Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 54. Sepenggal Kisah



Keadaan-keadaan yang telah terjadi dalam kehidupan tidak bisa diubah lagi, baik Dria terutama Egi tidak bisa melakukan itu. Dalam dua hari ini bertemu Egi, Dria merasakan sakit saat melihat sosok itu, tapi tidak sampai dia harus menangis dengan sedih dan menjadi terpuruk dalam tangisan untuk sosok itu, waktu membuat rasa sakit tak sehebat dulu. Dengan cepat sedih itu menghilang, dia segera lupa saat dia berbicara dengan kakaknya Sandro.


Tapi Egi telah mengungkit tentang sesuatu yang paling memedihkan hatinya, seorang anak. Peristiwa di masa itu mulai berdatangan di memorinya, rasa sakit karena anak itu kembali hadir dan membuat Dria lemas dalam sedihnya.


.


🐣


.


Sepenggal kisah di masa lalu…


ā€œKenapa tidak memeriksakan diri ke dokter? Paling tidak ke Puskes, pak Rahmadi… bapak satu-satunya orang yang bisa mengurus anak bapak, tolong lebih peduli pak… ada dua nyawa yang butuh perhatianā€¦ā€


Seorang bidan kenalan diminta ayah untuk datang melihat Dria. Dria sangat kurus dan tergolek lemah karena depresi dengan keadaannya. Ayah yang kalut dan turut merasa bersalah dengan keadaan anaknya hanya bisa pasrah dimarahi sang bidan.


Bidan Norma terkenal sangat cerewet semata-mata karena kepeduliannya pada ibu-ibu hamil, dan menjadi lebih cerewet ketika tahu kondisi Dria. Bidan Norma sedang mendengarkan detak jantung janin dengan alat deteksi manual seperti terompet yang berbahan kayu.


ā€œKapan terakhir kamu haid Dek?ā€


Bidan bertanya pada Dria dan hanya dijawab dengan linangan airmata.


ā€œTidak usah menangis Dek, itu tidak baik. Kamu harus menjadi kuat demi anak ini dan demi dirimu sendiri. Ini memang salah, tapi kesalahan bisa diperbaiki… dengan apa? Makan yang benar supaya janinnya tumbuh dengan baik. Kamu harus membayar kesalahanmu sendiri dengan itu, ya? Kamu tidak makan sama saja dengan membunuh anakmu sendiri, dia butuh kasih sayangmu sekarang, jadi jangan menangisi keadaan ini. Jadi kuat dan jadi ibu yang bertanggung jawab, sekarang kamu sudah jadi ibu walaupun dia belum lahir.ā€


Dria menutup mata dengan tangannya dan menangis dengan hebat, empat bulan sudah dia hanya menangisi hidupnya di kamar. Sesekali dia terpaksa makan, karena walaupun ayah tdak pernah bicara tetapi setiap jam makan ada sepiring nasi dengan lauk yang diletakkan ayah di meja di samping tempat tidurnya. Dia mulai makan saat dia menemukan beberapa kali ayah membuang makanan yang tidak disentuhnya, ajaran kuat sang mami tentang dosa membuang makanan membuat dia makan meskipun tubuhnya menolak.


ā€œPak Rahmadi, kapan bapak tahu anak bapak hamil?ā€


ā€˜Saat dia dikeluarkan dari sekolah, saya dipanggil untuk itu.ā€


ā€œIya kira-kira kapan pak?ā€


ā€œBulan Oktoberā€¦ā€


ā€œItu empat bulan yang lalu, pak… kenapa pak Rahmadi begitu lalai tidak mengantarkan dia periksakan kehamilannya? Dek… berhenti menangis dan jawab pertanyaan ibu ini demi kebaikanmu, itu untuk menentukan umur kandungan mu… kapan terakhir kamu haid?ā€


Dria mencoba menghentikan tangisnya.


ā€œLupa?ā€


Dria menggeleng dan menjawab lemah.


ā€œSudah enam bulan bu saya tidak haidā€¦ā€


ā€œAstaga… pak Rahmadi, besok antarkan Dria ke Puskes, cari saya saja kalau bapak malu, nanti saya bantu… Dria harus mendapatkan asupan makan yang baik pak, ini perutnya kecil begitu tidak sesuai dengan usia kandungan… besok ya pak… sekalian USG untuk lebih pasti sudah berapa bulan. Bersyukur detak jantungnya kuat, dari pengalaman saya biasanya jenis kelaminnya lelaki, tapi untuk memastikan harus USGā€¦ā€


Bidan Norma membereskan peralatan periksanya lalu bicara lagi.


ā€œDek… harus makan, jangan mengikuti perasaan sedihmu, ingat kamu ibu dari seorang anak di dalam kandunganmu. Bapaknya tidak bisa melindunginya, tidak mau mengakuinya tapi kamu harus menerimanya… dia menyatu dengan tubuhmu sekarang, sudah merasakan gerakannya kan?ā€


ā€œIya buā€¦ā€


ā€œItu pertanda dia hidup, Dek… kalian orang baik… percaya ada jalan yang baik. Tidak usah malu, banyak kejadian seperti ini di luar sana… ya sudah saya pamit, besok saya tunggu di Puskesmas.ā€


Bidan seperti bisa memahami perasaan Dria, tidak punya ibu hanya ada seorang bapak yang tidak tahu harus berbuat apa, dia mengusap kepala Dria agak lama membuat Dria menangis dan dalam hati memanggil maminya.


