Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part. 23. Emma Mencari Cara



Sandro tiba di rumah, mobil segera diambil-alih pak Mulyo yang sudah menunggu di depan pintu utama rumah ini. Sejak Tuan Muda melewati gerbang, pak Mulyo sudah diberitahu security si Tuan Muda sudah kembali, menjadi tugas pak Mulyo untuk membawa mobil itu ke garasi.


Masuk ke dalam rumah ada Timo yang menyambut di depan pintu dengan mental yang sudah disiapkan. Sejak si Tuan Muda meminta dia memesankan makanan dan membayar untuk orang tua Nona Emma, dia tahu sesuatu terjadi. Memang sesuatu telah dia diprediksikan terjadi setelah acara makan siang dan itu di pihak Nona Emma, Timo pikir si Tuan Muda akan kembali dengan wajah lega, tapi ini sebaliknya.


“Siapa yang mengijinkanmu mengatur seperti itu Timo??? Kenapa kamu lancang??? Kenapa kamu mengikuti rencana Emma mempertemukanku dengan orang tuanya??”


Sergah Sandro dengan suara beratnya, kemarahannya langsung muncul lagi saat melihat wajah Timo. Dia segera berjalan naik ke kamarnya, Timo mengikuti si Tuan Muda.


“Maaf Tuan, saya tidak mengira Nona Emma punya rencana itu. Saya hanya tidak tega pada wanita… setidaknya ketika Tuan memberitahu keputusan Tuan dan terjadi sesuatu itu dekat dengan rumahnya… saya bisa memprediksi anda tidak akan mengantarnya pulang juga, jadi saya berpikir tempat yang dekat dengan rumahnya lebih cocok untuk situasi ini…”


“Maksudmu? Kamu tahu apa yang akan aku lakukan pada Emma?”


“Saya bisa menduganya Tuan… karena itu saya mengikuti permintaan Nona Emma… untuk memberi dia sedikit kebaikan di hari terburuknya…”


“Hari terburuk? Mengapa menjadi hari terburuk?”


“Iya Tuan, seperti itu… ini hari buruk untuknya karena harus berpisah dengan Anda, dia tentu tidak menginginkan perpisahan, dia pasti sangat sedih… jadi saya pikir tidak masalah untuk Anda sedikit berbaik hati mengikuti pilihan tempat dari Nona Emma untuk makan siang kalian, dia pernah jadi kekasih anda selama tiga tahun…”


Si Tuan Muda masih terlihat kesal. Tapi penjelasan Timo bisa diterima logikanya. Dia tidak berpikir tentang dampak keputusannnya untuk Emma dan memang tadi sebagai pria dia juga punya hati, dia merasa bersalah saat melihat Emma menangis, saat mendengar Emma tersakiti oleh keputusannya, mungkin Timo ada benarnya.


“Kamu terlalu banyak tahu Timo…”


“Saya memang tahu banyak tentang Anda Tuan, termasuk tentang perasaan Tuan untuk Non D… eh… maafkan saya, jika Tuan tidak membutuhkan sesuatu saya akan pergi… selamat beristirahat Tuan…”


Sandro batal memasuki kamarnya dan menatap Timo yang sudah berbalik meninggalkan dirinya. Sesuatu yang ditangkap otaknya dengan cepat mengubah emosinya.


“Timotius?”


Sandro berteriak membuat Timothy terpaksa kembali ke dekat Tuannya.


“Jelaskan kalimatmu!”


Suara Sandro memang besar dan penuh tekanan, tapi raut wajah kali ini sungguh berbeda. Timo ingin tertawa. Dia tahu Tuannya sangat pintar, meskipun kalimatnya menggantung sebenarnya Tuan ini sangat paham maksud Timo.


“Ah Tuan anda hanya ingin mendengar aku menyebut nama Non Dria kan?”


Timo pun ingin sedikit bermain-main…


“Kalimat yang mana, Tuan?”


“Apa yang kamu tahu tentang perasaanku? Jelaskan!”


