Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 62.Lebih dari Indah



"Kita mau ke mana, Timo?"


Sandro bertanya saat menyadari arah yang sedang ditempuh bukan arah pulang.


"Ke stasiun kereta api Tuan... menjemput Non Dria."


Sandro seperti disentil di jidatnya, kenapa Timo sekarang yang lebih peduli tentang Dria, bahkan sejak diberitahu oleh Timo Dria akan datang, informasi itu tidak melekat di memorinya sehingga hari ini tidak heran bila kemudian dia melupakan hal tersebut. Pantas saja pak Mulyo tidak ada sekarang dan Timo sendiri yang mengendarai mobilnya, Dria pasti datang bersama Tety.


Dalam hati Timo mempertanyakan sikap si Tuan Muda. Apa Tuan Muda ini sedang kehilangan tujuannya? Mengapa begitu cepat berubah? Entahlah hanya dia yang bisa mengendalikan hidupnya termasuk pikiran tentang Dria dan pernikahan mereka, sementara Timo hanya orang luar yang tetap melakukan tugas yang harus dikerjakannya meskipun dalam urusan ini si Tuan Muda bersikap pasif.


Di stasiun seperti biasa Timo bisa mengurus sehingga mereka bisa berdiri di peron yang diperkirakan Timo menjadi tempat pemberhentian terdekat gerbong yang ditumpangi Non Dria.


Dalam hati Sandro merasakan debaran, berasal dari bagian hati yang menyadari bahwa dia mengabaikan Dria dan dia tidak tahu apa sikap Dria tentang hal itu. Beberapa kali dia melihat ke pergelangan tangannya untuk menghitung berapa menit lagi Dria akan tiba.


Saat kereta tiba dan saat melihat sosok Dria yang berjalan mendekatinya, mata yang saling berpaut, kemudian diikuti senyum canggung Dria, Sandro sejurus kemudian menyadari bahwa wanita ini adalah bagian dari jiwanya.


"Kakak..."


Suara Dria menyapa gendang telinganya, Dria berdiri canggung dengan jarak empat langkah darinya, otak yang bekerja membawa kesadaran pada seluruh indra menuntun Sandro untuk melakukan sesuatu, Sandro berinisiatif sekarang meraih tubuh Dria, yang sesungguhnya di alam bawah sadarnya Sandro menyimpan banyak rindu untuk kekasihnya ini. Pelukan penuh kerinduan menerjemahkan isi hati dengan jelas membuat beberapa waktu dua insan ini seolah tidak peduli dengan sekitar, menuntaskan tuntutan hati untuk saling merasakan keberadaan masing-masing.


Perlahan mereka melangkah meninggalkan peron itu dengan sikap tubuh layaknya sepasang kekasih. Sandro merangkul posesif tubuh Dria, melindungi dari kepadatan orang-orang di stasiun ini.


"Dee senang bertemu kakak..."


Dria mengatakan itu karena merasakan ciuman sayang sang kakak di kepalanya, merasakan rangkulan sang kakak di pundaknya mendatangkan bahagia. Sejak terakhir kakaknya berkunjung Dria tidak memaksa untuk intens menghubungi, membiarkan arah kehidupan berjalan dalam alurnya, selama hampir satu bulan keadaan menahan setiap tindakan untuk sekedar bertukar kabar, jika bukan Timo yang membuat janji mungkin keadaan ini akan berlangsung lebih lama.


“Aku juga senang bertemu kamu, Dee…”


Sandro membalas dengan suara sedikit bergetar sambil tersenyum karena Dria sedang menengadah padanya. Dia jujur mengatakan perasaannya bukan sekedar merespon Dria walau dalam hati dia meringis karena ada di sini menjemput Dria atas inisiatif Timo, bukan darinya.


Tety dan pak Timo mengikuti mereka dari belakang, dua asisten yang merangkap menjadi teman sebenarnya, yang selalu ada dalam setiap bab kehidupan dua majikan yang dilayani sepenuh hati, menjadi saksi pasang-surut romansa cinta mereka berdua.


Dalam perjalanan pulang, dua sejoli duduk merapat, Sandro menggenggam erat jemari tangan Dria, satu tindakan yang menghangatkan mereka berdua. Perlahan Dria merasa damai menyusup di hatinya, berharap semua telah kembali seperti sebelumnya.


