
Sandriana memperhatikan buku kecil berwarna hijau gelap di tangannya dengan raut wajah tak mengerti bercampur heran. Buku dengan sampul gambar lambang dan nama negara tercinta serta tulisan ‘Paspor’ di bagian bawah itu dia balik halamannya satu demi satu dan dia menemukan data dirinya lengkap tercantum di sana beserta pas foto dan tanda tangannya. Dria memperhatikan tanggal masa berlaku, itu baru saja dikeluarkan. Kapan dia membuat ini?
“Ini siapa yang buat, kak Sandro?”
“Timothy…”
Sandro menjawab pendek dan tumben sekali nama Timo disebut dengan baik, hanya melirik Dria sebentar tapi tak lupa melepaskan senyum menawannya, senyuman yang hanya untuk Dria saja.
“Ini kapan Dee tanda tangan terus kapan Dee punya foto ini? Aahh?? Jadi… waktu itu untuk keperluan pembuatan paspor?”
Kali ini Sandro hanya menjawab dengan seulas senyum. Sekarang jika dengan Dria Sandro sangat royal dengan senyumnya.
Dria segera mengingat beberapa waktu lalu seseorang berseragam datang di lantai teratas gedung ini dan melakukan beberapa hal yang sekarang dia lihat di buku kecil itu, termasuk sidik jari dari lima jarinya. Dria mengatupkan dua bibirnya tanda tidak menyukai apa yang sekarang dipegangnya, terlebih waktu itu pak Timo tidak mengatakan apapun berkaitan dengan pembuatan paspor.
Manusia memang makhluk aneh, seseorang di tempat lain akan sangat bersyukur memegang buku ini, selain sebagai bukti identitas diri juga sebagai dokumen yang membuat dia dapat melakukan perjalanan lintas batas negara. Tapi Dria dengan cepat merasa tidak nyaman bahkan marah karena menganggap mereka melanggar privasinya, tidak menanyakan padanya terlebih dahulu.
“Dee tidak butuh ini, kak Sandro…”
“Kamu sangat butuh itu Deedee… kakak akan membawamu ke beberapa Negara, kakak punya urusan bisnis di sana, dan kamu akan ikut kakak…”
“Dee tidak mau ikut kak Sandro…”
Dria langsung menjawab dengan tegas baik dengan suaranya dan dengan mimik yang menjelaskan penolakkan kerasnya. Sandro memperhatikan dengan dua alisnya yang hampir bertemu, terlebih saat Dria meletakkan buku kecil itu di hadapannya di meja kekuasaan di kantor ini.
“Kenapa?”
“Dee tidak akan pernah ke mana-mana dengan pesawat, apalagi ke negara sejauh itu.”
“Dee… kamu dulu sering minta ikut kakak ke negara J setiap kali liburan kakak berakhir… apa kamu lupa? Sekarang bukan hanya ke negara itu, kita akan mengunjungi beberapa negara sekaligus. Kita juga akan bertemu keluarga oma kita di negara J.”
“Tidak… Dee tidak mau itu sekarang, jangan paksa Dee ikut.”
Dria meninggalkan ruangan maha berkuasa itu, meninggalkan kakaknya yang menjadi terganggu konsentrasi kerjanya. Satu-satunya orang yang pernah membantahnya dari dahulu sampai sekarang, dan satu-satunya orang yang melakukan itu tapi tidak dapat membuatnya marah sekarang, gadis yang sedang meninggalkan ruangannya.
Sandro berdiri dan mengejar Dria yang sudah kembali ke mejanya, tapi niatnya terhenti dengan kedatangan Timo…
“Tamu Anda sudah tiba Tuan, sedang menunggu di ruang tamu…”
Sandro memang tidak menyukai menerima tamu di ruang kerjanya, sekalipun itu tamu penting. Hanya beberapa orang terdekat dengannya, seperti Tuan Besar Harlandy dan pak Lucas, Miro, barisan sekretaris serta seorang karyawan khusus yang melayani kebutuhan makan minumnya di kantor ini yang pernah menginjakkan kaki di ruangan ‘suci’ itu. Terpaksa di mengubah arah tujuannya menuju lift untuk turun satu lantai menemui tamu pentingnya
Sandro akhirnya hanya melewati Dria yang mukanya sedang tertekuk, sangat terlihat ada kemarahan tersimpan di wajah mungil itu. Jika tamu kali ini tidak berkaitan dengan pertemuan bisnisnya di luar negeri sepekan ke depan mungkin dia sudah mengabaikan tamu itu.
.
✈️
.
Dua hari Sandro begitu sibuk, tidak ada percakapan mengenai keberangkatan ke negara asal mami Rosalie. Tapi hari ini sepulang kantor Dria menemukan Tety sedang membereskan dua buah koper di ruang ganti miliknya, dia segera tahu apa yang menantinya.
“Untuk apa dua koper besar ini Tety?”
“Itu berisi baju-baju Non Dria… dua hari lagi Non Dria berangkat ke luar negeri, Non lupa ya?”
Mimik wajah Dria segera berubah. Dria jadi sangat kesal merasa penolakannya ikut bepergian dengan kakaknya tidak digubris.
“Aku tidak ikut Tety… rapihkan lagi ke dalam lemari…”
“Ini Tuan Muda yang menyuruh Non… Pak Lucas telah meminta Miss Martha mengirim pakaian baru yang cocok untuk perjalanan ini… semua pakaian yang ada di dalam koper baru semua…”
Dria mengambil gawainya lalu melakukan panggilan pada sang kakak… panggilan dijawab.
.
“Deedee… Ada apa?"
