
Dria sedang memperhatikan Sandro. Ternyata kakak tampannya sangat memperhatikan penampilannya.
Di depan cermin Sandro sedang menata rambutnya menyisir dengan hati-hati dan menjuntaikan sebagian poni rambut ke depan, rambut yang sekarang selalu dengan potongan gondrong mungkin karena mengikuti keinginan Dria.
Kakaknya jadi terlihat seperti idolanya, salah satu member boyband terkenal sebuah negara yang sekarang memilih bergaya rambut panjang, hanya rambut kakaknya tidak sepanjang member termuda yang imut itu. Potongan rambut kakaknya hanya sedikit melewati tengkuknya dan hanya sedikit melewati telinga.
Jika Dria menghitung, lebih lama waktu yang dibutuhkan sang kakak untuk bersiap setelah mandi dibandingkan dirinya.
Dria tertawa saat Sandro memperhatikan dengan seksama kemeja bagian belakang, memperhatikan dengan cermat detil lipatan kemeja dari punggung hingga pinggang di mana kemeja itu sudah masuk rapih ke dalam celana kainnya, beberapa kali berputar di depan cermin hanya untuk memastikan bahwa kemejanya sudah masuk dengan rapih. Bagi Dria itu sedikit berlebihan karena kemeja itu akan tertutup dengan jas.
Lanjut dengan memasang dasi, Sandro harus beberapa kali memastikan ikatan dasinya serta sampai di mana panjang dasi itu… astaga ternyata kakaknya sangat memperhatikan detil penampilannya.
Dria senyum-senyum sendiri di sofa, duduk membungkuk dengan dua sikunya di paha menopang dagunya.
“Kakak…”
“Iya…”
“Hari ini Dee tidak ikut ke kantor ya…”
Sandro berhenti merapihkan ikatan dasi di lehernya lalu berbalik memandang Dria.
“Ternyata kamu belum bersiap ya? Kamu masih memakai piyama. Kamu belum mandi?”
“Hahaha… iya Tuan Muda, Dee malas mandi kalau tidak akan pergi ke mana-mana.”
“Ahhh?? Itu kebiasaan buruk Dee… Jangan seperti itu, pergi atau tidak biasakan pagi-pagi tubuh sudah bersih. Kamu seperti mami.”
“Hahaha, itu benar, like mother like daughter…”
“Kenapa tidak ikut ke kantor? Aku membutuhkanmu di sana.”
“Sekretaris kakak ada enam orang, masih tidak cukup juga? Sudah setengah lusin jumlahnya masa masih kurang juga?”
“Aku tidak bisa memeluk atau mencium mereka, Dee...”
“Ahh??? Jadi itu saja pekerjaan Dee untuk kakak di kantor selama ini? Itu termasuk penghinaan terhadap kemampuan kerjaku… padahal Dee sudah bekerja dengan baik membantu para sekretaris kakak.”
“Itu pekerjaan paling mulia, Dee… dan yang paling aku inginkan dan butuhkan.”
“Astaga??? Kakak terkena syndrome apa? Pekerjaan mulia? Tidak ada yang seperti itu, jangan berlebihan. Ada pak Timo di sini…”
Dria menatap pak Timo yang juga sedang menatap dirinya, ingin Timo mengatakan…
“Teruskan saja Non Dria, saya sudah sangat paham dan sudah maklum dengan kemesraan kalian. Tuan Muda memang sedang terkena ‘Dria Syndrome’, Tuan Muda akan mengalami gangguan jika Non Dria tidak ada di sekitar, Tuan Muda sedang mengalami disorientasi waktu dan tempat dan dislokasi hati dan jiwa yang parah, hahaha…”
Tapi lagi-lagi Timo hanya bisa melakukannya dalam hati.
“Kenapa dengan Timo, dia tidak peduli dengan apa yang kita lakukan.”
Sandro berkata dengan seolah yakin bahwa perkataannya itu benar, mungkin lupa bahwa Timo punya mata dan punya telinga dan bahkan punya otak yang lebih cerdas dari si Tuan Muda, dan yang terutama Timo punya hati dan perasaan.