“Sudah tinggal di rumah kita?”


Sandro memecah keheningan. Dria senyum kecil, setiap kali Sandro menyebut frasa ‘rumah kita’ Dria selalu merasakan sesuatu yang indah, menyatakan sesuatu yang dimiliki bersama seolah menunjukkan bahwa mereka juga saling memiliki.


“Belum… tapi Dee ke sana setiap pagi…”


”Kenapa?”


“Ahh? Tidak apa-apa… nanti saja… lagi pula ayah belum mau tinggal di rumah itu, Dee mengikuti ayah…”


“Ayah belum bisa dibujuk?”


“Ayah sudah pernah mengiyakan, nanti Dee tanyakan lagi ya…”


Walau Sandro tak banyak bicara tapi sambutan Sandro cukup menyenangkan untuk Dria, perkiraannya sebelum ini meleset, dia mengira dia hanya akan dijemput sopir atau pak Timo, ternyata ada kakaknya.


.


🐥


.


Pagi hari, Dria keluar dari kamarnya, berhenti sejenak di depan pintu mencoba menunggu, apakah kakaknya akan keluar dari kamar di jam yang sama, tapi beberapa menit berlalu tidak ada suara atau gerakan apapun, Dria memutuskan segera turun menuju ke bagian belakang rumah besar ini.


Dria menyapa para pelayan yang dilewatinya lalu di ruangan favoritnya di rumah ini yaitu di dapur yang besar Dria berhentai sejenak dan mengobrol sebentar dengan bu Lia dan teman-temannya di area belakang rumah ini.


“Halo Bu Lia… bu Lia sehat?”


“Non… wah senang rasanya ada Non Dria… ibu sehat Non… kita semua sehat di sini…”


“Syukurlah. Masak apa hari ini bu Lia?”


“Seperti biasa… sarapan pagi Tuan Muda dan Tuan Besar adalah kue-kue dan roti-roti…”


“Ahh aku rindu suasana rumah ini, bu…”


“Non Dria tinggal lama kali ini kan…”


“Ahh… itu… aku tidak tahu, bu…”


“Tinggallah lebih lama Non…”


“Kita lihat nanti ya bu…"


Dria kemudian menuju ke pintu keluar.


"Mau ke mana Non..."


"Biasa bu... aku rindu lari-larian di halaman belakang.... hehe..."


"Non ingin ibu buatkan sesuatu untuk sarapan?"


"Ahh... terserah bu Lia, semua masakan bu Lia sudah terbayang-bayang beberapa hari ini, aku merindukan semuanya, hehehe... aku mau ke halaman sekarang…”


“Silahkan Non…”


“Silahkan bekerja ya bu Lia…”


Dria mencari pak Abdi, dia ingin memberi makan sekaligus bermain dengan ayam-ayam yang ada di pekarangan belakang, sebuah kegiatan yang tidak bisa dilakukannya di kota S.


“Pak… sekarang berapa ekor semua?”


Suara ayam mulai saling bersahutan.


“Mungkin ada seratusan Non, tidak bisa saya hitung…”


“Tidak bertambah pak?”


“Sekarang bu Lia sering mengambil untuk dimasak Non… nanti saya beritahu untuk tidak mengambil lagi…”


“Ahh… tidak apa-apa pak Abdi, ini untuk dikonsumsi juga… pak Abdi kalau ingin makan ayam bakar silahkan mengambil juga…”


“Oh, terima kasih Non… tapi yang minta ayam sebenarnya nak Rahel Non, ibunya Jojo… katanya Jojo sebentar lagi berulang tahun… mungkin nak Rahel ingin mengadakan syukuran di rumah belakang…”


“Ah begitu, berikan saja, katakan jangan sungkan mengambil sesuai kebutuhan ya pak Abdi… jika ada yang butuh silahkan mengambil, ini dipelihara di sini jadi semua orang di rumah ini bisa menikmatinya.”


“Begitu ya Non? Non Dria memang baik…”


“Ahh… itu biasa pak Abdi, kita harus selalu menabur hal baik kan…”


“Apa di S Non memelihara ayam juga?”


“Ahh… sayang sekali tidak bisa, pak… padahal aku ingin melakukan itu. Tapi masalahnya tempatku itu sudah jadi lokasi bisnis, rasanya kurang baik jika ada ayam ratusan ekor berkeliaran di tempatku…”


“Oh begitu?”


