Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 16. Menghilang



Tak sampai satu jam mobil yang membawa Sandro tiba di rumah.


Informasi tentang Dria segera diketahui seisi rumah besar itu, tentu rumah sedikit gempar. Kenapa? Karena setelah dilihat di kamarnya dan dicari di seluruh bagian rumah, si Nona Muda tidak ada di sana, dan si Nona Muda tidak memberitahu siapapun tentang kepergiannya alias menghilang begitu saja.


Tentu saja Timo yang menerima kabar dari rumah segera memberitahu pak Lucas, dan pak Lucas meneruskan kepada Tuan Besar. Karena Dria dianggap sebagai salah satu anak yang berharga di rumah itu, pak Lucas disuruh pulang oleh Tuan Besar Harlandy untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Sandro masuk rumah disambut pak Lucas. Sebetulnya melihat pak Lucas ada di sini dan terlihat menunggu dirinya Sandro tahu bahwa apa yang disampaikan Timo tadi bahwa Dria tidak ada itu benar adanya. Dalam keadaan normal tidak mungkin di jam seperti ini pak Lucas ada di rumah.


"Paman tahu soal Dria?"


"Iya Tuan Sandro, Timothy memberitahu saya..."


"Berarti Papi tahu?"


"Tuan Besar yang menyuruh saya pulang untuk mencari Non Dria..."


"Siapa yang terakhir bicara dengan Dria? Mana Tety?"


"Semua sudah saya tanyai, Tuan... yang bicara dengan Non Dria terakhir kali si Rusli, katanya terakhir Non Dria ingin ikut ke bengkel..."


Mendengar itu dada Sandro terasa sesak bagai dihantam sesuatu, Dria pasti merasa bersalah hingga mengucapkan kalimat seperti itu, dan itu karena kemarahannya tadi pagi.


"Setelah itu? Masa tidak ada yang melihat Dria? Di kamarnya?"


"Tidak ada Tuan..."


“Mobil yang dikendari Dria?”


“Sudah dibawa Rusli ke bengkel Tuan…”


“Atau Dria pergi menggunakan mobil lain?”


“Tidak Tuan, semua mobil lengkap di garasi.”


"Security di depan sudah ditanyai?"


"Sudah Tuan, tidak ada yang keluar selain karyawan."


Dua tangan Sandro naik ke pinggangnya dengan kepala tengadah ke atas, memikirkan sebuah kemungkinan ke mana dan ada di mana Dria sekarang ini. Rutinitas Dria selama ini hanyalah Rumah dan kantor, sekalipun menyetir sendiri Sandro yakin Dria tidak pernah jalan-jalan seusai jam kantor karena selalu tepat waktu tiba di rumah.


“Periksa cctv, paman…”


“Sementara Tuan…”


"Mana Tety?"


Tety, pelayan yang paling banyak melewatkan waktu bersama Non Dria di rumah ini segera dipanggil. Tak lama Tety muncul di hadapan Tuan Muda, padahal sebelumnya dia sudah ditanyai pak Lucas.


"Ya Tuan..."


"Dria ke mana?"


"Saya... Saya tidak tahu Tuan, terakhir Non Dria pamit mau kerja, saya tidak turun bersama Non Dria, saya langsung membenahi kamar Non Dria, itu sebelum Tuan datang mengetuk pintu pagi tadi."


"Benar-benar tidak bertemu Dria lagi setelah itu?"


"I.. Iya Tuan..."


"Tety, jangan menyembunyikan sesuatu dari saya!”


“Eh… ti… tidak Tuan, saya tidak berani.”


Tety menjawab takut, tatapan langsung si Tuan Muda segera mengintimidasi dirinya, tapi dia berkata jujur tidak melihat Dria lagi sejak pagi.


“Coba kamu periksa baju-bajunya, jangan-jangan dia pulang ke S…”


Sandro buntu tidak bisa memikirkan kira-kira di mana Dria akan pergi selain ke kantor di kota besar ini. Yang terpikirkan adalah kemungkinan Dria kembali ke kota S.


“Pak Lucas telah menyuruh saya tadi, Tuan… dan tidak ada pakaian Non Dria yang berkurang dari lemari.”


“Dria tidak pernah cerita sesuatu padamu Tety?”


Sandro mencurigai Tety karena melihat Tety yang berdiri gelisah di samping pak Lucas.


