Sandriana, My Lovely Sist

Sandriana, My Lovely Sist
Part 13. Sebuah Nama di Hati



Rumah besar ini punya banyak tempat untuk duduk menikmati kesendirian karena meskipun banyak orang yang ada di sini tetapi yang benar-benar tinggal di dalam sini hanyalah empat orang saja, Tuan Besar Harlandy, Tuan Muda Sandro, Dria dan Pak Lucas. Padahal jika dijumlahkan kamar tidur di rumah ini sangat banyak. Tapi Dria tidak terlalu suka suasana sepi seperti ini, karenanya sepulang kantor dan setelah membersihkan diri Dria selalu pergi ke area belakang. Bila Dria ada di dalam rumah ini, selalu ada Tety yang dia minta menemaninya hingga waktu beristirahat tiba.


Dria baru selesai makan malam, memilih duduk di salah satu ruang keluarga di lantai atas, berniat menelpon sang ayah. Sebenarnya dia sudah mengantuk dan lelah tapi dia belum menelpon ayahnya sejak pagi, ini rutin dia lakukan seminggu sekali. Walau tak banyak yang bisa diceritakan hanya menanyakan hal-hal yang sama setiap kali, tapi Dria tetap melakukannya.


Dria sebenarnya khawatir dengan kehidupan ayahnya yang hanya tinggal seorang diri di rumah mereka. Memang ada dua karyawan ayah yang masih bujangan yang kadang kala menemani jika mereka bisa, tapi sebagai anak satu-satunya rasa khawatir selalu muncul di hatinya. Berada jauh dengan ayahnya membuat nama ayah menjadi begitu penting di hati Dria sekarang.


Ketika pulang ke S, berbekal uang dari keluarga Harlandy karena jasa ibunya yang menurut keluarga Darwis tak bisa dinilai dengan uang sebenarnya serta pesangon ayah karena berhenti sebagai karyawan Mega Buana, ayah membeli sebuah rumah yang berhalaman luas lalu ayah merintis usaha menjual tanaman hias serta membuat taman. Ini adalah hobi sang ayah, suka sekali dengan tanaman, rumah mereka penuh dengan tanaman. Dan Ayah punya enam karyawan tetap dalam menjalankan bisnis membuat taman apakah di sebuah rumah pribadi atau di sebuah kompleks perumahan.


Saat sambungan telpon dijawab…


“Ayah sehat?”


“Sehat…”


“Ayah sudah makan malam?”


“Sudah, baru selesai…”


“Jangan suka terlambat makan ayah…”


“Iya…”


“Jangan lupa membayar katering bulan ini ya… seperti dua bulan lalu ayah lupa, ayah sendiri yang repot harus keluar membeli makanan…”


“Ayah lupa lagi soal itu…”


“Ah… ayah, aku minta nomor telpon bu Ima saja, nanti aku yang bayarkan lewat transfer…”


“Jangan repot mengurus ayah… ayah tidak apa-apa… Bena sudah mengajarkan ayah memesan go*food…”


“Oh baguslah. Soal menemani ayah sudah bilang ke Bena?”


“Sudah, mulai minggu depan dia akan tinggal bersama ayah…”


“Akhirnya aku bisa tenang ayah bakal punya teman. Ajak Adi sekalian tinggal di rumah…”


“Sudah, dia sebetulnya mau tapi katanya tidak dijinkan kakaknya…”


“Oh begitu…”


“Kamu baik-baik di sana nak?”