"Aku sudah beritahu kak Sandro sebelumnya, aku tidak mau ikut dengan kak Sandro ke negara manapun..."
"Deedee... kita tinggal berangkat, jangan bersikeras seperti itu..."
"Kak Sandro juga jangan bersikeras membawa Dee ikut..."
"Kakak sudah lama merencanakan perjalanan ini, membawamu berkeliling dunia..."
"Kak Sandro... Dee tidak bisa naik pesawat...."
"Jangan beri alasan bodoh seperti itu... kakak masih ada dinner dengan tamu, kita bertemu di rumah ya… Tidak ada pembatalan Dee... Kita bertemu di rumah...”
.
Dria melakukan panggilan lain...
.
“Ya Non Dria…”
“Pak Timo, aku sama sekali tidak mau ikut kak Sandro ke luar negeri…”
“Itu bukan keputusan saya Non…”
“Pak Timo tolong…”
“Maaf Non… saya sangat sibuk… maaf saya tutup ya…”
.
Dria membanting tubuhnya terlentang di atas tempat tidurnya lalu berteriak pada Tety di ruangan walking closet milik Dria.
“Aku tidak ingin pergi. Dan katakan pada pak Lucas berhenti meminta pakaian baru untukku… aku tidak menggunakan sebagian besar dari pakaian yang ada di lemari-lemari itu…”
Tety datang mendekati Dria lalu duduk di lantai di samping tempat tidur.
“Non… sekalipun Non setiap hari menggunakan pakaian baru, tidak ada yang akan menyadarinya, itu terlihat sama karena pakaian Non Dria hanya warna putih, cream, coklat muda dan hitam…”
“ Tapi… harga pakaian-pakaian itu… ahh aku merasa menghina tenagamu sebulan Tety, kamu bekerja keras untuk mendapatkan gajimu, dan pakaianku ada yang lima sampai sepuluh kali lipat gajimu…”
“Hehe, terus terang saya memang suka meringis sedih Non, saat melepas price tagnya… tapi saya sangat terhibur karena ikut menikmati menggunakan pakaian setara satu tahun gaji saya pemberian Non Dria… Non sudah memberi saya beberapa potong… mungkin saat saya berhenti bekerja saya akan menjualnya, hehe terlalu sayang untuk saya gunakan sendiri…”
Dria bangkit dari lalu duduk bersila sambil memandang Tety…
“Tety… kamu akan berhenti?”
“Suatu saat Non… jika saya sudah menemukan calon suami… hehe…”
“Kupikir kamu akan berhenti sekarang… jangan berhenti ya sebelum aku pulang ke S…”
Dria tidur terlentang lagi.
“Oh?? Non Dria akan pulang? Tidak akan tinggal di sini selamanya?”
“Iya Tety… rasanya sekarang aku mulai tidak dapat menahan keinginanku untuk kembali ke kehidupanku di kota S…”
Dria menatap langit-langit tinggi di kamarnya dengan sedih. Pemaksaan kakaknya untuk ikut ke luar negeri memicu sesuatu dalam hatinya.
“Non Dria mulai tidak betah di sini?”
Dria tak menjawab, dia kemudian bangkit dan melorotkan tubuhnya turun ke lantai duduk bersama Tety, dan Tety tidak canggung lagi karena sudah sering Dria seperti itu dengannya.
“Sebenarnya di awal aku betah Tety… aku sangat merindukan mami dan kak Sandro, aku juga seperti kembali ke masa bahagia saat aku kecil di sini sehingga aku begitu merasa nyaman… tapi…”
“Tapi kenapa Non?”
“Aku tidak tahu sekarang, Tety… semakin banyak yang aku terima terasa semakin membebani diriku, dan terasa semakin tidak cocok denganku, entahlah… Apa aku kurang bersyukur ya? Atau aku seseorang yang aneh? Ruby mengatakan ini… banyak orang yang ingin sepertiku, tapi aku justru tertekan dengan keadaanku.”
Dria meraih gulingnya dengan tangan kanannya lalu dua sikunya bersandar di guling menopang rahangnya di sana.
“Aku jujur Tety… ini yang ada dalam hatiku, aku tidak menginginkan kehidupanku yang sekarang… terlebih feelingku mengatakan ada sesuatu, ya… aku seperti bisa mengingat perkataan mami waktu itu… ahh Tety… aku jadi ingin pulang sekarang… aku rindu rumahku sendiri… ini terasa bukan rumahku lagi…”
“Kenapa Non?”
“Aku tidak ingin dipaksa melakukan yang tidak aku suka… mereka mengatur banyak hal untuk hidupku, ini yang kulihat dan kurasakan hampir setahun ini, aku mulai tidak suka terikat seperti ini…”
“Hanya karena Non Dria tidak suka bepergian ke luar negeri?”
“Banyak hal Tety, bukan hanya itu… aku berusaha menerima dan tidak mengeluh karena ingin menyenangkan hati papi dan kak Sandro… tapi lama-lama aku mulai merasa tidak bahagia…”
“Tapi Non… kalau aku yang diajak pasti sangat bahagia… bisa melihat negara lain itu hanya impian buatku. Kenapa dunia suka terbalik-balik juga tidak adil ya? Orang yang menginginkan tidak bisa mendapatkan keinginannya, orang yang bisa mendapatkan keinginannya malah tidak menginginkan… hehe… perkataanku aneh kan Non?”
“Tidak Tety, itu benar, itu realitas hidup... tapi hidup kita tidak bisa ditukar kan... aku menjadi kamu dan kamu menjadi aku..."
Dria memilih naik ke tempat tidurnya lagi lalu menutup mata, apa yang sedang terjadi dengan dirinya?
.
.