Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 31. Jetlag?



Sandro terbangun di pukul dua siang. Seluruh ruangan memang lebih gelap karena tirai blackout yang bisa meredam sinar matahari yang ada di jendela-jendela besar kamarnya belum dibuka. Kepala langsung terasa sakit, dan saat hendak bergerak terasa pusing sehingga dia memilih berbaring saja. Dengan linglung dia memandang sekeliling, tubuhnya masih belum bisa berorientasi dengan tempat dan waktu sekarang.


Baru saja melewati satu minggu yang sangat padat dengan aktivitas, kemudian pikiran tentang Dria begitu dominan dan menekan, membuat dia tidak dapat tidur dengan benar di jam istirahatnya di negara itu. Siklus tubuhnya yang berganti karena pergantian zona waktu serta rasa lelah karena keseluruhan perjalanan ini membuat tubuhnya tidak bisa bergerak dengan benar sekarang.


Sedikit cahaya siang hari yang bisa menembus lewat celah tirai membuat Sandro kemudian menyadari ternyata dia ada di kamarnya sendiri. Neuron di otaknya segera bekerja mengumpulkan informasi yang dia butuhkan apakah dia benar-benar berada di kamarnya sendiri atau dia sedang bermimpi. Sulit untuk berkonsentrasi sementara seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan serta rasa kantuk yang belum terpuaskan.


Beberapa kali membuka dan menutup mata membuat kesadaran penuh datang bahwa benar dia tidur di kamarnya sendiri. Kemudian logika dan penalarannya pun segera terkoneksi dengan keadaan, Sandro mengingat sebuah hal, kemarin dalam persiapan untuk perjalanan pulang dia sempat meminta Timo mengubah tujuan perjalanan ke kota S karena rasa rindu pada Dria.


Nama Dria seketika membuat Sandro bangkit, tubuhnya segera melupakan tentang rasa sakit dan lelah serta pusing yang tadi mendera. Terbukti memang bahwa cinta menjadi sebuah sumber energi positif yang seketika membuat tubuh ini dapat menanggung penderitaannya, tiba-tiba otot-ototnya seolah mendapat kekuatan sehingga Sandro setengah berlari menuju pintu berniat mencari Timothy, dia butuh penjelasan dari sekretarisnya itu.


Di depan kamarnya, ada Age yang duduk dengan setia menunggu pintu kamar itu terbuka. Age segera berdiri dari kursinya dan datang ke arah si Tuan Muda di depan pintu kamar.


“Mana Timo?”


“Pak Timo tadi di sini tapi mungkin sekarang kembali ke kamarnya di rumah belakang... saya disuruh menelpon jika Tuan sudah bangun… apa saya telpon sekarang Tuan?”


“Tidak perlu. Kenapa dia tidak pindah saja ke salah satu kamar di sini?"


Sandro masuk lagi ke kamarnya sambil menggerutu diikuti Age yang siap melaksanakan tugas membereskan kamar terbesar di lantai ini.


Sandro mengambil gawainya lalu dia sendiri yang melakukan panggilan pada Timo.


.


“Timo… kenapa kita ada di sini bukannya di S?”


“Anda sudah bangun Tuan? Saya akan segera ke kamar Anda.”


“Timo!!! Jawab perta…”


.


Timo sudah menutup panggilan.


“Ah??? Berani sekali dia menutup panggilanku?”


Sandro ingin meninju muka Timo jika sekretarisnya itu muncul di depannya. Tapi hanya selang tiga menit pintu kamar sudah terbuka, Timo masuk tanpa tahu tindakannya sebelum ini telah membuat si Tuan Muda gusar, dan si Tuan Muda tidak juga melayangkan tinjunya. Mendapati muka geram si Tuan Muda yang terlihat ingin menerkamnya Timo segera bicara.


“Anda sendiri yang merubah tujuan kita di saat terakhir Tuan…”


“Ahh??? Kapan aku mengatakannya? Aku ingat dengan jelas telah memberitahumu waktu itu Timo, kita langsung ke S.”


Si Tuan Muda menyanggah dengan jengkel.


“Memang awalnya seperti itu Tuan, sebelum Anda berbicara dengan Tuan Besar di telpon…”


Garis alis yang tidak terlalu tebal tetapi berbaris rapih itu bertaut sembari menggali memorinya sendiri, dan dia tidak mengingat tentang momen di mana dia membatalkan perjalanan mereka untuk terus ke kota S. Tapi mana mungkin dia lupa? Itu satu-satunya hasrat di hatinya sekarang, melihat Dria lagi, sangat berat terasa menikmati setiap detik tanpa Dria. Hatinya terasa begitu kosong.


Pembicaraan apa dengan sang papi yang membuatnya batal ke S? Sandro memukul pelipis kirinya dengan bagian bawah telapak tangan, seolah dengan cara itu ingatannya jadi normal lagi.


“Ya sudah… kita berangkat sekarang!”


“Kita ke S Timo! Kenapa kamu jadi lambat berpikir dan begitu bodoh?”


