Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 25. Sesuatu Karena Dria



Sesungguhnya cinta dapat memberi dimensi yang berbeda dalam kehidupan, sekalipun dampak lain ketika cinta datang pada seseorang adalah sikap yang tidak rasional menjadi dominan, tapi dampak positif tentang perubahan karakter karena pengaruh seseorang yang dicintai akan sangat nyata.


Persepsi Tuan Muda Sandro Kristoffer Darwis tentang dunia mulai berubah, dan seolah Tuan Muda menjalani sebuah dunia yang sepenuhnya berbeda tapi terasa lebih menyenangkan. Ini seperti memakai kacamata yang menormalkan pandangan, membuat semua objek terlihat baik.


Tuan Muda menjadi lebih peduli dan menghargai orang-orang di sekitarnya, menjadi lebih ramah dan membumi. Tuan Muda kini bisa tiba-tiba memanggil Barry sendiri saat membutuhkan Barry, rantai komunikasi menjadi lebih pendek tidak semuanya melalui Timothy, atau Tuan Muda bisa tiba-tiba muncul di meja Hope dan membahas sebuah dokumen sambil bersandar santai di meja milik Hope.


Apakah ini karena melihat pembawaan Dria dalam kesehariannya entah di rumah atau di kantor? Kemungkinan besar seperti itu, karena pada kenyataannya apa yang diminta Dria dituruti dengan senang hati oleh si Tuan Muda.


Suatu siang selesai dengan sebuah meeting, si Tuan Muda baru saja keluar dari lift bersama Timothy dan Barry. Melewati deretan meja para sekretarisnya dan mencuri dengar percakapan Hope dan Gio soal berita viral hari ini tentang seorang Ketua Majelis Hakim sebuah kasus yang sedang disidangkan, si Tuan Muda justru berbelok dan duduk di kursi Barry dan ikut terlibat pembicaraan hot mengenai kasus tersebut.


“Pak Timo… sepertinya kak Sandro masih asyik dengan pembicaraannya, aku lapar pak Timo, aku turun makan di kantin ya… aku sudah lama tidak bertemu Ruby…”


Dria bertanya setengah berbisik pada Timo, dia tidak ingin menginterupsi pembicaraan sang kakak walaupun terdengar itu bukan pembahasan soal perusahaan. Dria tetap menjaga kepatutan saat di kantor, sekalipun sudah biasa bercanda atau menggoda kakaknya tetapi jika di kantor Dria bersikap lebih formal.


“Haha... Non Dria mengambil kesempatan ya… saya pasti dimarahi kalau saya ijinkan Non Dria pergi.”


“Pak… mereka sedang seru dan perutku sudah seru berbunyi juga sejak tadi karena aku tidak sempat sarapan… dan tidak sopan jika aku makan lebih dulu. Aku minta ijin makan di bawah… aku tidak bisa menahan rasa lapar lebih lama, katakan saja alasannya seperti itu.”


Timo tidak mengiyakan tetapi tidak melarang sehingga diam-diam Dria mengambil tasnya lalu menuju lift. Timo sendiri berharap si Tuan Muda akan memahami dan menerima alasan Dria.


Dria tersenyum ramah saat memasuki kantin karyawan. Kehadirannya di kantin tidak lagi seheboh saat awal-awal orang tahu siapa dirinya. Semua berjalan normal sekarang, jika ada yang kebetulan bersitatap mereka akan mengangguk hormat atau sedikit menepi memberi Dria ruang untuk berjalan. Selebihnya para karyawan sudah mengetahui bahwa si Nona Muda senormal mereka dalam menjalani hidupnya, tak terlihat berbeda karena penampilannya yang terlihat simple tidak mencolok mata. Tapi tetap saja, dia si Nona Muda yang akan diperlakukan dengan sangat baik.


“Dria… di sini…”


Ruby melambai saat mata Dria sedang mencari dirinya.


“Ahh... akhirnya aku menemukanmu. Kantin agak ramai hari ini ya… dan aku memanfaatkan statusku sebagai adik Tuan Muda, haha… aku membiarkan mereka mendahulukan diriku ke antrian paling depan, aku lapar… tadi pagi aku melewatkan sarapanku.”


Dria duduk sebaris dengan Ruby di meja untuk empat orang itu.


“Sebenarnya tidak masalah jika kamu tidak mengantri Dri…”


“Masalahnya aku sering lupa aku punya keistimewaan itu, konyol kan… setiap kali mereka melakukannya aku selalu menolak. Ahh… apa aku bodoh ya? Tapi tadi aku tidak menolak lagi, hahaha… ternyata sesekali mendapat prioritas seperti itu cukup menyenangkan.”


Dria tertawa seperti baru menikmati sesuatu yang luar biasa, terlihat tidak dibuat-buat dan itu yang membuat Ruby kadang suka heran dengan sikap Dria yang menurutnya terlalu sederhana dan tidak memusingkan posisi dan statusnya di perusahaan ini, dia selalu bersikap biasa dan hangat sehingga Ruby pun nyaman di dekatnya.


