
Hidup berjalan lebih baik. Ketika mengikuti keadaan Dria, Sandro akhirnya melakukan cara yang sama seperti sebelumnya untuk masuk ke hati Dria. Untuk sekarang Sandro tidak memaksa atau mencari kesempatan untuk menyatakan cintanya. Sandro hanya meningkatkan intensitas komunikasi mereka dan setiap minggu tidak pernah alpa lagi untuk berakhir pekan bersama Dria. Cara itu berhasil sebelumnya, membuat hubungan mereka kian dekat, dan itu berhasil juga sekarang.
Mereka berdua ada di lokasi pembuatan rumah baru, rumah yang dalam rencana Sandro akan menjadi rumah kedua mereka di masa depan, rumah utama tentu tetap saja rumah besar yang sudah pasti diwariskan kepadanya. Papi termasuk orang tua yang tidak ingin tinggal terpisah dari anaknya yang cuma Sandro saja, demikian juga ayah. Dua orang tua mereka pun terlihat tak punya rencana untuk pernikahan kedua. Jadi Sandro sudah menjelaskan idenya kepada salah satu kantor konsultan yang dia percayakan menangani rancangan rumahnya.
“Papi dan ayah masing-masing akan punya area pribadi di rumah ini, bukan hanya kamar tidur tetapi beberapa ruangan pribadi yang mereka butuhkan sehingga mereka leluasa dan nyaman…”
“Wah… rumahnya akan sebesar apa? Dee punya area pribadi… kakak juga, rumahnya akan seperti apa?”
“Akan seperti yang kita butuhkan, tempat yang nyaman tentu untuk keluarga… kakak sudah perhitungkan untuk area anak-anak juga…”
“Anak-anak?”
Dria bertanya, nalurinya menangkap suatu maksud.
“Ya… kita akan menikah dan punya anak kan?”
Dria melepaskan diri dari rangkulan Sandro, risih mendengar pembahasan ini.
“Pikirkan untuk kebutuhan anak-anak kak Sandro saja…"
Dria masih coba menyangkali konsep ‘anak-anak kita’ dalam perkataan Sandro adalah anak-anak mereka berdua bukan dengan pasangan lain. Dalam berbagai kalimat bersayap Sandro selalu menyisipkan sentilan-sentilan tentang hubungan mereka berdua. Dria yang takut Sandro tersinggung dan menjadi terluka seperti waktu yang lalu sering membiarkan saja. Tapi kali ini Dria coba sedikit menunjukkan penolakan.
"Kamu juga akan memiliki anak kan?"
"Tidak. Kakak yang harus menikah secepatnya… papi sudah menginginkan cucu... Dee tidak punya rencana untuk menikah jadi mana mungkin punya anak."
"Sekarang kamu belum ada rencana menikah... jangan mengatakan tidak ada rencana, Dee..."
"Memang tidak ada..."
"Tidak ada yang pasti di dunia, kita manusia selalu berubah dan kita tidak tahu apa yang menanti di depan sana..."
"Tapi Dee memang.... aduuh..."
Sandro menjepit hidung Dria untuk menghentikan Dria bicara.
"Kakak... hidung Dee patah..."
Dria mengusap-usap hidungnya. Sandro tertawa lalu mengacak rambut di kepala Dria dengan gemas.
"Hahaha... Patah ya? Mana?"
Dria yang cemberut membuat Sandro semakin tertawa lalu memeluk bahu Dria dan membawa Dria berjalan menuju bagian yang lain di lahan itu. Dria segera melepaskan diri, lalu berkata dengan nada kesal yang tidak benar-benar kesal, ada perasaan bahagia sebenarnya tersembunyi di balik itu...
"Kak Sandro harus punya kekasih supaya bisa melakukan apa saja padanya, bukan padaku..."