Si Tuan Muda masih coba bersikap penuh wibawa, tapi itu terlihat menggelikan di mata Timo, Tuannya menjadi sedikit aneh jika berhubungan dengn Non Dria.


“Ahh itu… perasaan anda pasti lega Tuan, Anda tidak harus meneruskan hubungan dengan Nona Emma, apalagi sampai harus menikah, Anda pasti senang bisa terbebas dari Nona Emma karena Anda tidak mencintainya…”


“Itu saja?”


“Iya Tuan…”


“Timotius… bukan itu yang hendak kamu katakan tadi…”


Mata si Tuan Muda melihat tepat di pintu kamar yang ada di depannya. Dan Timo menyembunyikan senyumnya, si Tuan Muda sedang terkena irrasional syndrome, sudah tahu tapi masih bertanya, sudah jelas tapi masih ingin mendengar penjelasan, sudah paham tapi berlagak bodoh. Apa Tuan Muda tidak mengetahui bahwa betapa tidak rasional tingkah lakunya jika menyangkut non Dria?


“Jadi… sebenarnya Anda tahu apa yang ingin saya ucapkan Tuan… jadi saya tidak perlu mengatakannya… permisi Tuan…”


“Timotius!”


Hanya menyebut namanya tetapi nadanya adalah berisi perintah yang tak dapat ditolak oleh Timothy.


“Ahh… baik Tuan Muda… saya memang tahu perasaan anda terhadap Non Dria jauh sebelum anda menyadarinya, itu yang ingin saya katakan tadi Tuan…”


“Kamu tahu itu?”


“Iya Tuan… kenapa Anda terus mengulang hal yang sudah jelas, Anda terlihat semakin bodoh.”


Itu perkataan di hati Timo saja.


“Iya Tuan… saya juga tahu tentang keinginan almarhumah Nyonya Besar dan Tuan Besar tentang Non Dria dan Anda…”


“Kamu tahu sebanyak itu?”


“Iya Tuan…saya tahu Anda mencintai Non Dria bukan sebagai seorang kakak pada adiknya tetapi sebagai seorang pria kepada seorang wanita…”


“Jangan keras-keras Timo, kita bercakap di depan kamar Dria… aku yang akan mengatakan sendiri padanya, aku tidak mau dia hanya mendengar dengan cara seperti ini…”


“Tuan yang meminta saya mengatakannya jadi saya mengatakannya… dan Non Dria ada di rumah belakang, Anda tidak perlu khawatir Non Dria mendengar itu…”


“Tapi menurut saya Non Dria punya feeling yang kuat, dia bukan gadis yang tidak mengetahui arti perhatian seorang pria. Non Dria menghindari Delfris, dan jika saya tidak mencegahnya Non Dria juga aka menghindari Anda… Anda masih harus berusaha keras Tuan…”


Ingin sekali Timo meneruskan penjelasannya, tetapi wajah sumringah Tuan Muda yang baru akhir-akhir ini menjadi salah satu ekspresinya membuat Timo menyimpan perkataannya.


“Apa yang Dria lakukan di sana?”


“Banyak Tuan… sekarang saya tidak tahu Non Dria sedang apa… tapi tadi saya sempat menawarkan Non Dria untuk pergi ke butik atau ke mall… Non Dria tidak tertarik…”


Si Tuan Muda tersenyum dan sungguh itu menambah derajat ketampanannya, niat untuk masuk kamar berubah, lelaki bertubuh proporsional dengan tinggi 180 centimeter itu berjalan menuju rumah belakang dengan langkah ringan.


Dia segera lupa dia baru saja mematahkan hati seseorang, dia tidak ingat lagi baru menghancurkan impian terindah seorang wanita, baru menghancurkan dunia seorang Emma Lynne.


.


🐢


.


Di waktu yang berbeda, dalam situasi Emma Lynne…


Sesaat setelah Sandro pergi, Emma juga meninggalkan restoran, dia tak benar-benar ikut mengurus ayahnya yang sedang sakit. Dia memang hanya menggunakan orang tuanya untuk coba melunakkan hati Sandro.