“Iya, aku baik…”


“Titip salam hormat ayah untuk Tuan Harlandy…”


“Sudah sering aku sampaikan salam ayah dan Tuan Besar selalu memintaku membujuk ayah datang tinggal lagi di rumah ini…”


“Lebih baik di rumah sendiri, nak… meskipun tidak besar dan mewah… tapi itu milik kita sendiri, hidup ayah lebih tenang…”


Perasaan Dria memang berbeda dengan sang ayah, Dria tidak pernah menganggap rumah ini bukan rumahnya, rasa nyaman di rumah ini segera dia rasakan sesaat saja setelah dia masuk rumah ini pertama kali. Meskipun di awal kedatangannya dia sempat merasakan penolakan Sandro, tapi moment-moment bersama mami Rosalie yang seperti terpanggil kembali membuat Dria bisa mengatasi kesedihan atas perlakuan sang kakak. Sekarang setelah kakak berubah menjadi kakak yang penyayang, seolah perasaan memiliki rumah ini seperti di masa kecilnya kembali hadir dalam dirinya.


Tapi tetap saja niat untuk pulang kembali ke S yang tercetus pertama kali masih ada dalam hati, ini karena sang ayah sekarang bukan lagi karena perlakuan Sandro padanya.


“Sebentar lagi peringatan kematian ibu… apa ayah akan datang?”


“Kamu saja yang mewakili ayah menjenguk ibu, ayah memperingati ibu dari tempat ini saja…”


“Baiklah…”


“Apa kamu betah?”


Selalu saja ayah menanyakan hal ini, tetapi jika boleh jujur Dria sangat kerasan di sini, rumah ini sangat melekat di hatinya.


“Aku betah ayah, rumah ini tidak banyak berubah, masih sama seperti yang ada dalam ingatanku…”


"Syukur jika seperti itu..."


"Tapi ayah..."


"Iya?"


"Aku pernah janji pada ayah akan pulang setelah setahun di sini... Itu tidak lama lagi..."


"Nak... Apa Tuan Harlandy tahu tentang ini?"


"Belum, aku belum pernah mengemukakan hal ini..."


"Tuan Harlandy menginginkan kamu di sana nak... tinggal di sana selamanya..."


"Ah?? Tuan pernah bicara seperti itu pada ayah?"


"Iya..."


"Ah... Kenapa ayah tidak pernah beritahu itu padaku..."


"Ayah sudah menyetujui hal itu, nak..."


"Tapi aku tidak mau tinggal di sini seterusnya, aku lebih menyukai hidupku di S ayah... Di sini aku hanya ingin berjumpa kak Sandro dan mengikuti permintaan mami... Tapi untuk hidupku selanjutnya aku ingin kembali bersama ayah tinggal di S. Aku merasa tidak terlalu cocok dengan menjadi salah satu anak Tuan Harlandy... hehehe... mereka memperlakukan aku seperti seorang putri, dan itu kurasa tidak pas denganku..."


Pak Rahmadi terdiam, dia telah berjanji dan dia tidak dapat menghadapi Tuan Harlandy jika Dria kembali ke S bersamanya.


"Ayah?"


“Oh baiklah, nanti kita bicara lagi, ayah mengantuk, nak…”


“Oh… baik ayah, aku juga sudah mengantuk, jaga kesahatan ya?”


“Kamu juga…”


.


Dua hal yang membuat Dria sedih saat meninggalkan kota S, pertama kantornya dan teman-temannya, kedua ayah. Sekalipun ayah bukan sosok yang banyak bicara, tapi Dria akhirnya bisa menempatkan ayah di hatinya sebagai orang tuanya. Awalnya itu sangat berat tiba-tiba seperti dipaksa masuk dalam sebuah ikatan ayah dan anak dengan seseorang yang tidak dia kenal, tapi lambat laun Dria bisa menerima hal itu.


Dria tertunduk sedih di tempat dia duduk. Kesedihan untuk teman-teman dan pekerjaan terdahulu telah hilang sepenuhnya, di kantor yang sekarang dia menemukan teman-teman pengganti yang luar biasa serta dia mulai terbiasa dengan pekerjaannya yang sekarang. Tapi kesedihan soal ayah tidak pernah pergi, sekalipun tidak terlalu dekat, di dalam hatinya ayah tetaplah ayah… sebuah ikatan yang tidak bisa dinafikan begitu kental dalam darah mereka.