Terlalu sering menjadi saksi kemesraan Tuan Muda dan Non Dria, alam bawah sadarnya memunculkan kebutuhan terhadap kehadiran seseorang untuk membunuh sepi dalam jiwanya. Mungkin itu kemudian yang membuat Timo membawa Ruby menjadi pengganti Dria, padahal itu tidak terlalu dibutuhkan sebenarnya mengingat posisi pekerjaan Dria di perusahaan ini waktu itu hanyalah karena perintah Tuan Besar dahulu untuk mendekatkan Tuan Muda dengan non Dria.
Dria memanyunkan bibirnya mendengarkan kalimat tidak masuk akal kakaknya juga karena pandangan pak Timo seperti menyimpan senyumnya.
“Kenapa kamu tidak ikut Dee? Kamu sakit?”
Sekarang Tuan Muda datang dan duduk di samping Dria karena memang sepatunya diletakkan Age tadi di dekat sofa itu. Tuan Muda meraba kening Dria.
“Tidak, Dee sehat kakak…”
Dria melepaskan tangan kakaknya tapi tidak bisa menghindar saat bibir kakak nya singgah sejenak di bibirnya.
“Ahhh kakak… ada pak Timo, Dee belum sikap gigi…”
Dria mendorong jauh tubuh kakaknya yang justru di wajahnya terpampang senyum menggoda. Tuan Muda semakin lama semakin…
“Sana sikat gigi… setelah itu…”
Dria memukul lengan kakaknya dengan jengkel campur jengah, kakaknya semakin lama semakin vulgar kata-katanya dan semakin tidak tahu tempat dan tidak punya rasa malu, meskipun ada Timo bibirnya selalu menjadi sasaran si Tuan Muda. Benar-benar perubahan radikal seorang Sandro setelah cintanya berlabuh indah dan tertambat kuat di hati Dria.
Tangan kecil Dria yang memukul lengannya ditangkap Sandro lalu sejurus kemudian bibirnya segera meluma*t bibir Dria dengan sedikit kasar. Sesaat Dria berontak tapi kemudian tubuhnya seperti segera menyesuaikan dan memberi respon yang sangat baik. Pagi yang indah buat mereka berdua. Timo perlahan meninggalkan ruangan Tuan Mudanya. Timo kena mental, Tuannya menganggap dirinya tidak berwujud.
Setelah momen kenikmatan pagi terpaksa diakhiri karena sebuah pukulan ringan tangan kecil milik Dria di pinggangnya, Sandro mengenakan sepatunya. Dria menggeser tubuhnya menjauhi Tuan Muda, mengantisipasi sesuatu yang bisa terjadi lagi.
“Kenapa tidak ke kantor?”
Kali ini Sandro bertanya dengan nada serius.
“Hari ini Josef ulang tahun, Dee ingin membuatkan kue-kue untuk acara ulang tahun sebentar sore.”
“Josef? Itu nama pria, siapa dia Dee? Kamu tidak pernah membuatkan aku kue dan kamu membuatnya untuk pria lain.”
“Astaga kakak… Josef itu Jojo, anak kak Rahel dan kak Amos, pelayan setia di rumah ini. Ahh kakak tidak pernah menghafal nama orang-orang yang bekerja untuk kakak…”
“Aku tahu siapa Barry, Hope, Gio, terutama Delfris. Aku juga tahu si Rumy…”
“Rumy? Kakak punya sekretaris baru?”
“Tidak, dia temanmu Dee… ternyata kamu sendiri tidak hafal namanya…”
“Ingatanku sangat baik Dee, hanya aku malas menghafal nama orang…”
“Itu namanya tidak peduli, Tuan Muda…”
“Aku peduli, Dee… aku peduli dengan kesejahteraan karyawanku, peduli dengan pekerjaan mereka… hanya otakku tidak ingin menghafal nama saja. Kamu tanya rumus apa dari pelajaran SD sekalipun aku bisa menyebutkannya dengan baik. ”
“Ahh?? Maksud Dee… bagaimana kita memperlakukan orang lain. Masa Dee harus mengajarkan kakak tentang hubungan antar manusia, karyawan kakak sangat senang bahkan hanya melihat senyum kakak, apalagi kalau kakak bicara dengan mereka, kalau kakak memuji atau berterima kasih untuk pekerjaan dan usaha terbaik mereka…”
“Perusahaan sudah mengurus dengan baik tentang pemberian penghargaan Dee…”
“Ahh ternyata Tuan Muda tidak terlalu banyak berubah… kenapa hanya nama orang-orang tertentu yang masuk di otak kakak?”