Orang tua mana yang akan membiarkan seorang anak yang membutuhkan bantuan. Orang tua selalu rela melakukan apa saja demi anak-anaknya berbahagia.


Orang tua Emma apalagi, hidup mereka sekarang sepenuhnya dibiayai oleh anak-anak termasuk Emma. Sejak ayahnya kena stroke, bisnis ayahnya dipegang sepenuhnya oleh kakak tertua Emma, dan itu tidak berjalan terlalu baik. Bisnis Emma berjalan baik karena bantuan Sandro selama ini, maka Emma menjadi salah satu tumpuan kehidupan ekonomi keluarga.


Emma melakukan panggilan telpon…


.


“Kamu di mana Audreey?”


Sergah Emma begitu Audreey menjawab panggilan.


“Aku sedang liburan bersama keluargaku di pulau…”


Audreey menyebutkan salah satu pulau tempat berlibur di pantai utara kota ini.


“Aku akan ke sana sekarang…”


“Emma, kamu akan mengganggu liburan kami, ini liburan keluargaku…”


“Aku tidak tahu harus ke mana, kamu temanku, Miro teman Sandro, aku butuh kalian… Aku akan ke sana!”


.


Emma berteriak frustrasi di telepon, dia baru saja ditolak Sandro dan dia benci ditolak lagi karena itu dia begitu memaksa. Panggilan ditutupnya dan Emma segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


Emma sedang marah karena sesuatu yang berharga untuknya telah terlepas. Dia marah pada dirinya sendiri tidak melakukan apapun selama tiga tahun ini. Dia juga marah pada Sandro yang tidak memberi dia kesempatan lagi, dan terakhir dia marah pada gadis itu, Sandriana. Entah mengapa hatinya begitu terganggu dengan gadis itu. Apakah dia cemburu karena dia melihat sendiri gadis itu mendapatkan rasa sayang yang begitu besar dari Sandro? Walaupun Sandro berkata itu adalah adiknya tapi sebuah bagian di hatinya tidak rela Sandro terlihat begitu peduli pada adiknya itu.


Dan sesuatu sementara bergolak dalam diri Emma. Sejak mendengar Sandro tak ingin menikah dengannya justru keinginan untuk memiliki Sandro menjadi bertambah, keinginan yang tak terpuaskan ini seperti membangkitkan energi yang besar dalam dirinya di sisi lain untuk membalas sakit hatinya karena Sandro menolaknya.


Tapi dia perlu lebih banyak tahu tentang Sandro dan Sandriana, dan yang mengetahuinya hanya ada Miro.


.


Saat Emma muncul di resort tempat Audreey dan Miro berlibur…


Audreey berkata begitu jengkel pada suaminya.


“Dia temanmu, jangan berkata kasar seperti itu… terima saja, tidak biasanya dia begitu nekad ingin bertemu…”


Miro menjawab istrinya sambil berdiri menyambut Emma.


“Emma? Apa kabar?”


“Kabarku buruk, Miro… temanmu penyebabnya…”


Emma membanting dirinya di sofa di samping Audreey yang sedang tiduran. Pikiran licik telah menghampiri Audreey, karena itu dia segera tersenyum sambil bangkit untuk duduk.


“Temanku yang mana?”


“Hanya satu temanmu yang aku kenal Miro…”


“Sandro? Ada apa dengan kalian?”


Audreey sekarang penuh perhatian.


Miro tahu apa yang terjadi, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini Sandro melakukannya. Sandro memang tidak pernah mengulur-ngulur waktu dalam menyelesaikan masalahnya.


“Dia mengakhiri hubungan kami tadi siang… aku tak mengerti mengapa, alasannya sangat bodoh, dia bilang tidak mencintaiku… kenapa baru mengatakannya setelah tiga tahun? Kenapa dia butuh cinta? Sangat naif!”