Jam antik yang besar di lantai bawah dentangannya terdengar hingga di lantai atas. Ada sembilan kali jam itu berdentang, Dria segera berjalan menuju kamarnya. Biasanya dia akan bercengkerama hingga jam sepuluh dengan bu Lia dan teman-temannya di area rumah belakang. Ya… sekarang pelayan-pelayan yang masih muda ada yang seumuran dengannya, mereka lebih menjadi teman ketimbang pelayan bagi si Nona Muda, Dria tidak pernah mau menerima statusnya itu, dia telah sangat puas hanya menjadi adik si Tuan Muda saja.


“Non Dria mau istirahat sekarang?”


Tety yang menunggu Dria sejak tadi sambil duduk tak jauh sekarang mengikuti di belakang Dria.


“Iya Tety, aku lelah… hari ini aku ikut kak Sandro ke beberapa tempat…”


Di kamar Dria segera menuju tempat tidurnya yang memiliki empat tiang dan ada tirai kelambu tipis berwarna putih.


Dria berbaring asal.


“Sebentar Non…”


Tety mengatur bantal dengan baik kemudian…


"Pindah ke sini Non..."


Tety menepuk-nepuk bantal kemudian mengatur selimut untuk Dria.


"Maaf ya Tety, aku terlalu lelah untuk melakukannya sendiri..."


Dria bergeser dan membenarkan posisi tidurnya.


"Tidak apa-apa Non... Itu tugas saya..."


"Terima kasih..."


"Saya pijit ya Non?"


"Iya, pijatanmu sangat enak Tety, terima kasih..."


Tety mulai memijat kaki Dria.


"Kalau aku telah tertidur kamu tidur di sini saja Tety... kamu tahu kan aku tidak suka pintu kamarku tidak dikunci..."


"Tapi Non... saya tidak boleh tidur di sini... nanti saya kuncikan pintunya dari luar, besok saya datang untuk membuka pintunya sebelum Non Dria bangun..."


"Mmh..."


Sebuah jawaban sangat pendek karena rasa kantuk yang menguasai. Tety meneruskan memijat bagian kaki si Nona Muda yang mungkin tidak lagi menyadari itu karena segera lelap beberapa detik setelah kepalanya menyentuh bantal.


Beberapa waktu Tety memijat kaki si Nona Muda yang dia layani dengan penuh kasih karena si Nona Mudanya juga punya perangai yang baik dan menyenangkan.


Mungkin ada lebih setengah jam Tety memijat sampai pintu terbuka setelah didahului ketukan sebanyak tiga kali. Si Tuan Muda datang mendekat, terlihat baru selesai mandi karena rambutnya yang basah, rambut itu dibiarkan panjang sekarang.


Sandro bertanya setelah Tety mengangguk tanda memberi hormat pada Tuan yang tampan ini.


"Iya Tuan..."


Sandro masih harus menghadiri sebuah makan malam bisnis, karena itu Sandro mengijinkan Dria pulang lebih awal. Sandro mendekati tempat tidur dan memandang wajah terlelap Dria.


"Biasanya dia masih di belakang sana..."


Sandro berguman tapi didengar Tety.


"Non Dria tadi mengeluh lelah Tuan, makanya Non Dria tadi langsung tertidur..."


Tety menjawab dengan perasaan takut, baru sekali ini dia memberanikan diri bercakap dengan si Tuan Muda.


"Dia tidak boleh bawa mobil sendiri lagi mulai besok..."


Si Tuan Muda kembali mengguman.


"Kamu boleh keluar..." sambung Sandro.


"Baik Tuan..."


Tety segera meninggalkan kamar Dria, dia akan kembali nanti untuk mengunci pintu.


Sementara Sandro sedang menikmati wajah Dria yang terlihat sangat tenang, dengan mulut sedikit terbuka dan nafas teratur yang membuat dadanya turun naik. Sandro kemudian duduk di tepi tempat tidur, ingin menikmati pemandangan yang menenangkan dirinya, tidak ada seorangpun yang akan melarangnya untuk berlama-lama memandang wajah manis Dria, bahkan Dria sendiri tidak dapat melakukan itu sekarang, sesuatu yang sekarang begitu memuaskan gejolak di dadanya.