Sandro menarik baru Dria lagi dan merangkul lebih erat tanpa merespon perkataan Dria. Dria tak pernah menolak lagi semua afeksi yang dia berikan. Setiap bertemu dan akan berpisah Sandro sudah sering memberi ciuman sayang, ungkapan-ungkapan perhatian dan cinta lewat sentuhan yang dibiasakan Sandro tidak lagi ditolak Dria, membuat Sandro yakin bahwa hati Dria sesungguhnya juga sudah berisi tentang cinta untuknya. Hanya penyangkalan verbal saja yang masih dia dengar dan itu tak berpengaruh sekarang untuk Sandro.
“Apa rumah di rumah ini perlu dibuatkan kolam renang? Kakak lupa bertanya padamu waktu itu… Dalam desainnya arsitek memasukkan itu…”
“Ahh… kakak tidak suka berenang kan? Dee juga tidak suka… untuk apa membuat kolam renang jika tidak dipergunakan?”
“Tapi mungkin suatu saat anak-anak kita butuh…”
“Anak-anak kakak… bukan anak-anak kita…”
Dria melepaskan rangkulan Sandro.
“Haha… kenapa jadi sensitif… baiklah… anak-anak kakak… tapi kakak akan mengajari mereka memanggilmu mami… kamu juga yang akan mengurus dan membesarkan mereka nanti, jadi itu akan menjadi anak-anakmu... sama saja kan... anak-anak kita...”
Dria tersenyum masam. Dia masih enggan membuang sekat di hati walau tahu semua maksud dan perlakuan Sandro untuknya, dan egoisnya dia juga menikmati itu sekarang bahkan kadang baru tersadar setelah beberapa kemanjaannya ditertawakan Sandro.
Dria tak menampik Sandro tapi tak bisa juga menghilangkan rasa malu dan takut tentang keberadaannya, nilai diri yang berhasil ditanamkan oleh sang mami dan pernah dia lupakan karena terlena oleh suatu tawaran manis dahulu. Dan sangat teguh prinsip dalam hatinya tentang tak ingin ditolak dan dipermalukan.
“Kakak pernah dengar kamu mengatakan ingin punya anak yang banyak… lupa?”
Sandro berbicara sesaat kemudian, masih enggan melepaskan topik tentang anak.
“Ahh? Tidak, Dee tidak lupa… kadang kala Dee memang menginginkan itu. Dee pernah menyalahkan keadaan Dee karena terlahir sebagai anak tunggal… Dee pernah merasa sangat kesepian merasa tidak punya siapapun... sangat merindukan kakak waktu itu tapi kakak ada di jauh dan Dee sadar kakak bukan kakak kandung Dee. Makanya Dee pernah punya keinginan hati kalau seandainya menikah ingin anak Dee tidak mengalami seperti yang Dee alami… tapi sudahlah kak, tidak usah dibahas ya…”
“Iya. Itu terjadi di masa lalu, dan itu tak akan terjadi sekarang dan nanti… kita tidak akan pernah kesepian lagi, kita sudah bersama sekarang…”
Sandro meraih tangan Dria sekarang dan menggenggamnya lalu membawa Dria kembali ke toko, tadi dia menganggu kesibukan Dria untuk menemaninya melihat persiapan pembangunan rumah baru mereka, ya itu rumah mereka walau secara verbal Dria belum mau mengatakannya tetapi setiap pembicaraan mengenai rumah itu Dria terlihat antusias.
Ini cukup sekarang meskipun sering terasa sikap ambigu Dria tapi Sandro semakin yakin dia tidak akan kembali ke titik nol untuk perjalanan hubungan mereka. Hanya masalah waktu saja untuk sekat dalam cinta mereka terlepas.
Tersisa bagaimana caranya membuat Dria mengerti bahwa Sandro telah mengetahui masa lalunya dan membuat Dria tahu tentang penerimaan Sandro untum masa lalu itu, itu saja kekhawatiran Sandro yaitu bagaimana melepaskan trauma masa lalu Dria.
Tapi rasanya kebahagiaan yang utuh semakin dekat saja...
.
🐢
.
Selamat bermalam minggu yaaa...
Semoga isi cerita yg begitu ringan ini bisa menghibur (walau agak gak yakin, ambigu sekali perasaan otor kayak Dria)
Happy weekend 💙
.