Emma berkata penuh emosi, memang tidak ada lagi airmata tetapi apa yang ada dalam guratan wajahnya terbaca sangat terluka menunjukkan betapa sakit hatinya dengan hal ini.


“Em… apa benar seperti itu?”


Audreey kaget mendengar perkataan Emma tapi dalam hati dia bersorak, Audreey tanpa Sandro bukan apa-apa baginya.


“Kamu tidak percaya Audreey? Aku juga masih tidak percaya… tapi itu yang telah terjadi. Ahhhk… sekarang aku benar-benar membencinya!”


Emma mendorong meja kopi yang ada di depannya dengan satu kakinya hingga beberapa minuman kaleng yang ada di atasnya terguling.


“Em??… Tenangkan dirimu, mungkin ini hanya salah paham…”


Audreey memperbaiki meja yang bergeser miring tetapi dengan menjauhkannya dari jangkauan kaki Emma, dia tidak ingin mengeluarkan biaya ekstra untuk ganti rugi jika meja itu hancur.


“Ini bukan salah paham Audreey, Sandro berkata dengan sangat jelas tidak ingin menikah denganku… Uhh…”


Emma menutup wajahnya dengan dua tangannya yang bertopang di dua pahanya. Audreey hampir tidak dapat menyembunyikan betapa senangnya dia mengetahui nasib percintaan temannya.


“Tapi Audreey, kamu salah soal gadis itu, Sandriana… dia adik Sandro bukan selingkuhannya…”


Tiba-tiba Emma melihat Audreey dengan pandangan menyalahkan.


“Oh… eh?? Sandriana? Itu… itu aku tidak tahu…”


Audreey menjawab gugup di bawah tatapan suaminya yang ikut menyalahkan dirinya. Miro memang diam tetapi dia mendengarkan semua perkataan Emma, dan dia baru saja mendengar istrinya telah mengatakan sesuatu yang berbeda pada Emma.


“Benar kamu tidak tahu? Masa kamu tidak tahu tentang adik perempuan Sandro? Kamu mengenal Sandro sebelum aku…”


“Sungguh, Em… aku baru sekali bertemu dengan Sandriana, kamu boleh bertanya pada Miro jika tidak percaya…”


“Miro… benar Sandriana itu adik Sandro? Mereka tidak terlihat mirip… aku hampir tidak percaya mereka kakak-adik…”


Emma memandang Miro ingin mencari kepastian mengenai apa yang dia pikirkan.


“Dria itu adik Sandro Em…”


“Kenapa Sandro tidak pernah mengatakan ini? Kamu juga Miro, tidak mengatakan padaku… argggh… aku membuat Sandro bertambah marah karena menuduhnya berselingkuh.”


“Kamu harus cari cara untuk memperbaiki hubungan kalian…”


Audreey bicara asal seolah memberi dukungan.


“Miro, aku minta bantuanmu… tolong bujuk Sandro untuk kembali padaku…”


“Maaf Em… aku tidak bisa melakukannya, Sandro bukan seseorang yang dapat merubah keputusannya.”


“Miro, please… bantu aku kembali bersama Sandro…”


“Sekali lagi maaf… aku tidak dapat mempengaruhi Sandro untuk hal apapun… jadi aku tidak bisa membantumu, Emma.”


“Miro… jika bukan karena ada wanita lain, apa yang membuat Sandro memutuskan hubungan kami? Mengapa dia tiba-tiba bicara cinta? Pasti ada sesuatu, kamu pasti tahu sesuatu Miro… tolong beritahu padaku…”


“Aku pun tidak paham Emma kenapa seperti itu, jangan tanya padaku…”


“Miro… arggh… aku tahu kamu lebih berpihak padanya, tapi tolong bersimpati padaku, aku menyia-nyiakan tiga tahunku dengan sahabatmu itu hanya untuk ditinggalkan seperti ini? Hatiku sakit Miro… sangat sakit…”


Emma memukul dadanya beberapa kali. Melihat hal itu Miro hanya menghembuskan napasnya, tapi mengenai Sandro dia tidak bisa melakukan apapun untuk Emma. Miro berdiri, dia tidak ingin mencampuri urusan Sandro dan Emma.


