ini… aku butuh dorongan darimu San…”
“Itu? Em… ini sangat kekanakan dan kontradiktif, ibaratnya kamu telah melangkah jauh ke depan, kamu telah melesat sendiri sementara aku ada jauh di belakangmu… bagaimana aku bisa mendorongmu?”
Titik pandangan mereka ternyata berbeda. Benar-benar Sandro tidak mengerti apa yang Emma ingin dengarkan dari mulut Sandro sebagai kekasih. Setidaknya jika tidak keberatan dengan tindakan Emma, beritahu saja sesuatu yang indah, kalimat penyemangat atau kalimat harapan dan doa, terutama tentang hubungan mereka. Baru sekarang Emma mengerti bahwa hubungan mereka ternyata tidak berada di tahap saling memahami, hubungan mereka tak sedalam yang dia kira.
“Mengapa aku sekarang merasa kamu tidak memiliki harapan tentang hubungan kita atau tentang keberadaan diriku untukmu, San?”
Emma berkata pelan dengan wajah sedikit tertunduk. Entah kenapa, tiba-tiba Emma menjadi lebih intens memikirkan hubungan mereka kali ini.
“Kamu salah Em… aku memiliki harapan tentang hubungan kita, kita pernah membicarakannya bahkan aku sudah memperkenalkan kamu pada papi… jangan hanya karena kamu akan pergi ke S kemudian tiba-tiba dirimu jadi melankolis seperti ini…”
“Kita memang membicarakannya… tapi aku mulai menyadari bahwa kita hanya membicarakan sebuah ikatan hubungan… dan kita tidak menaruh harapan dan perasaan kita di sana…”
“Ayolah Em… kenapa denganmu malam ini? Kamu telah terintimidasi dengan jarak dan dua negara berbeda, kita telah menjalani hubungan kita dengan cara yang sama selama ini, ada di kota yang sama tapi jarang bertemu… bukankah itu sama saja? Apa yang kamu kuatirkan?”
Emma terdiam sejenak sementara Sandro menyandarkan punggungnya. Sandro menjadi lelah dengan bahasan mereka yang menurutnya sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.
“Jujurlah San… apa kamu benar-benar mengharapkan aku menjadi istrimu?”
“Kenapa menanyakan lagi sesuatu yang sudah pasti? Em… pergi saja ke S, aku tidak keberatan… dan jangan membahas hal yang tidak perlu…”
“Istri seperti apa yang kamu harapkan San? Apa aku telah memenuhi itu…”
Emma masih meneruskan tak peduli dengan ucapan Sandro sebelumnya.
“Emma Lynne…”
Sandro menjadi tidak suka dengan cara Emma malam ini.
“Jawab saja… aku ingin tahu San… ini penting buatku…”
“Hubungan kita telah berjalan selama ini… itu artinya keinginan dan harapanku tentang dirimu masih sama…”
Emma teringat sesuatu…
“Audreey pernah mengatakan… kamu menginginkan istri seperti mamimu yang tinggal di rumah dan mengurus rumah, mengurus anak-anak dan dirimu saja, aku… aku tidak bisa seperti itu…”
Emma berkata dengan suara rendah. Membayangkan hidup seperti keinginan Sandro membuat dia bergidik, dia tidak suka berdiam diri, dia juga tidak suka anak-anak, dia tidak suka pekerjaan seorang ibu rumah tangga, dia wanita modern yang independent dan sedang menjalankan bisnis yang lumayan besar. Dia tidak mau hidupnya 'terpasung' di rumah hanya karena menjadi istri seorang Sandro.
Mata Sandro menatap Emma lekat dan diam beberapa saat… Dia memang punya bayangan dan impian tentang seperti apa istri idealnya. Tapi dia tidak pernah menyinggung hal itu di hadapan Emma.
“San…”
“Sudahlah Em… aku lupa pernah mengatakan itu… ayo kita pulang saja, aku terlalu lelah dan kamu tahu aku tidak suka tiba di rumah melewati jam sepuluh…”
Sandro segera berdiri dari kursi, menegaskan pada Emma tentang sikapnya yang tak ingin memperpanjang pembahasan mereka serta menegaskan niatnya untuk segera kembali ke rumah. Terpaksa Emma meraih tas dan gawainya yang dia letakkan di meja sebelum mulai makan tadi.
“Ayo… aku akan mengantarmu kali ini…”
Sandro berkata sambil meraih tangan Emma menggenggam tangan itu agar Emma segera mengikutinya beranjak dari sana.
.
🌼🌼🌼
.