“Orang lain ingin sekali hidup seperti dirimu, tapi kamu justru seolah tidak menyadari dan tidak memanfaatkan keberuntunganmu.”


“Ahh?? Apa aku seaneh itu? Tahu tidak, By… di rumah ibumu dan pak Lucas selalu mengatakan bahwa semua pelayan bisa melakukan apa saja untukku, tapi rasanya aku tidak bisa memerintah orang lain dan meminta orang lain melayani kebutuhanku… tidak nyaman saja… mungkin karena dulu aku melihat mami tidak seperti itu, dan aku terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri selama aku tinggal bersama ayah. Jadi, aku selalu melawan ibumu dan pak Lucas, hahaha… aku tidak punya bakat jadi Nyonya Besar…”


Tiba-tiba perut Dria berbunyi…


“Aku kebanyakan berbicara padahal aku sangat lapar…”


Dria mulai menikmati makan siangnya. Belum sampai lima suapan Dria berhenti lagi saat melihat piring Ruby yang sudah bersih, Dria kembali mengajak Ruby mengobrol.


“Kamu makan apa hari ini, By?”


“Biasa Dri… nasi sayur asem, ayam goreng dan kerupuk.”


“Kenapa menu makan siangmu selalu sama?”


“Hidupku terlalu datar tak ada variasi kata mereka…”


Dengan dagunya Ruby menunjuk beberapa temannya di meja seberang yang juga sedang menikmati makan siang. Dria memandang beberapa wanita di seberang mereka dan tersenyum ramah membalas anggukan mereka.


“Sudah lama sekali sejak aku ke sini pertama kali, mereka masih saja sungkan padaku, padahal aku ingin sekali mereka memperlakukanku dengan normal.”


“Itu aturannya Dria… meskipun kamu bisa datang ke lantai bawah, tapi para karyawan sudah tahu bahwa mereka tidak boleh sembarangan mendekatimu… aku mungkin pengecualiannya.”


“Ahh... itu sangat tidak masuk akal, aku bukan seseorang yang harus diperlakukan seperti itu sebenarnya, membawa nama Darwis saja tidak… pantas hanya kamu saja yang bisa semeja denganku setiap kali aku makan di sini… tapi sudahlah… yang penting aku tidak makan hanya berdua kak Sandro saja.”


“Sebenarnya banyak karyawan yang selalu berharap kamu makan siang di sini, mereka penasaran tentangmu Dri, mereka diam-diam memperhatikanmu jika melihatmu muncul di sini.”


“Oh ya?”


“Iya… karyawan wanita umumnya penasaran dengan penampilanmu, sedikitnya ada yang mengeritik karena penampilanmu terlalu sederhana untuk ukuran keluarga sekaya kalian… tapi tahu tidak, kamu juga jadi trendsetter baru di sini… mereka mengikuti outfit yang kau kenakan, celana berpinggang karet dan kemeja sedikit kebesaran dengan warna netral… juga make up naturalmu.”


“Oh ya? Hahaha, lucu sekali… wah aku jadi sesuatu di sini ya… hahaha…”


“Iya… kamu sesuatu di sini, bahkan membuat banyak karyawan pria menginginkanmu jadi kekasih mereka… coba kamu perhatikan… beberapa dari mereka sengaja duduk berlama-lama di sini hanya untuk melihatmu lebih lama…”


Dria menghentikan tawanya, jika tentang ini tidak lucu lagi.


“Benar seperti itu?”


“Iya nona Sandriana… kamu memang mengundang perhatian banyak orang… selain karena kamu adik Tuan Muda Sandro, kamu juga cantik dan menarik, dan pribadimu yang selalu ramah dan selalu sopan dan menghargai mereka… apalagi coba yang kurang darimu?”


“Ahh… jika seperti itu aku tidak akan turun makan di sini lagi, By…”


“Kenapa? Banyak yang suka bertanya padaku… siapa kekasih Non Dria? Apa Non Dria masih sendiri? Apa mereka punya kesempatan.”


“Astaga? Itu menakutkan…”


“Kenapa? Itu normal untuk seorang gadis sepertimu…”


“Tidak, jika tentang punya kekasih, aku tergolong tidak normal… aku tidak ingin menikah, aku tidak ingin punya kekasih…”


“Tidak…”


“Kenapa Dri?”


“Aku tidak ingin membahasnya, By… maaf…”


“Ohh? Apa kamu pernah tersakiti oleh cinta?”


”Aku tidak ingin membicarakannya…”


Nada suara Dria berubah dengan cepat, cara dia melupakan sakit hatinya adalah membatasi pembicaraan soal-soal semacam itu. Dan karena pembawaannya yang riang Dria begitu cepat mengendalikan situasi, Dria kemudian mengalihkan pembicaraan…


“Tapi aku jadi penasaran, By… apa ada yang menyukai kak Sandro? Dia tampan juga kan? Aku tahu para penggemar the elite man yang banyak di sini… apakah kak Sandro tidak punya penggemar? Lucu juga jika ada…”


“Mungkin tidak ada yang berani mengungkapkannya jika ada. Lagi pula umumnya karyawan hanya melihat Tuan Muda dari jauh, atau melihat dari beberapa foto yang terpampang bila ada acara perayaan di sini, memang... banyak yang penasaran dengan Tuan Muda.”