“Kakak Dria…”


Josef atau si Jojo berlari datang mendekat diikuti dua adiknya. Dria tertawa lebar menyambut anak-anak itu.


“Ibu memberitahu ada kakak Dria… aku pikir ibu hanya membohongiku supaya segera bangun…”


Jojo yang paling berani bermanja pada Dria dibanding kedua adiknya. Dria memeluk mereka satu persatu tapi pada akhirnya Jojo yang kemudian dirangkulnya, Noel dan Benjamin hanya berdiri dengan sikap malu-malu di dekat mereka.


Jojo tak sungkan untuk bertanya tentang apa yang paling dia sukai dari Dria.


“Hari ini? Ahh… kakak harus mengikuti Tuan Muda ke kantornya, besok saja ya…”


“Baiklah… padahal kupikir hari ini aku akan makan kue terenak di dunia… kue kakak Dria adalah kue terenak di dunia…”


“Ahh?? Begitukah?”


“Iya…”


“Baiklah, karena kamu mengatakan hal yang baik… besok kakak akan membuat kue yang banyak…”


“Yang banyak yaa kakak Dria, janji ya kakak Dria, kakak Dria jangan sampai lupa ya…”


Jojo mengulangi takut Dria melupakan itu.


“Iya… kakak tidak akan lupa.”


Dria kemudian meminta ketiga anak itu ikut melemparkan makanan untuk ayam-ayam yang sudah mulai berkumpul.


Kesenangan pagi di area belakang rumah besar diamati Sandro dari tempat gymnya. Setiap kali Dria datang ke rumah ini, Dria akan membuat rumah ini seperti mendapatkan energinya, suasana di rumah ini mendadak berbeda karena Dria akan melakukan banyak hal di seluruh rumah ini.


Sebelum mengetahui tentang anak Dria, pemandangan Dria bermain dengan Jojo dan adik-adiknya membuat Sandro membayangkan anak mereka berdua nantinya, tapi setelah dia tahu alasan apa Dria menyukai anak-anak, beberapa waktu sebelum ini hal itu membuat hatinya hambar.


Dan sekarang memandang Dria yang seolah langsung menyatu dengan rumah ini membuat hatinya merasakan sebuah aliran sejuk yang mendamaikan. Semalam dia telah memutuskan untuk mengesampingkan semua penghalang yang sempat membuat tawar hatinya. Dia tidak ingin terombang-ambing lagi dipermainkan penolakannya, stag di antara dua keadaan hati, mundur-maju tentang rencana masa depannya dengan Dria. Cukup sudah dia bimbang untuk maju, dan rasanya cukup juga hubungan mereka merenggang.


Sandro yang harus mengambil tindakan, dia hafal sikap Dria, dalam keadaan seperti ini dia tidak akan mendekat dan tidak akan menjauh. Dria selalu menunggu, Dria tidak menjauh darinya tetapi tidak memaksa untuk meminta perhatiannya atau bersikap intim dengannya. Saat Sandro membatasi dirinya, Dria segera merasakan itu dan melakukan hal yang sama. Ketika dia mendekat maka Dria pun akan melakukan hal yang sama.


Dan penemuan hatinya yang membuat Sandro meneguhkan hati adalah bahwa dia tidak mungkin mencari wanita lain, terutama dia menyadari cintanya hanya untuk Dria.


Sandro membuka jendela besar di ruangan gym itu, tangannya bertepuk beberapa kali sambil memanggil nama Dria.


“Dee… Deedee…”


Suara panggilan Sandro bisa ditangkap Dia di tengah keriuhan suara ayam-ayam yang sedang berebutan makanan serta suara ramai tiga bocah yang menikmati kegiatan mereka bersama Dria.


Pagi sudah sepenuhnya datang, walau kilauan sinar mentari belum nampak dan jejak langit malam keabuan di langit masih tertinggal, tetapi cahaya pagi sudah bisa memunculkan sosok Sandro dengan jelas. Tangannya yang melambai-lambai dengan wajah yang tersenyum sempat membuat Dria terpana.


Dria pamit pada anak-anak yang menemukan keasyikan memberi makan ayam-ayam bersama pak Abdi. Dria mendekat ke arah jendela besar itu dengan dada berdegub. Senyuman sang kakak yang semakin jelas karena jarak yang semakin terkikis menjadi penyebabnya. Ekspresi sang kakak hari ini terasa berbeda dari semalam.