Timo mendadak gatal di kulit kepalanya disebut bodoh, ingin dia teriak dia lulus summa cum laude baik S1 maupun S2nya, tapi Timo hanya menggaruk bagian samping kepalanya sejenak, paham tentang kelabilan Tuan Muda yang akhir-akhir ini sering keluar dari pakemnya sendiri. Timo lalu mengambil gawainya untuk menghubungi beberapa orang berkaitan dengan menyiapkan perjalanan si Tuan Muda. Padahal jetlag karena perjalanan jauh ini belum hilang, tapi mau tidak mau dia harus melakukan perintah si Tuan Muda.


Sementara si Tuan Muda melangkah menuju ke kamar mandi sambil melirik jam besar di salah satu bagian dinding kamarnya. Jam dua lebih sepuluh menit.


“Ini jam dua siang atau jam dua subuh?”


Timo mengangkat dua keningnya, lalu memandang ke arah jendela yang tirainya sudah dibuka oleh Age, cahaya telah masuk sepenuhnya dan sekarang kamar begitu terang benderang, apa Tuan Muda ini tidak mampu lagi membedakan yang mana siang yang mana subuh?


“Masa pengaruh jetlag separah ini? Apa karena beberapa hari ini tidak melihat Non Dria lagi maka sirkuit otak Tuan jadi bermasalah? Yang bodoh di sini siapa?”


Timo menggerutu dalam hati. Belum sempat Timo menjawab si Tuan Muda telah menghilang ke dalam kamar mandi.


Lama Timo menunggu si Tuan Muda yang belum keluar juga dari kamar mandi hingga akhirnya Timo mengetuk pintu.


“Tuan… Anda belum selesai?”


Tidak ada jawaban dari dalam. Timo mengulangi pertanyaannya setelah menunggu berapa saat. Kali yang ketiga dia bertanya baru pintu kamar mandi terbuka. Tuan Muda muncul menggunakan jubah mandi warna putih, sudah terlihat lebih baik lebih segar walaupun wajah kuyuh dan kelelahan juga wajah mengantuk masih nyata di sana.


Timo keluar dari ruang ganti itu berdiri tak jauh dari pintu penghubung kamar dan ruangan itu, berdiri menunggu Tuan Muda selesai memakai pakaiannya untuk bertanya tentang perjalanan mereka, berapa lama mereka akan berada di kota S. Pertanyaan batal disampaikan saat melihat si Tuan Muda keluar dari ruang gantinya hanya menggunakan pakaian rumah, sebuah kaos tanpa lengan warna putih dan celana pendek warna biru, dan Timo semakin mengatupkan mulut mendengar perkataan si tuan Muda…


“Age… tutup lagi jendelanya, hidupkan lagi pendingin ruangan, aku mau tidur, masih mengantuk…”


Seketika Timo merasa bersyukur dan ingin bersorak, si Tuan Muda sepertinya lupa apa yang baru saja disampaikan sebelum masuk kamar mandi. Dan senyum Timo mengembang saat melihat si Tuan Muda naik ke tempat tidurnya dan kembali membuka bedcover yang telah terlipat rapih sebelumnya. Dari dalam bedcover abu-abu itu kemudian terdengar suara…


“Perutku tidak enak Timo, kamu panggil Dokter Magda, rasanya seluruh tubuh sedang tidak baik… ada sesuatu yang tidak beres…”


“Baik Tuan…”


Timo mengangguk dan menjadi paham, fisik Tuan Muda pasti sangat kelelahan dan ternyata sedang tidak enak badan sehingga pikirannya sedikit kacau dan tidak singkron dengan kenyataan. Timo mengeluarkan gawainya berniat menelpon Dokter Magda, dokter pribadi keluarga Darwis. Ternyata si Tuan Muda bisa juga merasakan sakit dan lelah padahal dia sangat menjaga kebugaran dan kesehatannya. Atau mungkin karena keadaan hati yang sedang terganggu sehingga tubuh fisiknya menjadi sama terganggunya?


“Timo minta Dria buatkan aku kopi, kepalaku sakit… Dan tanyakan padanya, kenapa hpnya tidak aktif?”


“Apa Tuan??”


Tak ada jawaban. Tuan Muda terkena syndrome apa sehingga menjadi selinglung itu? Baru sekali ini dia mendapati sikap aneh Sandro yang separah ini.


Tak lama berselang suara dengkur halus terdengar dari tempat tidur itu. Timo memberi isyarat pada Age untuk menelponnya jika dibutuhkan. Dia juga masih mengantuk dan ingin istirahat. Melihat gelagat Tuan Muda nampaknya si Tuan Muda akan tertidur dalam jangka waktu yang lama. Timo menelpon beberapa orang terlebih dahulu untuk membatalkan perjalanan ke S, lalu terakhir menelpon dokter Magda. Dengan hati tenang Timo menuju kamarnya, setidaknya dia akan punya waktu yang cukup untuk istirahatnya sampai dokter Magda datang sore nanti.


.


.


Pendek aja dulu yaaaa, lagi byk tugas.


Salam sehat... Jgn lupa good respondnya ya 🙂


.