
Tidak pernah ada waktu yang lebih baik dalam kehidupan selain waktu yang dinikmati sebagaimana adanya, bukan soal berapa banyak yang dicapai dan dimiliki di waktu sekarang tetapi seberapa mampu menikmati alur kehidupan yang ditetapkan semesta, meskipun itu kurang dari atau tidak sesuai dengan keinginan dan harapan yang dimiliki secara ideal karena hidup tidak sempurna.
Hidup dijalani Dria sebagaimana adanya. Tidak lagi berkutat dengan kesibukannya sebagai karyawan yang punya rutinitas nine to five setiap hari, tapi Dria tetap mengontrol toko dan kafe, melihat apa yang kurang dari standarnya soal kenyamanan untuk pengunjung dia akan menangani sendiri atau paling kurang meminta karyawan yang ada untuk memperbaikinya.
Di kafe, Dria sedang melihat area playground yang baru saja ditambahkan, ada banyak mainan anak yang baru ditempatkan di sana. Dua orang pekerja sedang memastikan mainan anak yang besar-besar untuk playground ini telah terpasang sempurna. Space yang sangat luas di kafe ini memungkinkan Dria untuk membuat inovasi-inovasi supaya kafenya tidak membosankan.
Ada manager kafe ini, bu Sonia yang mendampingi Dria.
“Bu Sonia sudah mengatur dengan baik kan? Aku ingin area anak-anak ini ada karyawan yang khusus yang siaga untuk membersihkan dan merapihkan, aku tidak ingin ada kesan kotor ya bu Sonia…”
"Baik Non..."
“Seragam baru sudah dibagikan, bu Sonia?”
“Sudah Non… sudah dibagikan.”
“Saya suka desainnya bu Sonia. Katanya bu Sonia yang mendesain sendiri?“
“Oh… iya bu…”
“Itu sangat keren bu Sonia…”
“Terima kasih Non…”
“Bu Sonia harus mengambil fee untuk itu.”
“Oh… tidak perlu Non… saya memilihkan desainnya karena saya juga harus menggunakannya.”
“Harus bu Sonia, ide itu mahal…”
“Oh… terima kasih Non…”
"Sama-sama. Ahh iya... pilih karyawan yang menyukai anak-anak ya bu Sonia untuk di bagian ini, itu akan membuat mereka lebih tulus melayani. Anak-anak kadang merepotkan, jika hati jengkel walau wajah tersenyum tetap terlihat... jangan sampai ada pengunjung yang complain lagi... bu Sonia sudah membaca chat salah satu pengunjung kita kan?"
"Sudah bu, saya sudah meminta maaf atas nama managemen, saya juga sudah mengirim gift permintaan maaf."
“Sudah seharusnya bu Sonia, semoga kejadian mengenai perlakuan karyawan kita pada anaknya tidak menghalangi mereka untuk datang berkunjung lagi.”
“Saya sudah menegur karyawan itu, Non…”
"Ahh kalau hal seperti itu urusannya bu Sonia, terserah bu Sonia ya…”
“Baik Non… Mmmh… ada sesuatu yang ingin saya tanyakan…”
“Mengenai apa?”
“Kebetulan ada pelanggan tetap profesinya seorang Akuntan, tidak sengaja saya bercakap dengannya, saya hanya memberi souvenir karena selama dua bulan ini hampir setiap Sabtu dan Minggu dia ada di sini sambil mengerjakan pekerjaannya. Saya ingin tahu, apa Non Dria mau menggunakan jasanya untuk mengaudit kafe dan toko?”
“Ahh… mengenai hal itu pak Timo yang mengurusnya. Bu Sonia pasti tahu jika hal-hal berkaitan dengan manajemen dan lain-lain itu urusan pak Timo… haha aku kurang paham tentang itu.”
“Saya mengerti Non, karena itu saya bertanya, mungkin Non Dria ingin mengaturnya sendiri dan memiliki seseorang yang menangani tax dan accounting untuk kafe dan toko…”
“Apa orang itu menanyakan lowongan pekerjaan?”
“Tidak seperti itu Non, dia bekerja di sebuah Kantor Akuntan, tapi sepertinya dia punya klien sendiri dan sering bertemu klien di sini… saya yang bertanya padanya Non…”
“Ahh begitu… Aku diskusikan lebih dahulu dengan kakakku ya…“
“Ini tidak mendesak Non, jika pengaturan pak Timo berbeda saya mengikuti.”
“Baik... ahh saya harus menerima telpon bu... selamat bekerja."
"Siap Non Dria..."