Dria berlari sekarang, panggilan hati yang berasal dari perasaan indah membuat langkah kakinya ringan.


“Jangan lari Dee… kamu bisa jatuh nanti…”


Dria tertawa sampai di bawah jendela rumah besar itu yang cukup tinggi dari tanah. Sandro membungkuk dengan dua tangan terulur.


“Ayo, naik ke sini…”


Dria tak membantah keinginan sang kakak, Dria menyambut uluran tangan kakaknya lalu memanjat dengan dua kaki bertumpuh pada bagian fondasi rumah yang sedikit menonjol.


“Hati-hati, sayang…”


Hati Dria terasa penuh mendengarkan kata indah untuknya. Dengan bantuan kekuatan Sandro Dria berhasil memanjat dan masuk ke ruangan itu. Timo yang ada di sana hanya bisa memaklumi adegan yang dilihatnya, menganggap itu suatu hal yang cukup romantis dari Tuannya yang hari ini bersikap kontras dengan sikap kemarin hari.


“Ah… padahal ada pintu kan… Dee masuk lewat jendela, seperti pencuri saja…”


“Jauh... kamu harus berputar..."


"Ahh iya, tapi untuk apa juga Dee masuk ke sini? Dee tidak akan berolahraga..."


Sandro tertawa, tubuh Dria masuk ke dalam pelukannya, lalu mengiring Dria menuju alat yang akan digunakan.


"Temani aku saja.... belum pernah kamu masuk ke sini kan sebelum ini?"


"Iya... karena Dee tidak membutuhkan ruangan ini, Dee tidak suka berolahraga..."


"Kali ini temani aku ya sayang..."


"Sunshine..."


"Hahaha... katanya tidak suka dengan panggilan itu..."


"Ahh... sekarang Dee berubah jadi sedikit suka..."


Dria mengatakan dengan suara dan mimik malu. Sandro mencubit hidung Dria, hati yang bebas membuat tangan jadi bebas bersikap pula. Setengah jam kemudian, Dria mulai tidak betah hanya duduk di dalam ruangan itu menonton sang kakak berpindah-pindah menggunakan alat.


"Kakak... sudah ya, Dee mau mandi saja..."


"Aku hampir selesai, sayang, tunggu sebentar lagi ya..."


Sandro sedang melakukan bagian terakhir dari latihannya.


"Lamaaa...."


"Tidak sabar..."


"Itu benar..."


Sandro tertawa lagi, hatinya semakin pulih, rasa gemas pun hadir lagi menuntun tangannya untuk datang menyentuh Dria lagi membelai sayang dan kemudian berlanjut menjadi ciuman selamat pagi yang datang menghampiri jidat, dua pipi Dria dan berakhir di bibir lembut Dria. Tak ada yang senikmat berdekatan dengan kekasih hati.


"Kakak berkeringat, wajah Dee jadi basah..."


Dria mendorong tubuh basah Sandro yang kini menempel padanya.


"Timo, minta handuk..."


Di tempatnya Timo paham bahwa dia akan sering menyaksikan adegan orang dewasa ini, Timo mendekati dua sejoli ini sambil menyodorkan apa yang diminta Tuannya. Dria baru sadar, ada orang lain di dekat mereka, dan pasti pak Timo melihat apa yang dilakukan kakaknya padanya, Dria salah tingkah.


"Ah? Sejak tadi ada pak Timo di sini... kenapa aku lupa ya... ahh."


Timo hanya tersenyum samar saat bersitatap dengan Dria.


"Ayo... Kita harus bersiap sebelum sarapan. Kamu belum bertemu papi semalam..."


"Ahh iya..."


Sandro kemudian berjalan keluar dengan menggandeng Dria.


"Apa aku jadi ikut kakak ke kantor?"


"Iya... Kita ada janji dengan WO sesudah makan..."


"Ah begitu ya... Baiklah.


.


Indah yang lebih dari indah, adalah saat bersama dalam satu visi ke depan, mewujudkan impian tentang masa delan akan menjadi petualangan yang memikat...


.


Hi.... Terima kasih untuk semua atensi pembaca sekalian yang diberikan untuk ceritaku ini 🙏🙏😇😇... Semoga masih menikmati alurnya.


.