“Karena itu aku butuh kamu, Dee… kamu bahkan menghafal nama security dan office boy di perusahaan… apa yang tidak bisa aku lakukan ada kamu yang akan melengkapinya… kita akan saling melengkapi kekurangan masing-masing... Kamu mengerti tentang itu, Dee?”
Sandro menatap lekat wajah Dria, tatapan yang menegaskan pentingnya Dria dalam hidupnya. Dria paham sesuatu yang penting sekarang, kekurangannya sangat besar dan kakaknya bisa menerima itu, dan kakaknya ini punya kekurangan yang tidak perlu dibesar-besarkan sebenarnya, kenapa dia harus mempersoalkan itu?
Pada dasarnya sifat yang berbeda membuat hubungan antar manusia itu menjadi unik sehingga hidup tidak monoton.
"Iya kakak... Dee mengerti."
Dria berkata lembut sekarang. Jika serius seperti ini kakaknya terlihat sangat berwibawa. Di depan banyak orang kakaknya memang seperti ini. Mungkin hanya dia dan pak Timo yang tahu bagaimana sisi lain sifat si Tuan Muda.
"Jadi kamu tidak ikut denganku?"
"Hanya hari ini kakak, Dee sudah berjanji pada Jojo akan membuatkan banyak kue untuk ulang tahunnya..."
"Kamu sangat menyayangi Jojo ya, dibandingkan dengan dua anak yang lain, itu anak yang paling kecil dari... siapa orang tuanya?"
"Kak Rahel dan kak Amos... Jojo justru anak tertua mereka."
"Ah?? Dia terlihat lebih kecil dari adik-adiknya."
"Iya... Jojo lahir dengan kelainan jantung... dia memang lebih ringkih dari adik-adiknya..."
Dria menjawab sendu, teringat anaknya sendiri, mungkin jika anaknya bertahan hidup kondisi fisiknya akan sama seperti Jojo. Sandro memandang Dria yang seperti tercenung. Sandro jadi teringat apa yang masih belum terjawab tentang Dria, anak Dria. Otaknya bisa menyimpulkan jika anak Dria sudah tidak ada di dunia ini, kemungkinan sama seperti si Jojo saat lahir karena Dria begitu peduli dengan Jojo.
Sandro terusik untuk mencari tahu tentang anak Dria. Jika ke kota S nanti dia akan bertanya pada ayah Rahmadi, karena dari yang Sandro lihat Dria menjadi sedih jika membahas anaknya.
"Ayo kamu mandi sana, setelah itu temani kakak sarapan, papi tidak ada."
Sandro menarik tangan Dria lalu dengan merangkul bahu Dria mereka melangkah keluar dari kamar Sandro.
"Papi ke mana?"
"Papi melakukan perjalanan ke negara A, mungkin dua minggu di sana."
"Ada bisnis?"
"Iya..."
"Berarti kita pulang ke S tertunda ya? Papi bilang kita akan berangkat bersama..."
"Iya, itu setelah papi pulang..."
"Ahh begitu ya... baiklah, berarti Dee tidak perlu ganti pakaian atau bilas-bilas, hanya ada kakak di ruang makan nanti... ayo."
"Dee? Wanita lain akan berdandan saat bertemu denganku."
"Memang ada wanita lain?"
"Ya... tidak, hanya sebuah kalimat pengandaian, jika ada wanita yang akan bertemu denganku..."
"Tapi selama ini hanya kak Emma kan dan kak Audreey kan yang benar-benar bisa berinteraksi dengan kakak?"
"Kenapa menyebutkan nama Emma?"
"Karena kakak menyebut wanita lain dan hanya kak Emma wanita lain yang terlintas. Atau ada wanita lain yang tidak Dee ketahui?"
"Mana ada."
"Ya sudah, berarti kalimat tadi tidak cocok untuk kakak ucapkan."
"Maksudku, aku sudah rapih seperti ini dan kamu masih dengan tampilan bangun tidur dan agak bau..."
"Hahh?? Dee bau? Tapi kenapa kakak tadi mencium sampai beberapa kali? Dee belum sikat gigi..."
Dria menghembuskan napas di depan telapak tangan untuk memastikan. Sandro terbahak sementara itu tangannya mengacak gemas kepala Dria. Dria kemudian melepaskan diri berbalik dan berlari masuk ke kamarnya diikuti suara tawa Sandro.
.
🐢🫰🐥
.
Sekian part ini, terima kasih.
.