Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 15. Serumit Ini



Mood Sandro benar-benar buruk hari ini. Saat meeting pertama di kantor si CEO memarahi semua orang mulai dari petinggi-petinggi perusahaan hingga OB yang mengatur ruang meeting, tak terkecuali semua sekretarisnya. Semua pekerjaan mereka tidak ada yang benar di mata sang Tuan Muda.


Saat meeting pertama selesai, Sandro kembali ke ruangannya, begitu duduk di kursi kekuasaannya Sandro disambut deringan gawainya yang ditinggalkan di meja. Sandro menatap kesal, dia mengambil gawainya dan memutuskan untuk menjawab panggilan sang kekasih yang sekarang semakin sering berbunyi dan terasa mulai mengganggu.


.


"Ada apa?"


Ada nada jengkel sangat jelas di suara itu.


“San… akhirnya kamu menjawabku…”


Walaupun hati sedikit teriris mendengar cara Sandro menjawab tapi Emma lega Sandro mengangkat panggilan kali ini.


“Kamu menerorku sekarang Em, apa maksudmu? Ini menggangguku. Kalau kamu tidak menghentikannya aku akan memblokir nomormu. Jangan berubah menjadi penganggu, Em…”


Suara dingin dengan kalimat tajam dari seorang kekasih menjadi seperti pisau yang menusuk.


“San?? Kenapa kalimatmu kasar seperti itu? Kamu menyakitiku. Aku tidak akan berulang-ulang menelpon jika kamu menjawabnya sejak pertama kali. Kamu juga tidak biasanya seperti ini, kamu selalu menjawab telponku… hubungan kita baik-baik saja sebelum ini, kamu yang berubah San…”


Suara Emma yang terdengar seperti hendak menangis membuat Sandro diam, mencoba menentramkan hatinya yang sedang dikuasai emosi sejak tadi. Tak ada yang menutup panggilan tapi beberapa detik mereka hanya saling mendengar bunyi napas tanda mereka masih terhubung.


“San…”


Emma memanggil pelan kekasihnya, ingin mengetahui sejauh mana mereka masih bisa melanjutkan percakapan jarak jauh ini.


“Ya…”


Sandro menjawab pendek, masih menata emosinya.


“Apa salah kalau aku ingin bicara denganmu? Apa kamu lupa aku kekasihmu?”


“Ahh… aku... maaf Em…” Suara Sandro melembut.


Emma langsung terisak saat mendengar permintaan maaf Sandro. Ini pertama kalinya dalam hubungan mereka terjadi hal semacam ini. Ternyata untuk menjadi lebih dekat itu tidak mudah. Sejak dia mengatakan keinginannya untuk hal ini, sejak dia menginginkan hubungan mereka menjadi lebih layak sebagai pasangan kekasih, rasanya sejak saat itu dia menemukan sisi lain Sandro.


Sandro bisa mendengarkan suara tangis tertahan dari Emma, mencoba mengingat sekasar apa kalimat yang sudah diucapkan sehingga membuat Emma terisak. Untuk pertama kali mereka berinteraksi dengan melibatkan emosi seperti ini, karenanya Sandro tidak tahu bagaimana merespon Emma sekarang tapi dia tak bisa menutup panggilan, dia baru disadarkan dengan beberapa kalimat Emma tentang hubungan mereka ada di tingkat mana.


"Apa salah jika aku berharap hubungan kita jadi lebih hangat San? Kita sudah tiga tahun bersama... kenapa kamu menolak saat aku menginginkan ini? Kamu meminta aku menikah denganmu, sekarang aku meresponnya dengan membawa hubungan kita ke arah itu, kukira sangat wajar jika aku bahkan menelponmu lima kali sehari..."


Emma berkata pelan dengan suara bergetar di tengah isakannya.


"Maaf Em, aku tidak sadar telah menyakitimu..."


"Baiklah, aku coba memahami ini... kita masih canggung untuk masuk ke dalam hubungan yang aku inginkan... tapi kurasa kamu juga menginginkannya San, kita sudah di tahap mempersiapkan diri untuk menikah... kita harus saling membiasakan untuk menambah kepedulian kita satu dengan yang lain..."


Sandro terpojok di sini, dia sudah memastikan dalam dirinya sejak semalam bahwa dia tidak memiliki secuil rasa cinta untuk Emma. Entah kenapa sampai mereka bisa menjadi sepasang kekasih. Yang dia ingat setelah beberapa kali pertemuan bisnis, beberapa kali mereka menghadiri undangan resmi dan setuju datang sebagai pasangan. Yang dia ingat juga, spontan dia menyetujui ketika Emma mengajaknya masuk dalam hubungan serius. Dan yang dia ingat juga mereka tidak pernah saling menuntut untuk saling memperhatikan dalam tiga tahun ini, hanya sempat tercetus untuk berkomitmen bahwa hubungan mereka serius.


Dan saat dia menyadari bahwa dia tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Emma, kenapa justru Emma menuntut untuk mereka melangkah lebih jauh?


Dulu membahas tentang pernikahan dengan Emma bisa berjalan dengan baik dan tenang seenteng dan seringan membahas masalah fluktuasi saham. Sekarang Sandro merasakan seperti sedang masuk jebakan karena tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa Emma akan mengharapkan peningkatan bahkan nampaknya mulai berusaha memperdalam hubungan mereka. Sementara di dalam hatinya sekarang konsep hubungan yang sedang dibahas Emma sama sekali bukan sesuatu yang dia inginkan.