Dria berjalan meninggalkan manager kafenya kemudian duduk di sebuah tempat yang agak sepi pengunjung. Gawainya sedang berbunyi, siapa lagi yang rutin mencarinya kalau bukan kakaknya yang tampan.
.
“Ya kakak…”
“Di mana, Dee?”
“Di kafe, area playgroundnya sudah selesai, Dee melihat itu. Dee akui sekarang kakak… maksud kakak membuat bangunan kafe yang sangat luas, ternyata aku bisa untuk lebih berinovasi menambahkan fasilitas dan kakak tahu… itu ternyata meningkatkan minat pengunjung…”
“Iya Dee, kakak mempertimbangkan lokasinya yang sudah berada jauh dari pusat kota, tata ruang, fasilitas dan lingkungan yang disediakan harus bisa membuat pengunjungnya puas dan ingin datang berkali-kali. Kalau hanya makanan yang ditawarkan satu dua kali orang masih datang berkunjung setelahnya orang mulai mempertimbangkan jarak, tapi jika tempat yang mereka datangi bisa mengakomodir beberapa kegiatan mereka sekaligus, mereka pasti akan mengunjungi tempat itu berkali-kali. Lagi pula lahan yang kamu miliki memungkinkan untuk itu…”
Sang kakak menjelaskan panjang lebar.
“Iya kakak, Dee paham sekarang, tadinya Dee pikir untuk apa bangunan seluas itu, kakak mau membuat kafe atau foodcourt…”
“Kakak terinspirasi pada sebuah kafe di negara J..."
"Ahh begitu ternyata... tapi setelah Dee perhatikan banyak orang yang menggunakan kafe untuk melakukan pekerjaan mereka juga dan biasa tipikalnya mencari space yang lebih private yang tidak banyak orang lalu lalang. Atau ada yang mengadakan acara keluarga dan meginginkan ruang lebih private sehingga acara mereka lebih leluasa…”
“Sepertinya kamu mulai pandai melihat elemen yang penting dalam berbisnis, Dee…”
“Ahh begitu ya? Itu karena ada kakak tampanku tersayang yang mengajari…”
Hati Sandro jauh di bagian lain pulau ini seperti mau meletup-letup karena luapan rasa indah yang menggelora mendengar kata ‘tersayang’.
“Ahh iya… apa mau melihat peluang bisnis yang lain?”
Sandro yang menjadi salah tingkah bertanya dengan pikiran pertama yang terlintas di kepalanya.
“Ahh?? Tidak, ini cukup buat Dee untuk belajar tentang hidup. Dee tidak mau jadi wanita yang hidupnya diperbudak oleh keinginan untuk mendapatkan lebih banyak… ”
“Kenapa tidak mau mengembangkan kemampuan diri sendiri, Dee?”
“Bagus itu, sesuai dengan keinginan kakak, ke depan kamu akan mengurus kakak juga, begitu kan…”
“Ahh? Kakak sudah punya pak Timo dan Age, lagi pula kakak di J aku di S… bagaimana bisa?”
“Nanti kamu akan mengikuti kakak ke mana pun kakak pergi, kita akan selalu berada di tempat yang sama, tinggal di rumah yang sama, apakah di J atau di S…”
“Kakak??? Ahhhh… jangan mulai membahas yang itu… tanpa Dee bicarakan kakak tahu sebenarnya sikap Dee kan… Dee mohon kakak, jangan berubah ya, tetap sayang Dee dengan cara ini… Dee sudah bahagia kita seperti ini… ”
Ini bukan lagi fase 'kura-kura dalam perahu', waktu juga yang turut menjelaskan pada Dria tentang isi hati kakaknya mengenai dirinya. Semua hal telah begitu gamblang dan terbuka termanifestasi dalam semua tindakan dan sentilan bahkan berbagai pernyataan Sandro, tidak ada yang tersamar lagi. Masalah ungkapan langsung mengenai pernyataan cinta memang tidak ada, mungkin Sandro memang tidak pandai mengungkapkannya. Tetapi karena memang pengakuan verbal tentang 'maukah kamu menjadi kekasihku' tidak dibutuhkan lagi.
“Tapi kakak tidak. Ahhh… kapan hatimu luluh Dee… kakak juga tidak akan berubah, kamu tahu… Miro mulai memanggilkan kakak dengan sebutan bujang lapuk… itu terdengar menyakitkan…”
“Astaga... Kak Miro ada-ada saja…”
“Tapi itu benar kan? Apa kamu tidak memikir keadaan kakakmu? Bulan depan kakak berusia tiga puluh lima tahun...”
"Kakak masih awet muda, hanya memang terlihat sudah matang dan dewasa."
"Itu sama saja Dee..."