“Cerita Non Dria banyak Tuan… umumnya tentang pekerjaan dan teman-temannya, juga tentang ayahnya, tentang Nyonya Besar dan masa kecilnya di rumah ini…”


“Apa tidak ada sesuatu yang lebih spesifik?”


“Eh… saya… saya tidak tahu, mungkin saya tidak memperhatikan.”


Sandro menjadi tidak sabar, masa tidak ada petunjuk apapun.


“Paman… coba tanya hasil cctvnya…”


“Baik Tuan…”


Pak Lucas pergi ke sebuah ruangan control khusus untuk memantau situasi rumah dan kompleks yang begitu besar ini, dan hanya sepersekian detik Sandro akhirnya memutuskan mengikuti pak Lucas.


Di ruangan itu melalui tayangan di sebuah monitor Sandro melihat ulang kejadian dia marah-marah di depan pintu utama rumah mereka dan Dria telah ada di belakangnya sejak awal. Sandro semakin gelisah dan kalut saat melihat lewat monitor itu Dria berjalan kaki melewati pintu gerbang otomatis kemudian berjalan hingga mendekati gerbang depan, itu lumayan jauh jaraknya, dan dari catatan waktu yang tertera itu hanya beberapa menit setelah dia keluar kompleks dengan mobilnya.


Visual Dria di mana tangannya sering berada di pipi membuat Sandro tahu bahwa sepanjang jalan Dria tak berhenti menangis. Hati Sandro mendadak sakit, entah kenapa, sejak tahu Dria tidak ada, ada perasaan gelisah yang sangat besar menyerbu hatinya, ada rasa yang tidak bisa dia gambarkan sedang menguasai hatinya, perasaan yang sama saat dia kehilangan mami seperti muncul lagi.


Dan rasa penasaran Sandro terjawab, mengapa para security tidak mengetahui Dria keluar gerbang, karena dari rekaman cctv itu Dria mencegat mobil pak Abdi, karyawan bagian taman dan kebun mereka. Sejauh itu saja yang bisa diketahui dari cctv, dan si Tuan Muda Sandro kehilangan jejak Dria. Tapi setidaknya ternyata ada seseorang di antara begitu banyak karyawan yang tinggal di rumah ini yang bisa ditanyai lebih lanjut tentang Dria.


Gawai pak Lucas berbunyi, terlihat menjawab beberapa pertanyaan kemudian mengalihkan gawai itu pada Sandro…


“Dari Tuan Besar…”


Sandro menerima benda pipih itu, dia bisa memastikan jika sang papi menelpon berarti hal ini menjadi perhatian utamanya sekarang. Sementara pak Lucas segera mencari pak Abdi di rumah belakang.


.


“Ya, Pi…”


“Secara tidak langsung, kamu penyebab Dria pergi seperti itu…”


Suara datar sang papi membuat Sandro tahu sang papi juga terganggu dengan masalah ini.


“Aku tahu Pi… aku menyesali itu…”


“Kamu telah mengambil tanggung-jawab untuk Dria, jadi cari Dria hingga ketemu. Jika terjadi sesuatu dengannya papi akan sangat malu pada Rahmadi juga mami… tidak becus menjaga Dria…”


“Maafkan aku, Pi…”


.


Panggilan sudah diakhiri Tuan Besar, tersisa Tuan Muda yang semakin risau, ini sudah enam jam sejak Dria meninggalkan kompleks rumah ini. Tak lama pak Lucas muncul kembali di ruangan itu.


“Paman? Pak Abdi bilang apa? Dria turun di mana?”


“Kata pak Abdi Non Dria hanya menumpang hingga melewati gerbang, kurang lebih seratus meter dari gerbang, Tuan…”


“Kenapa pak Abdi seceroboh itu membiarkan Dria pergi begitu saja?”


“Non Dria memberitahu pak Abdi mobilnya akan dibawa ke bengkel, pak Abdi orangnya sederhana dan polos Tuan, dia tidak mengerti soal aturan mengenai Non Dria…”


“Ke mana dia?”


Sandro mengguman lalu meninggalkan ruangan itu menuju keluar rumah berniat mencari walau tidak tahu harus mencari ke mana.


“Kita cari Dria paman…”


“Baik Tuan Muda…”


Di depan rumah dua pria berbeda generasi itu berpisah dan naik ke mobil masing-masing. Tapi belum sempat mobil berjalan Sandro turun lagi dan mencegah pak Lucas untuk berangkat. Sandro teringat sesuatu.


