Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 71. Memasrahkan Kebahagiaan Anakku.



Kemegahan dan keagungan sebuah cinta terwujudkan lewat suasana yang terbangun di area rumah yang luas yang diubah menjadi sebuah tempat pesta. Venue pesta yang begitu indah disiapkan dengan sangat apik oleh para profesional di bidangnya. Gelaran pernikahan dua kekasih yang telah terbit di hati seorang mami dan dikenan oleh pengatur garis hidup manusia.


Seorang papi yang sangat mengasihi anak-anaknya tidak berkeberatan pesta pernikahan diadakan di rumah besar mereka, mewujudkan keinginan Sandro yang menghendaki private party dan keinginan Sandriana yang menginginkan garden party, dan rumah mereka adalah tempat terbaik untuk merealisasikan dua keinginan yang berbeda tentang pernikahan impian mereka.


Sungguh, pentas kehidupan penuh dengan hal-hal yang menakjubkan, hubungan seorang kakak dan seorang adik yang kemudian dalam realitas berubah saling menemukan cinta anak-anak Adam, cinta yang hadir jauh sebelum keduanya menyadari tentang perasaan masing-masing, saat mereka mengikuti dorongan hati untuk menyusuri jalan yang penuh dengan rasa lembut dan indah, mereka menemukan kebaikan cinta yang menyatukan mereka pada kehendak yang lebih tinggi dalam sebuah mahligai pernikahan.


Sandro berdiri di hadapan cermin besar di kamarnya, mengamati penampilan sempurnanya pagi ini dalam balutan tuxedo yang semakin menonjolkan fisiknya yang sempurna, bukan untuk rutinitas hariannya tapi untuk sebuah acara sakral yang akan digelar sesaat lagi.


Pintu kamarnya diketuk, Timo membuka pintu lalu membungkuk hormat ketika melihat siapa yang ada di sana.


“Boleh saya bertemu Tuan Muda?”


“Silahkan Tuan Rahmadi…”


Sandro berbalik dan melangkah ke arah pintu ketika mengetahui siapa yang datang.


“Ayah…”


“Tuan Muda, maafkan saya mengganggu… ada sesuatu yang ingin saya sampaikan…”


“Masuk ayah, kenapa ayah masih formal seperti itu, jangan lagi menyebutku dengan Tuan Muda…”


Dengan isyarat matanya, Sandro meminta Timo dan Age untuk keluar ruangan. Sandro menyadari bahwa jika ayah Rahmadi secara khusus datang ke kamarnya, itu pasti sesuatu yang sangat pribadi. Setelah pintu tertutup dari luar…


“Mari ayah, jangan sungkan lagi, mulai hari ini ayah benar-benar jadi ayahku… aku benar-benar jadi anak ayah… jadi perlakukan aku sebagai anak ayah mulai sekarang…”


Sandro menunjukkan sebuah tempat di sofa agar ayah Rahmadi duduk disana, Sandro sendiri mengambil sebuah kursi dan menempatkan itu di hadapan sang ayah yang masih terlihat sedikit kaku.


“Iya… iya… eh… ayah ingin mengatakan sesuatu mengenai Dria secara langsung pada…”


Ayah masih enggan menyebut nama si Tuan Muda, hanya menatap canggung. Sandro tersenyum, sebuah kebalikan justru terlihat ayah Rahmadi yang gugup dan grogi sementara Sandro yang terlatih menghadapi banyak situasi terlihat tenang, entah nanti saat acara Pemberkatan dan Resepsi.


“Katakan ayah…”


“Eh mmm iya… begini… eh nak Sandro…”


Ayah Rahmadi menghembuskan tarikan napas panjangnya, sangat nampak tidak bebas untuk menyampaikan sesuatu seperti yang telah diniatkannya. Sang ayah walau pernah mengatakan bahwa dia sudah melihat Tuan Muda ini seperti anaknya sendiri tapi sebenarnya perasaannya berbeda, dia masih belum bisa melihat Tuan Muda yang selalu terlihat sangat berkharisma penuh kepercayaan diri ini sebagai seorang anak, ayah Rahmadi masih merasa kecil di hadapan calon menantunya.


Perasaan ayah Rahmadi campur-baur, dia tidak perlu khawatir sebenarnya karena yang akan menjadi suami anak perempuannya adalah seseorang yang bisa menjamin penuh masa depan anaknya karena limpah ruah harta miliknya. Tapi perasaan yang begitu membekas saat melihat anaknya begitu terhina di masa lalu, terpuruk dan malu di hadapan seorang pria muda waktu itu, itu tidak akan pernah hilang dan menjadi alasan besar mengapa dia begitu takut melepaskan Dria untuk Sandro.


Perasaan sebagai ayah yang gagal memberikan kebahagiaan bagi anak satu-satunya membuat ayah Rahmadi ingin bicara secara pribadi dengan pria yang akan sehidup-semati dengan anak perempuan kesayangannya, dia punya harapan Sandro akan selalu membahagiakan Dria. Tidak mungkin dia mengintervensi lagi setelah Dria resmi menjadi istri Sandro.


“Ayah… ayah tidak memiliki anak yang lain, hanya Dria saja… dan ayah… tidak memberikan kebahagiaan untuk anak ayah ini…”


Ayah Rahmadi menunduk dalam mengontrol emosinya, gelombang emosi telah bermain dalam dirinya mendekati hari pernikahan anaknya.