"Apa sebaiknya aku membicarakan ini secara terbuka? Apa itu tidak terlalu kasar? Tadi saja dia menangis... Mengapa masalah perasaan bisa serumit ini?"


Sandro hanya mampu bicara dalam hatinya sekarang.


"San? Mengapa kamu diam saja?"


Sandro tersadar, gawai hitamnya masih tertempel di telinga kanannya.


"Ah... Em, aku sedang punya sedikit masalah di sini, mungkin kita bicara lagi lain waktu..."


"Baiklah... aku mengerti sekarang mengapa kamu bicara sekasar itu tadi... Itu bukan dirimu yang aku kenal... baiklah... tapi kumohon lain kali jawab panggilan telponku seperti sebelum ini, aku berjanji akan berusaha lebih baik sebagai kekasihmu... maaf sebelum ini aku kurang peduli tentangmu, tiba-tiba aku berubah pasti membuatmu terkejut... makanya kamu bereaksi seperti tadi..."


"Ahh?? Eh..aku tutup Em..."


"Iya... I love you..."


.


Tiba-tiba Sandro merasa pening, dia menyandarkan kepala di kursinya sambil menutup kedua matanya, hingga terpikirkan sesuatu yang bisa menenangkan dirinya.


"Timo, minta Dria membuat kopi untukku..."


"Tuan... Eh... Non Dria tidak ada di sini..."


"Dria ke mana?"


"Eh... Non Dria tidak datang ke kantor sejak tadi pagi."


Sandro membuka mata sambil menegakkan punggungnya.


"Maksudnya?"


"Non Dria tidak masuk kerja, Tuan."


"Bukankah Dria berangkat sebelum kita?"


"Tidak Tuan... saat Tuan marah soal mobil Aud*i... Ada Non Dria di sana."


Dua kelopak mata Sandro terangkat dan sekarang lurus memandang Timo. Dia ingat sempat melihat Dria tadi. Melihat ekspresi Timo, si Tuan Muda yang tidak bodoh ini segera menalar apa yang terjadi. Biasanya Dria akan berangkat ke kantor melalui pintu samping yang langsung berhubungan dengan pintu ke garasi, dan tadi pagi Dria ada di pintu utama dan mobil penyebab emosi dan hatinya menjadi seperti ini terparkir di sana, jadi...


"Selama ini... Dria menggunakan mobil itu?"


Sandro bertanya dengan suara rendah dan dengan hati entah bagaimana, ekspresi Dria tadi sekarang terbayang di pelupuk matanya, itu bukan ekspresi biasa.


"Iya Tuan... Non Dria memilih mobil yang paling tua, dan Tuan Besar yang mengijinkan itu..."


"Dan Dria mendengar semua perkataanku?"


"Iya Tuan... saya sempat melihat Non Dria menangis... saya berpikir Non Dria sangat merasa bersalah dan mungkin takut bertemu Tuan... mungkin karena hal itu makanya Non Dria tidak datang..."


Ya... Timo dengan tepat menggambarkan ekspresi Dria.


"Ahhhh!!!"


Sandro berteriak marah pada dirinya sendiri, lalu memandang tajam ke arah Timothy...


"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal Timotius????"


Suara yang sarat emosi keluar menjadi seperti hardikan untuk Timo.


"Maaf Tuan... anda tadi semarah itu dan tidak memberi kesempatan untuk kami menjelaskannya..."


Sandro berdiri lalu melangkah gontai menuju dinding kaca yang mengarah keluar gedung. Perasaannya campur aduk, kesal dan marah tapi juga menyesali semua perkataannya. Dia ingin sekali menendang sesuatu tapi tidak ada sesuatu di dekat kakinya yang bisa ditendangnya.


Mengapa hari ini semua hal berjalan dengan buruk? Mengapa dia sesial ini? Masalah Emma tak lagi memusingkannya, tapi Dria... Ya Sandro tahu pasti sekarang ini Dria sedang menangis sedih dan dirinyalah penyebab hal itu, dan tiba-tiba kesedihan menguasai hatinya, dan sekarang dia ingin melihat Dria.


Sandro mengambil gawainya lalu menghubungi nomor Dria, beberapa kali mencoba panggilan hanya tersambung dengan operator.


"Timo, hubungi siapapun di rumah, tanya kondisi Dria seperti apa..."


"Baik Tuan..."


Timo melakukan beberapa panggilan. Sandro tidak sabar menunggu Timo, dia mengambil jasnya tapi tidak menggunakannya lagi lalu berjalan keluar ruangan.


"Beritahu aku jika ada informasi, siapkan mobil, aku pulang..."


"Tuan... Ini tas Anda..."


Timo berjalan cepat menyerahkan barang pribadi si Tuan Muda lalu segera menghubungi pak Mulyo, dan terakhir dia harus mencari tahu tentang Dria, ini justru hal yang mendesak untuk dikerjakan olehnya. Timo tidak akan ikut Tuannya, di sini perlu seseorang untuk mengatur semua hal, hati dan pikiran Tuan Muda sedang tertuju pada Non Dria, mungkin si Tuan Muda yang sedang galau tingkat dewa tidak akan kembali ke kantor lagi.


.


🌼🌼🌼


.