“Maaf Emma… aku tidak bisa ikut campur urusan kalian…”


Miro meninggalkan ruangan itu menghindari Emma. Emma menatap kepergian Miro dengan putus asa. Datang ke sini dia berharap Miro dapat membantunya.


Pikirannya sedang melawan kenyataan yang seperti tiba-tiba datang menghampirinya, dia tidak siap menghadapi masalah ini, dia tidak dapat menemukan kesalahannya. Dia justru sedang berusaha agar hubungannya dengan Sandro menjadi sebagaimana status mereka, berusaha menjalin kedekatan, dan dia tidak menduga justru Sandro tega mengakhiri begitu saja dengan alasan tak saling mencintai? Di mana kalimat sakral itu selama tiga tahun terakhir? Sandro tidak pernah menyinggung hal itu sebelumnya.


”Audreey? Aku harus berbuat apa?”


“Mungkin aku bisa menolongmu, Em…”


“Sungguh? Oh Audreey… beritahu apa yang akan kamu lakukan…”


“Yaa… akan aku cari cara… tapi tentu resikonya besar buatku, dan itu tidak mudah dan tidak murah…”


Otak licik Audreey yang suka memanfaatkan hubungan segera bereaksi.


“Aku paham Audreey dan aku akan memberikan apa yang kau mau… asal kamu bisa menolongku mendapatkan Sandro lagi…”


“Baiklah… tapi suamiku pasti akan marah jika tahu, jadi aku harus melakukan diam-diam… jangan sampai Miro tahu Emma…”


“Tapi jika melalui Miro akan lebih mudah mendekati Sandro…”


“Kamu tahu sendiri itu tidak mungkin… aku akan mencoba melalui Sandriana, saat bertemu dengannya dia cukup ramah berbeda dengan Sandro…”


“Ya… aku melihatnya tadi pagi, Sandro begitu sayang padanya… dan aku marah melihat itu… mengetahui dia adik Sandro rasa marahku tidak pergi… entahlah aku melihat sesuatu yang berbeda pada Sandro, ahh… aku benar-benar tak mengerti kenapa begini…"


“Kamu pantas merasakan itu… sebenarnya Em… pria angkuh itu tidak layak mendapatkanmu, tapi terserah jika kamu ingin mengejarnya kembali..."


"Aku ingin mendapatkan Sandro untuk membalas sakit hatiki Audreey... Aku telah menyia-nyiakan tiga tahun hidupku untuknya, aku tidak terima dia memutuskanku tiba-tiba... Dia harus merasakan sakit hati dicampakkan seperti ini! Rasanya aku benar-benar membenci Sandro sekarang!"


"Ooh... baiklah, lelaki seperti Sandro harus diberi pelajaran Em... baiklah... Aku di pihakmu..."


Audreey menyeringai licik, tentu saja akan akan bermain di sini, Emma pasti akan menjadi royal untuknya. Tapi soal si Tuan Muda beda lagi, dia melihat celah untuk memanfaatkan rasa sayang Tuan Muda itu pada adiknya Sandriana...


Entah kenapa, ego mendapat kesenangan yang murahan dari kebencian dan dendam yang dibenarkan. Secara rahasia orang-orang senang membenci, menyalahkan dan membalas dendam. Mengapa sikap negatif membuat seseorang puas bahkan candu?


.


🦠


.


Ayo, dikomen yaaaa...


Komennya kk semua: 1. Bikin semangat nulis part baru; 2. Sbg ukuran buatku bgm isi ceritaku ditanggapi; 3. Jadi hiburan buatku walaupun pembaca ceritaku tdk byk, tp hepi rasanya ada yg merespon baik....


Begitu.... Kamsahaeyo-Arigatou 🙏🙏🙏


.