“Apa kak Sandro tidak menyapa karyawannya saat bertemu?”


“Iya… dan memang jarang ada yang pernah melihat langsung wajah Tuan Muda dari jarak dekat, rumors tentang Tuan Muda yang dingin dan arogan justru begitu kuat.”


“Ahh?? Tidak benar seperti itu, hanya kak Sandro memang sedikit tertutup, kurang suka berhadapan dengan banyak orang… kurasa karena kak Sandro punya tanggung jawab yang berat dan banyak sehingga dia selalu berwajah serius.”


“Banyak yang suka bertanya padaku tentang Tuan Muda, tapi aku pun hampir tidak pernah melihat Tuan Muda saat aku masih tinggal bersama ibu… aku hanya bisa masuk sampai ke ruang dapur di rumah utama, jadi mana mungkin bertemu Tuan Muda.”


“Kamu tahu Ruby, sekarang kak Sandro sudah sering makan di dapur bersamaku… dan bahkan beberapa waktu yang lalu kak Sandro bermain bola dengan beberapa pelayan pria di halaman belakang.”


“Oh ya?”


“Iya… Jika kamu tinggak di rumah, kamu akan sering melihat Tuan Mudamu... dia kadang kala suka mengekori aku, seperti ayam-ayamku setiap pagi, hahaha..."


Ruby ikut tertawa ringan tapi saat memandang ke piring Dria...


"Habiskan saja makanmu Dri, waktu istirahat hampir selesai... nanti kita teruskan mengobrol.”


“Baiklah… tapi tiba-tiba aku jadi merasa kenyang karena bicara denganmu, Ruby…”


“Itu tidak masuk akal, makan makananmu, Dri… itu baru mengenyangkan…”


“Aku sesenang ini bisa bertemu kamu makanya aku jadi keasyikan bicara dan lupa rasa laparku.”


“Eh… aku sejak tadi heran sebenarnya hanya kamu yang turun makan di sini, mana para pria tampan itu?”


“Ahh?? Apa ada pekerjaan penting ya? Tapi setahuku mereka sedang mengobrol bebas di atas dengan kak Sandro. Jangan-jangan mereka melupakan makan siang mereka karena keasyikan mengobrol? Tapi kak Sandro tidak mungkin terlambat makan.”


“Atau mereka sudah meminta OB membelikan makan…”


“Mungkin saja. Aku kembali ke atas saja, Ruby…”


“Selesaikan makan siangmu dulu, Dri…”


“Ah iya…”


Dria segera menghabiskan makanan di piringnya lalu pamit pada Ruby. Saat tiba di lantai teratas gedung ini, Dria sedikit heran para pria tampan tidak ada di sana, kak Sandronya juga tidak ada. Dria melihat jam di tangannya, waktu istirahat belum selesai. Ke mana mereka? Tumben juga kak Sandro tidak menghubunginya. Tapi kemudian sayup dia mendengar suara percakapan, Dria segera mengarahkan kakinya menuju asal suara, itu dari ruang istirahat mereka.


Dria mendorong pintu dan tercengang dengan pemandangan yang dilihatnya, para pria lengkap ada di sini, enam orang dan sedang duduk dan bercakap tanpa jarak sosial seperti biasanya, nampaknya mereka baru selesai makan bersama dan terlihat seperti sebelum Dria turun ke bawah begitu asyik membahas sebuah topik.


Ternyata para pria jika dipertemukan dalam satu konteks pembicaraan yang diminati bersama mereka bisa duduk bersama tanpa memandang status. Memang yang terlihat dominan dalam pembicaraan adalah Barry dan Delfris, sesekali ditimpali Timothy dan si Tuan Muda. Hope dan Gio adalah pendengar yang baik yang selalu kompak menganggukkan kepala jika menyetujui sesuatu.


Bunyi pintu membuat Sandro memalingkan wajahnya lalu auto berdiri sambil tersenyum menyambut Dria.


"Deedee... sudah makan?"


Sebuah pertanyaan lembut sarat perhatian, Sandro mendekati Dria.


"Sudah... Kak Sandro makan di sini bersama mereka?"


"Iya... maaf tadi ya, kakak mengobrol sangat lama sehingga makan siang kita tertunda..."


Sejak pertama kali meminta Sandro berbaur dan lebih peduli dengan ancaman tidak akan membuatkan kopi, Dria tidak menyangka Sandro ternyata akan sejauh ini perubahannya.


"Apa yang mengubah kak Sandro?"


.


.


Readers... part ini begitu ringan seringan sehelai bulu ayam...


Aku malas mikir, lagi pusing krn sstu 🫣.... tapi berharap alurnya bisa dinikmati sih...


.


🐤🐥🐣🪶


.