“Paman, tadi pagi bunga seperti apa yang dicari Dria? Untuk apa bunga itu?”


“Non Dria mencari bunga segar, tapi saya tidak tahu untuk apa…”


“Kita ke tempat bunga yang paman referensikan pada Dria tadi… semoga dia jadi membeli bunga… paman berangkat lebih dahulu, aku akan mengikuti paman…”


“Baik Tuan Muda…”


Sesampai di tempat yang dimaksud, dengan tidak sabar Sandro turun dari mobil sebelum pak Mulyo memarkir mobil itu dengan benar, Sandro menjemput harapan bisa mendapatkan informasi yang jelas tentang Dria dari salah satu penjual bunga di sini, sebab ini satu-satunya petunjuk sekarang ini. Sepanjang jalan itu ada beberapa penjual bunga segar.


Pak Lucas mulai bertanya pada beberapa penjual bunga, menanyakan tentang apakah ada seorang pembeli gadis manis dengan tatanan rambut sedikit bergelombang berwarna coklat dengan panjang sedikit melewati bahu.


“Bagimana paman?”


“Ada Tuan, Non Dria membeli dari ibu yang di sebelah sana.”


“Dia mengenali Dria?”


“Iya, katanya Non Dria membayar lebih, maka itu dia tidak lupa… tapi di tidak tahu Non Dria ke mana dengan bunga itu, dia tidak memperhatikan itu…”


“Ahh…”


Kembali dua tangan si Tuan Muda naik ke pinggangnya, begitulah sikap Sandro saat sedang serius atau sedang bergulat dengan emosi yang bermain di hatinya, kerisauannya semakin bertambah.


Sandro berjalan mendekati si ibu setengah baya yang ditunjuk pak Lucas.


“Permisi bu, apa benar gadis ini tadi membeli bunga dari ibu?”


Sandro mencoba meyakinkan lagi dengan menunjukkan foto Dria di gawainya. Si Ibu melongok ke layar hp di tangan Sandro.


“Iya, benar… tadi pagi Nona cantik itu membeli bungaku… dia cantik juga baik hati, Tuan…”


“Terima kasih bu… tapi bu, boleh saya tahu… biasanya orang membeli bunga seperti ini untuk apa?”


“Itu saja?’


“Oh… bisa juga untuk dikirimkan pada orang yang berulang tahun…”


Sandro membuang napas kecewa, tidak ada satu pun yang cocok menurutnya. Sandro mengambil gawainya menghubungi Timothy.


.


“Ya Tuan?”


“Apa ada seseorang di kantor yang hari ini berulang tahun dan menerima kiriman bunga segar? Coba kamu cari tahu, khususnya yang kenal dekat dengan Dria…”


“Ohh?? Iya, sebentar Tuan, saya cari informasi untuk Tuan…”


.


Sandro mengantongi lagi gawainya. Dan kehadiran Sandro dan pak Lucas dengan dua mobil mewah ditambah penampilan mereka berdua yang menunjukkan status social yang tinggi mendapat perhatian para penjual bunga. Beberapa penjual sekarang berkumpul di sekitar Sandro, mungkin berharap Tuan yang terlihat kaya ini memborong bunga dari mereka. Mereka saling berbisik mencari tahu kehadiran Sandro, dan menjadi kecewa ketika tahu Sandro hanya mencari seseorang.


“Hanya mencari pembeli bunga tadi pagi?


“Saya kira mau memborong bunga milik kita…”


“Gadis yang tadi pagi? Yang pakai baju putih hitam?”


“Yang menanyakan arah jalan ke kuburan Sandiego Hills ya?”


Percakapan mereka yang saling menimpali tapi bisa dipilah-pilah otak Sandro, Sandro mengernyit…


“Deedee hari ini memang memakai atasan putih dan celana hitam, tapi kuburan? Untuk apa Deedee ke kuburan?”


Sandro berbicara pada diri sendiri tapi didengar ibu penjual bunga.


“Bunga seperti ini bisa dipakai juga untuk berziarah Tuan… jadi jika Tuan mau ziarah, beli bunga dari saya saja… ehh iya benar dia orangnya saya ingat Tuan, gadis yang Tuan cari itu yang menanyakan jalan ke kuburan Sandiego Hills… apa Tuan tidak membeli bunga saja, mungkin mau ikut berziarah juga seperti gadis itu…”


Ibu penjual bunga tiba-tiba mengatakan itu sambil menata bunga jualannya. Sandro berpandangan dengan pak Lucas.