Mengikuti nalurinya, tangan Sandro terulur dan mulai mengusap lembut pipi kiri Dria lalu tersenyum saat dalam otaknya melintas pemikiran bahwa jika Dria sedang sadar pasti dia tidak sebebas ini melakukan afeksi semacam ini. Sandro menyadari bahwa Dria memang dekat dengannya sekarang, tetapi sering menghindari saat tangan Sandro spontan melakukan sentuhan-sentuhan fisik seperti memegang tangan atau menyentuh kepala Dria.


Keinginan si Tuan Muda meningkat sekarang, dorongan hati membuat perlahan bibir si Tuan Muda mendekat ke dahi Dria dan mencium dengan hangat, melakukannya dengan singkat karena kepala Dria bergerak perlahan. Memandang lagi wajah Dria kemudian beranjak keluar kamar dengan perasaan bahagia. Dia tidak mengerti mengapa sekarang dirinya selalu terdorong oleh keinginan untuk selalu melihat Dria, tidak menemukan Dria di dapur seperti biasanya membuat dia memberanikan diri masuk ke kamar Dria, hanya untuk memuaskan keinginannya melihat Dria sebelum beristirahat.


Di luar, ada dua orang sedang menunggu.


"Tuan... Sejak tadi nona Emma menelpon Anda, nona juga menelpon saya meminta Tuan menjawab panggilan..."


Sandro berjalan tanpa menjawab Timo yang kemudian mengikuti Tuannya hendak masuk kamar, menunggu jika si Tuan Muda masih butuh sesuatu sebelum tidur.


Sementara Tety segera mengunci pintu kamar Dria dari luar dan mengantongi kunci itu. Rupanya hal itu sempat diperhatikan Sandro.


"Kenapa pintu kamar Dria dikunci dari luar?"


Suara dingin tanda tak suka keluar dari mulut Sandro, jika terjadi sesuatu yang darurat lalu Dria harus menunggu seseorang datang membuka pintu, bagi Sandro itu tidak benar.


"Maaf Tuan, ini permintaan Non Dria tadi, jika Non Dria tidak sempat mengunci pintu kamarnya karena tertidur... eh saya yang mengunci, Non Dria tidak suka jika pintunya tidak dikunci..."


"Buka pintunya, letakkan anak kunci itu di nakas... lalu minta kunci cadangan pada paman untuk mengunci dari luar.


"Ba... baik Tuan..."


"Berikan kunci cadangannya pada saya nanti..."


"Eh.... ba baik Tuan..."


Tety segera melakukan seperti perintah sang Tuan Muda.


"Tuan, Nona Emma sekarang mengulangi panggilannya di hp saya, mungkin ada sesuatu yang penting..."


"Iya Timotius, aku akan menelpon Emma, kamu boleh istirahat..."


Sandro selalu tidak ingin didikte menjawab kesal.


"Terima kasin Tuan, saya permisi..."


Timo meninggalkan Tuan Mudanya sambil menghembuskan napasnya dengan perasaan lega, perintah tadi menjadi semacam anugerah untuknya tanda dia tidak dibutuhkan lagi berarti dia boleh mengistirahatkan tubuhnya yang juga telah dilelahkan sepanjang hari ini, dia bukan robot yang tidak mengenal kata lelah.


Di kamar, si Tuan Muda disambut dengan deringan telpon, Sandro mengambil gawainya lalu menggeser tombol hijau, menjawab panggilan Emma.


.


"Iya Em?"


"San... Aku menelponmu berkali-kali beberapa hari ini, bahkan sepanjang hari ini..."


.


Suara merajuk Emma terdengar di seberang sana.


.