“Ayah… menurutku, Dria merasakan hal yang sebaliknya bersama ayah, dia bahagia bersama ayah. Dria tidak mengatakannya tapi aku tahu setelah menikah dia sesungguhnya tidak ingin jauh dari ayah. Karena itu aku berjanji pada ayah, kami akan sering-sering ke kota S menemani ayah, itu tujuanku membangun rumah di sana ayah… ayah tidak akan kehilangan Dria, justru anak ayah bertambah satu…”


Ayah Rahmadi mengangkat wajahnya yang sudah basah karena tidak dapat menahan aliran airmata keluar dari pelupuk matanya.


“Maafkan ayah jadi emosional… tapi ayah ingin memastikan kebahagiaan anak ayah, ijinkan ayah memohon pada nak Sandro untuk membahagiakan putri ayah selamanya…”


“Aku berjanji pada ayah, aku akan selalu membahagiakan Dria…”


Sandro tersenyum ingin menenangkan ayah Rahmadi yang menatap penuh harap. Sementara ayah Rahmadi belum sepenuhnya bisa melepaskan rasa takutnya. Dia percaya Tuan Muda di hadapannya bisa membahagiakan putrinya, dia telah menyaksikan hal itu dengan matanya sendiri, tapi hatinya belum sepenuhnya bebas, masih ada hal yang mengganjal di sana.


“Tapi, Dria mempunyai banyak kekurangan, nak… mohon terima semua kekurangan Dria…”


“Aku juga bukan pria sempurna, ayah…”


“Apa nak Sandro sudah mengetahui keadaan Dria di masa lalu, ayah sudah menceritakannya pada Tuan Besar…”


Sandro memandang wajah ayah Rahmadi, dia menangkap sorot khawatir dan mungkin juga rasa takut tentang keadaan Sandriana anaknya.


“Mengenai hal itu, aku sudah tahu ayah… ayah tidak usah khawatir, aku mencintai Dria, aku sangat sayang padanya, aku sudah menerima keadaan Dria sejak pertama kali aku tahu tentang hal itu…”


Sandro mengatakan sambil memandang langsung wajah ayah Rahmadi, seolah ingin menegaskan tentang kesungguhannya tentang apa yang dikatakannya, pergulatan batin mengenai keadaan Dria telah selesai. Ayah Rahmadi masih memandang calon menantunya, kegelisahannya terjawab, pikirnya sebelum ini Tuan Besar masih merahasiakan keadaan Dria, itulah mengapa dia menjadi gelisah sejak ditetapkan tanggal pernikahan anaknya.


“Apa… apakah Tuan Besar menceritakan semuanya?”


“Iya ayah… tapi… aku ingin bertanya satu hal sejak lama…”


“Apa yang ingin nak Sandro tanyakan?”


“Mengenai anak yang dilahirkan Dria…”


Sandro berkata dengan suara rendah, dia bisa memprediksi bahwa anak itu sudah tiada karena melihat Dria yang selalu melihat lebih perhatian pada sosok anak lelaki, melihat Dria yang begitu peduli pada Josef. Jika sepeduli itu dan sesayang itu pada anak kecil tidak mungkin Dria mengabaikan anaknya sendiri.


“Dria tidak memberitahu nak Sandro?”


“Aku tidak pernah menanyakannya, aku pernah melihat Dria begitu tertekan dan sedih ketika keberadaan anak itu disinggung seseorang…”


Ayah Rahmadi mengangguk paham, selama ini anaknya memang tidak pernah satu kali pun menyebutkan tentang anak yang telah dilahirkannya, bahkan melihat kuburan anak itu pun tidak pernah, ayah sendiri tidak pernah menanyakan penyebabnya, bahkan bagi ayah sendiri pernah ada rentang waktu di mana dia melupakan dia pernah memiliki seorang cucu.


“Anak itu hanya dikaruniakan dua hari hidup di dunia ini… dan saat anak itu tiada Dria begitu menyalahkan dirinya… mungkin karena itu dia tidak ingin mengingatnya…”


“Begitu ya… aku juga berpikir seperti itu ayah…”


Ayah Rahmadi memberanikan diri menatap lama calon menantunya sekarang, sekali lagi dia ingin memastikan penerimaan Sandro terhadap keberadaan Dria.


“Apa benar… apa benar nak Sandro tidak keberatan dengan hal ini? Dria pernah memiliki seorang anak…”


Ayah berkata dengan nada berat, seberat hatinya yang belum tenang untuk melepaskan putrinya ke tangan Sandro.


“Ayah… hal itu telah lama aku terima, itulah mengapa aku tetap melanjutkan keinginanku menikahi Dria… hari ini kumohon ayah jangan ragu untuk mempercayakan Dria padaku, aku berjanji atas nama hidupku sendiri bahwa Dria akan bahagia bersamaku… kumohon ayah percaya padaku.”


Sandro mengatakan dengan perlahan, paham bahwa inilah sumber ketakutan yang dilihatnya dalam raut wajah ayah Rahmadi, takut hal ini menjadi cacat pada hidup Dria yang akan mempengaruhi perlakukan Sandro pada Dria dan otomatis akan menjadi ganjalan untuk kebahagiaan Dria.


Mendengar intonasi yang menunjukkan kesungguhan Sandro dalam ucapannya, ayah Rahmadi bernapas lega. Dia hanya bisa memasrahkan kebahagiaan anaknya pada Sandro, perlahan perasaan damai meresap melingkupi hati ayah Rahmadi.


.


🐥🐢


.


Hello...


Maaf Aby lama absen up part baru. Dua hari mager lelah sangat...


Semangat senin ya...


.


😊


.