ā€œMami… Dee butuh Mami, Dee harus apa, Mi… Dee tidak tahu harus apa, Dee sendirian Mi… Mami tinggalkan Dee sendiriā€¦ā€


Ayah Rahmadi datang ke kamar Dria setelah mengantar Bidan Norma ke pintu keluar. Menatap dengan hati yang merintih juga saat tahu Dria sedanb menangis. Ayah memutuskan melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan...


ā€œNak… makan ya? Tidak usah berdiri, biar ayah suapkanā€¦ā€


Ayah menepuk-nepuk lengan anaknya untuk menenangkan tapi justru membuah Ayah ikut menangis bersama Dria. Setelah Dria menjadi tenang Ayah kemudian menyuapi putri satu-satu dengan penyesalan yang memenuhi dadanya, dia merasa satu-satunya yang harus disalahkan adalah dirinya yang tidak becus sebagai ayah. Dria makan sampai habis bubur putih dan telur matasapi yang disiapkan ayah tadi pagi.


ā€œNak… kita akan merawat dia ya? Kamu harus melanjutkan sekolah sesudah melahirkan, bidan Norma akan membantu kita… setuju?ā€


Dria mengangguk, ada perasaan lega mengetahui perasaan dan keinginan ayah tentang anak dalam rahimnya, Dria mengamati wajah ayah memang ada mendung di sana tapi itu bukan ekspresi wajah yang marah padanya seperti yang dipikirkannya selama ini. Walau masih menangis tapi sepertinya beban itu dapat dia pikul sekarang.


.


🐢


.


Sandro masuk ke dalam kamar Dria, menemukan adiknya yang meringkuk di atas tempat tidur dengan posisi mengahadap dinding kamar. Tety sudah menjelaskan bahwa Dria sempat menangis tadi pagi, sekarang sudah tenang tetapi masih belum ingin meninggalkan kamarnya Dria tidak tidur, hanya memejamkan matanya.


ā€œDeedeeā€¦ā€


Dengan lembut Sandro menyapa dan segera duduk di tempat tidur Dria di samping tubuh adiknya.


"Kamu kenapa, Dee?"


Dria menangis. Sejak merenungkan semuanya dia mengambil keputusan untuk jujur sekarang supaya kakaknya bisa segera mengambil jalan hidup yang lain.


Dria paham tentang hatinya, mengapa selama ini dia tidak dapat menerima cinta sang kakak, karena dia ingin kakaknya mendapatkan gadis yang baik bukan seperti dirinya. Di bagian hatinya yang lain sesungguhnya dia mulai mengerti pula bahwa perasaannya terhadap kakaknya telah berubah sepenuhnya. Kakaknya yang tidak berhenti menunjukkan perasaannya sekarang, sikap begitu sayang dari sang kakak telah menebar benih cinta yang lain di hatinya, bukan lagi cinta seorang adik terhadap kakaknya dan itu tumbuh dengan indah.


Tapi Dria lebih paham lagi bahwa dia tidak bisa mensejajarkan cintanya dengan cinta sang kakak. Mengapa dia selalu menyangkali kehadiran perasaan itu dalam hatinya karena dia merasa hidupnya bukan hidup yang utuh lagi yang layak untuk menjadi istri sang kakak.


Dia tahu akan sulit baginya untuk melepaskan cinta kakaknya tapi dia pernah kehilangan cinta, tak apa untuk kehilangan lagi, dia telah belajar menjadi tegar tanpa cinta dan dia bisa melakukan itu lagi. Dia pernah berprinsip tidak akan menikah, mungkin itu memang garis destiny.


Dria bergerak terlebih dia merasakan tangan besar kakaknya meraih jemarinya. Dria bangkit dibantu Sandro, Dria duduk bersila di tempat tidurnya sambil mengeringkan airmatanya, dia harus bisa melewati hal ini, dia pernah melalui yang jauh lebih berat, sekarang hanya tinggal sebuah ingatan saja, ingatan yang datang akibat percakapan dengan Egi, dan menjadi sesedih ini karena untuk pertama kali dia mengingat lagi hal yang sudah dikuburnya selama ini.


Sandro lebih mendekat dan membantu Dria merapihkan rambutnya yang selalu dibiarkan tergerai sebatas pundak.


"Apa yang membuatmu menangis Dee? Seseorang menyakitimu? Tety mengatakan setelah bertemu dia kamu jadi seperti ini."


Sandro tidak ingin menunda, langsung bertanya pada intinya. Dria belum menjawab hanya melihat kakaknya sejenak dan membiarkan kakaknya melakukan yang sedang dia lakukan dengan anak rambut di dahinya, sudah biasa kakaknya melakukan hal itu.


"Siapa dia Dee?"


Si Tuan Muda sudah bisa menduga siapa pria itu bagi Dria karena dia bisa membuat Tety membuka mulut untuk menjelaskan sedikit yang dia dengar dari pembicaraan di teras antara Dria dan Reginald bahwa Reginald adalah masa lalu Dria. Tapi di sini Sandro merasa bahwa pria itu ada hubungannya dengan apa yang dia ketahui dari sang papi waktu itu.


Dria kemudian mengumpul keberanian untuk bicarakan tentang Reginald.


.


.