“Apa benar bu? Gadis yang fotonya saya tunjukan ke ibu, dia yang menanyakan itu?”


“Iya Tuan… hari ini sepi pembeli, jadi saya mengingat gadis yang membeli dua ikat bunga, dia yang menanyakan jalan ke kuburan…”


“Paman… apa mungkin Dria melakukan itu? Ziarah ke makam ibunya? Apa paman ingat kapan ibu Dria meninggal?”


“Saya tidak ingat, Tuan… tapi yang saya ingat Rahmadi rutin berkunjung ke kota ini untuk ziarah setiap kali hari kematian Helena…”


“Kita cari Dria ke tempat itu saja paman. Apa hari ini peringatan kematian ibunya Dria?”


“Saya tidak tahu Tuan…”


Dua pria itu bergegas naik ke dalam mobil mereka lalu memerintahkan sopir menuju kompleks pekuburan itu. Semoga ada sesuatu di sana, begitu harapan keduanya.


Setengah jam perjalanan terasa begitu lama untuk Sandro, tapi akhirnya mereka tiba dan mencari lokasi kuburan ibu Helena, tidak susah sebenarnya karena lokasi itu tidak jauh dari tempat sang mami dimakamkan.


Dan entah ingin bersorak senang sekaligus melenguh sedih, dua hal itu sama-sama ingin dilakukan Sandro saat berjalan mendekati kuburan yang dicari. Ada satu ikat bunga segar di atas kuburan berwarna putih itu, terlihat sedikit layu tapi terlihat baru diletakkan di situ, berarti Dria memang datang ke tempat itu tadi pagi.


Sandro memperhatikan tanggal kematian di nisan dengan nama Helena Rahmadi, tanggal yang tertera bukan tanggal hari ini, masih sehari lagi. Mungkin Dria lupa tanggal? Atau karena hari ini tidak punya tujuan, atau? Entahlah. Sandro membisu memandangi kuburan putih itu. Tak lama kemudian dengan pandangan nanar dia mencari makam maminya, dari jauh dia bisa memastikan sesuatu, Dria juga pergi ke sana… karena ada ikatan bunga yang sama yang diletakkan di sana.


Sandro kemudian berjalan mendekati makam sang mami, terpekur lama di sana. Tak ada ucapan apapun, hanya sedih yang segera memenuhi rongga hati, sedih yang kini berlipat dua karena Dria belum diketahui ada di mana…


.


💐


.


Di stasiun kereta terbesar di negara ini, Dria duduk di sebuah tempat duduk khusus penumpang. Dia telah membeli tiket untuk pulang. Masih ada kurang lebih empat puluh lima menit untuk menunggu kereta datang. Lama Dria berpikir apa akan memberitahu ayah atau berangkat saja dan memberi kejutan.


Di sisi lain dia memikirkan tentang kesopanan dan tatakrama, masa dia tidak pamit atau paling tidak memberitahu seseorang di rumah besar itu tentang kepulangannya. Dia datang dengan baik-baik, telah disambut dan diperlakukan dengan sangat baik, rasanya sangat tidak sopan pergi secara diam-diam seperti ini. Pikiran-pikiran itu terus-menerus berperang di batinnya.


Memang sejak pagi dia sedih karena mendengar dan melihat sendiri bagaiman marahnya kak Sandro padanya. Dia merasa telah lancang dan menyesali memilih mobil itu padahal dia tahu itu mobil kak Sandro. Dia sedih karena dia telah merasa nyaman dengan hubunganya dengan kak Sandro yang sudah sangat baik, dia takut setelah ini dia akan kehilangan sosok kakaknya lagi. Wajah kak Sandro yang dilihatnya tadi pagi lebih menakutkan dibanding saat pertama kali bertemu.


Setelah jam-jam perenungan panjang, akhirnya Dria menghidupkan gawainya dan menghubungi ayah Rahmadi. Panggilan langsung dijawab sang ayah...


.


"Nak? Kamu sehat? Kenapa menelpon sekarang? Bukannya baru dua hari yang lalu?"


"Apa tidak boleh ayah?"


"Oh bukan... bukan... ayah justru senang, tapi biasanya seminggu sekali."