"Aku baru pulang, baru selesai mandi, aku tidak memegang hp jika di rumah, kamu tahu itu..."


.


"Tapi biasanya kamu akan menelpon balik jika tak sempat menjawab panggilan dariku... apa kamu tidak merindukan aku? Kita terpisah jarak sekarang..."


"Kamu juga baru sekarang rajin menelponku Em..."


"Kamu tahu sendiri bagaimana kesibukanku..."


"Ya sudah... kondisi kita sama, tidak usah berdebat mengenai hal-hal yang sudah kita maklumi sejak lama..."


"Tapi sekarang aku ingin menyisihkan waktu khusus untuk kita berdua, beda ternyata saat aku merasa jauh darimu San..."


"Tidak usah mendramatisir sesuatu, Em... biasa saja, tidak perlu saling menyusahkan..."


"Tapi ini terasa aneh, aku punya kekasih yang sepertinya tidak pernah merindukan diriku..."


"Kamu selalu saja hanya melihat orang lain, harusnya kamu mengatakan hal itu juga pada dirimu sendiri, Em..."


"Baiklah... baiklah... mulai sekarang aku berjanji akan menelpon setiap hari... dan kamu harus menjawab telponku..."


"Jangan konyol, Em... Kamu pasti akan melanggarnya sendiri, dan aku tidak bisa kamu atur seperti itu, jika aku bisa aku akan menjawab telpon darimu..."


"San... aku mulai merasa ada yang salah dengan hubungan kita..."


"Itu anggapanmu saja... sejak lama kita seperti ini, kenapa kamu baru bertanya sekarang? Tidak ada yang berubah Em..."


"Tapi aku ingin berubah San... aku ingin kita lebih saling memahami lagi..."


"Berubah seperti apa yang kamu maksud? Jika tentang perubahan status, apa kamu siap menikah sekarang?"


"Hah?? Itu tidak mungkin Sandro, kita telah sepakat soal menunggu waktu yang baik..."


"Sekarang aku tanya, menurutmu... kapan waktu yang baik itu?"


"Itu... menurutku setidaknya bukan tahun ini. Aku baru mulai dengan ekspansi bisnisku di negara ini, aku tidak ingin meninggalkan jalan dan kesempatan sangat baik yang terbuka di sini."


"Jadi, perubahan apa yang kamu bicarakan?"


"Itu tentang... ehh kenapa hubungan kita tak senormal orang lain? Kenapa sepertinya kita keberatan untuk saling peduli padahal kita adalah pasangan kekasih? Aku telah memikirkan ini San... Aku ingin kita menjadi lebih intens berkomunikasi... saling menyatakan rasa sayang satu dengan yang lain, saling merindukan... Aku rasa keinginanku tidak berlebihan..."


"Em... Perasaan seperti itu tidak bisa diatur atau direncanakan, itu lahir dengan sendirinya..."


"Karena itu aku mengutarakannya sekarang San... Aku ingin kita memiliki perasaan seperti itu..."


.


Sandro terdiam, sebab hatinya mulai bicara sekarang, pikirannya mulai menyadari bahwa dia tidak dapat mengubah perasaannya yang sekarang pada Emma, yang baru saja dikatakannya adalah sesuatu yang benar bahwa perasaan seperti itu tumbuh dengan sendirinya tidak bisa diarahkan. Sandro mulai mengkaji perasaannya...


"Apa aku sesungguhnya menyayangi Emma?"


"Apa aku pernah merindukan Emma?"


"Aku memang merasakan rindu dan keinginan untuk menyayangi, melindungi dan peduli pada seseorang tapi rasanya itu bukan Emma... rasanya aku punya perasaan seperti itu... tapi itu untuk..."


Sandro terhenyak ketika muncul sebuah nama di hatinya bersamaan dengan panggilan Emma di seberang...


.


"San... Kenapa tidak menjawabku? Kamu masih di sana kan?"


.


🐇🐇🐇


.


Hi.... Pa kabar readers 😄


.