“Haha... Makanya kakak harus mencari kekasih…”
“Tidak. Tidak akan. Kakak akan terus menunggu kamu melepaskan prinsipmu. Apa yang menghalangimu untuk mengerti?”
“Ahh kakak… itu… itu sesuatu yang prinsip juga, sesuatu yang penting buat Dee… makanya Dee mohon kakak jangan memaksa…”
Suara Dria berubah sendu.
"Supaya adil, Dee tidak boleh memaksa kakak juga untuk mencari wanita lain..."
Seperti itu sekarang bila mereka berdua bercakap entah di telpon atau saat berjumpa, mau menyebutkan hubungan kakak-adik tidak cocok lagi. Dalam banyak kasus ada teman tiba-tiba menjadi kekasih atau sebaliknya kekasih tetapi kemudian memilih berteman saja. Yang pernah populer di luar sana frasa Teman Tapi Mesra. Nah... Hubungan Sandro dan Sandriana tergolong kategori apa? Kedua 'pelaku' pun kadang begitu ambigu dengan perasaan yang mereka miliki.
.
🐢
.
“Tety… kamu bertemu siapa tadi… seseorang yang suka padamu ya? Haha…”
“Di kafe tadi?”
"Iya... Aku melihatmu bercakap dengan seorang pria tampan..."
"Dia justru bertanya pada saya tentang Non Dria…”
“Bertanya apa Tety?”
“Bertanya siapa nama Non Dria…”
“Dia mengenalku ya?”
“Pria itu berkata bahwa Non Dria mirip dengan teman SMAnya…"
“Lalu?”
“Hanya itu saja, nampaknya dia masih ingin bertanya tapi teman-temannya sudah keluar jadi dia buru-buru pergi…”
‘Kamu menjawab apa?”
“Saya tidak menjawab Non, saya tidak boleh lagi sembarangan memberi informasi tentang Non Dria…”
“Ahh? Orang bertanya harus dijawab Tety, mungkin dia benar temanku. Kamu mengatakan apa padanya?”
"Saya diam saja dan dia terus berbicara..."
"Tidak apa-apa Tety, jika ada yang mengenalku, jangan membuat kesan aku sombong sekarang..."
“Tapi ini sudah kesekian kali orang bertanya, kalau saya menghitung semua, mungkin sudah lebih dari sepuluh orang Non…”
“Kenapa dengan itu Tety? Aku ada di kotaku sendiri, tempat kita telah berubah menjadi tempat publik, tentu saja kemungkinan untuk bertemu teman-teman di masa lalu lebih terbuka..."
"Tapi waktu itu saya juga bertemu seorang wanita yang berkata mengenal Non Dria, tapi dia ragu-ragu."
"Kenapa kamu tidak memberitaku waktu itu Tety?"
"Sengaja Non... wanita itu mengatakan hal yang tidak baik tentang Non Dria di depanku..."
"Maksudnya? Mereka mengatakan apa?"
"Hahh? Ehhh... hanya... hanya pembicaraan negatif yang tidak perlu didengar, Non. Aneh, merasa begitu mengenal Non Dria, setelah aku cari tahu ternyata dia ragu-ragu karena Non Dria hanya sekelas di kelas satu…”
Tety merasa sungkan memberitahu cerita yang didengarnya, sesuatu yang dibicarakan dengan pongah seolah wanita itu sangat mengenal Dria dan memang sengaja menjatuhkan nama Dria di depan teman-temannya yang notabene tidak mengenal Sandriana. Mungkin dia merasa kesal karena teman-temannya memuji kecantikan dan keberhasilan Dria sehingga hati yang iri menjadi dengki lalu kemudian sengaja menceritakan yang tidak baik.
"Pembicaraan negatif apa?"
Hati Dria mencelos. Peristiwa masa lalu memang tidak dapat ditutupi di antara teman-temannya, karena, seorang teman mendengar pembicaraan guru wali kelas yang mencurigai kondisi Sandriana di awal kehamilannya. Teman itu memang tidak menyukai dirinya segera menyebarkan info yang langsung membuat gempar seisi sekolah. Seorang yang membenci mencari pembenci yang lain lalu bergabung membuat info itu digosipkan seantero sekolah. Dunia Dria langsung runtuh seketika, rasa malu dikeluarkan dari sekolah itu masih diingat sampai sekarang.
"Hahhh eh... saya kurang jelas Non... hanya mengatakan sesuatu yang kurang bagus tentang tempat ini, tapi saya tidak ingat apa itu, sudah lama jadi saya lupa..."
Tety berpura-pura tidak mendengar apapun yang spesifik.
Begitulah...