"Ahh itu... eh aku ingin beritahu, aku baru mengunjungi ibu..."


"Kenapa hari ini? Kenapa tidak menjengguk ibu besok hari? Kamu lupa tanggal Peringatan ibu?"


"Tidak ayah, kebetulan hari ini aku kosong... aku tidak ke kantor, jadi aku memutuskan berkunjung saja... Emm itu juga karena besok aku tidak bisa ke sana..."


"Oh? Tapi tidak mengapa, yang terpenting kamu sudah mengunjungi ibu... menyesuaikan dengan keadaanmu saja, itu tidak masalah."


"Ayah... Aku rindu ayah, aku mau pulang..."


"Nak? Kenapa seperti itu suaramu? Apa anak ayah sekarang berubah jadi cengeng?"


"Aku mau pulang ayah, aku sudah beli tiket, aku ada di stasiun kereta sekarang..."


"Dria? Ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba?"


"Ahh? Aku... aku merusak mobil kak Sandro dan kak Sandro marah besar, aku takut bertemu kak Sandro, aku malu juga sudah lancang..."


"Dria?? Kenapa jadi pengecut dan penakut? Anak ayah tidak seperti itu sebelum ini. Jangan pulang dengan masalah nak, itu tidak baik... kembali ke rumah Tuan Harlandy dan minta maaf pada Tuan Muda, jika dia menganggap kamu adiknya, dia pasti memaafkanmu."


"Begitukah?"


"Iya... begitu..."


"Tapi... kak Sandro sangat marah..."


"Jangan ragu nak... tidak ada yang lebih baik dari pada meminta maaf jika merasa sudah melakukan kesalahan... dan terima kemarahan kakakmu, itu konsekuensi kelancanganmu menggunakan milik orang lain. Jangan manja nak, tidak baik seperti itu."


"Ahh ayah... aku..."


"Nak... Pikirkan dengan baik tindakanmu. Tuan Harlandy mengatakan apa waktu kamu pamit?"


"Ahh itu... aku tidak tidak memberitahu siapa-siapa..."


"Dria??? Kamu membuat masalah jika seperti itu. Kamu pergi diam-diam?"


"Ahh?? I... Iya..."


"Ahh Dria anakku... bagaimana kalau mereka sedang mencarimu sekarang, tidak ada yang tahu kamu ke mana? Bukankah itu masalah buat orang-orang di rumah itu? Jangan bertindak impulsif nak, itu bisa menyusahkan orang lain."


Ayah yang biasanya hemat kata, sekarang bicara panjang lebar demi supaya putrinya bisa bertindak dewasa.


"Jadi aku harus apa, ayah?"


"Kembali ke rumah itu, ya?"


Dria terdiam... Dia belum punya keberanian melakukan itu.


"Dria??"


"Ahh... ba...baik ayah... baik... aku akan kembali ke sana..."


"Baiklah nak... ayah tutup panggilannya ya?"


"Baik ayah."


.


Baru saja panggilan dengan sang ayah selesai, sekarang masuk panggilan dari Sandro, kakak yang dia hindari hingga dia terdampar di stasiun kereta ini, walau ragu dan masih takut Dria menggeser tombol hijau.


.


"Halo..."


"Deedee... oh syukurlah... kamu di mana?"


"Aku... aku di stasiun kereta api..."


Dria menjawab pelan, tapi jawaban itu sangat melegakan untuk si Tuan Muda, mengembalikan semangat yang sempat menghilang dan membuat bahagia segera datang mengganti kegalauan hampir sepanjang hari.


"Jangan ke mana-mana ya, sayang... tunggu kakak di sana... jangan matikan hpmu lagi, kakak akan menelpon lagi... tunggu kakak ya, kakak akan menjemputmu..."


"Iya... iya..."


Dria juga merasa lega, tidak ada kemarahan dalam kalimat kak Sandronya, justru seperti kalimat seseorang yang begitu senang, dan sepertinya kak Sandro memang sedang mencari dirinya.


Dan si Tuan Muda, seolah semesta sedang menyanyikan nyanyian cinta untuknya. Si Tuan Muda ini rasanya ingin terbang ke stasiun kereta yang seumur-umur belum pernah diinjaknya, seseorang yang sangat berharga ada di sana.


.


🍀Selamat menyambut Tahun Baru untuk semua....🍀


.


🕛🧨🎈✨️🎉


.